
Selly hari ini sudah diperbolehkan pulang, karena dia sudah tidak demam lagi. Tapi Selly pulang ke apartemen Genta. Dia tak bisa menolak ajakan kekasihnya.
Axel ikut membantu kepulangan Selly dan Nyonya Bagaskara menunggu di apartemen Genta.
"Kakak ipar, umurnya berapa sih? kok kayak muda banget,"
"Ya emang masih muda, kamu pikir aku umur berapa?" tanya Selly kepada calon adik iparnya itu.
"Gak bisa nebak, berapa Kak umurnya?" tanya Axel penasaran.
"umur ku 22 tahun,"
"anj*r.. Beda sama gue 7 tahun. Beda sama Kak Genta berapa itu?" tanya Axel.
"Kamu tanya sendiri sama Kakak mu. Aku mau tanya, kenapa adek dan kakak pada gak pacaran? gak ada yang mau ya?"
"Ga mungkin dong Kak, masa ganteng-ganteng gini gak ada yang mau. Kita mah cari yang gak matre,"
"Berarti kamu cowok pelit,"
"Enak aja, gak juga Kakak ipar,"
"Sayang, jangan dekat-dekat sama dia. Nanti kamu di gombalin, dia playboy," ucap Genta yang keluar dari kamar mandi.
"Masa gue mau menikung kakak ipar sendiri, gak lah Kak," ucap Axel.
"Siapa tau aja, Xel,"
"Mas ganteng, aku mau makan yang pedas-pedas. Biar cepat sembuh," pinta Selly.
"Kamu sama aku aja sudah sembuh, ngapain harus makan yang pedas,"
Selly pun memanyunkan bibirnya, sambil menggoyangkan kaki di pinggir tempat tidur rumah sakit.
"Lihat tuh kalau pacaran sama anak kecil, kekakuannya pun kayak anak kecil," ledek Axel. Selly langsung menatap tajam ke arah mata Axel.
"sudah ayok pulang, aku ke rumah Ibu aja," ajak Selly, Genta tak menanggapi Selly. Dia membereskan sendiri pakaian kotor dia.
"Xel, tolong bawain ini!!" Genta menyuruh Axel untuk membawa tas, karena dia ingin menuntun Selly.
"Ayok pulang!!" ajak Genta sambil mengulurkan tangan, tapi Selly tak mau menerima uluran tangan Genta.
"Tuan Axel, sini tas nya biar saya yang bawa," ucap Dendi, dan Axel memberikan tas nya.
Selly jalan lebih dulu, di ikuti dengan Genta dan yang lain. Di dalam lift Selly pilih paling belakang, menyandarkan tubuhnya di pinggiran lift.
Axel tertawa melihat kelakuan calon Kakak iparnya yang lagi ngambek. Genta pun mulai mendekat ke Selly, memeluk tubuh sang kekasih. Selly pun mendorong-dorong tubuh Genta, tapi tak ada pergerakan.
'Ting.. tong.." suara lift dan pintu lif pun terbuka.
Mereka langsung menuju mobil Genta, kecuali Axel dia membawa mobil sendiri.
"Kita pulang ke Non Selly atau apart, Tuan,"
"Ke rumahku,"
"Ke Apart," ucap mereka berdua secara bersamaan.
"Yang gaji kalian siapa?" tanya Genta ke anak buahnya.
"Baik, Tuan,"
Selly langsung menyenderkan tubuhnya ke belakang bangku mobil, dia pun memejamkan matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sampai di Apartemen, Genta menuntun Selly masuk menuju kamarnya. Dia menggenggam tangan Selly, tapi yang di pegang memasang wajah cuek.
"Kakak ipar masih cemberut aja, cantiknya hilang deh," ledek Axel.
"Heh.. pacar kakak mu masih aja di gombalin," protes Genta.
"Hahaha... kayak gitu bukan gombal Kak," Kekeh Axel sambil menggelengkan kepala.
"Dendi, pesankan makanan untuk kita bertiga. Yang satu gak usah pedas,"
"Baik, Tuan,"
Sampai di kamar, Selly duduk di sofa bed. Dan Genta masuk ke dalam kamar, karena ingin menaruh tas dan pakaian kotor.
"Kakak ipar, nanti aku kasih makanan ku yang pedas. Sudah jangan ngambek lagi," bisik Axel menawari makanan nya, tapi Selly menolaknya dengan menggelengkan kepala.
