
Genta dan Selly ingin bersiap-siap untuk pergi ke makam Ayahnya Selly. Tetapi Selly menunggu Rian datang membawa pakaian muslimnya.
Genta menunggu Rian di ruang tamu, dan Selly menunggu di dalam kamar sambil rebahan. Selly membalas pesan dari Mahen, dia di ajak Reuni teman SMA Minggu besok.
ceklek.
"Sayang, ini baju kamu!" Genta memberikan pakaiannya, sambil memeluk Selly dari depan.
"Jangan ganggu aku ya Mas, kamu tunggu aku di luar dulu,"
"Aku mau di sini,"
"Ya sudahlah, aku ganti baju di kamar mandi aja," sambil membawa pakaian yang barusan diberikan oleh sang kekasih.
"Ya ampun sayang, aku juga sudah lihat ," seru Genta.
"Pak tua itu mulutnya minta di iket kali ya, lemes banget," gerutu Selly sembari menggunakan pakaian muslim.
Ceklek.
"Haduh cantik sekali calon istri aku, peluk dulu Sayang,"
"Gak boleh, diam kamu di situ ya!" ucap Selly pada Genta yang ingin mendekat ke arah Selly.
Di sisi lain Ibu Selly sedang kedatangan saudara dari keluarga Ayahnya Selly. Mereka sudah tau kalau Bu Santi memiliki Ruko, entah kabar dari mana mereka bisa tau.
"Ternyata kamu masih menyimpan harta dari suamimu yang kita gak tau, pinter banget kamu sama anakmu," seru suara lantang seorang pria paruh baya.
"Jangan sukanya su'udzon, tidak baik untuk hati kalian,"
"Mana surat Ruko ini?"
"Ya minta saja sama yang belikan Ruko ini, Saya di sini hanya di suruh menempatkan bukan memiliki,"
"Halah.. masih aja mengelak. Iya yang belikan ini Arya kan, almarhum suami kamu. Dimana suratnya?"
"Permisi tuan, ada apa ini?"
"Kamu siapa? tidak usah ikut campur urusan orang," ucap Pria paruh baya sambil bertolak pinggang.
"Cepat Santi, kamu sembunyikan dimana sertifikat Ruko ini?" Cerca itu orang.
"Maaf Tuan, Silahkan anda pergi dari sini!! jangan sampai kami berlaku kasar kepada anda,"
"Kamu siapa berani ngusir-ngusir saya, Ini adalah Ruko saudara saya. Kamu itu siapa? datang-datang ikut campur saja. Yang harusnya pergi kamu, bukan saya," Seru orang itu lagi.
"Rey, urus orang ini. Saya yang urus Ibunya Non Selly, mari Bu. Maaf kami datangnya telat Bu," ucap Dendi pada Rey salah satu bodyguard Tuan Genta, dan mengajak Bu Santi untuk segera masuk ke dalam mobil.
Rey dan yang lain sudah masuk ke dalam mobil. Dendi pun langsung melajukan mobilnya ke apartemen Bos mereka.
"Tolong kalian jangan bilang apa-apa ke Selly, saya gak mau Selly khawatir saat saya jualan,"
__ADS_1
"Baik, Bu. Ibu gak usah khawatir soal itu," ucap Dendi.
Dendi memang tak akan bilang ke Non Selly, tapi dia akan bilang ke Pak Bos. Karena orang tadi sudah membuat takut Bu Santi. Pasti Bos Genta juga tak akan tinggal diam masalah calon mertuanya itu.
Sesampainya di apartemen Genta, Bu Santi langsung di bawa ke kamar Genta. Dendi langsung menghubungi Tuannya dan ingin bicara berdua dengan Tuannya.
"Tuan, Ibunya Non Selly sudah berada di depan apartemen tuan. Dan, saya ingin bicara berdua dengan tuan,"
"Oke saya keluar,"
Genta berjalan menuju pintu utama, dia ingin membukakan pintu untuk Ibu mertuanya.
Ceklek.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, Bu. Silahkan masuk Bu, Selly ada di kamar,"
"Iya, Ibu permisi masuk ke dalam kamar ya Nak Genta,"
"Iya, Bu,"
Ibu Selly langsung berjalan masuk ke dalam kamar calon menantunya. Lalu Genta keluar untuk menemui Dendi asisten pribadinya.
"Ada apa, Den?"
