
Selesai melakukan kegiatan 21+, Selly tidur dan Genta melihat pekerjaan hari ini. Sembari memangku laptop, tangan Genta yang satu berada dalam genggaman Selly.
Drrttt
Drrttt
Drrttt
"Hallo,"
"Belum ganti nomor ya, masih di save gak nomor aku, Gen?"
"Gak, tapi aku kenal suara kamu," jawab Genta.
"Ngopi yuk, Gen!!" ajak Monica.
"Gak bisa, istri ku lagi tidur,"
"Dia udah besar, gak perlu juga di temenin,"
"Gak bisa, aku gak bisa ninggalin dia sendirian,"
"Manja ya istrimu?" tanya Monica.
Selly langsung merebut handphone Genta, soalnya dia mendengar suara Monica yang mengatakan kalau dia istri manja.
"Saya gak manja, dan saya juga bukan cewek gatel yang suka telpon suami orang,"
Tek.
'Prank'
__ADS_1
"Sayang, apa-apaan sih kamu banting handphone ku? Itu banyak nomor klien aku, Yank," suara Genta meninggi karena Selly membanting handphone nya.
"Pulang, aku mau pulang!! Pulang ke rumah Ibu!!" teriak Selly sambil memasukkan handphone dan dompetnya ke dalam tas kesayangannya.
Lalu Selly keluar kamar Hotel, berjalan ingin keluar Hotel. Genta langsung mengejar Selly sambil menelpon Dendi dan Rian untuk kembali ke Bali.
"Selly.. Sayang.." teriak Genta sangat keras.
'Hap'
"Kita pulang sekarang, tapi balik dulu ke kamar. Kita tunggu Dendi sama Rian, aku gak bisa bawa semua barang itu sendiri,"
Selly tak menanggapi ucapan Genta, dia gak habis pikir suaminya berani angkat telpon dari wanita lain ketika dia tidur.
Selly berusaha meredam amarahnya, karena bukan tempat yang tepat untuk marah-marah. Tapi Selly tetap gak mau di ajak untuk kembali ke kamar Hotel.
"Kita ke kamar dulu yuk!! sambil nunggu Dendi datang," Selly menggelengkan kepala.
Selly tak menghiraukan Genta yang masih saja mengajak ngobrol dirinya. Dia sibuk mengirim pesan pada sang Ibu, kalau dia ingin pulang ke rumah. Selly juga berkata pada ibunya kalau ingin tinggal di rumah nenek di kampung, tanpa sepengetahuan Genta.
Ibu Santi heran kenapa putrinya ingin menjauh dari suaminya. Sedangkan ibunya punya firasat kalau Selly sedang hamil.
Cukup lama mereka berdiam di lobby hotel, dan Genta pun membuka obrolan.
"Aku ke kamar dulu ya? Aku mau lihat handphone yang kamu banting," ujar Genta.
"Jawab dong, Sayang,"
"Pergi sana!! Mulai sekarang gak perlu lagi kamu izin aku," ucap Selly lirih namun ketus.
"Aku bakal ngebebasin kamu, terserah kamu mau kemana, sama siapa, mau ngapain aja, mau telpon siapa, aku gak peduli. Gak usah lagi ngomong sama aku," tutur Selly.
__ADS_1
"Aku sama Monica ngobrol biasa aja,"
Selly diam, bahkan membuang muka. Sakit hati Selly double, yang pertama Genta telponan dengan wanita lain dan yang kedua karena Genta memarahi dia dengan nada tinggi.
Selly mencoba menghibur Dendi dan Rian, sampai jam berapa mereka di sini. Karena hari sudah semakin malam.
"Hallo, Nyonya,"
"Lama banget sampainya, buruan!! saya mau pulang," seru Selly.
"Iya, Nyonya. Sebentar lagi kita sampai, mungkin sekitar satu jam lagi," ucap Dendi ketakutan, pasalnya dia tak pernah melihat Selly teriak-teriak dengan dirinya.
"ii..iya.. Nyonya,"
"Pesan tiket pulang sekalian buat aku, gak usah belikan buat Bos kamu," perintah Selly.
"Siap, Nyonya,"
Tek.
Selly langsung memutuskan sambungan telpon, dan Dendi menelpon Tuan Genta untuk memastikan kalau beli tiket hanya satu saja.
"Hallo, Den. Sudah sampai mana?"
"Saya sudah sampai Bandara, Tuan. Oiya tuan, Nyonya Selly menyuruh saya untuk membeli tiket pulang hanya satu. Gimana Tuan?" jelas Dendi.
"Turutin aja, Den. Dia sedang marah besar, saya takut kalau banyak omong,"
"Siap, Tuan,"
Setelah terputusnya sambungan telepon, Dendi langsung memesan kan tiket pulang untuk Bu bos nya.
__ADS_1