Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 5: Ratu


__ADS_3

Di suatu kota yang termasuk dalam bagian Kerajaan Vasilius, para penduduk menggelar sebuah festival untuk merayakan panen pertama di musim semi.


Para pelancong dan penduduk setempat turut meramaikan jalannya festival. Pertunjukan digelar, tenda-tenda pedagang yang menjual makanan ringan dan pernak-pernik berjejeran di sepanjang jalan, toko-toko dan rumah dihias sedemikian rupa, membuat suasana semakin meriah di hari itu.


Bahkan para bangsawan pun ikut merayakan festival ini, meskipun mereka berada di tempat yang terpisah dari penduduk biasa. Tapi Count di wilayah itu tetap memberikan sambutan kepada para penduduk.


Di antara para pelancong, terlihat dua saudari yang turut menikmati festival, mereka sedang mengantri untuk membeli manisan buah yang belakangan ini populer dikalangan para gadis.


Dua kakak beradik itu terlihat sedang asyik membicarakan sesuatu, namun anehnya, semua orang di tempat itu tidak bisa memahami apa yang mereka bicarakan. Tapi mereka tidak terlalu memedulikannya, toh memang sangat banyak turis dari negara lain yang ikut serta dalam festival ini.


Bukan pertama kalinya mereka kedatangan tamu dari negara lain, bahkan pernah ada seseorang yang jauh-jauh datang dari daratan timur, meskipun tujuan utamanya saat itu adalah untuk membuat kesepakatan perdagangan. Yah, rempah dan tekstil dari timur memang barang yang cukup bernilai di kerajaan ini.


"Ini pertama kalinya aku membaur ditengah-tengah manusia seperti ini". Ucap seorang gadis yang kelihatannya adalah sang kakak.


"Saya sendiri sudah berkali-kali hadir dalam festival semacam ini, sampai-sampai saya merasa bosan". Timpal sang adik, tapi dia tidak berbicara layaknya seorang adik kepada kakaknya. Ada sesuatu yang aneh dari mereka.


"Yah, tidak heran sih, 5.000 tahun itu cukup lama kan untuk ukuran manusia. Pasti bosan sekali melihat sesuatu yang sama setiap tahunnya". Kali ini sang kakak mengatakan hal aneh, dia bilang usia si adik sudah 5.000 tahun? "Jujur saja ini menyenangkan, aku tidak pernah kepikiran untuk ikut sebuah festival selama ini". Lanjutnya.


Tiba saat giliran mereka untuk memesan, kedua saudari itu tidak tahu harus memesan apa, jadi mereka memesan dua porsi untuk masing-masing menu. Si pedagang yang terlihat senang langsung saja membuatkan pesanan mereka. "Terimakasih! Silakan datang lagi!" Seru si pedagang kepada dua gadis yang berjalan keluar dari tendanya dengan dua kantong besar berisi manisan.


"Rangda, menurutmu mana yang paling enak?" Tanya si kakak kepada adiknya setelah mereka duduk di kursi taman dan membuka bungkusan, si adik yang bernama Rangda pun terlihat agak bimbang.


"Jujur saja, saya sama sekali tidak mengenal buah-buahan yang ada di dunia ini". Si adik memilah beberapa manisan buah yang ada di kantongnya, lalu mengambil satu yang menurutnya cukup menarik. Setelah mencicipinya sedikit, dia nampak cukup menyukai buah itu. "Ratu, buah ini cukup lez-".


Saat dia menoleh ke arah kakaknya, ternyata si kakak yang dipanggil Ratu sudah mulai membuka bungkusan porsi kedua. Si Ratu yang sadar kalau Rangda ternyata sedang mencicipi buah untuknya tersenyum.


"Semua terlihat enak". Rangda yang mendengar itu nampak tersenyum senang, Ratu terlihat menikmatinya.


Setelah menghabiskan bungkusan terakhir, Ratu berdiri dari kursi dan melihat-lihat sekitar, mencari sesuatu. "Apa ada yang menjual minuman atau semacamnya? Sepertinya aku juga mau makanan ringan lain".


Rangda yang juga tidak tahu soal itu terdiam beberapa saat, lalu dia bertanya kepada segerombolan gadis remaja yang lewat. "Kalau kakak mau makanan manis, aku sarankan beli manisan yang disana itu ... Eh, udah borong toh, ehe. Kalau gitu coba beli gorengan yang disana itu, atau daging tusuk di sebelah sana". Salah satu remaja itu menjawab pertanyaan Rangda.


"Satu pertanyaan lagi, kalau beli minuman dimana?" Tanya Rangda sekali lagi. "Coba beli es krim yang itu, jus buah juga enak sih, banyak kok orang jual jus buah, kakak tinggal tanya saja". Salah satu remaja menjawab lagi. Rangda kemudian berterima kasih kepada mereka dan memberikan uang sebagai imbalan.


