Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 30: Padam


__ADS_3

Pos pertahanan selatan.


"SIAL! MEREKA MENEROBOS BENTENG!"


Pemandangan kali ini adalah pemandangan benteng yang runtuh, kota yang terbakar, tubuh prajurit bergelimpangan bersama dengan tumpukan boneka manusia yang terbuat dari besi. Ya, boneka manusia besi, hanya itu kata yang bisa digunakan untuk menyebut iblis-iblis yang menyerang kota ini.


Pertempuran pun mulai terjadi di dalam kota, beruntungnya seluruh penduduk sudah dievakuasi berkat kebijakan perwira yang bertanggung jawab atas pos pertahanan selatan. Jadi tidak ada korban jiwa dari kalangan warga biasa.


Alvaro yang mulai sempoyongan berusaha untuk tetap berdiri tegak, darah mengalir deras dari hidung dan mulutnya. "Jangan paksakan dirimu!" Adrian yang berada di dekatnya menggenggam bahunya, berusaha menghentikannya menggunakan kekuatan lagi.


"Lalu ... Apa ... Yang ... Bisa ... Kita lak ... Kukan?" Suaranya begitu lemah, dia berkali-kali mengeluarkan gelombang kejut dari tepukan tangannya, berkat dia, banyak boneka besi yang meledak dan tumbang. Tapi kekuatan dahsyat itu juga berdampak pada tubuhnya sendiri.


Adrian menggigit bibirnya, memang tidak banyak yang bisa mereka lakukan, tubuh boneka-boneka besi ini terlalu kuat, serangan dari prajurit biasa tidak bisa menumbangkan boneka-boneka itu. Apa mungkin aku akan mati di sini? Bisik Adrian dalam hati.


Alvaro mulai di ambang kesadarannya, kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuhnya dan dia jatuh tersungkur. Adrian, menahan tubuh Alvaro yang tumbang, lalu melempar satu boneka besi yang menerjang ke arahnya.


Kondisi Adrian pun tidak lebih baik, kepalanya mulai sakit karena terlalu berlebihan menggunakan kekuatan untuk meremukkan boneka-boneka besi itu walaupun dia hanya meremukkan mereka satu-persatu. Kekuatan telekinesis Adrian belum cukup kuat untuk meremukkan tubuh boneka itu dalam jumlah banyak sekaligus.


"Adrian! Lakukan sesuatu!" Haznav yang bertarung dengan boneka besi menggunakan mace meneriaki Adrian, meski serangannya cukup efektif, dia juga mulai kewalahan menghadapi gelombang boneka besi itu.


Adrian menatap Raymond yang lebih dulu kehilangan kesadaran karena juga berlebihan menggunakan kekuatannya. Meski begitu, kalau bukan karena kekuatannya, mungkin mereka semua sudah dihabisi sejak tadi.


Andai saja Alicia ada bersama kami.


...****************...


Pos pertahanan selatan, satu jam yang lalu.


Sore itu, Adrian sedang mengobrol santai dengan Raymond sambil berpatroli ke luar benteng, mereka mengawasi semua pergerakan di area itu, kalau ada tanda pergerakan yang tidak wajar, mereka akan langsung menembakkan sinyal asap untuk memperingati pengawas menara benteng.


Di saat itu, tiba-tiba mereka mendengar suara seperti dentingan logam dari kejauhan. Awalnya hanya ada beberapa, jadi mereka pikir itu cuma suara orang sedang latihan pedang atau semacamnya, tapi lama kelamaan suara-suara dentingan logam itu semakin banyak sampai-sampai Adrian bisa merasakan getaran di tanah yang dipijaknya.


Lalu dari arah selatan yang berupa padang ilalang, muncul segerombolan boneka besi dengan bentuk menyerupai manusia, mata hijau mereka menyala, membuat siapapun yang melihatnya merasakan aura intimidasi yang aneh.


