
"Departemen Sihir akhirnya setuju untuk mengirim anggotanya sebagai bantuan di pos-pos pertahanan, untuk tenggara, mereka akan mengirim dua orang anggotanya kemari." Tutur Theodore, Ferguson tampak tersenyum lega, begitu pula Alex dan kawan-kawannya.
Seorang prajurit masuk ke kantor dengan membawa secangkir teh untuk Theodore, entah kapan Ferguson menyuruhnya, atau mungkin ini atas inisiatifnya sendiri?
"Sepertinya Anda berhasil menyampaikan permintaan saya ke Dewan Departemen Sihir, Yang Mulia. Saya tidak tahu bagaimana saya harus menunjukkan rasa terimakasih saya." Ferguson menunduk hormat, diikuti oleh Alex dan yang lain.
Theodore tersenyum kecil setelah menyesap tehnya, "Yah, itu karena bukan hanya tenggara yang meminta bantuan penyihir, banyak suara yang terkumpul, mereka tidak punya pilihan lain. Tapi jujur saja, bantuan penyihir di tenggara merupakan yang paling sedikit dibanding pos pertahanan lain," jelas Theodore, "Keberadaan Collin dan putri Brigantine adalah alasan di balik keputusan itu."
Ferguson tertawa kecil, "Tentu saja, mereka berdua membuat bertahan dari serangan iblis terasa mudah saat ini."
Ekspresi Theodore berubah setelah Ferguson mengatakan itu. "Atau mungkin juga tidak," ucapnya singkat.
"Lalu untuk kabar buruknya." Theodore kembali melanjutkan setelah menyesap tehnya sekali lagi, "Iblis-iblis itu bukan cuma satu jenis, mungkin seharusnya Collin dan rekan-rekannya menyadari hal itu." Theodore merujuk pada peristiwa di gerbong kereta yang menewaskan Brian.
Alex dan dua orang lainnya mengangguk, mana mungkin mereka lupa akan hal itu, itu adalah momen pertama bagi mereka berhadapan langsung dengan iblis.
"Wilayah selatan diserang oleh iblis yang memiliki ciri-ciri serupa dengan iblis yang menyerang kalian dalam perjalanan." Theodore melanjutkan.
"Tubuh berwarna perak yang sekeras besi, mata hijau menyala. Hanya saja yang menyerang selatan memiliki wujud manusia, wujudnya mirip dengan mannequin yang biasanya dipasang di butik-butik kalau aku boleh mengatakan perumpamaannya."
Semua orang di ruangan itu menahan nafas, tapi kemudian Alex teringat, bukankah di selatan ada Adrian dan Alvaro? Seharusnya mudah saja bagi mereka menghancurkan tubuh keras iblis-iblis itu, apalagi kalau menurut deskripsi yang diberikan oleh Theodore tadi, ukuran mereka lebih kecil.
Anford yang berdiri di sebelah Alex juga memiliki pemikiran yang sama, dia dan Alex sama-sama percaya dengan kemampuan dua rekan sekamar mereka yang berada di selatan.
Sementara Desmond, tidak perlu dikatakan lagi, dia adalah orang yang memiliki keinginan untuk melampaui Adrian suatu hari nanti, karena itulah dia terus berusaha untuk menggali potensi kemampuannya setiap hari.
"Itulah yang ingin aku sampaikan sebagai kabar buruk."
__ADS_1
Ucapan Theodore membuat semua orang di ruangan itu terhenyak. Dengan Adrian dan Alvaro, ditambah dengan Raymond, memang hal buruk apa yang bisa terjadi kepada mereka?
Alex berusaha menenangkan dirinya, bisa jadi maksud perkataan Theodore tidak seperti yang dia pikirkan, dia berusaha untuk menepis semua pikiran buruk yang melintas di benaknya.
Kalaupun memang terjadi sesuatu yang buruk, tidak mungkin itu lebih buruk daripada para iblis yang berhasil menembus kota dan menyebabkan banyak korban jiwa, pasti mereka pun berhasil memukul mundur kawanan iblis itu pada akhirnya.
"Sananta, kota yang menjadi pos pertahanan selatan berhasil ditembus oleh iblis-iblis itu," ucap Theodore, "Banyak sekali korban jiwa berjatuhan, termasuk perwira selatan sendiri."
Ferguson tertunduk mendengar kabar itu, "Mitchell Oswald. Dia prajurit yang berdedikasi ...." Ferguson tampaknya mengenali orang yang ditugaskan menjadi perwira pos pertahanan selatan.
