Di Cintai Bosku Yang Bucin

Di Cintai Bosku Yang Bucin
BAB 9


__ADS_3

Pagi ini Selly akan pergi ke makam Ayahnya, dia ingin curhat apa yang di rasakan Selly dan Ibu nya setelah peninggalan sang Ayah.


Selly sengaja ke makam pagi hari, agar tidak terlalu panas. Dan kali ini Selly ke makam di antar oleh Dendi asistennya Genta.


Weekend begini sang Ibu masih berjualan kue. Kalau minggu malah lebih ramai lagi jualan Ibu nya.


"Selly, yang jemput sudah datang, Nak," seru Ibu nya dari luar rumah.


Ceklek


"Iya, Bu," ucap Selly sembari keluar kamar dan berjalan ke luar rumah.


"Pagi, Non,"


"Pagi, Den. Mau-maunya kamu disuruh Pak Bos suruh antar saya,"


"Sudah jadi pekerjaan saya, Non,"


"Sebentar ya, saya pamit dulu sama Ibu,"


"Iya Non,"


Selly kembali lagi ke Ibu nya untuk berpamitan. "Titip salam buat Ayah ya, maaf Ibu belum bisa ke sana,"


"Iya, Bu. Nanti aku sampaikan ke Ayah,"


"Hati-hati ya, Nak!!"


"Iya Bu,"


Baru ini Selly ke makam Ayah nya pakai pengawalan.


"Silahkan Non," ucap bodyguard yang menemani Dendi.


"Terima Kasih,"


"Non, kita mau ke alamat mana?" tanya Dendi.


Selly langsung menyebutkan mau kemana dia pagi ini. Dendi dan kawannya yang sedang menyetir mobil saling pandang.


"Ini serius kan, Non,"


"Serius,"


"Baik, Non,"


Akhirnya mobil melaju dengan sangat hati-hati, sesuai pesanan Pak Bos. Kalau sampai Selly kenapa-kenapa, bisa habislah riwayat para bodyguard.


Pemakaman Ayah Selly tak jauh, hanya 15 menit aja.


"Sampai, dekat kan? saya itu bisa sendiri, kenapa harus sama kalian," Ucap Selly.


"Tuan hanya takut Non kenapa-kenapa, jadi Tuan menyuruh kita untuk menjaga Non,"


"Ya udah terserah kalian aja, Kalian tunggu sini ya. Saya masuk dulu ke dalam,"


"Gak, Non. Kita ikut juga ke dalam,"


"Ribet sekali, tunggu situ. Saya mau beli bunga dulu,"


Selly berjalan ke satu penjual bunga dan air mawar. Dia membeli beberapa bungkus air mawar dan bunga.


Setelah membeli, Selly berjalan masuk ke area pemakaman. Dia segera menghampiri makam Ayahnya. Makam Ayah Selly sangat terawat, karena Selly menyuruh penjaga makam untuk merawat makam Ayahnya.


"Assalamu'alaikum, Ayah. Selly datang, maaf ya Yah Selly datang sama cowok-cowok ini. Nanti Selly ceritain kalau Selly ke sini sendiri ya,"


Dendi dan bodyguard lain berdiri di dekat Selly berada.


"Ayah apa kabar? kabar Ibu dan Selly baik Ayah. Ayah sekarang ga usah lagi mikirin keadaan kita ya, sekarang kita udah lebih baik Ayah dari kemarin. Apa lagi Selly sekarang sudah bekerja," tutur Selly sambil mengusap kuburan Ayahnya sembari menangis.


"Ayah tau ga? Selly sekarang kerja di perusahaan itu Yah. Ternyata mimpi Selly buat bahagiain keluarga tercapai. Tapi sayang, Ayah malah pergi ninggalin Selly," imbuh Selly masih dalam tangisnya.


"Oiya Ayah, dapat salam dari Ibu. Kata Ibu maaf belum bisa datang. Ayah do'ain Selly ya, bisa sewa ruko untuk Ibu jualan. Sekarang jualannya Ibu laris banget Yah. Biar ga ada lagi keluarga Ayah yang menghina kita," lanjut Selly.


Selly langsung menaburkan bunga yang dia beli tadi. Dia juga menyiramkan bunga ke makam Ayahnya tercinta.


"Ayah, Selly pulang dulu ya. Nanti Selly datang lagi," Selly mencium Nisan Ayahnya.


"Huh," Selly membuang nafas kasar sambil mengusap sisa air mata.


