
Malam ini Genta gagal mengajak Selly untuk tinggal bersama di apartemennya. Ibu Selly belum memberikan izin, bukan tidak boleh tapi jangan sekarang.
Sampai di apartemen Genta langsung menelpon pujaan hatinya namun tak di angkat. Genta pantang menyerah, terus menelpon sampai di angkat dan akhirnya di angkat juga.
"Assalamu'alaikum, Mas. Berisik banget sih nelpon terus, kenapa?"
"Wa'alaikumsalam, dari mana aja?"
"Habis mandi Mas ganteng, masa aku suruh bawa handphone terus,"
"Emangnya gak bisa kalau mau mandi bilang dulu, senang banget bikin aku kesal,"
"Astaga.... kamu terlalu lebay deh Mas. Mau apa sih nelpon?"
"Kangen,"
"Mas, kita baru ketemu satu jam lalu. Bahkan satu jam belum ada, dari mananya kamu kangen sama aku?"
"Ya pokoknya kangen, besok ke rumahku. Ke tempat Ayah berangkat dari sini, Ibu nanti biar di jemput sama Axel aja,"
"Gak mau ah, kita ketemu di makam aja,"
"Ya sudahlah terserah kamu aja, Assalamu'alaikum,"
Tek.
"Wa'alaikumsalam,"
"Oke baiklah dia marah, sensi banget,"
Selly langsung berpakaian dan ingin segera tidur. Besok pagi-pagi Selly ingin pergi ke apartemennya Pak tua.
* * * * *
Waktu menunjukan pukul 6 pagi, Selly sudah berada di depan lobby apartemen. Dia sedang menunggu Dendi, asisten Genta.
."Pagi Non,"
"Pagi, Den. Kunci kamar Bos beneran ada sama kamu?"
"iya, Non. Saya punya serepnya,"
"Baiklah,"
sesampainya di depan kamar Kenta, Selly meminta Dendi untuk membantu dirinya. setelah masuk ke dalam kamar, Selly melihat ada pembayaran yang tidak aku ketahui.
Tapi Selly ke sini untuk melihat Genta yang sedang tidur. Selly langsung masuk ke dalam selimut Genta.
Seperti biasa Genta tidur hanya menggunakan boxer saja. Mungkin sudah jadi kebiasaan Genta kalau sudah selesai.
Selly memeluk kekasihnya itu dengan sangat erat, "Mas, bangun,"
"Mas, jangan marah," ucapan Selly.
"Ya sudah, aku tidur aja,"
Selly pun ikut memejamkan mata, karena dia semalam kurang tidur gara-gara Genta marah.
Di sisi lain, Dendi dan bodyguard lainnya sedang membeli sarapan untuk Bos dan untuk Selly.
"Den, tumben Non Selly datang pagi-pagi?" tanya Rian.
__ADS_1
"Semalam Pak Bos marah sama Non Selly, cuma Gara-gara Non Selly telat angkat telpon,"
"Ya ampun si Bos, aku rasa anak abegeh gak begitu-begitu banget,"
"Entahlah, kasian Non Selly kalau Pak Bos ngambek,"
"Iya, sesayang itu dia sama Pak Bos. Sama-sama sayang juga,"
Setelah makanan yang di beli sudah jadi, Dendi segera membayar dan pergi meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua langsung kembali ke apartemen, takut Bos nya sudah bangun. Ternyata ketika mereka sampai di Apartemen, Bos mereka belum ada yang bangun. Mereka berdua pun kembali ke kamar mereka.
Sampai pada akhirnya pukul 10, Genta membuka mata. Dia merasa tubuhnya ada menindihnya, setelah di lihat ternyata yang memeluk dia adalah Selly sang kekasih.
"Sejak kapan dia di sini," lirihnya.
Genta langsung memeluk erat tubuh mungil kekasih itu. Dia menciumi pacar kesayangannya.
'triiiinngg'
Dendi : "Tuan, sarapan sudah siapkan di meja,"
Genta : "Ok, datang jam berapa Selly"
Dendi : "Jam 6 pagi, tuan,"
Genta : "Pantes dia tidur lagi, ya sudah saya mau mandi dulu,"
Dendi : "Baik, Tuan,"
Genta langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia meninggalkan Selly yang masih tertidur pulas.
