Di Cintai Bosku Yang Bucin

Di Cintai Bosku Yang Bucin
BAB 39


__ADS_3

Selesai makan malam, Bu Santi di antar pulang oleh Rian dan dua bodyguard yang menemani Bu Santi. Nyonya Bagaskara pulang dengan Axel dan Tuan Bagaskara. Sedangkan Genta, Selly dan Dendi mereka bertiga belum pulang, karena ingin membahas acara hari minggu.


Genta meminta Dendi untuk mengurus semua tamu yang hadir. Karena hanya keluarga inti dan klien penting saja yang datang, jadi Dendi dan para bodyguard lainnya yang menghandle.


"Kok aku deg-degan ya, Mas,"


"Kenapa deg-degan, Sayang?"


"Aku gak tau, Mas. Aku mikirin nikah, kamu sih buru-buru,"


"Ingat sayang, kita sudah hmm...." Selly langsung menutup mulut Genta, yang hampir saja mengucapkan kalau sudah bercinta duluan.


Genta menurunkan tangan selly yang ada di mulutnya. Genta langsung memeluk calon istrinya dengan satu tangan dan berbisik, "Dendi pasti sudah tau, Sayang,"


Selly langsung memeluk Genta dengan erat, Genta pun memeluk Selly dengan kedua tangannya dengan erat juga. Mereka tak sadar kalau di depannya masih ada Dendi.


"Ehem... maaf Tuan apa kita tidak sebaliknya pulang saja. Jadi Tuan dan Non Selly bisa lebih dari itu," ucap Dendi menggoda.


"Maaf Dendi, saya terbawa suasana kalau sudah sama dia," Selly dan Genta sama-sama mengurai pelukan.


Genta langsung mengajak calon istri dan asisten pribadinya pulang ke apartemen. Selly meminta di antarkan pulang ke rumahnya, tapi tak boleh dengan Genta. Dia ingin sampai hari H Selly berada di dekatnya.


"Kamu resign aja sayang, gak usah kerja lagi," ucap Genta. Dia langsung melirik tajam ke arah Genta, ingin marah tapi masih berada di dalam mobil.


"Kenapa? lihatnya kok begitu?" tanya Genta.


Selly tak menanggapi ucapan kekasihnya, dia masih menahan amarahnya. Selly tak mau resign kalau bukan dirinya yang mau.


Sampai di lobby apartemen, Selly berjalan meninggalkan Genta yang ada di sampingnya.


"Sayang," panggil Genta dan mengejar ke kasihnya yang ingin masuk ke lift. Untung saja lift belum terbuka, jadi Genta masih bisa menangkap tangan Selly.


"Kenapa, Sayang?"


"Jangan pernah suruh aku resign!!"


"Ya buat apa kamu kerja, semua kartuku kamu yang pegang. Kamu di rumah aja nonton drakor,"


"Gak mau,"


'Ting..tong..' bunyi lift berhenti, dan pintu pun terbuka.


Selly menunggu Genta membuka pintu apartemen.


"Bisa cepat gak bukanya!!" sambil melihat wajah kekasihnya.


Genta semakin di sengaja membuka pintunya lama. Selly pun duduk bawah di depan pintu apartemen Genta.


"Sayang, ini sudah aku bukain,"


"Ada apa, Tuan? pintunya tidak bisa di buka?" tanya Dendi yang datang menghampiri Genta dan Selly.

__ADS_1


"Tidak Dendi, saya sengaja meledek anak kecil ini. Lihatlah gimana nanti punya anak kalau Mamah nya masih seperti anak kecil," tutur Genta.


"Sudah aku bilang jangan nikah sama aku, sama Sintia saja. Dia sudah dewasa, bukan anak kecil kecil sepertiku hiks..hiks..hiks.." ucap Selly sambil terisak.


Genta membuka pintu langsung mengangkat tubuh Selly ke dalam apartemen, dan meminta Dendi untuk menutup pintu. Selly di bawa ke kamar milik kekasihnya.


Genta menidurkan Selly dan dia membungkukkan tubuhnya dia atas Selly.


"Istirahatlah, besok tak usah kerja. Di rumah saja, aku tak mau kamu kelelahan. Ingat, Minggu acara pernikahan kita, Sayang,"


"Aku gak mau resign, nanti kamu bisa bebas ketemuan sama wanita itu,"


"Tak akan terjadi, Sayang. Mas bersih-bersih dulu ya? apa kamu mau bersih-bersih bareng Mas?" Selly menggelengkan kepala.


