
Genta terus saja menggoda kekasihnya agar dia mau ikut ke ruangannya.
"Aku mau ganti pakaian Mas,"
"Habis itu, kamu ke ruangan aku. Kamu boleh tetap berangkat kerja, tapi di ruanganku saja,"
"Gak bisa begitu dong Pak Bos," ucap Selly sambil berjalan keluar ruang ganti.
Selly duduk di kursi kerjanya, dan Genta duduk di sofa yang ada di ruangannya Selly.
"Kamu masih ingin di situ? gak ke ruangan kamu?" tanya Selly pada kekasihnya.
"Gak mau, kalau kamu gak ikut," ucap Genta sembari melipat tangannya ke depan dan melihat ke arah Selly.
Selly berjalan mendekat ke arah Genta dan duduk di sebelahnya. Selly memeluk kekasihnya dari samping.
"Balik ke ruangan kamu, atau gak aku kasih itu? pilih yang mana?" tanya Selly.
"Sekarang?" tanya Genta antusias.
"Kantor itu buat kerja, bukan untuk bercinta Mas ganteng,"
"Di apartemen ya?" Selly tak menjawab ucapan Genta, hanya menaiki turunkan alis saja.
"Oke, aku tagih nanti janji kamu CUP," setelah mengucap dan mencium, Genta langsung keluar dari ruangan Selly.
Selly menutup pintu ruangan sambil menggelengkan kepala. Ada saja tingkah orang tua itu.
Baru saja dia mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya, sudah ada panggilan masuk.
******Drrttt******
Drrttt
Drrttt
"Kenapa Pak bos ganteng,?
"Hehehe... gak kenapa-kenapa. Jangan lupa jam 11 sudah ganti pakaian ya,"
"Masih lama Pak Bos ganteng,"
"Gak papa, aku hanya mengingatkan saja,"
"Baiklah Pak, I Love You,"
"I Love You Too, Sayang,"
Selly memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu dan dia mulai melanjutkan pekerjaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain dua pria beda usia sedang bersiap-siap akan mendatangi rumah Bu Santi. Pria itu bernama Hans, dan Ayahnya bernama Pak Jun.
"Kamu sudah siap?" tanya sang Ayah.
"Siap Ayah, mari kita berangkat!!" ajak anak itu pada Pak Jun.
Lalu, mereka berdua keluar dari rumah mereka. Menaiki mobil yang ada di parkiran rumahnya.
Rencananya Pak Jun ingin melamar Selly untuk putranya. Padahal mereka berdua tau kalau Selly akan menikah, tapi masih saja pantang menyerah.
Perjalanan dari rumah Hans ke rumah Selly hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja. sekarang mereka berdua sudah berada di halaman rumah Ibu Santi.
__ADS_1
TOK
TOK
TOK
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Ceklek.
"loh Pak Jun, mari silahkan masuk,"
Ibu Santi heran ada apa dengan kedua pria beda usia ini yang tiba-tiba datang dengan memakai pakaian rapih dan membawa beberapa parcel.
"Silahkan duduk!"
"Ada apa Pak Jun dan Hans datang kemari?" tanya Bu Santi.
"Kedatangan saya ke sini, ingin melamar Selly untuk menjadi istri Hans,"
Ibu Santi terkejut, pasalnya Bu Santi sudah memberikan undangan pernikahan Selly beberapa hari lalu kepada Pak Jun.
"Maaf Pak Jun, bukannya saya sudah memberikan undangan pernikahan Selly?"
"Iya, saya tau. Tapi saya tak yakin kalau Selly benar akan menikah dengan seorang pengusaha terbesar di kota ini,"
"Tapi memang kenyataannya begitu Pak Jun, putri saya akan menikah dengan Pak Genta Bagaskara. Dan hari Minggu saya harap Pak Jun dan Hans bisa datang ke acara pernikahan Selly,"
"Jadi, Ibu menolak lamaran putra saya?"
"Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bisa menerima lamaran dari pak Jun. Karena putri saya Selly tinggal menghitung hari lagi akan menikah," tutur Bu Santi dengan nada yang lembut dan hati-hati, agar mereka berdua tidak tersinggung.