Selesai mandi, Genta membangunkan Selly karena dia ingin sarapan bersama.
"Kalau gak bangun aku ajak bercinta," bisik Genta di telinga Selly.
"hmmm.."
"Sampai jam berapa anak kecil?" tanya Genta sambil mengusap rambutnya.
"Jam 6, aku gak bisa tidur semalam gara-gara kamu,"
"Sudah ku bilang jangan pacaran sama anak kecil, cari yang lebih dewasa. Dewasa segala-galanya," lanjut Selly.
"Sudah ku bilang juga, aku gak mau sama yang lain. Kecuali anak kecil ini," ucap Genta sambil menunjuk kening Selly.
"Sudahlah kita sarapan dulu,"
"Kamu aja, aku males makan,"
"Nanti kalau sakit, gimana? mau di infus lagi?" Selly menggelengkan kepala dengan cepat.
Akhirnya mereka berdua berjalan keluar kamar dan menuju meja makan.
"Pagi Non, Pagi Tuan,"
"Pagi, Dendi. Kamu sudah sarapan?" tanya Selly.
"Maaf Non, sudah duluan,"
"Gak usah minta maaf, kalau waktunya makan gak papa makan duluan. Jangan nungguin Mas Genta, kelamaan,"
__ADS_1
"Hehehe.. iya Non,"
Mereka berdua pun menyantap makanan yang sudah di beli oleh Dendi. Apa yang di beli Dendi mereka tak ada yang menolak.
'ting..tong..'
Dendi berjalan membuka pintu, ternyata yang datang Axel. Dendi langsung memberikan selamat pagi untuk Axel.
"Hai, kalian ini jam segini baru sarapan. Kak ipar tidur di sini?" tanya Axel yang duduk di samping Selly.
"Gak, aku datang tadi pagi. Sudah sarapan belum?"
"Sudah Kak, aku ke sini mau ajak Kak Genta main golf,"
"Ya sudah, ajaklah dia pergi. Tapi sebelum jam 4 sore harus sudah pulang, kita mau ke makam,"
"Siap Kakak ipar,"
"Kalau kamu gak nemenin, aku gak mau," ucap Genta, Axel memutar bola mata jengah.
"Mulai lebay, ya udah Kak Selly ikut juga,"
"Aku mau tidur aja di sini, Boleh gak?"
"Ya sudah aku di rumah juga,"
"Iiihh..." Axel gak nyangka kalau Kakak nya bisa sebucin ini dengan pacarnya.
"Sudahlah, gak jadi main golf. Tidur di rumah berdua lebih baik dari pada main golf," ujar Axel kesal.
"Memang enak, apa lagi sama pacar berdua," goda Genta.
PLAK, Selly memukul paha Genta.
"Di sangka Axel kita ngapa-ngapain Mas,"
"Gak papa Kak Selly, memang dia begitu,"'
"Hehehe... padahal enak ngapa-ngapain. Cuma kamu aja masih takut," imbuh Genta.
"Tau ah, sebel banget mulutnya,"
Selesai sarapan mereka duduk di sofa bed sambil menonton TV. Genta terus memeluk Selly yang ada di sampingnya, dan Selly menyandarkan kepalanya ke dada Genta.
"Sayang, kita mau kemana hari ini sebelum ke makam,"
"Mau tidur," ucap Selly singkat.
"Ya sudah ayok!!"
"Apa sih Yank, aku mau tidur sendiri. Kamu pergilah sama Axel,"
"Ya sudah, tidur sana!!"
"Okey, nyusul ya,"
"Jangan menggoda, nanti aku susul beneran,"
Selly senyum-senyum sambil jalan ke dalam kamar. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Entah bisa tidur atau gak, yang penting dia rebahan di atas kasur.
Sedangkan Axel kekeh mau ajak Kakak nya main golf, tapi tetep aja Genta tak mau. Karena ada Selly di apartemen nya, Genta malah menyuruh Axel untuk main bersama bodyguard nya. Dan mau tak mau Axel pun mengikuti saran Kakak nya.
__ADS_1