
Setelah pertemuan Selly dan keluarga Genta waktu itu. Sampai sekarang ibu Selly belum ingin bertemu dengan keluarga Genta.
Bukan karena ibunda Selly tidak menyetujui Selly dengan Genta, tapi Ibu Selly belum ingin menceritakan kembali tentang suami tercintanya. Dan keluarga Genta pun memaklumi hal itu.
Itu juga tak jadi masalah untuk Genta dan Selly. Mereka masih bisa bersama walaupun di undur mencari tanggal pernikahan.
"Sayang, kamu ikut aku ya Minggu besok. Kita akan tinggal di Kota sebelah beberapa Minggu,"
"Mau ngapain?"
"Aku mau ngurusin gudangku yang kemarin,"
"Aku di sini aja,"
"Gak bisa Yank, aku gak bisa jauh dari kamu,"
"Denger gak Mamah kemarin bilang apa, kamu tuh lebay. Kayak gak ketemu lagi aja,"
Genta berjalan mendekati kekasihnya yang sedang merapikan pakaiannya. Dia memeluk selly dari belakang, dan menciumi tengkuk lehernya.
Selly pun membalikkan badannya dan berkata, "Jangan ganggu dulu ya sayang, habis ini,"
"Bisa gak sih kalau kamu ke apartemen ku gak usah beres-beres. Cukup ngurusin aku aja," Genta melepas pelukannya dan meninggalkan Selly.
Selly menggelengkan kepala melihat kelakuan sang kekasih. Dia pun mendekati kekasih nya yang duduk di balkon.
"Mas," panggil Selly.
"Hmmm.."
"Sebentar ya, dikit lagi selesai,"
"Terserah,"
Selly pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan merapikan baju Genta. Dia ikut duduk di samping Genta, dan memeluk dari Genta dari samping.
"Makanya Mas, kamu kalau ambil baju jangan berantakan. Sudah ku kasih tau cara ambil bajunya, masih aja berantakan. Aku gak suka lihatnya,"
Genta tak menanggapi ucapan Selly, dia terus aja memandang langit.
"Ya sudah kalau kamu diam aja, aku mau beresin baju lagi," Selly berdiri ingin meninggalkan Genta, tapi tangannya di pegang oleh Genta.
"Di sini aja," pinta Genta.
Selly duduk kembali di samping Genta, sekarang Genta yang memeluk Selly.
"Besok cari cincin yuk!! aku mau tunangan dulu sama kamu," ajak Genta yang tiba-tiba ingin melingkarkan cincin di jari kekasihnya.
"Kenapa dadakan sekali, tapi kamu kan mau pergi Yank,"
"Siang kita beli cincin, sore kita tunangan. Biar Dendi yang mengurus semuanya, tinggal kamu bilang sama Ibu,"
"Kok aku, ya kamu lah yang bilang ke Ibu ku. Tapi kamu yakin mau serius sama aku?"
"Yakin lah, ya sudah sekarang aja bilang ke Ibu dan Mamah ku," ucap Genta dengan mimik muka yang serius.
Genta berdiri dan mengulurkan tangannya ke Selly. Selly pun menerima uluran tangan kekasihnya.
"Itu belum selesai Mas," Selly menunjuk baju yang masih ada di atas meja.
"Malam ini kamu nginap di sini, bisa kamu selesaikan nanti,"
"Gak mau,"
"Nanti aku yang izin sama Ibu, pasti di kasih,"
"Aku gak usah nginep, besok pagi-pagi aku datang ke sini. Oke,"
Genta tak menghiraukan kekasihnya, dia menelpon Dendi untuk mengantar ke rumah Selly dan Mamahnya.
Sembari menunggu Dendi, Selly memeluk Genta dari depan. Dia menggoyangkan tubuh kekasihnya ke kanan dan ke kiri, karena Genta sedang menelpon. Entah siapa yang dia telepon, tapi sepertinya masalah kemarin.
CUP
Genta mencium kening Selly, dan masih saja Selly mencari perhatian dari Genta.
Ceklek
Pintu di buka oleh Dendi dan 3 anak buah lainnya. Tapi tak merubah posisi Selly dari hadapan kekasihnya.
Genta memutuskan sambungan telepon, dan memberikan handphone ke Dendi. Selly pun melepas pelukannya.
"Cek pesan terakhir," perintah Genta ke Dendi.
__ADS_1
'HAP'
Genta menggenggam tangan Selly, "Tadi aku lagi terima telepon kamu sibuk ganggu aku, giliran sudah selesai kamu juga berhenti,"
"Aku suka aja mengganggumu,"
CUP
Genta memeluk Selly dan memberikan isyarat pada Dendi. Selesai berbicara dengan Dendi mengunakan isyarat, Genta mengurai pelukannya.
