
Selly dan Genta masih berada di rumah tuan Bagaskara karena mereka melihat dekorasi yang sudah terpasang dari siang tadi. Memang acara mereka di adakan di kediaman Tuan Bagaskara, karena banyak rekan ataupun klien dari tuan Bagaskara dan Genta.
"Berasa mimpi,"
"Kenapa kamu bilang seperti itu?"
"Iya berasa mimpi nikah sama kamu, padahal cita-citaku bisa kerja di perusahaan kamu. Eh, dapet bonus nikah sama kamu," ucap Selly sendu sambil memeluk Genta, Genta juga ikut memeluk kekasihnya.
"Aku juga bahagia kamu bisa menerima cintaku. Dan cuma sama kamu, aku bisa jatuh cinta. CUP," tutur Genta.
"Gak dimana-mana berpelukan terus, gak ada bosannya," seru Axel yang keluar dari rumah.
"Ada apa, Xel? Lo ngiri? tinggal cari aja cewek, biar bisa berpelukan kayak gue," Genta makin memamerkan kemesraan pada Axel.
Selly mengurai pelukannya dan berjalan masuk ke dalam. Ketika berpapasan dengan Axel, Selly berkata "Cepet cari cewek ya adek ipar, biar nanti gak pengen lihat kita berdua," goda Selly.
"Wew.. Kakak ipar sudah bisa meledek aku ya,"
Genta pun menyusul Selly yang berjalan masuk duluan. Meninggalkan Axel yang berdiri di teras depan. Genta berdiri di dapur bersih, karena Selly berada di sana bersama Nyonya Bagaskara.
"Tidur siang yuk, Yank!!" Genta mengajak Selly untuk tidur siang, dari pada mereka tak ada kerjaan.
"Kamu aja yang tidur, aku tadi sudah tidur,"
Selly pikir Genta akan berjalan ke kamar, ternyata dia berjalan keluar. Mamah menyuruh Selly untuk menemani Genta yang ingin tidur siang.
Selly pun menuruti kata calon Mamah mertuanya. Dia berjalan mendekat ke Pak tua sang kekasih yang sebentar lagi menjadi suaminya.
Dia memeluk calon suaminya yang sedang bersandar di sofa.
"Jadi tidur gak? Yuk aku temani!!"
"Harusnya aku yang manja mas sama kamu, ini kamu terus," lanjut Selly.
Genta melihat ke samping, dan dia memeluk tubuh kekasihnya. "Ayok tidur!!"
Genta beranjak dari sofa, begitupun Selly. Dia menuntun Selly berjalan menaiki anak tangga. Selly bergelayut manja di lengan kokoh Genta.
"Mas ganteng,"
"Apa, Sayang?"
Ceklek. Mereka berdua masuk ke dalam kamar milik Genta.
"Harusnya kita di pingit nih,"
"Gak usah pakai pingit-pingitan, enakan berduaan," ucap Genta sambil melepas pakaiannya.
__ADS_1
"Mas ganteng, bisa gak kamu pakai celana kolor yang agak panjang sedikit. Di atas lutut gitu, ya ampun.. Itu yang kamu pakai, udah tipis, pendek pula,"
"Biar gampang kalau tiba-tiba kamu ngajakin aku bercinta,"
"Gak mungkin aku ngajakin kamu, sudah pasti kamu duluan,"
"Ya memang, hayu!!"
Selly merebahkan tubuhnya terlebih dahulu di atas kasur. Dia juga membelakangi Genta, Genta malah berada di depan wajahnya. Dia mengganggu Selly yang pura-pura tidur.
"Tersenyum kan?"
"Gimana aku gak senyum-senyum, kamu cium-cium terus," ucap Selly sambil menahan tawa.
Drrttt
Drrttt
Drrttt
"Hayo siapa?" tanya Selly, karena handphone Genta yang masih ada di dalam tas sedang berbunyi.
Genta pun berjalan mengambil benda pipih itu, "Teman ku, Sayang,"
"Wanita?"
Genta meloudspeaker sambungan telepon, agar Selly mendengar percakapan Genta dengan temannya.
"Hallo Bro,"
"Teman macam apa kau, mau nikah gak undang-undang,"
"Undangan Lo udah gue titipin sama Heri, emang belum sampai?"
