
Selesai membantu Ibu berjualan, Selly juga ikut membantu merapikan meja. Ternyata Ibu ada tambahan karyawan baru lagi.
"Kamu baru di sini?"
"Iya Kak,"
Selly melanjutkan pekerjaannya, karena dia ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Permisi, Non Selly,"
"Eh Den, ada apa?"
"Maaf Non tadi pesannya gak saya balas. Saya masih tidur,"
"Gak papa Den, aku yang kepagian kirim pesan ke kamu,"
"Ada Tuan di rumah Non Selly,"
"Astaga... itu orang ngapain sih. Sebentar ya Den, saya pamit sama Ibu dulu,"
"Baik, Non,"
"Ibu, Selly pulang dulu ya. Mas Genta sudah nunggu di depan rumah,"
"Hihihi... ada anak kecil mencari Ibunya," Kekeh Bu Santi, Selly pun ikut tertawa.
Selly jalan di kawal oleh Dendi, dia menyuruh Dendi untuk berjalan bareng tapi dia tak mau. Dia melihat dari kejauhan, Genta sedang duduk di teras depan rumah Selly.
Semakin dekat Selly senyum-senyum sendiri, melihat kekasih hatinya selalu gak bisa jauh dari dirinya.
"Masya Allah gantengnya calon suamiku," ucap Selly melihat Genta menggunakan kacamata hitam dan Genta merentangkan kedua tangannya. Selly pun menyambut dan memeluk tubuh besar kekasihnya.
"Bangun jam berapa? sudah sarapan?" tanya Selly sambil mengurai pelukannya.
"Gak tau jam berapa, lihat kamu sudah gak ada. Langsung mandi, terus ke sini. Aku belum sarapan Sayang, temani aku," jawabnya.
"Makan apa? mau masakan Ibu?"
"Mau, tapi suapin," Selly pun mengangguk.
"Dendi, kalian udah sarapan?"
"Sudah Non, tadi kita sarapan di apartemen,"
"Oke, saya masuk dulu,"
Selly menuntun Genta masuk ke dalam rumahnya, dia menyuruh Genta duduk di meja makan. Dia pun mengambil makan pagi untuk Mas gantengnya.
"Kamu bangun jam berapa?"
"Jam 5 lewat, aku dari kamar kamu lari sampai ke lift. Untung di dalam lift ada orang, jadi gak takut,"
"Kamu gak bangunin aku ya?" tanya Genta sambil mengunyah.
"Bangunin, tapi aku takut kalau di bisikin yang kemarin. Nanti aku di ajak beneran,"
"Hehehe... sudah pasti," Kekeh Genta.
Selly masih menyuapi Bos bucinnya itu, sampai Bu Santi masuk mereka gak lihat.
"Ehem.."
__ADS_1
Genta langsung menghampiri dan mencium tangan Bu Santi. "Doyan masakan Ibu?" tanya Bu Santi pada Genta.
"Doyan Bu, oiya nanti saya mah ngomong sama Ibu,"
"Selesaikan dulu makan mu,"
"Iya, Bu,"
Bu Santi berjalan ke dapur, dan Genta kembali duduk di dekat Selly. Meneruskan makannya, Selly pun menatap ke arah kekasihnya.
"Kamu mau ngomong apa sama Ibu?"
"Rahasia,"
Selly hanya diam, dia tak ingin bertanya lagi. Tapi dia terus melihat kekasihnya, bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia takut Mas gantengnya mengajak nikah sekarang.
Selesai makan, Selly pergi ke dapur dan memanggil Ibu nya karena ingin di ajak bicara oleh Genta.
Bu Sinta berjalan ke ruang tamu, dan Selly masuk ke dalam kamarnya. Dia tak ingin tau apa yang kekasihnya katakan pada Ibu nya. Kalau menyangkut dirinya, pasti dia akan di panggil.
Genta pun mengutarakan maksud hatinya, untuk menikahi Selly dalam waktu dekat. Hanya ijab qobul dulu, resepsinya nanti kalau Selly sudah siap.
Bu Santi nurut aja kemauan dari Genta, dari pada anaknya sering nginap di apartemen kekasihnya itu.
"Kamu sudah bicarakan ke orang tua kamu?" tanya Bu Santi.
"Belum Bu, kalau Ibu setuju nanti saya langsung ke rumah Mamah,"
"Ibu setuju, bujuk Selly dulu sana!!" perintah Ibu, Genta langsung meminta izin untuk ke kamar Selly.