"Dadah Ayah,"


Selly pun pergi meninggalkan pemakaman Ayahnya, di ikuti dengan para bodyguard.


"Silahkan, Non,"


"Terima kasih,"


"Dendi, jam segini Pak Bos sedang apa?" tanya Selly ke Dendi.


"Masih tidur, Non. Kalau weekend Bapak bangun siang,"

__ADS_1


"Hmmm.. enak banget ya. Anak buahnya udah di suruh kemana-kemana, dia sendiri tidur,"


"Mungkin nanti kalau udah resmi Non, Pak Bos bakal rajin bangun," ucap Dendi di barengi tawa yang lain.


"Kalian udah sarapan belum?"


"Belum, Non. Nanti setelah antar Non kita sarapan, sekalian beli untuk Pak Bos,"


"Mampir aja sarapan, kalian sarapan, saya tunggu di mobil,"


"Takut nanti Non menunggu lama,"


"Ga papa, ini udah jam 8 lewat. Berhenti dulu beli sarapan,"


"Siap, Non,"


Supir pun langsung berhenti di penjual ketoprak, selagi mereka makan Selly hanya diam di dalam mobil. Dia berusaha menelpon Pak Bos, tapi ga ada jawaban.


"Mentang-mentang Bos, seenaknya aja dia," gerutu Selly di dalam mobil.


Sedangkan para bodyguard masih membicarakan Bos mereka. Mereka melihat Pak Bos banyak perubahan di Kantor semenjak hadirnya Selly.


"Kayaknya nanti Bos kita akan menjadi Bos-bos yang takut istri," ucap sang supir.


"Sepertinya iya, tapi sebenarnya Non Selly itu anak yang manja. Dia di paksa kuat oleh keadaan,"


"Iya, semoga Pak Bos bisa memanjakan Non Selly,"


"Tapi sepertinya terbalik, Pak Bos yang akan manja dengan Non Selly,"


"Hahaha... benar itu. Ya udah yuk!! kasian Non Selly menunggu kita terlalu lama,"


Akhirnya para Bodyguard itu kembali ke dalam mobil. Lalu mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang ke apartemen Pak Bos.


Sesampainya di apartemen, Selly diantar ke kamar oleh Dendi. Dan sang supir pergi untuk membeli sarapan Pak Bos.


Ceklek.


"Silahkan masuk Non, kamar Pak Bos di sebelah sana,"


"Kamu aja yang bangunin, saya tunggu di sini,"


"Maaf Non, saya gak berani,"


"Hmmm... ya sudah,"


Selly langsung masuk ke dalam kamar Pak Bos. Dia melihat Pak Bos masih asik tidur dibawah selimut yang tebal. Selly langsung membuka tirai jendela kamar Pak Bos, biar matahari masuk ke dalam.


"Tutup aja sendiri,"


Pak Bos langsung membuka mata, dia melihat siapa yang bicara di kamarnya.


"Sayang, kamu udah sampai. Sudah kerumah Ayah,"


"Sayang.. sayang.. kamu suruh aku ke sini, tapi kamu masih tidur,"


"Maaf sayang, aku kalau weekend bangun siang," Genta duduk di pinggir kasur sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Ya udah, tidur lagi aja. Aku mau pulang, sarapan mu lagi dibelikan sama supir mu,"


Selly berjalan ke arah pintu, tapi di halangi oleh Genta. Selly yang melihat Genta hanya menggunakan boxer, langsung menutup matanya.


"Di sini aja, aku mandi dulu,"


"Udah sana mandi!!" serunya masih menutupi wajahnya dengan dua telapak tangan.


CUP, Genta mencium pipi Selly dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Asal cium aja," gerutunya.


Selly tetap pergi keluar kamar untuk menyiapkan sarapan Pak Bos.


"Sarapan Pak Bos sudah di meja Non,"


"Terima Kasih, kalian tinggal dimana?"


"Di sebelah kamar ini,"


"Oh, dekat. Ya udah sana istirahat!!"


"Kita tunggu di usir sama Pak Bos, Non,"


Selly menggelengkan kepala dan tersenyum mendengarnya. Sambil menunggu Pak Bos selesai mandi, Selly menyiapkan sarapan Pak Bos di atas piring.


Selesai menyiapkan sarapan, Selly mendekati Dendi. Dia ingin mencari informasi tentang Bos nya.