"Gak apa-apa Kak, dari pada pengen kan," Selly tetap menggelengkan kepala.
"Sayang, kamu istirahat dulu sambil menunggu makan siang. Kamarnya sudah aku bereskan," ujar Genta yang menghampiri Selly.
Selly pun jalan ke kamar tanpa membalas ucapan kekasihnya. Genta langsung masuk ke dalam kamar juga.
"Ribet banget sih pacaran sama anak kecil," seru Axel yang masih duduk di sofa bed.
Selly merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran King. Genta juga mengikuti Selly, dan memeluk Selly dari belakang.
"Jangan marah, aku cuma gak mau kamu sakit lagi," ucap Genta lembut.
"Sayang," panggil Genta.
Genta membalikkan tubuh Selly, "Marah mulu, dear. Besok kalau obatnya sudah habis, kamu benar-benar sudah sembuh baru aku turutin kamu mau makan apa aja. Kalau sekarang nurut sama aku dulu, ya?"
"Hmmm..."
TOK
TOK
"Iya,"
Genta langsung mengajak Selly untuk berjalan keluar kamar.
Ceklek.
"Ini punya Kakak ipar, ini punya Kak Genta,"
"Terima Kasih, Axel,"
"Sama-sama Kakak ipar, nih gue kasih punya gue. Sesendok aja ya, nyobain dulu yang pedas," Axel memberikan sesendok makanannya ke Selly, Genta hanya melihat pemandangan itu.
"Terima kasih," Axel hanya mengangguk.
Lalu mereka bertiga makan siang tanpa bersuara. Genta terus melirik ke arah Selly yang lagi asik ngobrol dengan Axel.
"Dendi, cari art untuk seminggu," perintah Genta pada sang asisten.
"Baik, Tuan. Nanti saya bantu carikan,"
"Sudah belum makannya?" tanya Genta.
Selly yang sudah selesai makan dari tadi, langsung masuk kembali ke dalam kamar dengan menghentakkan kakinya.
'HAP'
"Kamu suka sama Axel?" tanya Genta sembari menarik tangan Selly.
__ADS_1
"Kalau kamu gak mau jawab berarti kamu suka sama Axel," Genta langsung melepas tangan Selly.
"Dari mana ceritanya orang gak jawab di bilang suka," ucap Selly dalam hati.
Selly memutuskan untuk tidur, nanti sore dia baru pulang ke rumah. Ketika mau tidur, Handphone Selly berdering.
"Hallo, Bu,"
"Kamu sudah keluar dari rumah sakit, Nak?"
"Sudah, Bu. Nanti sore aku pulang ke rumah,"
"Sudah makan siang?"
"Sudah, Ibu sudah makan belum?"
"Sudah, Nak. Jangan lupa minum obatnya, biar cepat sembuh,"
"Iya Ibu,"
"Ya sudah, istirahat lah. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Selly langsung mematikan sambungan telpon, dan dia segera ingin tidur.
...****************...
Bangun tidur, Genta tak menemukan Selly ada di kasurnya. Tas dan handphone Selly juga tak ada di kamarnya.
"Dendiiiii... Dendiiiii..." teriak Genta yang begitu kencang.
Ceklek.
"Apa sih Kak teriak-teriak," Axel melihat kan kepalanya di pintu.
"Kemana Selly?"
"Pulang,"
"Kenapa gak Lo cegah?"
"Ya emang kenapa? orang dia pulang ke rumahnya sendiri. Di antar juga gak mau, diem aja mulutnya,"
"Panggilkan Dendi,"
"hmmm..."
Axel langsung memanggil Dendi yang ada di dapur.
"Den, panggil tuh sama Bos. Pacarnya pulang kayak orang stress,"
"Hihihi.. baru tau ya Tuan," Kekeh Dendi sambil jalan menemui Genta.
"Permisi Tuan Genta,"
"Masuk,"
"Antar saya ke rumah Selly," perintah Genta.
"Maaf Tuan, Non Selly berpesan. Kalau Tuan gak boleh ke rumahnya, dia ingin istirahat,"
"Antar Saya!!!" bentak Genta.
"Ba..baik Tuan, mari saya antar," ucap Dendi dengan takut.
__ADS_1
Genta pun berjalan lebih dulu keluar kamar, tanpa menegur Axel yang ada di sofa bed.