Dia langsung mengajak Selly keluar dari apartemennya. Dengan pengawalan di depan dan di belakang.
...****************...
Selly dan Genta sudah sampai di rumah sang Ibu. Genta langsung berkata maksud dan tujuannya datang ke rumah Selly. Walaupun dengan penuh pertimbangan dari Ibu Selly, tapi beliau menyetujui acara tunangan dadakan ini.
Dan Genta meminta izin supaya Selly menginap di rumah Mamah. Biar besok gampang untuk membeli cincin dan gaun nya.
Awalnya Ibu tidak mengizinkan anak semata wayangnya menginap di rumah lelaki yang belum Sah jadi suaminya. Tapi Selly meyakinkan kalau dia bisa menjaga dirinya. Akhirnya izin pun dikantongi, Selly langsung masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju ganti.
Selesai meminta restu dan mengambil baju Selly. Rombongan Genta pun pamit untuk pergi, termasuk Selly ada didalamnya.
"Mas, Dendi kamu suruh kemana?" tanya Selly yang baru sadar kalau Dendi gak ikut ke rumahnya.
"Ada tugas dadakan, jadi dia harus pergi,"
"Gak ada yang lagi di tutupin sama kamu kan?" tanya Selly yang penasaran.
"Gak ada sayang,"
Pak supir mulai melajukan mobilnya menuju rumah Tuan Bagaskara. Di dalam mobil tumben sekali Genta tak banyak bicara dan tak banyak gaya. Membuat Selly heran, tapi dia belum berani untuk bertanya.
Akhirnya sampai juga setelah 30 menit perjalanan. Malam ini kediaman rumah Tuan Bagaskara cukup ramai.
"Ada apa ya, Mas. Kok ramai sekali,"
"Mas juga gak tau sayang, kita masuk aja Yuk!!" ajak Genta sambil merangkul Selly.
"Assalamu'alaikum," salam Selly dan Genta.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serentak dari dalam.
"Selly... sini Sayang!!" Selly langsung mencium tangan Mamah dan Papah calon mertua dulu. Baru menyalami yang lain, Selly merasakan ada yang tak suka dengan kehadirannya.
"Dari apartemen Mas Genta, terus kerumah Ibu lalu kerumah Mamah," jawab Selly yang kembali ke posisi samping Genta.
"Mah, Genta sama Selly besok mau tunangan. Cuma Mamah, Papah dan Ibunya Selly aja yang datang,"
"Hah.. tunangan!!" seru salah satu wanita kaget mendengar ucapan Genta.
"Kenapa dadakan sekali, Gen?"
"Dia gak mau di ajak ngurus kantor yang di sana, jadi aku ajak dia tunangan. Biar gak bisa macam-macam," jawab Genta sambil merangkul Selly yang ada di sampingnya.
"Lebay, tapi mamah seneng sih. Akhirnya di percepat walaupun hanya tunangan aja," ucap Mamah senang.
"Oke deh, besok sharelok aja ya rumah kamu Sell,"
"Di apartemen aku Mah acaranya,"
"Oke-oke, Mamah jadi tau apartemen kamu,"
Setelah memberitahu soal lamaran, mereka berdua pamit untuk pulang ke apartemen. Genta langsung menyuruh sopir untuk mampir ke sebuah Resto. Karena mereka semua belum makan malam.
......................
Selesai pergi ke beberapa tempat, mereka berdua pun pulang ke apartemen. Selly meminta kental untuk bersih-bersih sebelum tidur, karena dia ingin membereskan pakaian yang tadi tertunda.
Selesai merapikan lemari dan meja, Selly pun bergantian untuk bersih-bersih.
Ceklek.
Selly keluar dari kamar mandi, dia ingin memakainya serangakaian skincare miliknya.
"Tidur dulu aja, Mas. Aku mau nonton drakor, mumpung besok libur,"
"Ingat!! Ada aku yang harus kamu urus,"
"Siap Pak bos,"
Selesai menggunakan skin care Selly langsung pergi ke ranjang milik Genta.
"Sini!!" perintah Genta.
__ADS_1
Selly naik dan merebahkan tubuhnya di samping Genta. Selly memberi pesan kepada Genta untuk tidak berbuat apa-apa padanya. Karena dia tidak mau mengecewakan Ibunya.
Genta memang setuju dengan ucapan Selly, tapi tetap saja ada cara lain untuk dia tetap mengajak Selly bercinta.
"Sayang, kamu gak terpaksa kan tunangan sama aku?" tanya Genta.
