
"Jadinya tanggal berapa kalian menikah?" tanya Nyonya Bagaskara.
"Tanggal 7, bulan 7 Mah. Mau nya selly itu Mah, cari nomor dan tanggal yang bagus," jawab Genta.
"Gak papa, bikin undangan dari sekarang. Suruh Dendi aja, Gen,"
"Iya, Mah,"
Akhirnya Selly dan Genta pamit untuk kembali ke apartemen. Selly dan Genta satu mobil dan yang lain berada di mobil satunya. Kali ini bukan keinginan Selly tapi keinginan Genta untuk menyetir mobil.
"Sayang, mas kawinnya terserah aku ya?"
"Iya, mas ganteng,"
"Kamu sepertinya gak bahagia,"
"Aku memikirkan Ibu, mas. Emang kamu mau tinggal di rumah ku?"
"Mau, tapi gimana sama bodyguard aku?"
"Seminggu sekali nanti kita tidur di rumah Ibu, gimana?"
"Oke, Mas,"
Sesampainya di apartemen, Genta menonton Selly untuk masuk ke dalam apartemen. Selly langsung masuk ke dapur untuk mengambil minuman dingin dan beberapa cemilan yang dia beli waktu pergi ke supermarket.
Selly pun memberikan minuman dingin kepada Genta yang ada di sofa bed depan TV.
"Andai sudah menikah, indah banget ya Yank. Kamu gak usah kerja, cukup di rumah nunggu aku pulang,"
"Gak mau, aku akan terus kerja. Takut pelakor datang,"
"Takut kehilangan aku kan?"
"Kalau iya kenapa?" Genta langsung memeluk Selly yang ada di sampingnya.
"Aaahhh... jadi gak sabaran mau cepat-cepat nikah,"
"Sabar, Sayang. Oiya aku pulang ya?"
"Kita mau bikin undangan Sayang, tunggu Dendi sedang mengambil sample undangan,"
"Kita kan cuma akad Mas, Gak usah undang-undang,"
"Tuh kan, kamu gak mau teman-teman kamu tau kalau kita nikah?? nanti ada yang naksir kamu,"
"Ya ampun pikirannya kemana-mana, ya udah aku undang semua teman aku. Kamu jangan undang cewek kemarin ya, awas aja,"
"Sayang, Papahnya dia partner bisnis aku. Aku takut dia datang dengan Papahnya,"
"Hmmm..."
"Ya sudahlah, suka-suka kamu aja,"
'Ting.. Tong..'
Genta langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu, di luar sudah ada Dendi dan Rey.
Ceklek.
"Tuan, ini pilihan undangannya,"
"Terima kasih, oiya dua pengawal yang di usir pulang oleh Nyonya besar. Suruh kembali ke sana!" bisik Genta.
"Siap, Tuan,"
__ADS_1
Genta langsung menutup pintu kamar apartemennya, dan kembali duduk di samping kekasihnya.
"Sayang, nih lihat-lihat dulu!" sambil menyerahkan beberapa map yang berisi sample undangan.
"Duduk dulu, Mas!! aku mau tanya sama kamu,"
"Tanya apa, Sayang?"
"Kamu ngapain sih, kirim bodyguard kamu untuk menjaga ruko dan rumah Ibu ku?" tanya Selly.
"Maaf sayang, jangan tanya sekarang ya. Maaf aku gak bisa jawab,"
"Okey rahasia-rahasiaan, nih pilih sendiri undangannya!!" Selly langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar Genta.
Genta serba salah, dia sudah janji pada calon Ibu mertuanya untuk tidak memberitahu Selly. Tapi sekarang Selly marah padanya, dia takut Selly membatalkan pernikahannya.
"Sayang.. Sayang.." seru Genta dari luar kamar dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Ceklek.
Genta membuka pintu berbarengan dengan Selly yang akan membuka pintu.
"Mau kemana?" tanya Genta yang berdiri di depan Selly.
"Awas ah,"
Selly langsung menyingkirkan Genta yang berdiri tepat di depannya dia pun berjalan menuju dapur untuk membuat mie instan.
"Bilang dong mau masak Mie, aku juga mau Yank,"
tanpa menjawab ucapan Genta, Selly juga mengambil satu Indomie lagi untuk Genta kekasihnya.
