Di Cintai Bosku Yang Bucin

Di Cintai Bosku Yang Bucin
BAB 60 Terjebak Di Bandara


__ADS_3

Selly, Genta, dan dua bodyguard masih berada di Bandara. Karena pesawat yang akan mereka tumpangi delay beberapa jam ke depan. Selly sudah nampak bosan berada di situ. Dia juga ingin merebahkan tubuhnya.


Makanan yang tadi di pegang Genta, sudah berhasil dia habiskan. Sekarang dia berjalan ingin mencari makanan lagi, dia tidak sendiri tapi di temani sang suami. Walaupun suaminya berada di belakangnya, karena dia tak ingin di temani.


Selly berhenti di depan di satu resto, Genta ikut masuk di dalamnya. Selly duduk, Genta pun ikut duduk di sampingnya.


"Permisi Kak, mau pesan apa?" tanya salah satu waiters, sembari memberikan selembar menu untuk di pilih dan di centang.


"Sebentar ya, mbak," jawab Selly sembari melebarkan kertas di depannya.


Selly langsung memesan dua porsi untuknya, dan satu minuman. Dia langsung menyodorkan kertas itu ke Genta, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Genta melirik tak suka pada Selly, istrinya tak pernah marah sampai segini nya. Kalau pun marah, dia masih melakukan kewajibannya.


Genta tak memesan makanan, dia hanya memesan minum saja. Lalu kertas menu di kembalikan ke waiters yang masih berdiri di dekatnya.


Waiters itu menyebutkan makanan yang sudah di pesan, dan Selly langsung membayarnya. Setelah di bayar, waiters itu pergi meninggalkan Genta dan Selly.


"Sayang, kamu kenapa lama sekali marahnya. Aku udah minta maaf Yank, harus gimana lagi?" ujar Genta sendu.


"Diam, gak usah bicara sama aku. Bicaralah sama cewek itu, kita pisah aja," ucapan Selly berhasil membuat Genta shock dan marah mendengarnya, tapi dia tak berani mengeluarkan nada kencang.


"Sayang, aku gak mau ya kita pisah. Ini cuma masalah sepele sayang, aku angkat telpon dia biasa aja. Gak ada perasaan apapun, harus berapa kali aku jelasin ke kamu," ujar Genta sedikit marah.


"Cocok lho Pak sama dia di banding saya, saya bukan cewek cantik apa lagi jago bisnis. Saya adalah cewek manja yang merepotkan anda saja, Pak," ucap Selly santai tapi sesak di dada.


Genta memeluk Selly dari samping, "Aku harus melakukan apa supaya kamu bisa memaafkan aku?"


"Jauhi saya! anda pulang ke apartemen, saya pulang ke ibu saya," perintah Selly.


"Aku gak mau dan aku gak bisa!!!" ucap Genta penuh dengan penekanan.


Selly tak meneruskan ucapannya, karena satu waiters berjalan ke arahnya. Genta memegang tangan Selly erat, Selly pun diam saja. Dia tak ingin menunjukan kalau mereka berdua sedang marah di depan orang lain.


"Pesanannya sudah semua ya, Kak," ucap Waiters itu.


"Iya mbak, maksih ya,"


"Sama-sama, silahkan!" Selly hanya mengangguk.

__ADS_1


Dia memberikan satu makanannya ke sang suami, "Buat Pak Genta,"


"Sayang, jangan panggil aku seperti itu,"


"Lepas tangan saya Pak, saya mau makan," Genta langsung melepaskan tangan istrinya.


Selly langsung melahap makanan yang ada di depannya dengan cepat. Entah kenapa dia sekarang jadi nafsu sekali makan. Dan porsinya pun selalu banyak.


Sedang asiknya makan, Selly menerima telpon dari sang Ibu.


Drrttt


Drrttt


Drrttt


"Hallo Ibu,"


"Hallo Sayang, masih delay kah?" tanya Ibu Santi dari sambungan telepon.


"Iya Sayang, pegalnya sudah hilang belum?" pertanyaan Ibu Santi, membuat Genta kaget.


"Belum Bu, masih terasa pegal. Pinginnya rebahan terus,"


"Sepertinya kamu beneran hamil Sayang, nanti sampai sini kita periksa ya?"


"Gak usah Bu, aku gak mau periksa. Mungkin karena aku kurang minum aja, jadi pinggang aku sakit,"


"Tapi Ibu yakin kamu hamil, Nak,"


"Do'akan saja ya Bu, ga usah Bu aku mau lanjut makan dulu," Selly buru-buru ingin memutuskan sambungan telpon.


"Iya, makan yang banyak. Biar dedeknya sehat,"


"Belum tentu Bu aku hamil, ya sudah Bu. Bye,"


"Bye,"

__ADS_1


Selly langsung memutuskan sambungan telpon, karena dia tak ingin Ibu nya membicarakan kehamilan di depan Genta. Kalau dia hamil, Selly tak ingin memberitahu Genta.


Selesai makan, Selly dan Genta kembali ke tempat dimana Dendi dan Rian berada. Genta mensejajarkan jalannya, untuk berada di samping Selly.


"Kamu hamil, Yank?" tanya Genta pada sang istri.


"Gak,"


"Kata Ibu..." belum Genta meneruskan ucapannya, Selly sudah memutuskan.


"Gak, aku bilang gak ya gak," gertak Selly. Dia langsung berjalan cepat meninggalkan Genta.


"Sampai segitu dia marah sama aku, hanya karena telpon," ucap Genta lirih.


"Dendi, masih lama kah?" tanya Selly.


"Setengah jam lagi Nyonya," jawab Dendi.


"Kalian berdua sudah makan?"


"Sudah Nyonya, ini uang kembali nya,"


"Buat kalian aja,"


Ya, sebelum Selly pergi, dia memberikan uang kepada Dendi dan Rian untuk makan siang. Genta dan Selly duduk bersampingan, Genta menyandarkan kepalanya di pundak Selly. Selly pun tak merasa keberatan kalau hanya begitu.


"Dendi, tolong belikan cemilan untuk saya," Selly ingin memberikan uang, di tahan oleh Genta.


"Pakai uang saya saja, Den,"


"Siap, Tuan,"


Dendi mengajak Rian untuk membelikan cemilan, Sedangkan Genta masih menyandarkan kepalanya di pundak Selly.


"Sayang, apa kamu beneran hamil? Kamu makan gak kayak biasanya,"


Lagi-lagi Selly tak menjawabnya, dia diam saja. Karena sudah malas berbicara dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2