
Pulang dari pemakaman, Genta mengantar Bu Santi pulang ke rumah. Genta sudah menyuruh Dendi untuk menaruh orang suruhannya di rumah Bu Santi, tapi tanpa ketahuan Selly.
"Aku ganti baju dulu ya, Mas,"
"Ikut,"
"Ini dirumah, ada Ibu. Jangan macam-macam kamu," Genta hanya menyengir ketika Selly berkata seperti itu.
Genta dan yang lain menunggu di mobil, Selly dan Ibunya keluar dari mobil dan menuju rumahnya. Selly segera mandi dan berganti pakaian.
Panggilan telpon berkali-kali pun di lakukan oleh Genta ke Selly. Akhirnya Genta menyusul Selly, dan pamit ke Bu Sinta untuk masuk ke dalam kamar Selly.
Genta langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Selly.
ceklek.
"Mas.." pekik Selly.
"Habisnya kamu lama jadi aku susul," Selly tak menghiraukan ucapan kekasihnya, dia kembali ke dalam kamar mandi untuk berpakaian.
Selesai berpakaian, Selly kembali ke kamarnya. Selly melihat Genta sedang memainkan handphonenya.
"Kamu mau ketemuan sama temen-temen kampus kamu?"
"Iya, Mas,"
"Ada cowoknya?"
"Kamu pernah kuliah kan? satu kelas ada ceweknya gak?" tanya Selly.
"Ada, terus kamu gak mau ajak aku?"
"Kamu aja yang berangkat, aku di rumah," ucap Selly kesal.
Genta langsung mendekat ke Selly dan memeluknya. "Memangnya mereka gak ada yang bawa pasangan?" tanya Genta lagi.
"Aku gak tau, belum tanya lagi,"
"Kamu malu ya ngenalin aku sebagai calon suami kamu? kamu masih mau nutupin ke orang-orang kalau kamu tunangan sama aku?" Selly langsung menatap kekasihnya yang bucin.
"Ikut aja Mas, kalau mau ikut,"
"Kamu gak ikhlas, kayaknya susah banget buat kamu untuk ngenalin aku ke orang-orang apa lagi teman kamu sendiri," tutur Genta.
"Pulang aja sana!!! aku mendadak males pergi, masalah kecil gak usah di besar-besarin Mas. Kalau kamu mau ikut ya tinggal jemput aku hari minggu sore. Jangan bilang lagi aku gak ikhlas,"
"Kamu sayang sama aku?"
"Kalau aku gak sayang, ngapain pagi-pagi buta aku ke apartemen kamu. Mendingan aku bantu Ibu jualan, aku aja ngerasa kalau aku jauh dari Ibu karena aku lebih ke kamu dulu. Sekarang kamu tanya aku sayang kamu atau gak,"
"Maaf Sayang, CUP. Yuk kita pergi!!"
Genta langsung menuntun Selly berjalan keluar kamar dan berpamitan pada Ibu nya. Mereka ingin pergi ke supermarket untuk membeli keperluan Genta dan para bodyguard.
__ADS_1
Saat di mobil Genta terus menggenggam tangan Selly. Dan menyandarkan kepalanya di pundak Selly.
Drrttt
Drrttt
Drrttt
"Hallo, Hen,"
"Hallo Sell, kita mau reservasi tempat buat reuni. Bendahara Lo ye,"
"Gak mau, gue gak bisa kemana-mana,"
"Gak boleh sama pacar Lo?"
"Boleh, gue kan kerja gaes. Nanti gue ajak cowok gue ya, bayar berapa?"
"Asik nih, nanti gue kirim PL nya. Sekalian transfer kemana, habisnya Lo gak mau. Jadi gue cari yang mau dulu,"
"Hehehe... maaf ya Hen,"
"Okay, gak papa. Ya udah, gue mau calling yang lain dulu. Bye Sell.."
"Bye Hen,"
Selly langsung menaruh handphone nya ke dalam tas.
"Ada pacar bisa-bisanya terima telpon dari cowok lain," sindir Genta.
"Hahaha... itu tandanya sayang banget sama Non Selly," Kekeh Dendi.