"Dendi, ada berapa wanita yang dibawa Pak Bos di apartemen ini?" tanya Selly yang masih penasaran dengan kehidupan Pak Bos.


"Baru satu aja, hanya Non yang ke sini. Mamah nya juga gak tau apartemen ini," jawab Dendi.


"Bohong,"

__ADS_1


"Dua rius, Non. Pak Bos bukan pria Casanova, Non. Non gak perlu khawatir,"


Ceklek.


"Kalian ngapain masih di sini? Cepat pergi! ganggu aja," perintah Genta ke anak buahnya.


"Baik, Tuan,"


"Jangan lupa selidiki kasus kemarin,"


"Jangan mau, kalian istirahat aja. Weekend gak usah ngurusin kerjaan terus,"


"Itu udah tugas mereka Sayang, kenapa kamu larang,"


"Kamu aja weekend istirahat, mereka juga butuh istirahat,"


"Ya sudah, kalian istirahatlah. Sana..sana..!!"


"Terima kasih, Non,"


Asisten dan bodyguard nya pergi meninggalkan Genta dan Selly di apartemen milik Bos nya.


"Kenapa dia terima kasih ke kamu, bukan ke aku," protesnya.


"Mana ku tau, cepat sarapan. Ini sudah jam 9 lewat,"


"Kamu sudah sarapan?"


"Sudah, cepat habiskan sarapannya,"


Sambil menunggu Pak Bos menghabiskan makan, Selly bermain ponsel. Dia mengirim pesan ke Ibu nya, kalau dia sedang bersama Genta.


"Apartemen sebesar ini siapa yang bersihin?"


"Bodyguard ku," jawabnya singkat.


"Kenapa kamu gak cari pembantu atau cari istri untuk bersih-bersih,"


"Kalau aku punya istri baru aku sewa pembantu, kalau sekarang aku gak butuh," ucap Genta sambil menyelesaikan sarapan yang tinggal sesuap lagi.


"Ya sudah, carilah istri biar ada yang ngurus kamu," ucap Selly sambil berjalan ke dapur untuk mencuci piring yang sudah di pakai Genta.


"Nanti aku mau cari, kita kan mau ke Mall. Siapa tau ada yang nyangkut," Genta menggoda Selly. Hanya ingin tau Selly cemburu atau gak.


"Cari sana, gak usah ngajak aku," ucap Selly dengan nada kesal.


"Kamu juga ikut, kamu kan sekretaris aku. Pilihkan yang cocok untukku,"


Selly tak menghiraukan ucapan Genta, dia pilih merapikan dapur Genta yang berantakan. Genta masih senyum-senyum melihat Selly. Selly cemburu, tapi dia tak ingin menunjukan di depan Genta.


"Selesai, aku pulang ya. Kamu kan mau ke Mall," ucap Selly sambil berjalan keluar dari dapur.


"Kamar ku belum dibersihkan,"


"Ini tugas pacarmu, bukan tugasku," Kesal Selly yang berdiri di meja makan sambil mengambil handphone nya.


'Hap'


"Kamu cemburu ya aku bilang seperti itu?" tanya Genta sambil memeluk Selly dari belakang.


"Lepas!! Aku gak cemburu, cuma aku sebel aja. Kamu mau cari pacar kenapa suruh aku ke sini,"


"Aku bercanda Sayang, aku gak mau cari pacar tapi istri. Aku mau nya kamu jadi istriku, tak ada yang lain," tutur Genta.


"Mau kan?" tanya Genta sambil mengeratkan pelukannya.


"Gak,"


Genta langsun membalikkan tubuh Selly untuk berhadapan dengannya.


"Coba jawab sambil lihat mataku, kamu mau gak jadi pasangan ku? Jadi Ibu dari anak-anak kita. Temani aku sampai tua,"


"Gak,"


"Selly, serius dong jawab nya. Gak mungkin kan kamu nolak aku?"


"Kenapa gak mungkin,"


"Aku tanya sekali lagi ya, Kamu mau gak jadi istriku?"


"Gak,"


"Selly," ucap nya penuh dengan penekanan.


"Gak nolak,"


CUP CUP CUP


Dengan hati yang sangat gembira, Genta menciumi wajah Selly.


"Tapi aku gak mau nikah sekarang, aku masih muda,"

__ADS_1


"Iya Sayang, aku akan menunggumu sampai kamu siap. CUP," ucap Genta sembari mengecup keningnya Selly.


__ADS_2