
Selesai makan malam, Genta mengajak Selly jalan-jalan malam agar tak marah. Genta juga membantu Selly membereskan bekas makan.
Dendi dan lainnya membersihkan lantai, dan meja makan. Selly mengusir Genta dari dapur dengan isyarat, tapi Genta tak mengerti.
"Sayang, jalan-jalan malam yuk!!"
"Ayok!! Naik apa? motor?" tanya Selly.
"Mobil aja, Yank," jawaban Genta membuat Selly males menjawab.
"Mau kan Yank?" tanya Genta.
"Mau," jawab Selly singkat.
Dari cara bicara Selly, Genta sudah tau kalau istrinya tak mau di ajak naik mobil. Genta keluar dari dapur, dia menyuruh Dendi untung meminjam motornya.
Dendi langsung mengambil kunci motornya, dan nanti Dendi dan Rian mengikuti naik motor juga.
"Sayang, sudah beres kan?" tanya Genta, Selly hanya mengangguk.
Selly berjalan ke kamar diikuti suaminya, Genta juga menyuruh Selly untuk menggunakan jaket.
"Bawa dompet aku aja," ucap Genta.
"Oke"
Genta menuntun Selly berjalan keluar apartemen untuk menuju Lobby. Rian dan Dendi sudah menunggu di sana.
"Tuan, Nyonya, ini helm nya," ucap Dendi. Selly terkejut melihatnya, pasalnya tadi dia ingin mengajak Selly menggunakan mobil. Kenapa ini jadi naik motor.
"Terima kasih Den," ucap Selly.
Akhirnya helm yang di bawa Selly di ambil oleh Genta, dia mulai memakaikan helm itu ke Selly.
"Tadi katanya naik mobil, kok jadi naik motor mas ganteng?" tanya Selly.
"Aku tau kamu gak suka naik mobil, jadi kalau pergi jalan-jalan malam. Kita naik motor, dengan syarat ada Dendi dan Rian," jawab Genta.
"Oke, mas. Yuk!! Mau kemana?"
"Ke Hotel," ucap Genta singkat sambil naik ke atas motor.
"Aku gak mau, di apartemen aja bisa,"
"Bercanda sayang, kita ke cafe aja. tapi muter-muter dulu ya," ucap Genta dan Selly mengangguk.
Mereka berdua mulai meninggalkan lobby apartemen, begitupun dengan Rian dan Dendi.
"kayaknya kita harus cari cewek Ian, biar bisa kayak Pak Bos," ucap Dendi, yang lama-lama ingin seperti Bosnya.
"Gimana caranya, kita aja kerja terus," ucap Rian putus asa.
"Banyak cewek-cewek di kantor, ada yang cantik. Tapi gak tau mereka suka atau gak sama kita," ujar Dendi.
"Pasti suka Den, kita kan ganteng. Gaji sudah pasti besar,"
"Ya sudah, mulai besok aku mau deketin itu," ucapan Dendi membuat Rian penasaran.
__ADS_1
"Itu yang mana, Den? Wah..wah..wah.. Diam-diam sudah ngincar duluan,"
"Harus gercep kayak Pak Bos, takut di ambil orang," ucap Dendi. Dendi hanya berdo'a semoga cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Dari obrolan itu, Rian langsung mengingat-ingat cewek cantik di Kantor milik Pak Bos. Yang dia tau hanya resepsionis saja, tapi dia tak suka.
Akhirnya mereka berdua sampai di depan cafe, parkir tak jauh dari motor Pak Bos.
"Den, Carikan tempat duduk yang di pojok!!" perintah Genta.
"Kenapa harus di pojok? Dimana aja bisa," ucap Selly.
"Biar bisa bercinta sama kamu," Selly menggelengkan kepala mendengar ucapan Genta.
Setelah Dendi dapat tempat duduk, Rian menyuruh Tuan Genta masuk ke dalam. Genta dan Selly mengikuti jalan Rian yang ada di depannya.
"Sayang, mau punya anak berapa?" tanya Genta.
"Dua saja cukup," jawab Selly sambil melihat sekeliling.
"Dikit sekali Sayang, gimana kalau 4?" tawar Genta.
"Yang dua, kamu saja yang melahirkan. Aku cukup dua saja," ucap Selly tegas.