"Saya sayang banget ke dia, tapi gak segitunya. Udah jelas-jelas tadi nyebutin pacar, masih salah aja,"
"Kalau udah nikah mungkin gak, Non,"
Selly tak menanggapi ucapan Dendi, karena dia masih enggan membahas soal pernikahan.
Tak lama mereka sampai di Supermarket, Dendi dan Rian masing-masing membawa Troli belanjaan. Selly mengambil kebutuhan untuk isi kulkas Genta. Karena dia yang sering berada di sana, jadi dia mengambil untuk dirinya dan kekasihnya.
"Jangan ambil minuman aneh-aneh, Sayang. Aku gak ngerti, nanti tau-tau kamu mabuk,"
"Kalau minum sedikit gak, kalau minum banyak baru mabuk," ucap Genta.
"Ah sudahlah, aku gak ke Apartemen kamu lagi. Takut..."
"Dendi, taruh lagi!!" Akhirnya Genta mengalah, dia lebih memilih Selly yang menemani di apartemen.
"Baik, Tuan," Dendi langsung menaruh kembali minuman yang di ambil oleh Genta.
"Belanja sekalian untuk Ibu kamu,"
"Gak usah, nanti aja aku pergi berdua sama Ibu,"
__ADS_1
"Nanti aku kasih kartu buat kebutuhan kamu, terserah kamu pakai untuk apa,"
"Gak usah, aku juga punya kartu,"
"Jangan suka menolak kalau aku kasih, aku tau kamu punya uang dari gaji kamu,"
"Gaji aku juga dari kamu kan? sama aja sayang,"
"Kamu gak mau jadi cewek matre?" tanya Genta bikin bodyguardnya tertawa.
"Gak mau, nanti anakku kena karmanya dapet cewek matre,"
Genta langsung merangkul pinggul Selly agar mendekat ke tubuhnya.
CUP
Setelah beberapa jam belanja di supermarket, Dendi membayar semua belanjaan yang sudah diambil. Selly dan Genta menunggu di dalam mobil.
Genta merayu Selly agar mau tinggal bersama di apartemennya. Lagi-lagi Selly belum mau untuk tinggal bersama.
"Kita bikin perjanjian sayang, kita gak boleh ngapa-ngapain,"
"Maaf sayang, kalau yang lain aku bisa percaya sama kamu. Tapi soal berdua di kamar sama kamu, aku gak percaya Mas ganteng,"
"Buktikan dulu sayang, kalau cuma cium dan berpelukan itu wajar,"
"Besok hari minggu ya, makan di Mall yuk Mas!!" ajak Selly mengalihkan pembicaraan.
"Mau makan dimana?"
"Mana aja, yang penting berdua sama kamu naik motor,"
Sekarang giliran Genta yang tak menghiraukan ucapan kekasih hatinya. Dia gak bisa menuruti keinginan kekasihnya untuk naik motor.
Selly juga tau kalau Genta tak mau naik motor kalau tanpa Dendi dan yang lain. Dendi dan Rian sudah datang, dan dia sudah manaruh seluruh belanjaan di dalam bagasi mobil.
"Den, mampir makan malam sekalian,"
"Baik, Tuan,"
Dendi langsung melajukan mobil ke tempat makan yang biasa Genta dan anak buahnya kunjungi.
"Sayang, nginap ya?"
"Gak Mas, besok pagi aku mau bantu Ibu jualan,"
"Oke, aku ikut bantu jualan juga,"
"Bisa bangun pagi?"
"Nanti aku pasang alarm Sayang, jangan meragukan aku,"
"Baiklah, aku tunggu besok pagi kedatangan mu. Sampai kamu gak datang, kita gak jadi pergi ke Mall. Eh, kamu gak mau ya naik motor. Ya sudah, gak jadi juga. Kita di rumah aja," jelas Selly sambil memainkan tangan kekasihnya.
__ADS_1
Genta dan yang lain hanya diam, Selly pun tak ambil pusing. Dia menatap keluar jendela, melihat mobil dan motor berlalu lalang di malam Minggu.
Dendi mencari rumah makan yang tidak terlalu ramai, agar dia dan teman-temannya bisa ikut makan di dalam.