"Sudah sampai, bercanda gue. Kapan nih party melepas bujang, gue bantu booking tempat deh,"
Genta dan Selly saling pandang, Selly yang mendengar itu langsung duduk bersandar tempat tidur dan melipat tangan ke depan.
Genta bertanya tanpa bersuara ke Selly, tetapi Selly memberikan isyarat agar Genta mendekat ke Selly.
"Kamu aku bolehin pesta bujang, aku juga iya sama teman kampus aku. Waktunya harus sama, tapi tempat beda. Gimana?" Genta langsung melongo mendengar kekasihnya berkata seperti itu.
Selly menaik turunkan alisnya, membuat Genta menjadi bimbang. Sedangkan temannya Genta terus saja bertanya gimana, gimana dan gimana kepada Genta.
"Oke Bro, atur deh tempatnya. Tapi besok ya Bro,"
"Oke, Gen. Tinggal jawab gitu aja kelamaan mikir Lo, ya udah ya Gen,"
__ADS_1
"Oke,"
Genta langsung lompat ke atas kasur, dia memeluk paha Selly. Terus meminta maaf kepada kekasihnya karena dia terpaksa mengiyakan ajakan temannya.
Sebenarnya Selly pun tak apa kalau dia ingin kumpul bersama teman-temannya. Selly pun merasa bebas sebentar dari sang kekasih, tapi dia tak mau menunjukkannya pada Genta.
"Aku mau telpon Mahen dulu ah, aku mau suruh dia bookingin tempat buat acara aku," ucap Selly sambil menggoda kekasihnya.
"Sayang, aku cowok semua lho. Harusnya kamu juga cewek semua," ujar Genta mendongakkan kepalanya ke wajah Selly.
"Gak papa ada cowoknya, toh mereka juga tau kalau aku mau nikah. Kamu mau ada ceweknya juga gak papa, tapi besok langsung gagal nikah hehehe..." Kekeh Selly.
"Ini dijamin Sayang cowok semua,"
"Ya udah, kamu booking sekalian buat teman-teman aku,"
"Waduh,"
"Kenapa? Kok waduh? takut ketahuan ya?" tanya Selly sembari mengusap-usap rambut Genta.
"Sayang, kita booking tempatnya di Club malam," Awalnya Selly terkejut, tapi dia tetap minta di pesankan tempat yang sama.
Walaupun dia belum pernah ke Club malam, tapi Selly maksa pengen di tempat yang sama.
"Serius sayang? Temen kamu emangnya mau?" tanya Genta.
"Seriuslah, temanku sudah pasti mau. Namanya juga gratisan, dan kamu tau kan? Di Club-club malam itu banyak cewek-cewek begitu?"
"Tapi aku gak pakai itu Yank, paling teman aku aja,"
"Huh..." Selly membuang nafas kasar.
Dia menyuruh Genta untuk melepas pelukan di pahanya, lalu dia merebahkan tubuhnya. Dia menelpon Mahen, memerintahkan Mahen untuk mengajak teman-teman kampusnya untuk berkumpul di Club yang di sebutkan Genta.
Mahen benar-benar terkejut, kenapa Selly mengadakan acara di sana. Selly pun menjelaskan kenapa dia mengadakan acara di sana, Mahen pun langsung paham.
"Tidur nyenyak deh, ingat besok kita pura-pura tak saling kenal ya," ucap Selly.
"Apa sih Yank, gak gitu juga. Kamu aku kenalin dulu sama teman-temanku,"
"Gak usah, katanya mau tidur. Jadi panjang kan ceritanya gara-gara kamu,"
Genta langsung menahan wajah Selly, "Mau apa?" tanya Selly.
"Ciuman," Gentan menempelkan bibirnya ke Selly dan lama-lama dilum*T nya bibir Selly yang manis itu.
Tangan Genta sudah masuk saja ke dalam kaos Selly. Meski di pegang oleh tangan Selly, tetap saja tangannya terus menggerayangi gunung yang menonjol. Genta memainkan puT*Ng itu, dan Selly memeluk leher Genta serta memegangi wajah tampan kekasihnya.
__ADS_1
Genta melepas ciumannya, dia beralih ke gundukan yang sedari tadi di remas-remas. Kelanjutannya hanya othor yang tau, takut kalian pengen hehehe...