Hans dan Pak Jun berpamitan kepada Hu Santi. Terlihat jelas raut wajah kecewa Hans yang lamaran siang ini di tolak.
"Sabar Hans, wanita bukan dia aja. Kamu bisa cari uang lebih dari Selly," pesan Pak Jun pada Hans.
"Iya, Yah,"
setelah kepulangan Pak Jun dan Hans, Bu Santi menelpon ke Selly.
Drrttt
Drrttt
Drrttt
"Assalamu'alaikum, Bu,"
"Wa'alaikumsalam, Nak,"
"Nak, nanti kamu pulang kerumah kan?"
"Iya Bu, tapi malam ya Bu. Memang ada apa Bu?"
"Nanti saja sampai rumah Ibu ceritakan, kamu harus pulang,"
"Baik, Bu,"
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, Bu,"
__ADS_1
Ibu Santi menutup panggilan telpon, dan lanjut melihat stok bahan kue untuk besok pagi.
Selly, Ibu dan Ayahnya adalah pekerja keras. Tapi sayangnya, perusahaan Ayah Selly yang sudah di dirikan dari nol, kini di ambil alih oleh keluarganya.
...****************...
Kembali ke Kantor
Genta dan Selly sudah pergi untuk makan siang. Selly yang tadi melamun atas perkataan Ibu nya jadi kepikiran.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Aku gak papa, Ibu tadi meneleponku kalau aku harus pulang hari ini,"
"Kamu alasan aja, sudah janji sama aku, Yank,"
"Aku ingat Mas, ini bukan alasan. Lihatlah di panggilan masuk ada nama Ibuku,"
"Hmmm..."
"Jangan marah ya, Sayang. Aku pulang kantor langsung pulang kerumah, kamu tak usah mengantar aku pulang,"
Genta diam tak menjawab ucapan Selly, dia menaruh kepala di jok belakang dan mendongak ke atas sambil memejamkan mata.
"Marah?"
"Kamu sudah janji, Sayang,"
"Maaf, Mas,"
Tak lama mereka bertiga pun sampai di rumah makan. Deni segera membukakan pintu untuk bos dan kekasihnya. Dendi juga ikut makan bersama Genta, bahkan satu meja makan.
"Dendi, pesankan makan siang!" suruh Genta.
"Baik, Tuan,"
Dendi segera memesan makan siang untuk kedua bosnya dan dirinya. Setelah memesan makan siang Dendi kembali ke meja makan tersebut.
setelah 20 menit menunggu, akhirnya makanan yang dipesan lilin pun sudah tersedia di atas meja makan.
Lalu, mereka bertiga pun mulai menyantap makan siang. Genta dan Selly tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Selly tahu kalau kekasihnya itu sedang ngambek.
"Masih marah?"
"Habiskan makannya!!"
"Mas ini hari Selasa ya, masih ada 4 hari lagi kalau kamu ingin berubah pikiran untuk bersama ku. Aku gak mau nanti setelah nikah kita ribut-ribut, aku gak suka," bisik Selly.
"Habiskan makannya!!" perintah Genta lagi.
Selly pun menuruti perkataan dari Genta. dia melanjutkan makan siang tanpa berbicara lagi.
Selesai makan siang, mereka bertiga kembali ke kantor. Di dalam mobil Genta memeluk Selly, dan menaruhkan kepalanya di pundak Selly.
"Aku gak suka kamu ingkar janji, jangan lagi kamu sangkut pautkan dengan acara nikah m, Sayang,"
"Nanti aku antar pulang, kalau bisa aku ikut menginap di rumah kamu. Gak papa aku tidur di sofa," lanjut Genta, karena Selly masih diam saja.
Selly masih saja diam, hanya sesekali melihat ke arah Genta. Karena dagunya bergoyang-goyang di pundaknya Selly.
"Nanti aku bilang sama ibu kalau aku ingin menginap di rumah kamu,"
"Terserah kamu aja, Mas,"
__ADS_1
"Oke, satu kamar kita. supaya kamu bisa menempati janji kamu," Selly hanya mengangguk saja.