CUP


"Oke," setelah mencium kening kekasihnya, Genta masuk ke dalam kamar mandi.


Sembari mandi Genta terus memikirkan kekasihnya agar mau resign dari tempat kerjanya. Bukan karena Genta ingin macam-macam, tapi dia ingin kekasihnya beristirahat saja di rumah.


Selesai mandi, Genta langsung ikut naik ke atas ranjang. Dia memeluk Selly dari belakang.


"Mas, pokoknya aku gak mau resign,"


"Sayang, Aku ga....."


"Jangan banyak omong, aku mau tidur. Pokoknya aku gak mau resign TITIK,"


"huh...." Genta membuang nafas kasar.


"Sudah jangan marah sama mas, kita bercinta dulu baru tidur,"


"No, aku gak berani lagi,"


"Kok gak berani Yank, terus gimana aku?"


"Takut sakit lagi,"


"Kata Mamah lama-lama digunakan nanti sudah gak sakit lagi," ujar Genta.


"Ya nanti saja kalau sudah nikah," Selly masih berucap ketus.


"Sudah terlanjur Sayang,"


"Antar aku pulang saja," ucap Selly sembari membalikkan badan menghadap ke Genta.


"Ciuman saja," ucap Genta sedikit memaksa dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah.


Selly memeluk Genta erat, "Mas ganteng, tolong Mas jangan ngajak itu terus. Nanti kalau sudah nikah bisa sepuasnya kamu apakan aku," ucap Selly memohon agar Genta tak melakukannya sekarang.


"Aku mengalah, mari kita tidur!!"

__ADS_1


Genta memilih mengalah bicara pada sang kekasih. Sekarang dia hanya akan menunggu hari Minggu.


"Cium keningku dulu, baru kita tidur," ucap Selly.


CUP


Genta menuruti keinginan sang Kekasih, setelah mencium, Genta memeluk Selly kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Selly berangkat kekantor dari apartemen Bos Genta. Walaupun sedikit malu dengan orang sekitar, tapi Selly mencoba cuek saja


"Sayang, sebelum nikah nanti kita ke makam Ayah dulu ya?"


"Iya Sayang, oiya sayang.. sepertinya kita akan pindah apartemen setelah nikah,"


"Kenapa Mas? kok dadakan!" tanya Selly penasaran.


"Silahkan Non, silahkan Tuan," Dendi mempersilahkan Bosnya masuk ke dalam mobil.


"Mas, tolong lanjutkan pembicaraan kamu tadi. Kenapa tiba-tiba kamu ingin pindah apartemen? kemarin pulang kerja menyuruhku resign, sekarang kamu mau pindah Apartemen,"


"Ada cowok yang suka sama kamu, aku gak mau dia selalu curi-curi pandang terus ke kamu,"


"Cemburu kamu gak jelas banget, kita sudah mau nikah mas. Dia cuma melihat aku,"


"Berarti kalau Sintia melihat aku, kamu gak papa?"


"Jangankan melihat kamu, mau ambil kamu dari aku juga gak papa,"


"Gak usah di terusin ngomongnya, dari pada aku emosi," ujar Genta langsung di suruh diam.


Genta menurut omongan Selly, Rasa sayang dan rasa cintanya Genta begitu besar. Dia tak ingin kekasihnya terluka lagi karenanya.


Sampai di Lobby, Genta segera menggenggam tangan Selly agar tidak berjalan duluan.


Genta dengan penuh percaya diri berjalan menuju lift yang ada di kantor itu, dengan menggandeng tangan Selly. Tapi Selly hanya menunduk, dia malu karena belum lama bekerja sudah berpacaran dengan Genta.


"Di ruanganku ya,"


"Tidak, Pak. Kerjaan saya pasti banyak sekali,"


"Jangan panggil itu, panggil Mas,"


"Ini di kantor Pak, jangan macam-macam,"


"Hihihi.. gemes, jadi pengen lagi Yank," Kekeh Genta.


"Sabar ya, bulan besok baru aku kasih,"


"Gak mau,".

__ADS_1


"Gak mau ya sudah, gak aku kasih wleeee..."


Pintu lift pun terbuka, Genta ikut mengantar ke ruangan Selly terlebih dahulu.


__ADS_2