"Eh, nggak usah kak, kami kan cuma jawab pertanyaan. Oh iya, bahasa barat kakak bagus ya, padahal kelihatannya kakak bukan dari wilayah ini". Rangda mengangguk, "Kami datang dari selatan". Remaja itu mengangguk-angguk dan ber-oh bersama, lalu mereka berpamitan dan lanjut jalan-jalan.


"Begitulah Ratu, saya rasa jus buah yang mereka bilang tadi cukup mena-" Ratu ternyata sudah berada di depan tenda yang menjual es krim.


Rangda menghampiri Ratu yang sedang berada di tenda penjual es krim, dia terlihat masih bingung memilih menu es krim yang dipampang penjual.


"Menurutmu sebaiknya kita pilih yang mana?" Ratu bertanya pada Rangda, "Hmmm ... Saya cukup menyarankan coklat atau strawberry, karena saya sudah pernah memakan dua buah itu di dunia saya".

__ADS_1


Ratu terlihat berpikir sejenak, "Yasudah, cokelat sama strawberry masing-masing dua". Si penjual mengangguk, mengambil empat cup kayu, lalu seciduk es krim ditempatkan di masing-masing cup. "Silakan". Ucapnya ramah sembari menyodorkan cup berisi es krim.


Rangda memberikan uang lebih kepada si penjual dan memberikan kembaliannya, "Datang lagi ya". Lagi-lagi Ratu sudah berada di kursi taman yang tadi mereka tempati sebelum Rangda menyadarinya, dia pun segera menyusul si Ratu.


"Enak banget, rasanya dingin-dingin, kamu coba juga Rangda". Ratu sedang memakan es krim dengan warna merah muda, kelihatannya itu strawberry. Tapi Rangda agak kebingungan dengan es krim yang berwarna cokelat, 'memang buah coklat di dunia ini warnanya begitu?' pikirnya.


Dengan penasaran, dia pun menyendok es krim coklat itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Belum sempat mencerna rasa dari es krim itu, Ratu tiba-tiba berseru tertahan, membuat Rangda mengeluarkan energi sihir untuk melindungi Ratu.


Tapi ternyata Ratu berseru karena es krim coklatnya lebih enak dari yang dia bayangkan, Ratu menertawakan Rangda yang terlalu tegang. "Memang mungkin aku kenapa-napa disini?". Rangda menghela napas menyadari kebodohannya, mana mungkin ada orang di dunia ini yang sanggup mencelakakan Ratu, pikirnya.


Dia pun baru saja sadar kalau es krim yang dia masukkan ke mulutnya itu benar-benar enak seperti yang dikatakan Ratu, walaupun tidak seperti buah coklat yang dia kenal, tapi rasa buah coklat di dunia ini lebih enak dari yang ada di dunianya.


Sebelum dia menyadarinya, es krim coklat itu sudah habis, sekarang dia mengambil cup lain yang berisi es krim rasa strawberry. Dia tidak begitu terkesan, rasanya tidak terlalu beda dengan stawberry yang dia tahu. Tapi enak juga.


Es krim milik Ratu sudah habis terlebih dahulu, dan sekarang dia sedang menoleh kesana kemari mencari tenda penjual yang terlihat menarik. "Rangda, kamu mau coba jus buah? Aku mau beli nih". Ratu menunjuk tenda penjual yang ditunjukkan oleh gerombolan remaja.


Rangda mengangguk dan berdiri, "Biar saya saja". Ratu menahan Rangda supaya kembali duduk. "Sudah, es krim kamu saja belum habis, aku pilihkan menunya ya". Ujar si Ratu. Rangda mengangguk, "Terima kasih atas kebaikan Anda". Ratu melambaikan tangannya dan berjalan ke arah tenda penjual jus.


Lagi-lagi Ratu terlihat bingung dengan pilihan menu yang ada, Rangda menatap sang ratu dengan senyum di bibirnya. Ratunya itu begitu terlihat bersahabat dan penuh semangat disaat dia sedang berada di sisi rekannya, meskipun terkadang wajahnya menunjukkan ekspresi sendu dan nampak kesepian. Yah, itu sesuatu yang wajar bagi orang yang sudah hidup entah berapa puluh tahun atau bahkan ratusan ribu tahun lalu.


"Rangda, apa kau mendengarku?". Rangda menerima sebuah transmisi suara dari seorang pria. "Memphis, aku bisa mendengarmu, ada masalah apa?". Jawabnya melalui transmisi suara.


"Ah, agak sulit dijelaskan, kurasa kau dan Ratu harus melihatnya secara langsung". Balas pria itu.


"Saya sendiri tidak begitu mengetahui detailnya, Memphis meminta saya dan Ratu untuk datang ke lokasinya". Jelas Rangda. "Saya akan menggunakan perpindahan ruang untuk menuju ke lokasi Memphis". Rangda terlihat seperti membentuk formasi tertentu dengan jarinya, tapi segera dicegah oleh Ratu.


"Minum ini dulu". Ratu menyodorkan gelas berisi jus ke Rangda.


