
Setelah Axel pamit untuk berangkat ke Kantor, Selly merebahkan tubuhnya di Sofa bed. Genta ikut merebahkan tubuhnya di samping Selly dan memeluk kekasihnya itu.
"Sayang, kamu marah?" tanya Genta.
"Marah," jawab Selly singkat.
"Maafkan aku, Sayang,"
"Aku ingin pulang, Mas,"
"Istirahat dulu di sini, masih sakit kan?"
"Sakit banget,"
Genta mengeratkan pelukannya, Selly pun memeluk Genta sambil menangis. Dia merasa bersalah pada Ayahnya, tidak bisa menjaga diri.
Genta menggendong Selly untuk masuk ke dalam kamar. Biar Selly bisa beristirahat dengan tenang.
"Kamu di sini dulu sayang, aku ingin menyuruh Dendi untuk membelikan obat penghilang rasa nyeri,"
CUP
Setelah mencium kening Selly, Genta meninggalkan sang kekasih. Dia pergi keluar kamar untuk menelpon Dendi.
"Hallo, Tuan,"
"Den, tolong belikan obat penghilang rasa nyeri. Cepat ya,"
"Siap, Tuan,"
Setelah menelpon Dendi, Genta kembali masuk ke dalam kamar untuk menemani Selly. Genta langsung memeluk Selly dari belakang.
"Kamu demam, Sayang?" tanya Genta yang menyentuh tubuh Selly
"Gak papa, aku mau tidur aja,"
"Tunggu Sayang, Dendi sedang beli obat penghilang rasa nyeri,"
"Telpon Mamah ya, aku takut kamu kenapa-kenapa,"
"Gak usah, nanti Mamah tau,"
"Gak papa, dari pada kamu begini,"
Selly diam saja tak menanggapi ucapan Genta. Dia memejamkan mata, merasakan demam di tubuhnya.
'Ting..tong..'
Genta menelpon Dendi untuk masuk ke dalam kamar dan membawakan minum untuk Selly minum obat.
"Permisi, Tuan,"
"Masuk, Den,"
Ceklek.
"Tuan, ini obatnya," Genta mengiyakan ucapan Selly.
"Sayang, minum obat dulu yuk!"
"Den, ambilkan obatnya satu,"
Dendi langsung membuka obat dan di berikan ke Genta.
"Tuan, apa tidak sebaiknya di bawa ke rumah sakit?"
"Dia gak mau dibawa ke rumah sakit,"
"Bibirnya pucat banget, Tuan,"
"Saya gak papa Dendi," ucap Selly lirih.
"Panggil dokter aja, Den,"
"Aku gak mau, Mas. Kalau kamu panggil dokter, aku pulang,"
Genta tak meneruskan perkataannya, Dendi juga memilih keluar dari kamar Bos nya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Axel berencana ingin memberitahu Nyonya Bagaskara. Apa yang dia lihat di apartemen Kakaknya.
"Tuan Axel, siang ini mau makan siang dimana?" tanya Sakha asisten pribadi Axel.
"Antar saya pulang, saya ingin makan siang di rumah saja,"
"Siap, Tuan,"
Assisten pribadinya Axel langsung melajukan mobil ke kediaman Nyonya Bagaskara. Dalam perjalanan pulang, Axel mengirim pesan ke Nyonya Bagaskara kalau dia ingin makan siang di rumah.
Sesampainya di rumah Nyonya Bagaskara, Axel menyuruh asistennya untuk makan siang di luar, karena Axel ingin berbicara 4 mata dengan Nyonya Bagaskara.
Ceklek.
"Mah.." seru Axel ketika masuk ke dalam rumah.
"Kenapa teriak-teriak, cepat makan dulu,"
"Mah, temani aku makan. Ada yang ingin aku ceritakan, Mah,"
Nyonya Bagaskara pun duduk di depan putra bungsunya itu.
"Mah, kalau seorang wanita pertama kali melakukan itu gimana? sakit gak?"
"Kamu habis melakukan itu sama siapa?"
"Jawab dulu Mah, sakit atau gak?"
"Sakit banget lah, siapa yang ngelakuin itu?" tanya Mamah penasaran.
"Kayaknya Kak Selly dan Kak Genta habis melakukan itu Mah. Tadi pagi aku ke apartemen Kak Genta, dan kak Selly keluar dari kamar Kak Genta. Dengan keadaan rambut basah dan matanya habis nangis,"
"Genta ini gak sabaran banget, biar Mamah nanti ke apartemen Genta,"
"Mamah pura-pura gak tau aja ya,"
"Iya,"
"Pasti Selly sekarang susah untuk jalan, kasian banget,"
"Emang iya, Mah?"