Theodore mengangguk, "Dia gugur dengan terhormat, dia mempertahankan garis pertahanan hingga nafas terakhirnya."
Ruangan itu menjadi hening selama beberapa saat, sebenarnya ada satu pertanyaan yang mengganjal di kepala Alex, tapi dia tidak berani menyela keheningan itu sampai akhirnya Theodore kembali melanjutkan perkataannya.
"Beberapa prajurit hebat juga gugur di sana," Theodore menyebutkan nama-nama murid Kelas Perunggu dan Kelas Perak yang tewas di pertempuran itu satu persatu. Mereka adalah orang-orang yang juga dikenal oleh Alex dan dua rekannya, tentu saja hal itu membuat mereka turut berduka.
"Lalu ...." Tenggorokan Theodore tercekat saat dia terlihat akan mengatakan sesuatu yang penting. Setelah beberapa saat terdiam, dia kembali melanjutkan perkataannya.
Mata Alex membelalak mendengar nama itu disebut, kepalanya langsung terasa kosong, dia perlahan menoleh menatap wajah Theodore, ekspresi tertekan di wajah Theodore terlihat begitu jelas.
"Anda bohong kan?" Suara Desmond terdengar bergetar, dia mendekati Theodore dan berlutut di hadapannya.
"Putra Mahkota ... Yang Anda katakan itu hanya candaan kan?" Desmond bertanya kepada Theodore, tapi intonasinya terdengar seperti sedang memohon, memohon supaya dia mengatakan kalau ucapannya barusan hanya candaan.
Theodore hanya diam menatap mata Desmond dengan tajam, "Donovan ... Aku memang memintamu untuk bersikap normal, tapi aku tidak akan memaafkan segala bentuk kelancangan bahkan dalam situasi seperti ini."
Wajah Desmond pias, dia langsung tertunduk ke lantai.
__ADS_1
"Apa ... Apa yang dilakukan oleh Alvaro?"
Anford berusaha menahan emosinya, hawa panas mendadak memenuhi ruangan itu.
"Dia dan putra Brigantine juga nyaris mati, Adrian Cornivus Duterte mengorbankan dirinya supaya mereka bisa melarikan diri."
Anford masih terlihat tidak terima, "Apa William tidak berada di tempat itu? Apa tidak ada seorangpun yang membantu Adrian?" Suaranya berat, seolah kalau ada orang selatan yang berada di tempat ini, dia akan langsung menghajarnya.
"Foster juga sudah mencapai batas kemampuannya, dia sudah banyak menggunakan kekuatannya untuk memberi dukungan serangan udara. Keputusan paling rasional adalah merelakan Cornivus, jika saja mereka tetap bersama dengannya, mungkin kita sudah kehilangan semua pengemban kekuatan cahaya di selatan."
Anford hendak kembali mengatakan sesuatu, tapi Alex mencengkeram pundaknya, "Untuk saat ini ... Kita akan menerima kabar itu ...."
Hawa panas di ruangan itu berangsur-angsur menghilang, Ferguson kembali menonaktifkan aura yang melindunginya dari hawa panas dan bernafas lega.
Dia mengerti betul perasaan pemuda-pemuda ini, karena dia berkali-kali mengalami hal yang sama di masa lalu dan baru saja mengalaminya.
Kehilangan adalah bagian dari peperangan, siapa saja yang masuk ke dalam kubangan peperangan hanya bisa menerima hal itu dengan pasrah. Mereka akan terbiasa dengan hal itu setelah kehilangan beberapa rekan.
"Kurasa aku sudah cukup berada di sini," Theodore menghabiskan sisa tehnya dan berdiri dari sofa, dia mendekati Ferguson dan menjabat tangannya. "Satu hal lagi, Aliansi memutuskan untuk mentransfer satu orang pengemban kekuatan cahaya dari tenggara untuk menggantikan Adrian Cornivus, aku menyarankan Brenda Derrantes."
Ferguson mengangguk, "Saya mengerti."
Theodore tersenyum kecil, "Kalau begitu, aku akan lanjut bertugas. Perwira Ferguson." Theodore memberi hormat militer.
"Komunikator Theodore." Ferguson membalas hormat itu.
Theodore meninggalkan ruang kerja Ferguson, menyisakan Ferguson dan tiga orang prajurit muda yang hanya terdiam di tempat tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
"Sekali lagi aku katakan. Selamat datang di medan perang."
Ferguson mengatakan itu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya.