Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 39: Darah


__ADS_3

Prajurit pos pertahanan barat merespon dengan cepat permintaan bantuan dari kota Monsa, kota yang berjarak kurang lebih tiga belas kilometer dari kota Luine yang merupakan pos pertahanan barat.


Sialnya, kota Monsa termasuk kota yang tidak terjangkau oleh jalur kereta uap, jadi para prajurit terpaksa menggunakan kereta kuda untuk mengirim pasukan ke Monsa.


Mempertimbangkan waktu yang telah berlalu, dipastikan sudah banyak korban jiwa yang jatuh di kota Monsa.


Karena dibutuhkan mobilitas tinggi dalam operasi kali ini, maka pihak pos pertahanan memutuskan untuk mengirimkan prajurit dengan jumlah seminimal mungkin.


Sebagai gantinya, prajurit dengan kualitas terbaik dipilih dalam misi ini. Edwin, Hakam dan Vincent termasuk ke dalam satuan yang dikirim, seorang perwira menengah bernama Jason Kostas ditunjuk sebagai pemimpin operasi.


Mereka sedang berpacu dengan waktu, tapi entah kenapa perjalanan ini terasa begitu lama, berkali-kali mereka mengeluh soal kereta kuda yang terasa berjalan sangat lamban.


"Prajurit militer di sana seharusnya bisa mengulur waktu setidaknya sampai seluruh warga berhasil mengevakuasi diri." Ujar Jason berusaha mengurangi kekhawatiran para prajurit di bawah komandonya, meski dia sendiri tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan ekspresi cemasnya, dia yakin para prajurit yang berada di kota itu bisa bertahan sampai mereka tiba.


Atau setidaknya, begitulah yang diharapkan oleh Jason.


Setibanya mereka di kota itu, mereka terpaki sepenuhnya. Mayat warga dan prajurit yang tak terhitung jumlahnya bergelimpangan, jalanan kota digenangi oleh darah, dinding-dinding bangunan dihiasi oleh darah, taman-taman kota tidak lagi menebar bau bunga yang segar, melainkan bau darah yang memuakkan.


Beberapa prajurit mulai muntah karena tidak tahan dengan pemandangan di hadapan mereka, mayat seorang ibu yang mendekap anaknya, mayat orang tua yang wajahnya menyiratkan teror yang dia lihat sebelum kematiannya, mayat prajurit yang kehilangan kedua lengan dan kepalanya.


Kota itu dipenuhi darah. Darah dimana-mana, semua terasa begitu merah.


Kabut kemerahan perlahan turun dan menyelimuti kota itu, membawa aroma kematian bersamanya.


Jason memberi isyarat kepada para prajuritnya untuk waspada, dia merasa ada yang tidak beres dengan kabut itu, intuisinya sebagai seorang prajurit senior mengatakan ada yang tidak beres dengan kemunculan kabut merah itu.


Mereka berjalan beriringan, Jason berada di paling depan, di belakangnya ada Edwin dan beberapa prajurit. Beberapa langkah di belakang mereka ada Hakam yang juga memimpin beberapa prajurit, sama halnya dengan Vincent yang berada di barisan paling belakang.


Edwin menajamkan indranya, berusaha tetap fokus. Dengan percepatan pikirannya, dia bisa memperingati rekan-rekannya saat mereka diserang secara mendadak.

__ADS_1


Perlahan-lahan, mereka bergerak menyusuri kota mati itu, memeriksa setiap bangunan, celah, gang, apapun itu. Mereka berusaha mencari tanda-tanda kehidupan, baik itu manusia ... Atau sesuatu yang lain. Tapi apa yang mereka temukan sama seperti apa yang mereka lihat di luar. Hanya ada mayat dan darah.


Rasa takut perlahan merayapi tubuh mereka, keheningan yang mencekam ini begitu asing, mereka tidak tahu apa yang akan muncul dari balik kabut merah itu.


"Hakam, gunakan kekuatanmu untuk melakukan sesuatu." Jason memberi perintah kepada Hakam.


Tapi tidak ada respon sama sekali, merasa ada yang tidak beres, Edwin segera memeriksa barisan belakangnya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat barisan yang dipimpin oleh Jason ternyata adalah satu-satunya barisan yang ada di sana, bahkan prajurit yang berada di belakang Edwin hanya melongo kebingungan, mereka bahkan tidak sadar kapan barisan lain terpisah dari mereka.