"Iya, mau pelan-pelan juga tetap sakit,"
Setelah 30 menit, Nyonya Bagaskara tiba di apartemen anak sulungnya. Beliau langsung masuk menuju kamar Genta.
'Ting..Tong..' Beberapa kali Nyonya Bagaskara pencet bell tapi tak ada respon. Dendi yang melihat dari CCTV, langsung keluar kamarnya.
"Nyonya,"
"Genta dimana?"
"Ada di dalam, sebentar saya telpon Tuan dulu,"
Dendi langsung menghubungi Tuannya, agar membukakan pintu untuk Nyonya Bagaskara.
Ceklek.
"Mamah, kenapa Mamah ke sini?"
"Kamu gak ke kantor?"
"ehm.. libur Mah,"
"Selly kerja?" tanya Nyonya Bagaskara pura-pura tidak tau.
"Selly sakit Mah, ada di dalam kamar. Mah, maafin Genta. Selly sakit karena Genta ngelakuin itu ke dia. Sekarang dia demam,"
PLAK
Nyonya Bagaskara langsung memukul anaknya. Dan berjalan masuk ke dalam kamar, untuk melihat Selly.
"Sayang.." panggil Nyonya Bagaskara.
"Mamah, kok ke sini?"
__ADS_1
Nyonya Bagaskara langsung memeluk tubuh Selly yang masih rebahan. Selly pun menangis tersedu-sedu.
"Maafin Genta ya, Sayang," Selly hanya mengangguk.
"Nanti Mamah buatkan jamu, sudah makan?"
"Belum," jawab Selly.
"Gentaaaaaa...." teriak Nyonya Bagaskara.
"Kenapa Mah,"
"Anak bodoh, ini sudah jam berapa? kenapa Selly belum makan?"
"Lupa, Mah,"
Genta segera menyuruh Dendi untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, mau makan apa?" tanya Genta pada Selly.
"Apa saja,"
Genta memesan makanan kepada Dendi, dan beberapa cemilan. Nyonya Bagaskara ikut Dendi, karena dia ingin mampir membeli jamu untuk Selly.
"Kamu telpon Mamah?"
"Gak, Yank. Mamah datang sendiri, mungkin Axel yang kasih tau Mamah kalau aku gak kerja,"
"Ya sudah, kamu kerja aja. Aku di sini sama Mamah,"
"Kamu demam Sayang, aku gak bisa ninggalin kamu," ucap Genta yang memeluk Selly dari pinggir tempat tidur.
Selly meminta tolong Genta untuk membalurkan minyak ke tubuhnya. Karena dia merasa dingin, walaupun suhu badannya panas.
Dengan sigap Genta membalurkan minyak hangat ke tubuh kekasihnya itu. Dia merasa bersalah karena telah melakukan hal yang seharusnya tidak di lakukan dulu pada Selly.
Tak lama Dendi dan nyonya Bagaskara pun datang. Dendi langsung menyiapkan makan siangnya di atas meja makan dan Nyonya Bagaskara menyiapkan jamu untuk calon menantunya.
Setelah makan siangnya siap tersaji di atas meja, Dendi memanggil Genta dan Selly untuk makan siang.
"Gen, kamu makan aja di luar biar Selly nanti Mamah yang suapin," perintah Nyonya Bagaskara.
"Oke Mah, terima kasih Mah,"
Genta langsung keluar kamar, lalu Nyonya Bagaskara mengambil makan siang milik Selly.
"Mantu, makan siang dulu yuk!! nanti baru minum jamu,"
"Iya Mah,"
Selly di bantu duduk oleh calon Mamah mertuanya.
"Makan yang banyak, siapa tau nanti jadi baby," goda Nyonya Bagaskara.
"Mamah gak marah?" tanya Selly.
"Mamah marah gak sama kamu, tapi sama Genta. Tinggal tunggu hari Minggu tapi gak sabaran,"
"Aku berontak tapi kalah kuat sama mas Genta,"
"Makanya makan yang banyak, biar kuat ngelawan Pak tua itu," Selly tersenyum.
"Jadi nikahnya kan? Mamah takut kamu batalin gara-gara ini,"
'Sebenarnya aku memang mau pergi, tapi lihat Mamah yang begitu baik sama aku. Sepertinya aku gak jadi melakukan itu,' ucap Selly dalam hati.
"Jadi Mah, kalau aku gak jadi. Ada pengganti aku gak?"
"Gak ada dong sayang, mana mau Pak tua sama yang lain. Sudah cinta mati dia sama kamu, sampai bikin kamu begini duluan,"
"Hihihi... padahal banyak yang cantik dari aku ya Mah,"
"Menurut Mamah, kamu yang paling cantik,"
"Terima kasih, Mah,"
"Sama-sama, ayok makannya dikit lagi," Selly mengangguk.
__ADS_1