"...."


"Baiklah, terima kasih atas kebaikan Anda, Ratu". Rangda menerima gelas itu dan meminumnya secara terburu-buru, sementara Ratu terlihat santai saja, tapi jusnya tetap habis dengan cepat.


"Baiklah, ayo pergi". Ujar si Ratu.


Sekali lagi Rangda membentuk formasi tertentu dengan jarinya, lalu tubuh mereka menghilang seketika.


Penjual jus yang melihat pemandangan itu mengucek matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Anjir, apaan itu tadi".


...****************...


Ratu dan Rangda tiba di lokasi Memphis yang sedang berada di kota lain di Kerajaan Vasilius, bersama Memphis ada seorang wanita yang merupakan salah satu bawahannya. Juga seorang laki-laki yang nampak seperti pengemis berpenampilan kumuh dengan mata tertutup perban.

__ADS_1


"Ada apa Memphis?" Ratu segera bertanya setelah mereka tiba di lokasi, Memphis dan bawahannya segera memberi salam kepada Ratu.


"Ratu, pria ini memancarkan aura yang aneh. Saya tidak bisa menjelaskannya, maka dari itu, saya berharap Ratu berkenan mengungkap kebenarannya". Ujar Memphis penuh hormat, Ratu pun nampaknya juga sudah menyadari ada sesuatu yang aneh dengan pengemis itu.


Ratu mendekati pengemis itu, anehnya, walaupun mata pria itu tertutup rapat oleh perban atau apapun itu. Dia terlihat bisa merasakan Ratu yang mendekati dirinya, dia mundur satu langkah saat Ratu mencoba mendekatinya.


"Kau, apa yang kau sembunyikan di balik penutup mata itu?" Pengemis itu terdiam. "Kau tidak buta kan?" Pengemis itu masih saja diam.


"Sebaiknya kau jawab pertanyaan Ratu". Ancam Memphis dengan suara berat, mata merahnya menyala. Ratu memberi isyarat pada Memphis untuk berhenti, yang segera dipatuhi olehnya.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin melihat apa yang ada dibalik penutup mata itu". Ratu berusaha meyakinkan si pengemis, tapi dia tidak bergeming, Ratu menghela nafas.


Tiba-tiba saja Ratu sudah berada di hadapannya dan berusaha menarik penutup mata itu secara paksa, namun pengemis itu bisa bereaksi dengan kecepatan Ratu dan mundur selangkah untuk menghindari tangan Ratu.


Rangda dan Memphis yang melihat itu segera mengepung pengemis itu dari arah lain, bawahan Memphis juga terlihat menodongkan senjata jarak jauhnya ke arah pengemis itu.


"Tenanglah kalian". Ujar Ratu, "Orang ini berbahaya Ratu". Timpal Memphis. "Diamlah Memphis". Ucapan Ratu membuatnya terdiam seketika, auranya kembali stabil, tapi dia tetap siaga.


"Apa kau berasal dari dunia ini? Atau kau sama seperti kami yang datang dari dunia lain?" Pengemis itu terlihat sedikit tersentak, dari reaksinya, Ratu bisa menyimpulkan kalau dia penduduk Asli dunia ini.


"Apa tujuanmu? Kalau kami bisa membantumu mewujudkannya, maka kami akan membantumu, sebagai gantinya, jadilah rekanku". Ratu mengulurkan tangannya, Rangda dan Memphis yang melihat hal itu menjadi teringat saat-saat mereka pertama kali bertemu dengan Ratu, mereka pun menurunkan kewaspadaan.


"Bagaimana?" Ratu masih menunggu jawaban dari pria pengemis itu.


Sosok itu mengangkat wajahnya ke arah Ratu dan mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan.


"Tujuanku ... Menghancurkan dunia ini". Suaranya tenang, namun mereka bisa merasakan sebuah kebencian yang amat besar dibalik ucapannya.


Ratu tersenyum, "Baiklah, aku akan membantumu mewujudkan keinginanmu. Sebagai gantinya, jadilah rekanku".


Sosok itu tersenyum, lalu dia melepas penutup matanya, memperlihatkan sesuatu yang selama ini dia sembunyikan.


Ratu tertegun ketika melihat sepasang mata berwarna ungu itu, Ratu sampai terdiam selama beberapa saat. 'Mata yang begitu indah ....' pikir Ratu. Mata cemerlang yang menatap dunia dengan penuh kebencian.


"Maka aku akan menyambut uluran tangan Sang Ratu". Dia berlutut di hadapan Ratu dan meraih tangannya, Ratu terlihat senang, begitu pula para bawahannya yang berada di tempat itu.


"Baiklah. Rangda, kita kembali ke Kota Bayangan". Titah Sang Ratu


"Dimengerti, Ratu".


Tapi mendadak Ratu menghentikan Rangda. "Oh iya, kita belum beli gorengan sama daging tusuk yang dibilang gadis-gadis tadi".

__ADS_1


"...."


__ADS_2