TOK
TOK
"Sayang," panggil Genta dan berjalan ke arah ranjang Selly yang minimalis.
"Pura-pura tidur," lanjut Genta.
"Kenapa Mas? sudah bicara sama Ibu?"
"Sudah," jawab Genta sambil ikut Selly tiduran.
"Nikah yuk!! aku sudah bilang Ibu, Ibu setuju kalau aku sama kamu akad dulu," ajak Genta sembari memeluk Selly.
Selly tak menjawab ajakan Genta, dia sayang tapi belum seratus persen.
"Kamu gak sayang sama aku?"
"Sayang, tapi ga harus secepat ini Mas?"
"Kamu nunggu apa? keluargaku dan keluargamu setuju. Aku tinggal tunggu kamu aja sayang,"
"Wanita itu siapa?"
"Yang mana?" tanya balik Genta.
"Jangan pura-pura gak inget deh, berapa kali wanita itu telpon ke kamu? waktu tunangan kita aja dia masih telpon kamu. Sampai di Mall waktu kita beli cincin aja dia peluk-peluk kamu,"
"Kamu gak berani kan blokir nomor dia?" tanya Selly kesal.
"Nanti aku blokir, Sayang. Sekarang mau kan kamu nikah sama aku?"
__ADS_1
"Kalau Ibu setuju, aku gak bisa bilang apa-apa," jawab Selly sendu.
"Kamu mau nya kapan?" tanya Genta.
"Yang jelas gak minggu ini, tapi bisa gak itu nya nanti aja gitu beberapa bulan lagi?"
"Apanya, Sayang?"
"Gak usah di jelasin, pasti kamu sudah tau sayang,"
"Ya gak bisa lah, mana ada satu kamar tapi gak begitu,"
Selly langsung memeluk Genta, memohon agar tidak melakukan itu dulu. Tapi Genta malah tertawa ngakak, dengan klakuan calon istrinya.
"Jangan ketawa, Mas,"
"Kamu lucu, Sayang. Kita ke Mamah yuk!! biar Mamah bantu urus, kasian Ibu kalau ikut bantu-bantu,"
Selly mengangguk, Lalu Genta mencium bibir Selly.
"Akhirnya aku bisa ngajak nikah Selly, aku akan bahagiakan kamu," ucap Genta dalam hati.
Mereka berdua pamit ke Bu Santi, karena ingin pergi ke rumah Tuan Bagaskara. Selly dan Genta berada di tengah-tengah pengawal. Tetangga Selly mulai banyak yang membicarakan Selly, tapi Bu Santi tak ambil pusing.
"Kita seminggu lagi kan Yank?"
"Seminggu lagi aku reunian mas ganteng, anda ini nafsu banget sih,"
"Ya sudah minggu depannya," Selly mengangguk.
Sesampainya di Rumah Tuan Bagaskara, di teras sudah ada Mamah dan Axel sedang duduk. Axel begitu manja dengan Nyonya Bagaskara.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, kalian dari mana?"
"Dari Ibu, Mah," jawab Selly.
"Ada Papah, Mah?" tanya Genta.
"Ada di dalam, ada urusan apa? penting?" sambil mengajak Selly masuk ke dalam.
"Penting banget, aku mau ijab sama Selly. Dua minggu lagi, Mamah mau bantu Genta?"
"Alhamdulillah, ya mau lah. Masa gak mau, sekalian resepsi?" tanya Mamah.
"Gak Mah, ijab dulu," jawab Selly.
"Kenapa gak langsung resepsi?"
"Beberapa bulan lagi Mah,"
"Oke, gak papa. Yang penting kalian nikah dulu. Minta Mas kawin apa Sel?"
"Di tanya gak mau jawab, apa aja kata Selly yang penting ikhlas," ujar Genta.
"Kasihlah itu perusahaan buat Kakak Ipar, di jamin nanti Kak Genta gak berani macam-macam," tutur Axel.
"Ide bagus," sahut Papah.
"Gak Papah, nanti di ganti namanya. Tenang Sayang, aku ikhlas kok,"
__ADS_1
Selly tak menjawab, hanya senyum dan geleng-geleng kepala. Dia tidak mau yang mewah, dia hanya ingin Genta menepati janjinya saja kepada Ayahnya.