
Suasana di kota itu sedikit ribut, orang-orang sedang panik karena mendengar kabar kalau kota tetangga mereka diserang oleh sekawanan iblis.
Beberapa saat lalu, seorang remaja berusia belasan tahun berlari dengan panik dan berkata kalau iblis muncul di kota sebelah.
Dia adalah anak seorang tabib yang sering mencari tanaman obat di hutan yang berbatasan dengan kota sebelah, jadi informasi darinya memang bisa dipercaya.
Prajurit yang berjaga di kota itu segera mempersiapkan pertahanan dan mengirim pesan ke pos pertahanan barat.
Beberapa prajurit lulusan Akademi yang bertugas di kota itu menguasai Sihir dan kemampuan mereka sangat tinggi, jadi mereka masih bisa mengulur waktu sampai bantuan dari pos pertahanan tiba.
Yang menjadi masalah adalah jika prajurit di kota sebelah tidak siap dengan serangan dadakan dan membuat mereka dikalahkan dengan cepat, iblis-iblis itu kemungkinan akan menyerang mereka sebelum prajurit di pos pertahanan tiba.
Butuh sekitar dua puluh menit sampai pasukan dari pos pertahanan tiba, mereka harus bertahan sampai bantuan tiba dengan cara apapun.
Para prajurit bersiaga di gerbang masuk kota, penyihir, pemanah, dan artileri pertahanan bersiaga di dinding benteng.
Seluruh warga mengungsi di ruang bawah tanah yang dibangun di beberapa tempat seperti markas militer, rumah ibadah dan mansion walikota. Beberapa orang juga membuat tempat persembunyiannya sendiri di rumah masing-masing.
Situasi kota begitu genting, semua warga hanya bisa duduk diam menanti nasib mereka berikutnya. Apakah itu nasib baik, atau justru sebaliknya, mereka hanya bisa berdoa dalam diam.
"Tidak apa-apa nak," seorang ibu terlihat sedang menenangkan putranya yang terlihat ketakutan. "Pak prajurit sangat kuat, mereka pasti akan berhasil mengusir iblis-iblis itu kembali ke tempatnya."
"Tapi aku takut." Si anak yang terlihat masih belum menginjak usia sepuluh itu mendongak menatap ibunya, dia kemudian mendekap ibunya semakin erat, tanpa menyadari ketakutan yang tergambar di mata sang ibu.
'Oh, dewa ... Kumohon, apapun selain anak ini.' Hanya itu yang diharapkan oleh sang ibu.
Apa yang dirasakan oleh ibu itu juga dirasakan oleh semua orang di tempat persembunyian, kabar mengenai terbantainya satu kota dan satuan prajurit telah sampai ke telinga mereka, teror iblis-iblis itu telah sampai ke penduduk kota bahkan sebelum kemunculannya.
Mereka semua berdoa dalam keheningan, hanya terdengar suara tangis sesenggukan anak kecil dan bisikan doa para pemuka agama.
__ADS_1
Para prajurit telah menghimbau mereka untuk tidak keluar apapun yang terjadi, mereka akan menggunakan kode ketukan khusus untuk memberitahu jika situasi sudah aman.
Entah sudah berapa menit berlalu, tapi mereka merasa sudah berada di tempat ini selama berjam-jam.
Anak-anak mulai tertidur karena lelah menangis, beberapa orang juga mulai berbincang untuk sekedar mengendurkan ketegangan saat tiba-tiba suara gemuruh keras disertai guncangan hebat terdengar tepat diatas kepala mereka.
Semua orang diam mematung, saat itu mereka menyadari sesuatu. Rumah ibadah di atas mereka telah dihancurkan, dan itu berarti garis pertahanan kota telah berhasil ditembus.
"Dewa tolong jangan abaikan kami." Bisik salah satu pemuka agama dengan suara gemetar.
Suara tangisan anak kecil mulai kembali terdengar, bahkan beberapa orang dewasa mulai histeris.
Pintu besi ruang bawah tanah di pukul dengan kuat berulang kali, jelas itu bukan para prajurit.
*BANG!*
*BANG!*
Suara itu kembali terdengar, langit-langit kokoh yang menopang pintu itu mulai retak dan pintu mulai melesak ke dalam. Suara jeritan histeris semakin menjadi-jadi, para pemuka agama bersimpuh dengan berlinangan air mata sembari tak henti-hentinya memanjatkan doa.
*BANG!*
*BRAK!*
Pintu besi itu berdebam keras menghantam lantai ruang bawah tanah, debu dan serpihan dinding berterbangan ke seisi ruangan.
Kepala makhluk berukuran raksasa mengintip dari lubang di langit-langit ruang bawah tanah, seringai mengerikan muncul di wajahnya yang penuh darah. Suara jeritan terdengar semakin memilukan sejak kemunculan makhluk itu.
"KHR KHR KHR ...." Suara geraman yang terdengar seperti tawa itu meruntuhkan jiwa semua orang di sana, mereka kini menyadari bahwa tidak ada harapan untuk mereka, yang bisa mereka lakukan hanya diam ditempat menunggu giliran masing-masing.
__ADS_1
Tangan besar makhluk itu dengan mudahnya mempreteli langit-langit ruang bawah tanah, saat dirasanya lubang itu cukup besar, dia memasukkan tangannya ke dalam ruang bawah tanah seperti seseorang memasukkan tangannya ke dalam toples makanan.
Semua orang menjerit, mereka semua menjerit, tidak ada lagi lantunan doa. Mereka hanya menyerukan nama dewa mereka disela-sela jerit keputusasaan.
*CRASH*
*BRUK!*
Tangan yang sedang meraih ke dalam lubang itu terpotong dan jatuh, darah berwarna ungu terciprat ke seisi ruang bawah tanah.
"GRAAAAAAHHH!"
Makhluk itu berteriak murka, tapi belum sempat teriakannya selesai, kepalanya terpotong dan tubuhnya rubuh ke tanah.
Orang-orang terpaku diam melihat semua itu, mereka masih belum bisa sepenuhnya mencerna apa yang terjadi.
Sampai sesosok pemuda dengan rambut pirang dan mata biru mengenakan zirah lengkap muncul dari mulut lubang yang menganga.
"Kalian aman sekarang, serahkan pada kami."
Setelah itu mereka sempat mendengar seruan-seruan prajurit dan suara pertempuran, tapi pikiran mereka seperti berada di tempat lain, perasaan lega yang amat sangat membuat mereka tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekitar mereka.
"Kita sudah aman nak, setelah ini kita akan pulang." Ibu tadi mendekap anaknya yang masih menatap lubang di langit-langit dengan tatapan shock, berkali-kali dia mengucapkan rasa syukur pada dewa yang mengutus penyelamat kepada mereka.
...****************...
Ilustrasi karakter Alfonso Notaras Chevallaire
__ADS_1