Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 13: Pembukaan


__ADS_3

Hari pertama program pendidikan akademi dimulai, seluruh murid berbaris di aula besar akademi, Kepala Akademi yang merupakan seorang Jenderal Militer Kekaisaran Leidengard memberikan sambutan kepada semua orang yang hadir saat itu.


Delegasi dari berbagai negara juga turut menghadiri upacara pembukaan akademi, pidato sambutan dari Jenderal Militer atau kita sebut saja sebagai Kepala Akademi membakar semangat peserta didik yang relatif berusia muda.


Motivasi dan apresiasi tidak henti-hentinya dilontarkan oleh Kepala Akademi kepada seluruh peserta didik tanpa mengarahkan ucapannya kepada kelas lencana tertentu, hal itu memperkuat keyakinan para murid dengan lencana rendah akan prinsip akademi tanpa diskriminasi.


Selesai Kepala Akademi memberi sambutan, satu persatu perwakilan dari benua lain turut memberikan ucapan selamat, tampaknya satu akademi dibangun di setiap benua guna menempa seluruh bakat muda di setiap benua untuk siap menghadapi musuh mereka di masa depan.


Murid terbaik dari setiap kelas lencana pun dipersilakan maju kedepan memberi sambutan kepada hadirin, dimulai dari lencana perunggu yang diwakili oleh seorang siswa bernama Gerrard Jagger, seorang rakyat biasa yang orang tuanya merupakan pedagang. Perwakilan lencana perak adalah Alfonso Notaras Chevallaire yang tidak perlu lagi dijelaskan latar belakangnya.


Yang paling dinanti tentu saja perwakilan lencana emas, tepuk tangan dan seruan riuh segera memenuhi aula begitu sosok perwakilan itu naik ke podium. Dia adalah Pangeran dari Kerajaan Zirae Levanto, Adrian Cornivus Duterte.


Alex dan teman sekamarnya yang lain menatap Adrian dengan mulut ternganga saat namanya disebut, Adrian hanya memasang senyum sombong dan segera maju ke podium dan memberikan pidato sambutannya yang diawali dengan tepuk tangan dan diakhiri dengan tepuk tangan meriah pula.


"Gilaa! Sudah anak Raja, jadi siswa terbaik di kelas terbaik pula, orang kayak gitu buatnya gimana coba." Celetuk seseorang di belakang Alex, membuat beberapa siswa tertawa tertahan. Alex menoleh ke sumber suara dan melihat seorang remaja berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun dengan rambut hitam dan mata kelabu, di dada kirinya tersemat lencana berwarna emas, dari penampilannya tidak diragukan lagi kalau dia anak seorang bangsawan besar.


Beberapa murid menegurnya karena ucapannya barusan itu bisa disalah artikan dan sedikit ofensif, tapi dia hanya tertawa seolah ucapannya tadi bukan apa-apa, 'Pasti anak orang besar ini', batin Alex.


Mata Alex dan anak itu bertatapan, dan dia tersenyum ramah ke arah Alex, sifatnya lumayan jenaka melihat dia sepertinya seorang anak bangsawan besar.


Adrian kembali ke tempatnya, tiba-tiba telinga Alex seperti berdengung cukup keras sampai membuatnya terlonjak kaget, -Orang itu adalah adik dari perwakilan kelas perak, namanya Ferdinand kalau aku tidak salah ingat.-

__ADS_1


Alex terperanjat kaget, suara Adrian seperti muncul dalam kepalanya begitu saja, tapi dia tidak melihat tanda-tanda mulut Adrian bergerak sedikitpun, "Adrian sepertinya memiliki kemampuan untuk melakukan telepati tuanku." Salah satu peri menjelaskan kepada Alex apa yang baru saja terjadi.


-Jangan bingung, ini adalah salah satu kemampuanku. Oh, aku tidak bisa membaca pikiranmu kok, jadi tenang saja.-


Sepertinya apa yang dikatakan peri itu benar, Alex jadi penasaran kemampuan macam apa yang dimiliki Adrian. Pengeras suara diketuk, semua murid kembali fokus ke depan, di atas podium sekarang berdiri seseorang dengan penampilan rapi, wajahnya menggambarkan seorang yang cerdas dan berwibawa.


"Sebelumnya. Perkenalkan, namaku Savier Einvus Folgrant, aku adalah orang yang dipercaya untuk menyusun kurikulum pendidikan akademi. Meskipun aku merasa tidak pantas, tapi mau bagaimana lagi." Orang yang bernama Savier itu membetulkan posisi kacamatanya.


Alex nyengir mendengar kalimat terakhir Savier yang terkesan seperti sedang menyombong dengan gaya.


"Aku akan menyampaikan satu keputusan akademi yang aku yakin kalian semua belum mengetahuinya," dia melanjutkan, "Seperti yang kita semua ketahui, murid di akademi ini dibagi menjadi tiga kelas. Lencana perunggu, lencana perak dan lencana emas, dimana lencana emas berisikan murid-murid dengan kualitas terbaik saat ini."


"Namun tentu saja hal itu terasa sedikit tidak adil, bukan begitu?" Savier menatap barisan murid dengan lencana perak dan perunggu, mereka hanya diam, tapi terlihat setuju dengan ucapannya, "Maka dari itu, akademi membuat satu sistem kenaikan lencana."


Kalimat barusan langsung disambut dengan suara gemuruh dari para siswa yang berbisik, ada yang senang, tidak terima, bahkan beberapa menganggap sistem ini sangat menarik. Adrian dan Ferdinand salah satunya.


Senyum di wajah Savier semakin lebar, "Yang artinya, dengan beberapa pertimbangan dan evaluasi, kalian yang awalnya memakai lencana perunggu bisa naik ke lencana perak dan bahkan ke lencana emas."


Aula semakin heboh, bahkan mulai terdengar berbagai seruan, mulai dari seruan protes sampai seruan antusias. Tapi Savier tidak peduli dan kembali melanjutkan perkataannya.


"Tentu saja dengan pertimbangan dan evaluasi itu, seorang dengan lencana emas bisa turun ke perak, atau bahkan perunggu. Aku sedikit enggan menjelaskannya secara detail, tapi intinya, kalian harus selalu melakukan yang terbaik. Sekian, terimakasih."

__ADS_1


Savier turun dari podium tanpa menghiraukan keributan yang mulai terjadi, para murid yang tidak terima berseru sambil menunjuk-nunjuk Savier, beberapa bahkan menyumpahinya. Kebanyakan murid yang protes adalah murid dengan lencana perak, sementara lencana perunggu mayoritas terlihat senang sampai para siswi jingkrak-jingkrak kegirangan.


Barisan lencana emas hanya diam, meskipun beberapa sempat berseru protes, tapi murid lain sesama lencana emas segera menenangkan mereka. Bisa gawat kalau kekuatan mereka lepas disini.


"Lencana emas bukan sesuatu yang bisa begitu saja didapatkan, kalian tidak perlu khawatir." Ferdinand turut menenangkan murid lencana emas. "Bagaimana kau bisa yakin!? Jelas-jelas si kacamata itu bilang kalau mereka bisa menurunkan kita ke peringkat rendah hanya berdasarkan evaluasi omong kosong itu!" Seru salah satu lencana emas.


"Memang ada diantara mereka yang bisa mengungguli kita dalam hal kekuatan?" Kalimat singkat dari seseorang membuat mereka terdiam, dia adalah seorang pemuda dengan rambut pirang dan mata hijau, "Yang Mulia, saya juga setuju dengan Anda." Ferdinand memasang sikap hormat kepada orang itu, "Hentikan Ferdinand, kita tidak membawa nama keluarga kita disini." Orang itu tidak salah lagi adalah Putra Mahkota Vasilius, Theodore Edgard Khalinos. Alex menatap Theodore tidak percaya, dia benar-benar mirip dengannya, selain warna mata.


"Selama kita tidak bersantai dan malas-malasan, kita tidak akan turun ke lencana perak. Sedangkan mereka, bahkan kalau mereka berlatih sampai setengah hidup sekalipun, akan sangat sulit mencapai tingkatan kita." Theodore melanjutkan, dia benar-benar berkharisma, sampai bisa mendinginkan kepala murid lencana emas yang sempat meledak.


Alex merasa Theodore lebih terlihat seperti putra seorang raja kalau dibandingkan dengan Adrian, mungkin itu juga disebabkan oleh perbedaan sistem pemerintahan negara mereka, dimana Vasilius adalah Kerajaan dengan sistem feodal, sementara Zirae Levanto adalah negara republik.


-Dia kolot banget, gaya bicaranya seperti bapak-bapak, badanku geli kalau melihat orang seperti itu.-


Suara Adrian kembali muncul di kepala Alex, dia hanya nyengir setelah mendengarnya, Adrian orangnya kelewat santai untuk ukuran anak penguasa negara.


"Perkataan Yang Mu- maksudku, Theodore, cukup masuk akal, jadi kita tidak perlu terlalu memikirkannya. Seperti yang dikatakan Savier tadi, kita hanya harus melakukan yang terbaik." Tanggap Ferdinand, semua murid lencana emas terlihat kembali tenang, sementara lencana perak masih saja ribut.


"Semua diam." Suara Kepala Akademi seketika memecah semua keributan, aura kuat seketika menekan mereka semua bersamaan dengan suaranya yang menggema ke seisi aula, padahal dia tidak menggunakan pengeras suara.


"Cukup sampai disini pembukaan akademi kali ini, Saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas partisipasi dan dukungan seluruh perwakilan dari berbagai pihak yang rasanya tidak mungkin saya sebut satu persatu. Kami juga meminta maaf apabila kami telah memperlihatkan sesuatu yang tidak sepatutnya. Dengan ini, Akademi Aliansi Benua Barat resmi dibuka!"

__ADS_1


__ADS_2