"Tuan, tadi ada yang rusuh di Ruko Ibunya Selly. Orang itu meminta sertifikat Ruko pada Bu Santi. Sepertinya orang itu saudara dari Ayahnya Selly yang mengambil alih perusahaan Ayah Non Selly,
"Baik, Tuan. Tapi permintaan Bu Santi, jangan sampai Non Selly tau. Bu Santi gak mau kalau Non Selly khawatir kepada Ibu nya,"
"Oke, sekarang antar saya ke Makam. Rombongan Mamah sudah berangkat menuju makam,"
"Baik, Tuan,"
Genta langsung masuk ke dalam apartemen untuk memanggil kekasihnya dan Ibu mertuanya.
"Dari mana, Mas?"
"Lihat kamarnya Dendi, nanti pulang dari makam kita belanja isi kulkas mereka ya, Yank,"
"Oke siap,"
Genta pun mengajak dua wanita beda usia itu untuk keluar dari kamar apartemennya. Mereka semua pergi menggunakan mobil, Dendy pun melajukan kendaraan milik Bos nya ke rumah peristirahatan terakhir Ayah Selly.
Sampai di makam, sudah ada orangtua dari Genta dan Axel. Mereka bertiga sudah duduk di depan pintu masuk makam.
"Ya ampun mantu Mamah makin cantik pacaran sama Pak tua,"
"Iya dong, berarti aku sudah buat dia bahagia," ucap Genta membanggakan diri sembari merangkul Selly.
"Kata siapa?" tanya Selly menggoda.
__ADS_1
"Memang kamu gak bahagia sama aku?"
"Gak, sudah tua ngambek terus. Malah bikin pusing kepala aku,"
Mereka semua yang ada di situ tertawa mendengar curhatan Selly tentang Genta. Yang tiada hari tanpa ngambek, hal sepele pun bisa buat ngambek.
"Bu, sehat," tegur Nyonya Bagaskara kepada Bu Santi.
"Alhamdulillah sehat, Bu. Ya sudah kalian masuk ke dalam dulu, saya ingin membeli kembang dulu,"
"Sudah di beli, Bu sama Axel. Kita tinggal masuk aja, yuk!!" ajak Nyonya.
Rombongan peziarah dari keluarga Genta dan Selly sudah memasuki area pemakaman. Selly dan Sang Ibu berada paling depan, dan yang lain berada di belakang.
Mereka semua duduk mengitari makam Pak Arya, Ayah dari Selly. Tuan Bagaskara memimpin do'a sore ini.
Setelah selesai berdo'a, tuan Bagaskara mengungkapkan isi hati kalau ingin melamar anak Pak Arya untuk Genta anaknya.
Ibu dan anak pun tak kuat menahan haru. Mereka bahagia mendengar keluarga dari Tuan Bagaskara meminta langsung kepada Pak Arya untuk mempersunting putrinya.
"Sudah, jangan menangis Sayang.CUP," Genta langsung memeluk kedua wanita itu.
Bu Santi pun berterima kasih kepada keluarga Genta terutama Genta. Yang sudah membantu dia dalam segi apa pun. Bu Santi juga meminta Genta untuk selalu menyayangi Selly sepanjang waktu.
Lalu, Ibunda Selly juga meminta kepada keluarga Genta untuk menyayangi Selly seperti anaknya sendiri. Begitupun Ibunya Selly, akan menyayangi Genta seperti anaknya sendiri.
"Ibu gak usah khawatir, saya dan suami saya sudah menganggap Selly sebagai anak saya sendiri," ucap Nyonya Bagaskara sembari mengusap-usap punggung Bu Santi.
"Sekarang tinggal Kakak ipar aja, mau kapan nikahnya. Semua sudah setuju nih," ledek Axel.
"Tunggu tanggal mainnya hehehe... aku belum siap kalau sekarang. Masih banyak yang aku tunggu,"
"Tunggu apa, sayang?" tanya Genta.
"Ada deeeh..." jawab Selly sambil mengusap air matanya.
"Masa gitu, Yank,"
"Hahaha.. kasian Kak Genta di gantung," ledek Axel.
"Gak di gantung, tapi kalau merasa di gantung bisa cari alternatif lain ya Pak. Cari yang mau buat nikah sekarang," ujar Selly.
"Mamah sih sudah gak mau pindah ke lain hati, cukup Selly aja," ucap Nyonya Bagaskara.
"Aku juga Mah, gak mau pindah ke lain hati. Akan ku tunggu dia sampai siap, CUP,"
"Berani-beraninya di depan Ibu dan makam Ayahnya cium-cium,"
"Gak papa dong,"
Akhirnya rombongan Selly dan yang lain pamit pulang kepada Ayah Selly. Mereka pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1