Di Cintai Bosku Yang Bucin

Di Cintai Bosku Yang Bucin
BAB 23


__ADS_3

Dua minggu sudah Genta bertugas di Kota sebelah, tapi dia tak pernah absen sehari pun untuk video call kekasihnya.


Dalam sehari dia selalu menelpon tiga kali (kayak minum obat ya). Memang itu yang di lakukan dua sejoli itu.


Selly hari ini gak masuk kerja, karena lagi kurang enak badan. Semua pekerjaan di handle oleh Dendi. Calon Mamah mertua menemani calon menantu di apartemen milik anaknya.


Sebenarnya dia ingin pulang ke rumahnya, tapi gak diperbolehkan sama Nyonya Bagaskara.


"Sayang, makan dulu buburnya, baru minum obat,"


"Nanti aja Mah, takut mulutnya masih pahit," ucap Selly.


"Perut kamu kosong, belum makan apa-apa dari tadi. Mamah suapin aja yuk!!"


Selly pun mengangguk, Nyonya Bagaskara segera mengambil mangkok yang berisi bubur ayam buatannya.


"Harus sehat ya, nanti Yayank nya khawatir di sana," goda Mamah.


"Aku makan sendiri aja, Mah,"


"Udah diam, Mamah aja yang suapin,"


"Aku ngerepotin Mamah,"


"Gak sayang, Mamah gak merasa di direpotkan. Ibu kamu lagi banyak pesenan kue. Yang pesan sudah jauh-jauh hari, jadi gak bisa di cancel,"


"Iya Mah, Mamah jangan kasih tau Mas Genta ya. Nanti Mas Genta gak konsen kerjanya,"


"Mamah gak bilang, paling Dendi yang bilang,"


Selly lupa memberi tahu Dendi, kalau jangan bilang ke Genta. Dia takut Genta khawatir, dan tidak konsentrasi kerja.


Selesai makan Selly diberi obat oleh Nyonya Bagaskara. Selly pun nurut sekali dengan calon Mamah mertuanya.


"Tidur sayang, biar cepat turun panasnya. Kalau besok masih panas, kita ke dokter ya,"


"Iya Mah,"


Setelah menyuruh Selly untuk tidur, Nyonya Bagaskara keluar dari kamar. Di luar kamar Nyonya Bagaskara langsung menelpon Genta.


"Hallo Mah,"


"Kamu sudah tau Selly sakit?"


"Sakit? sakit apa Mah?" tanya Genta panik.


"Demam, kirain Mamah kamu sudah tau. Ya udah lanjut kerjanya, gak usah mikirin Selly. Dia ada Mamah yang jaga,"


"Terus kabarin kondisi dia ya Mah, tadi pagi Genta telepon katanya kesiangan makanya gak kerja. Ternyata lagi sakit, sekarang dia lagi apa, Mah?"


"Sekarang lagi tidur, abis minum obat. Ya udah ya, Mamah mau ganti kompres dia, bye,"


"Bye, Mah,"


Selesai menelpon Genta, Nyonya Bagaskara masuk kembali ke dalam kamar Genta. Beliau duduk di samping kasur, karena ingin menggantikan kompres yang ada di kening Selly.


"Sembuh, Sayang. Jangan sakit-sakit, nanti badannya kurus deh," ucap Nyonya Bagaskara yang sedang menaruh kompres di kening Selly.


****************


Pagi ini rencananya Selly mau dibawa ke Rumah Sakit, karena panasnya tak kunjung turun.


Di apartemen Genta sudah kumpul, orangtua Selly, Ibu Selly, Dendi dan adiknya Genta.


"Kita jadinya mau ke rumah sakit mana, Den?"


"Rumah sakit Medika Nyonya, itu rumah sakit terdekat dari sini. Walaupun jaraknya kurang lebih 30 menit," jawab Dendi.

__ADS_1


"Ya sudah, ayok!! dibawa Selly nya," perintah Mamah pada 3 pria yang ada di situ.


"Aku jalan sendiri aja," pinta Selly.


"Kakak ipar, jangan sok kuat ya. Muka Lo pucat banget,"


"Di papah aja jangan di angkat,"


"Oke, sini gue bantu papah,"


Adiknya Genta langsung memapah Selly untuk berjalan ke luar kamar Genta dan menuju Lobby.


"Selly, kamu yakin kuat?" tanya sang Ibu.


"Kuat, Bu," jawab Selly sambil menahan kepalanya yang pusing.


"Kakak ipar, kenapa bisa sakit? mikirin Kak Genta ya?"


"Hmmm... gak, memang sudah waktunya aja aku sakit,"


"Tahan ya Kakak ipar, sebentar lagi kita sampai lobby," Selly hanya mengangguk.


Sampai di lobby Dendy sudah berada di mobil, dia membantu Selly masuk ke dalam. Nyonya dan Tuan Bagaskara berada lain mobil, Ibu Selly berada jadi satu dengan Selly dan adiknya Genta.


"Dendi, kalau Mas Genta telpon jangan di angkat ya?" pesan Selly.


