
Setelah menunggu satu jam lebih, Selly meminta Dendi untuk mengantar ke Bandara. Dendi bukan membelikan tiket satu saja, tapi untuk semua. Rian di tugaskan Dendi untuk merapikan barang-barang yang tadi di bawa.
"Sayang, kamu serius ingin pulang tanpa aku?" tanya Genta sangat lembut.
Lagi-lagi Selly diam, dia sudah enggan bicara dengan Genta. Sudah sangat kecewa, suami tercintanya berani angkat telpon dari wanita lain.
"Den, ayok!!" ajak Selly kepada asisten pribadi suaminya.
"Siap, Nyonya,"
"Sayang, kamu tak ingin memaafkan aku?" Genta masih berusaha agar Selly memberikan maaf untuknya.
"Tidak," jawab Selly singkat, lalu berjalan keluar Hotel yang sangat besar itu. Dendi mengikuti Bu Bos dari belakang.
"Silahkan, masuk Nyonya," Dendi mempersilahkan Nyonya besar masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, Den," ucap Selly, Dendi hanya mengangguk.
Dendi segera mengantar Selly menuju Bandara Ngurah Rai Bali. Di sepanjang jalan Selly menangis tanpa henti. Dendi yang melihat itu tak berani bertanya, dia mengirim pesan pada Genta.
Dendi : "Tuan, Nyonya Selly menangis terus,"
Genta : "Saya segera ke sana dengan Rian,"
Dendi : "Siap, Tuan,"
__ADS_1
Sesampainya di Bandara, Dendi kembali membukakan pintu untuk Nyonya besar. Selly tak membawa apa-apa kecuali tas kecilnya.
Pesawat akan berangkat satu jam kemudian, Selly dan Dendi menunggu di ruang tunggu. Dia akan satu pesawat dengan suaminya, tapi tidak satu tempat duduk.
"Dendi, belikan saya cemilan. Ini uangnya!" Selly memberikan uang dua lembar berwarna merah.
"Iya, Nyonya. Tidak makanan berat Nyonya?"
"Tidak, cemilan apa saja. Kalau ada es jeruk ya?"
"Siap, Nyonya,"
Dendi pun berjalan ke sebuah outlet yang menjual makanan. Dan dari kejauhan Genta melihat Selly sedang duduk sendiri. Dia ingin menghampiri sang istri.
Selly hanya menoleh sekilas, dan mengalihkan pandangan kembali. Dia mengambil benda pipih nya yang berada di dalam tas. Dia mencoba menghubungi salah satu temannya untuk menjemput di Bandara nanti.
"Hallo, yang lagi bulan madu," suara di seberang sana.
"Gak jadi bulan madu, Lo sibuk gak? Jemput gue di bandara dong,"
"Suami bucin kemana suami bucin? Kok minta jemput gue,"
"Lagi sibuk sama yang lain, bisa gak?"
"Maaf, gue gak bisa Selly. Hari ini gue ada kampus, coba telpon Mahen. Siapa tau dia bisa jemput Lo,"
__ADS_1
"Oke deh, gue coba telpon dia. Bye.."
Genta langsung merebut handphone Selly, "Gak usah minta jemput sama cowok, ada suami kamu di sini," ucap Genta sambil memasukkan handphone Selly di dalam saku nya. Selly pun menatap tajam ke arah Genta.
"Biasa aja melihatnya," ucap Genta.
Tak lama Dendi datang membawa pesanan makanan dan minuman untuk Nyonya besar. Langsung di ambil oleh Genta, Dia ingin Selly yang meminta pada Genta.
Selly melihat ke arah Genta lagi, "Mana?" ucap Selly ketus, sembari menengadahkan tangannya.
"Apanya?" tanya Genta.
Selly langsung diam tak meminta lagi makanan dan minumannya. Dia lebih memilih diam saja, walaupun dia ingin sekali makan.
Genta merapatkan duduknya ke Selly, "Sayang, udahan marahnya. Aku janji Yank gak lagi-lagi angkat telpon dari cewek,"
"Aku gak peduli, terserah kamu," ucap Selly.
"Sayang, kamu gak kasian sama aku. Kita baru nikah lho, masa sudah berantam?"
"Yang buat kita berantam siapa? bukannya kamu yang cari masalah?? Kamu yang telponan sama wanita lain, sedangkan ada aku disitu," seru Selly. Dendi dan Rian menundukkan kepala, dia tak berani melihat kejadian di depannya.
"Iya, aku tau aku salah sayang. Maafkan aku,"
Selly melihat tangannya ke depan saat Genta ingin mengambil tangannya.
__ADS_1