"ish Ayank mah, biar ramai lho Yank,"
"Terima kasih bapak Genta,"
Genta menciumi punggung tangan Selly berkali-kali, dia terlihat gemas sekali. Dendi menyuruh dua majikannya untuk duduk, karena dia sudah memesankan makanan dan minuman ringan untuk Tuan dan Nyonya nya.
Selly melihat di sekitar, cafe yang dari depan terlihat kecil ternyata dalamnya sangat luas dan ramai.
"Gak sayang, kalau kumpul sama teman-teman saja," jawab Genta pelan, takut salah ucap.
"Owh.."
Selly menyuruh Dendi duduk di meja dekatnya, dan menyuruhnya untuk memesan makanan juga.
"Jadi ke Korea kan, Mas?" tanya Selly.
"Tidak," jawab Genta singkat dan tegas.
"Dendi, sudah kamu urus untuk bulan madu saya?" tanya Genta.
"Semua sudah beres, Tuan. Tinggal berangkat saja, nanti saya antar sampai tujuan Tuan," ujar Dendi.
"Tuh kan ajak Dendi," ucap Selly dengan nada manja.
"Gak sayang, cuma antar kita saja,"
Selly tak menanggapi ucapan suami dan asistennya, karena makanan sudah datang. Selly memberikan segelas minuman dingin kepada suaminya.
"Mas ganteng, kalau aku hamil ajak ke Korea ya?" Selly pantang menyerah meminta pergi ke sana. Awalnya hanya bercanda, tapi Selly malah ingin sekali pergi ke sana.
'Permintaan kamu berat sekali sayang, aku kayaknya gak bisa kabulkan,"
"Pasti Axel mau, gak mungkin dia mau lihat ponakannya nanti ileran," ucap Selly sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Terus aja sayang, kamu selalu mengancam aku begitu,"
"Kali ini gak mengancam, tapi beneran,"
"Ya Tuhan,"
Selly langsung menyuruh Genta untuk makan. Dia juga menyuruh Dendi dan Rian makan, tak perlu menunggu dirinya dan suami.
Genta terus merayu Selly agar tidak meminta pergi ke Korea. Tapi Selly tetap saja diam, hanya senyum-senyum mendengar rayuan sang suami.
Akhirnya setelah 3 jam berada di cafe itu, mereka pun memilih untuk meninggalkan cafe tersebut.
"Sayang," panggil Genta.
"Apa mas ganteng?" tanya Selly.
"Kamu ke Korea mah kemana?"
"Kemana aja, yang penting ketemu Oppa Oppa Korea,"
"Huuuuhh..." Genta membuang nafas kasar.
"Aku mau berdo'a setiap saat biar cepat hamil," ucap Selly.
"Gak hanya berdo'a sayang, tapi harus bercinta juga," ucapan Genta membuat dua bodyguard tertawa.
"Kenapa Dendi, Rian? lucu ya, Bos kalian tuh kalau ngomong gak di saring," ucap Selly.
"Iya Nyonya," sahut Dendi dan Rian.
CUP
Genta mencium kening Selly ketika ingin memakaikan helm. Selly pun memeluk erat Genta.
"5 ronde," bisik Genta.
"Sekalian aja 10 ronde,"
"Oke Ayank," ucap Genta bersemangat.
Mereka sekarang sudah berada di atas motor, Selly memeluk erat Genta dari belakang. Duduk pun sangat dekat dengan Genta, sampai tak ada celah sedikitpun.
Genta masih mengajak Selly mutar-mutar, mencari angin malam. Mereka bercanda, berhayal dan memikirkan masa depan.
"Berhenti di minimarket, Yank,"
"Iya Sayang," ucap Genta.
"Aku malas packing-packing untuk bukan madu, Mas," ucap Selly.
"Nanti aku saja yang packing, kamu duduk manis saja. Tinggal bilang mana yang akan dibawa, baju dinas gak boleh ketinggalan," ujar Genta.
"Terserah kamu saja Mas, aku hanya bisa pasrah," ucap Selly.
"Asiikk.. Kamu pasrah saja Sayang. Ikutin mau ku,"
"Uang belanja jangan lupa di tambah," ledek Selly.
__ADS_1
"Bawa semua kartu ku, gak mau aku jatah-jatah kamu," Selly langsung memeluk erat Genta.