"Maaf, Non. Saya sudah beritahu Tuan Genta kalau Non mau di bawa ke rumah sakit," ucap Dendi yang harus fokus menyetir.


Selly begitu kecewa, padahal dia tak ingin Genta tau kalau dirinya sakit. Sudah pasti dia khawatir.


Sampai di rumah sakit, Dendi mencari kursi roda untuk Selly. Sedangkan Axel setia menemani iparnya di mobil.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Dendi datang dengan membawa kursi roda. Ketiga orangtua sudah lebih dulu masuk ke dalam, karena ingin mendaftarkan Selly.


"Aku hanya demam biasa, kenapa kalian heboh sekali," ucap Selly yang tak enak hati.


Selly pun sudah di daftarkan, dan mulai di periksa. Setelah di cek tekanan darah dan pengambilan darah, Selly di bawa ke salah satu kamar inap.


"Aku bisa sendiri," ucap Selly ketika Axel mau menggendong dirinya untuk naik ke atas tempat tidur.


"Kamu mau makan lagi?" tanya Ibu.


"Gak Bu, aku mau minum yang manis-manis. Mulut ku pahit,"


"Ibu ke Kantin dulu ya," Selly pun mengiyakan.


****************


"Rian, kita pulang sekarang. Selly masuk rumah sakit,"


"Baik, Tuan,"


"Kamu bilang David untuk handle semua nya, tinggal sedikit lagi selesai,"


"Siap, Tuan,"


Genta membereskan barang-barangnya di bantu dengan bodyguard yang lain. Pikirannya selalu ke Selly, gak tenang kalau belum ketemu sang pujaan hati.


"Tuan semua sudah siap, kita bisa pulang sekarang,"


"Oke,"


Genta melangkahkan kakinya dengan cepat. Semua yang menyapa di abaikan dia, karena dia sedang buru-buru.


"Rian, bawa mobil dengan kecepatan cepat tapi tetap hati-hati,"


"Baik, Tuan,"

__ADS_1


"Kita langsung ke rumah sakit Medika," Rian pun mengiyakan.


Di perjalannya dia menelpon Dendi, kalau dia sedang dalam perjalanan pulang. Dia meminta jangan ada orang di kamar Selly kecuali Selly. Dia ingin berdua dengan Selly melepas rindu, mungkin Selly akan sembuh.


Perjalanan siang ini tidak terlalu padat, karena memang masih jam kantor.


Sesampai di Rumah Sakit, Axel sudah menunggu di Lobby. Mereka saling berpelukan, karena sudah cukup lama mereka tak bertemu.


"Kak, gak salah cari pacar muda banget. Sama gue masih tuaan gue,"


"Suka-suka gue dong, yang penting dia nya mau sama gue,"


"Semoga dia gak terpaksa terima Kakak,"


"Gak lah, mana ada cewek terpaksa terima gue. Ganteng begini,"


"Kepedean Lo, Kak,"


"Hahaha... udah ah gue buru-buru mau ketemu dia,"


"Sabar, bentar lagi sampai,"


Akhirnya Dendi sampai di depan kamar Selly, dia menyalami kedua orang tuanya dan calon Ibu mertuanya.


Kemudian dia masuk ke dalam kamar Selly, dia melihat Selly sedang tertidur. Genta langsung melepas sepatu dan Jas nya, lalu dia ikut naik ke atas tempat tidur.


CUP


"Sayang, cepat sembuh. Aku udah di sini, gak akan ninggalin kamu kalau bukan karena hal mendesak," ucap Genta lirih.


Dia memeluk tubuh kecil Selly, mendekatkan kepalanya dengan kepala Selly.


"Hmmm..." Selly pun bergerak.


"Mas ganteng.." teriak Selly. Di kesal tidak bisa memeluk Genta, karena tangan yang satunya terpasang infus.


"Sayang, kenapa bisa begini?" tanya Genta.


"Peluk Mas!!" pinta Selly, Genta langsung memeluk dan menghujani ciuman ke seluruh wajah kekasihnya.


"Mas kangen banget sama kamu,"


"Aku juga kangen, Mas,"


Mereka saling melepas rindu, Gentan mencium bibir Selly dengan takut. Selly membalas ciuman Genta tanpa malu-malu lagi.


Setelah nafas mereka sudah tersengal-sengal, mereka menyudahi ciuman itu.


"Sekarang sudah pintar ya membalas ciuman ku, belajar sama siapa?"


"Belajar dari drama Korea, makanya aku jadi sakit nih,"


"Hmmm... gak usah maksain diri kamu. Kalau kamu gak bisa, kamu diam aja. Aku bisa bekerja sendiri,"


"Takut kamu nya kabur,"


"Gak, Sayang. Ayok sekarang mau makan apa biar cepat sembuh!!"


"Makan apa aja yang penting sama kamu," ucap Selly sambil menaik turunkan alis.


"Tapi kepala ku masih pusing,"


"Makan yang banyak, minum obat gak boleh nanti-nanti. Kata Mamah kamu makannya sedikit, minum obat juga lama," jelas Genta.


"Siap Mas ganteng,"


CUP

__ADS_1


__ADS_2