"Sayang, ayo kamu lihat dulu sebentar undangannya!! kamu ingin seperti apa,"
"Aku apa aja, ikut mau kamu yang mana. Kalau resepsi baru aku pilih yang bagus,"
"Ya sudah apa saja,"
akhirnya Genta memilih satu buah undangan yang berwarna coklat. Dia langsung menelpon Dendi untuk mengurus semuanya. Dendi juga yang akan memesan MUA dan tempat untuk ijab Kabul.
Selesai memasak mie Selly membawa mangkok ke meja makan. Dia pun mengajak kekasihnya untuk makan bersama.
Dan, mereka berdua memakan mie instan bersama. sesekali Genta melirik ke arah Selly yang sedang mengunyah makanan.
"Habis ini aku pulang ya Mas, Aku ngantuk banget, tadi pagi aku bangun pagi sekali,"
"Di sini ada kasur sayang, kamu bisa tidur di sini,"
"kalau di sini aku nggak bisa tidur Sayang, nanti ada yang ganggu,"
"Siapa yang ganggu kamu?"
"Siapa lagi kalau bukan kamu,"
"Ya itu kan dah wajib, Yank,"
Selly pun melanjutkan makannya tanpa menghiraukan perkataan dari Genta. selesai memakan Selly merapikan bekas makan dan mencuci piring di dapur.
Setelah merapikan semua, Selly kembal ke sofa bed dan merebahkan tubuhnya di atas sofa bed.
"Tidur di kamar kalau ngantuk,"
"Di sini aja, kalau di kamar agak serem, Pak,"
Genta langsung menggendong Selly ke dalam kamar. Selly pun sedikit memberontak dan pada akhirnya dia pun pasrah.
__ADS_1
Genta langsung menaruh Selly di atas kasur king nya.
"Tidurlah!!" perintah Genta dan Selly pun menurut. Selly langsung membelakangi Genta.
"Jangan pura-pura tidur, kita bercinta dulu,"
Genta langsung merapatkan tubuhnya ke Selly. Dipeluknya sang kekasih, sellly pun ikut memeluk Genta.
"Kamu serius mau nikahin aku, Mas?"
",Seriuslah, kenapa?"
"Gak papa, ayok tidur!"
"Kiss dulu Yank, sebentar,"
Genta tak menunggu persetujuan selly, Dia langsung menyambar bibir manis Selly yang ranum.
Genta bermain sendiri tanpa ada perlawanan dari Selly.
"Sayang ayok imbangi,"
"Hmm... udah tau aku ngantuk, masih di ajak itu,"
Genta kembali mencium Selly dan tangannya pun sudah bergerilya ke bagian depan tubuh Selly.
Genta mulai melepas kaos Selly dan melempar ke sembarang tempat.
"Mas, aaahhh... mas..."
"Sekarng sayang,"
"Gak mas, tadi udah janji kiss aja,"
"Gak bisa stop Sayang,"
Genta langsung membuka celana Levis Selly. Dia hanya membuka dan Selly sedang menahan desahannya, karena Genta mulai memainkan di area sensitif Selly.
"Mas..aaahh.."
Genta mencium perut Selly dan berjalan terus sampai ke bibir. Dia kembali Melu*m*at bibir ranum Selly yang paling Genta sukai.
"Mas, udah aaahh.."
Genta hanya menggelengkan kepala dan masih bermain ditengah-tengah paha.
"Enakan Sayang?" tanya Genta pada Selly yang masih bergetar. Selly menggelengkan kepala.
"Mas,, udah.." Selly semakin mencengkram lengan Genta.
Genta langsung menyudahi permainan tangannya dari area sensitif milik Selly. Genta meremas kedua gunung kembar Selly dan yang satu di masukkan ke dalam mulut Genta.
Selly pun terisak-isak, Genta langsung benar-benar menyudahi permainan nakalnya. Genta pamit ke kamar mandi dulu untuk mencuci tangan. Lalu dia kembali naik ke atas ranjang.
"Sayang, jangan nangis dong. Kan aku gak apa-apain, cuma begitu aja sayang,"
"Kamu nakal banget Mas, aku takut,"
"Tapi enakkan??"
"Ya enak campur takut, takut kamu kebablasan,"
"Gak sayang,"
"Ya udah, sekarang rapikan pakaian ku kembali,"
__ADS_1
"Baik, Nyonya besar,"
Genta menuruti apa kata Selly, dia yang melepas dia yang menggunakannya kembali.