
Setelah tamu itu pulang, Selly mengajak Ibunya untuk melihat ruko di pinggir jalan dekat rumah. Selly langsung menghubungi nomor telepon yang ada di banner ruko.
"Hallo selamat sore,"
"Selamat sore, Pak. Maaf Pak saya Selly, saya ingin melihat ruko bapak yang ingin di sewakan,"
"Ruko yang di jalan pejuang sudah laku terjual Bu, saya minta maaf belum sempat saya cabut banner nya,"
"Oh, gitu ya Pak. Ya sudah kalau begitu, terima kasih Pak,"
Hati Selly sedih, karena gagal ingin menyewakan Ruko untuk Ibu nya.
"Maafin Selly ya, Bu. Ternyata ruko ini sudah laku terjual," ucap Selly sendu.
"Gak papa sayang, berarti belum jodoh sama kita. Ibu gak papa jualan di rumah,"
"Maaf ya Bu, Selly menunggu gajian untuk sewa ruko. Tapi malah tak kebagian,"
"Gak papa sayang, kita pulang yuk!! Kamu belum makan malam," Selly pun mengangguk.
ketika Selly dan ibunya berjalan untuk menuju rumah. Ada seseorang yang memanggil Selly dengan sebutan sayang, siapa lagi kalau bukan Genta sang pujaan hati.
"Sayang,"
"Kenapa Mas? kenapa kamu ke sini lagi?" tanya Selly yang heran dengan kekasihnya itu.
"Kamu lagi sedih sayang, sedih kenapa? cerita sama aku,"
"Ruko depan sudah di beli orang, Mas. Aku gagal sewain untuk Ibu," ucapnya sendu kepada sang kekasih.
"Ibu ga papa, Nak. Kamu jangan terlalu mikir ke situ, yang penting Ibu jualan di rumah laris manis," ujar Ibu sambil memeluk anak semata wayangnya itu.
"Yuk masuk, Ibu buat kan teh hangat. Ajak temannya yang lain Nak Genta,"
"Iya, Bu,"
"Kamu dari mana sayang, masih pakai baju Kantor,"
"Dendi, mana?"
Dendi memberikan amplop coklat ke Genta. Lalu Genta memberikan lagi pada Selly.
"Terima, aku gak mau ada penolakan,"
Selly langsung membuka amplop berwarna coklat, dia membaca kertas putih yang ada di dalam amplop tersebut.
Selly melebarkan mulut dan matanya, dia tak bisa berkata-kata. Setelah itu dia langsung memeluk sang kekasih.
CUP
"Mas, ini serius untuk Ibu?" tanya Selly setelah mencium pipi sang kekasih.
"Iya sayang, aku sudah janji akan bahagiakan kamu dan Ibu di depan makam Ayah,"
"Mas, terima kasih," Genta mengangguk ikut bahagia.
__ADS_1
"Selly, kamu apa-apaan pelukan di situ,"
"Ibu, lihat ini Bu!! Mas Genta yang beli ruko di depan untuk Ibu,"
"Ya Allah, Nak Genta. Ibu takut terima ini dari kamu. Kamu dan Selly berhubungan belum lama, tapi kamu sudah berani beli ini untuk Ibu. Ibu takut nanti jadi masalah di kemudian hari," ungkap Ibu Selly yang masih ketakutan.
"Tolong Ibu terima ya, ini gak akan bermasalah Bu. Nanti kita balik nama atas nama Ibu ya, besok biar Dendi carikan pembantu untuk bersih-bersih," ujar Genta sambil memeluk calon Ibu mertuanya.
"Terima kasih ya Nak Genta, Ibu mau balas seperti apa, Ibu gak tau,"
"Balasnya dengan Selly aja Bu, biar dia gak lama-lama mikir nikahnya," canda Genta.
"Kalau itu terserah Selly, Ibu tinggal merestui kalian aja,"
Genta pun menaik turunkan alisnya ke arah sang kekasih. Selly pun menjulurkan lidahnya ke Genta pria tua dan tampan itu.
"Ayok sekarang kalian makan dulu,"
"Kita makan di luar aja Bu, soalnya anak buah saya di luar banyak," ucap Genta.