Adrian berusaha menghabisi mereka dengan menghantamkan bebatuan dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Tapi diluar dugaannya, boneka-boneka itu kembali bangkit setelah terpental karena serangannya.


Mereka segera berlari ke arah benteng sambil menembakkan suar asap ke langit, sesaat kemudian, sirine nyaring terdengar ke segala penjuru kota, semua prajurit segera berbaris di garis pertahanan.

__ADS_1


Pertempuran sengit pun terjadi, baru beberapa puluh menit pertempuran berlangsung, tapi begitu banyak korban dari pihak prajurit bertahan yang berjatuhan.


Kekuatan Adrian tidak terlalu memberikan dampak kepada gerombolan boneka besi itu, dia hanya melempar mereka menjauh ketika mereka mulai mendekati garis pertahanan.


Kemudian Alvaro mulai menggunakan kekuatannya, prajurit bertahan yang melihat banyak boneka tumbang dan beberapa bahkan meledak karena serangan itu merasa angin berhembus ke sisi mereka, membuat semua prajurit bangkit semangatnya.


Tapi yang tidak mereka ketahui adalah penggunaan kekuatan Alvaro sangat terbatas, karena itu memberikan dampak recoil kepada tubuhnya. Akhirnya setelah Alvaro kehabisan tenaga dan mulai memuntahkan darah, barisan pertahanan kembali terpukul mundur ke arah benteng.


Terlebih setelah munculnya boneka yang mampu menyemburkan api dari lengannya dan boneka berukuran kecil yang menyerang dengan meledakkan dirinya sendiri.


Benteng pertahanan mulai jebol, mereka tidak lagi memiliki keunggulan dalam pertarungan jarak dekat karena semburan api dari sebagian boneka itu. Raymond yang terus menyembuhkan prajurit terluka terutama Alvaro yang merupakan kartu as mereka mulai tumbang.


Crossbow, Scorpion dan bahkan meriam sekalipun tidak efektif untuk menumbangkan mereka, kecuali jika proyektil meriam benar-benar mengenai tubuh boneka itu, tapi itu kemungkinan yang sangat kecil.


Kemudian sampailah mereka di titik ini.


"KENAPA TIDAK ADA BANTUAN DARI DEPARTEMEN SIHIR!?" Reyna yang dulunya merupakan murid Kelas Perak di akademi terlempar mundur dan terkapar di dekat Adrian, tapi karena ketangguhan fisiknya, dia mampu berdiri lagi. Meskipun dia tidak mampu lagi menggenggam senjata karena lengannya patah.


Haznav yang sedari tadi berada di lini depan juga mulai mundur, "INI SIA-SIA! TIDAK ADA YANG BISA KITA LAKUKAN!" Dia menghantam kepala satu boneka besi, membuat mata hijau boneka itu mati dan tubuhnya jatuh.


Adrian terguncang saat itu, "Tapi ... Perwira-"


"OMONG KOSONG APA ITU!? PERWIRA SUDAH MATI!" Bentak Haznav, menunjuk Perwira yang terkapar dengan tubuh gosong, "SEKARANG KAULAH PEMIMPIN KAMI! PARA PRAJURIT JUGA SUDAH MUNDUR! KAU MAU KITA SEMUA MATI DI SINI!?"


"Adrian! Itu pilihan terbaik saat ini! Selagi kita masih bisa membawa Alvaro dan Raymond keluar dari tempat ini!"


Kebimbangan menyerang Adrian, dia tidak pernah menyangka dirinya yang nomor satu di Akademi tidak bisa berbuat banyak di medan perang, bahkan kontribusi Alvaro lebih banyak ketimbang dirinya.


Dengan hati yang berat, satu kata terucap dari mulutnya, "Kita mundur."


Haznav dan Reyna dengan sisa-sisa tenaga segera membopong Alvaro dan Raymond yang tak sadarkan diri, mereka berlari sekuat tenaga tanpa melihat ke belakang.