"Gak Mas, kenapa kamu tanya begitu ke aku?"
"Aku takut kamu terpaksa terima cinta aku,"
"Aku gak terpaksa Mas terima cinta kamu, tapi aku nyesel,"
"Nyesel?? nyesel kenapa?" tanya Genta bingung.
"Nyesel udah kasih tau kamu drama Korea, bucin kamu kelewatan Mas," jawab Selly membalas pelukan Genta.
"Aku hanya ikutin mau kamu sayang, nanti kalau gak di turuti bisa ngambek," Selly tersenyum mendengar ucapan Genta.
Selly menyuruh Genta untuk tidur lebih dulu, tapi Genta tak mau kalau belum di kasih itu. Genta mulai meraba tubuh Selly, dari punggung sampai ke depan.
Selly menahan tangan Genta ketika ingin memainkan payuD*r*nya.
"Kenapa?" tanya Genta
"Kiss aja," jawab Selly. Dan respon Genta hanya menggelengkan kepala.
Akhirnya Selly membiarkan tangan Genta berkeliaran di tubuh Selly. Genta mulai mencium bibir Selly, dan di sambut hangat dengan Selly.
Selly mulai bisa bermain itu, karena seringnya Genta meminta itu hampir tiap hari. Genta mulai melepas piyama Selly dan pengait Bra nya.
Genta mulai memasukkan benda kenyal itu ke dalam mulutnya, dan memainkan ujungnya di dalam mulut. Selly meremas rambut Genta, sembari menggigit bibir bawahnya.
Tangan Genta mulai turun ke bawah, langsung di tahan oleh Selly dan menggelengkan kepala.
Genta langsung mencium bibir Selly, dan berkata, "Main pakai jari ya,"
"Gak mau," ucap Selly.
"Hmmm..."
Selly langsung menyudahi permainan ini, dia menggunakan bra dan pakaiannya lagi. Lalu berjalan ke kamar mandi. Dia mencuci muka dan memikirkan hal seperti ini.
'Begini kah pacaran dengan pria dewasa, aku takut hamil nanti dia kabur. Tapi rasanya tak mungkin kalau dia kabur, karena Papahnya kenal sama Ayah aku,' bathin Selly.
'Kalau ku mau, aku takut nanti dia bakal minta terus,' ucapnya dalam hati.
"Semoga dia sudah gak marah," lirih Selly.
Ceklek.
Selly memandang jam dinding yang ada di kamar Genta.
'Perasaaan sudah lama sekali di kamar ini, kenapa masih jam segini. Lama sekali paginya,' gerutunya dalam hati.
"Tidur Mas," ucap Selly mencoba mengajak ngobrol Genta, tapi dia enggan membalas ucapan ku.
Selly baru ingat, kalau punya teman yang pacarnya lebih tua. Dia langsung mengirim pesan ke teman kerja nya dulu.
'Criiiinnggg' pesan dari Dira.
Dira : "Ngapain Lo tanya begitu? emang pacar Lo tua juga?"
Selly : "Iya Dir, jawab dong. Apa pacaran sama orang dewasa selalu minta itu ya,"
Dira : "Iya gitu Sell, kalau gak diturutin bakal ngambek terus. Uring-uringan terus, kayak lagi momong anak kecil aja,"
Selly : "Okelah, terima kasih infonya, Dir,"
Dira : "Selamat menikmati ya, Sell,"
Selly menaruh kembali handphone nya di atas nakas. Dia langsung saja tidur membelakangi Genta. Enggan sekali untuk mengajak ngobrol lagi, karena tadi sudah di cuekin.
"Antar aku pulang yuk, Mas. Mumpung belum jam 10," Genta tak menjawab ucapannya lagi, dia asik bermain handphone.
"Ya sudahlah," Selly langsung keluar kamar. Dia ingin tidur di sofa bed aja, mungkin lebih aman.
Dengan membawa bantal, dia tidur di sofa bed. Tapi sebelum tidur, dia mengecek pintu dulu. Memastikan kalau pintu sudah di kunci.
"Huh... akhirnya bisa tidur tanpa harus melihat orang yang nyebelin," ucap Selly sebelum memejamkan mata.
Tanpa Selly sadari Genta mendengar ucapan Selly barusan, dia pun senyum-senyum sendiri. Karena memang dia orang yang pemaksa, kalau gak dituruti lebih baik diam tanpa bersuara.
Genta pikir Selly akan menuruti, ternyata dia lebih memilih tidur di luar. Genta pun mendekat ke arah Selly, dan menggendong tubuh Selly untuk di pindahkan ke kamar.
__ADS_1