"Oh, kirain hanya ini aja,"
"Masih ada satu mobil lagi, Bu. Oiya Bu, boleh saya ajak Selly Bu?"
"Boleh, tapi pulangnya gak boleh lebih dari jam 10,"
"Siap, Ibu,"
Genta dan Selly serta yang lain berpamitan pada Ibu Selly. Sepanjang jalan pulang dari rumah Selly ke Apartemen, Genta terus tersenyum melihat Selly.
"Dendi, pesankan aku beef,"
"Siap, Tuan. Kalau Non Selly mau apa,"
"Saya apa saja, yang penting bisa di makan," ucap Selly.
"Belikan dia SOP iga,"
"Kenapa jadi kamu yang pilihkan,"
"Biar segar makan itu, ada tenaga buat nanti," Selly menghentikan langkah kakinya sebelum masuk ke apartemen sang kekasih.
"Kenapa berhenti" tanya Genta heran.
"Ucapan kamu suka aneh-aneh gitu, Mas. Aku jadi takut," jawab Selly melanjutkan perjalanan ke kamar Genta.
Ceklek.
"Aku mandi dulu ya, kamu mau di sini atau mau ikut ke dalam kamar?"
"Di sofa aja,"
"Oke, nanti kita lihat video Korea yang aku maksud ya,"
"Iya, ya udah buruan mandi,"
__ADS_1
Selagi Genta masuk ke dalam kamar untuk mandi. Selly merebahkan tubuhnya sebentar sebelum di ganggu oleh Genta.
Selly memejamkan mata sebentar, bukan untuk tidur tapi memikirkan hidupnya. Entah mengapa keberuntungan selalu hadir ketika dia lulus kuliah.
"Kalau ngantuk tidur di dalam," ucap Genta sambil berjalan mendekat ke arah Selly.
Selly pun duduk dan merapikan rambutnya dengan mengikat menggunakan kuncir rambut berwarna pink.
"Aku gak ngantuk Mas, nunggu makan lama sekali,"
"Ada yang kelaperan, sabar sayang nanti aku telpon Dendi," ucap Genta sambil duduk di samping Selly.
CUP
"Mau lihat video itu sekarang?" tanya Genta.
"Nanti, aku belum makan," jawab Selly yang menyandarkan kepalanya di bahu Genta.
'Ting..tong..'
Genta langsung mengirim Voice note ke Dendi, untuk membuka pintu sendiri karena Selly sedang memeluk dan bersandar.
Ceklek.
"Biar saya siapkan, Tuan,"
"Maaf ya, Den. Aku lemes gara-gara makan telat," ucap Selly.
"hihihi.. Iya Non," Kekeh Dendi.
Dendi dengan sigap menyiapkan makan malam untuk Tuan dan kekasihnya. Dendi assisten yang sejak dulu ikut Genta, dia sudah hafal tuannya gimana. Termasuk ke wanita, Genta tak cepat gampang suka. Tapi entah mengapa ke Selly cepat sekali Genta melabuhkan hatinya. Dendi dan para bodyguard lainnya juga heran.
Padahal Selly wanita biasa kalau di banding puluhan wanita yang datang pada Genta. Tapi Genta lebih menyukai gadis yang polos dan biasa saja.
Walaupun Selly meyambut cintanya, tapi Selly tak memberikan sepenuhnya dulu. Karena dia takut keluarga besa Bagaskara tidak menyetujui hubungan mereka berdua.
"Sudah selesai, Silahkan Tuan dan Non Selly,"
"Terima kasih,"
"Sama-sama,"
Selagi mereka makan, Dendi kembali ke kamar apartemen sebelah. Meninggalkan dia sejoli yang sudah kelaparan.
Di tengah-tengah makan malam, suara handphone Genta berbunyi. Dengan sigap Selly mengambilnya dari sofa.
"Sintia," Selly membaca nama di layar.
"Nih, pacar kamu nelpon," ucap Selly sambil memberikan Handphone kepada pemiliknya.
"Dia bukan pacarku, pacar ku itu kamu,"
"Mau aku bantu angkat telponnya?"
"Gak usah di angkat, nanti juga berhenti sendiri,"
__ADS_1
Selly tak menanggapi ucapan Genta, dia terus menyantap makan malamnya yang sisa sedikit.