Dari kejauhan, mereka bisa melihat Damian dan William yang merupakan pengemban kekuatan cahaya berlari menyusul mereka, kondisi mereka berdua kurang lebih sama seperti Adrian.


Begitulah, kota Sananta, atau pos pertahanan selatan jatuh ke tangan iblis.


Setelah keluar dari kota, mereka mencapai sebuah kaki bukit. Di sana, prajurit-prajurit yang tersisa berkumpul, sebagian besar dari mereka mengalami luka. Mereka di sana menunggu pergerakan boneka besi, jika boneka-boneka itu tidak mengejar, mereka akan menunggu bala bantuan dari Markas Aliansi dan Departemen Sihir. Jika boneka besi itu mengejar, mereka akan mundur dengan menyeberangi hutan lebat di hadapan mereka dan membangun pertahanan di kota selanjutnya, menunggu bantuan tiba.

__ADS_1


"Adrian!" Reyna menyadari kalau ternyata Adrian tidak ada di antara mereka.


Haznav mendecak frustasi, "Apa kalian melihat Adrian?" Dia bertanya kepada Damian dan William, "Bukannya dia bersama kita?" Mereka pun tampak kebingungan.


Suara gemuruh terdengar dari arah kota. Hanya dengan mendengar suara gemuruh yang susul-menyusul itu, mereka tahu siapa penyebabnya.


"Si bodoh itu ... Dia mau jadi pahlawan." Lirih Haznav. Reyna menutup mulutnya dan mulai menangis.


Damian melangkah ke arah kota, "Aku akan membantunya." Tapi Haznav menarik zirahnya, lalu dengan tatapan tajam, dia berkata ke Damian, "Cukup satu orang yang mati."


Urat leher Damian menegang mendengar itu, "Kau bajingan! Kau mau meninggalkan dia sendirian di sana?!" Suara gemuruh masih terus terdengar dari arah kota, pertanda Adrian masih berjuang di sana.


"BAJINGAN KAU HAZNAV! APA KAU BENAR-BENAR SUDAH TIDAK PUNYA RASA PEDULI KEPADA REKANMU!?" Damian membentak Haznav yang masih menatapnya tajam.


Haznav mencengkram kerah Damian, "AKU PEDULI! KALIAN SEMUA ADALAH REKANKU! MAKA DARI ITU! ... Maka dari itu ...." Suara Haznav bergetar, dia masih menatap Damian dengan tajam, tapi mata itu mulai terguncang, "Maka dari itu ... Jangan ada korban lagi dari kita." Dia menundukkan wajahnya.


Wajah semua orang tertegun mendengar ucapan Haznav. Damian menelan ludah, "Lepaskan tanganmu."


Cengkraman Haznav malah makin kuat, "Berjanjilah ... Kau tidak akan menyusul keparat itu." Haznav yang terkenal dingin dan bengis itu tampak sangat terguncang, seolah bukan Haznav yang mereka kenal selama ini.


"Kalau begitu, sebaiknya jangan sampai cengkraman mu kendor." Lirih Damian, dia menatap ke langit yang mulai gelap, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.


Dalam hati kecil mereka semua, mereka ingin segera berlari menuju kota dan bertarung bersama Adrian. Tapi dengan kondisi mereka yang sekarang, mereka hanya akan menambah jumlah korban dari pengemban kekuatan cahaya.


Setiap kali suara gemuruh itu terdengar, tangan mereka terkepal semakin erat, pandangan mereka semakin kabur karena air mata yang menggenang.


Tidak lama kemudian, rentetan suara gemuruh itu tidak lagi terdengar, bersamaan dengan tenggelamnya matahari di ufuk timur.


Semua kepala tertunduk, tangis Reyna meledak. Damian, William, bahkan Haznav tak kuasa menahan air mata mereka.


Dengan begini, satu cahaya paling terang telah padam.


...****************...



Ilustrasi karakter Haznav Matausyalah.

__ADS_1


__ADS_2