"Tetap tenang." Tegas Jason, tapi dia tidak sepenuhnya menyembunyikan suaranya yang bergetar, kepanikan yang sedari tadi menyelimuti mereka mulai berubah menjadi teror.


Mental mereka mulai goyah, berpikir kalau datang ke tempat ini merupakan kesalahan, kesampingkan tugas sebagai prajurit, keselamatan mereka lebih penting. Lagipula tidak berlebihan kalau menganggap seluruh penduduk di kota ini sudah tewas.


"Kapten ... Sepertinya kita harus kembali ke pos pertahanan dan memberi laporan." Pinta salah satu prajurit dengan suara bergetar.


Mendengar hal itu membuat Jason bimbang, prajurit itu ada benarnya. Tujuan mereka kemari adalah untuk menyelamatkan warga kota, tapi mereka terlambat, tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.


"Kita mundur." Akhirnya Jason memberi keputusannya.


Tapi tepat setelah dia mengatakan hal itu, terdengar suara erangan seseorang. Mereka seketika menjadi panik dan ketakutan, sejak tadi mereka diselimuti keheningan, mengapa tiba-tiba ada suara?


Kabut perlahan mulai memudar, menampilkan pemandangan mengerikan di hadapan mereka.


Para prajurit seketika terkencing-kencing, mereka memekik sekeras mungkin dan lari terbirit-birit, situasi benar-benar sudah diluar kendali Jason.


"Apa-apaan ...." Jason tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya, pemandangan di hadapannya ini adalah teror yang melampaui imajinasi terburuknya.


Tiang-tiang tinggi berwarna merah tertancap membentuk sebuah "hutan" di sebuah tanah lapang di hadapan mereka, namun bukannya hutan dengan dedaunan rimbun dan hujan yang menyegarkan melainkan "hutan" dengan tubuh manusia sebagai kanopinya, tetesan-tetesan yang turun bukanlah air jernih melainkan darah merah yang pekat.

__ADS_1


Ya, tiang-tiang yang berdiri tegak itu digunakan untuk memancang tubuh manusia yang entah berapa jumlahnya, anggota tubuh dan organ dalam yang tak terhitung berceceran di sekitar tiang pancang itu.


Bukan hanya orang dewasa, anak kecil, wanita dan bahkan bayi yang masih belum lepas dari gendongan ibu pun tertancap tanpa ampun di ujung tiang-tiang itu.


Beberapa tubuh yang tertancap itu masih belum mati, dari situlah suara erangan yang mereka dengar tadi berasal.


"AAAAAANNNGGGHHGGGGGGHHHHH!"


Teriakan Edwin menggema ke penjuru kota, dia melihat tubuh Vincent dan Hakam berada di antara tubuh-tubuh yang tertancap di sana.


"EDWIN! KENDALIKAN DIRIMU! KITA MUNDUR SEKARANG!"


Jason berusaha menenangkan Edwin yang histeris, tapi sia-sia saja, Edwin seperti sudah kehilangan akal sehatnya, dia meraung-raung dan meronta-ronta sejadi-jadinya, lalu ambruk tak sadarkan diri dengan mulut berbusa.


Sial ... Sial sial sial sial sial sial!


Jason mulai mengutuk, entah siapa yang dia kutuk, mungkin Edwin, mungkin atasannya, atau mungkin dewa yang dia percayai.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan obrolan dua orang, tapi Jason tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan.


"Eh? Kok masih ada manusia di sini?"


Jason mengangkat kepalanya. Di hadapannya, berdiri dua sosok yang muncul entah dari mana, mereka adalah seorang wanita dengan pakaian aneh dan anak kecil.


Saat Jason hendak berteriak menyuruh mereka segera lari, muncul sosok ketiga yang seketika membuat Jason gemetar ketakutan.


Sosok itu menatap ke arah Jason dengan aura merah mengerikan meluap di sekitar tubuhnya, membuatnya seketika merasa tercekik. Mata merahnya yang menyala serta senyumannya yang mengerikan membuat Jason benar-benar kehilangan akal sehat, dia mulai terkencing dan ambruk dengan mulut berbusa.


"Ah, sepertinya kita terlalu berlebihan, maafkan aku, Master." Wanita dengan pakaian aneh itu menunduk ke sosok pria yang mengenakan setelan mewah berwarna putih, anak kecil yang berada di sebelahnya ikut menunduk.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku jarang membuat keributan, tidak seperti kakakku. Ratu akan memaafkan ku kali ini ... Mungkin."


__ADS_2