Di Cintai Bosku Yang Bucin

Di Cintai Bosku Yang Bucin
BAB 35


__ADS_3

Pagi ini Genta sudah berada di depan rumah Selly. Mereka berdua berangkat kerja bersama. Yang menjemput sudah datang dari tadi, tapi Selly malah sengaja di lama-lamain.


TOK


TOK


"Sayang, ayok!!" seru Genta dari luar kamar Selly.


"Duluan aja,"


Ceklek


Genta langsung membuka pintu kamar Selly. Dia melihat sedang berada di depan meja rias yang ada di kamar kekasihnya.


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Berangkat yuk!" ajak Selly.


"Kenapa?" Genta menarik tubuh Selly dengan satu tangan kekarnya.


"Kamu kenapa? aku salah apa sama kamu? kamu kalau marah gak mau kasih tau salah aku dimana,"


"Sudah siang Mas, ayok berangkat!! nanti telat,"


"Biarin saja telat, itu kantor aku. Kita gak masuk kantor pun gak papa, jawab dulu pertanyaan aku," ucap Genta tegas.


"Aku pernah tanya sama kamu, tapi kamu jawabnya nanti saja. Jadi percuma kalau aku mau tanya sekarang,"


"Apa?"


"Mau kerja gak? kalau gak mau, aku berangkat sendiri," ucap Selly.


Selly melepas tangan Genta, dan berjalan keluar kamar. Selly dan Genta memasang wajah biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa.


Genta berjalan mendahulukan Selly, dan berpamitan pada Bu Santi.


"Bu, saya dan Selly berangkat dulu ya," Genta mencium tangan Bu Santi, begitupun Selly.


Setelah mencium tangan Bu Santi, Genta langsung menuntun Selly masuk ke dalam mobil.


"Dendi, gak usah ke kantor. Pulang ke apartemen!!" perintah Genta.


Selly langsung melirik ke arah Genta, dan Genta juga melirik ke arah Selly.


.


"Kamu kalau mau pulang ke apartemen, pulang saja," ucap Selly.


"Dasar anak kecil, kalau marah gak jelas," gerutu Genta lirih.


"Makanya jangan sama anak kecil, mumpung belum terlambat, masih ada kesempatan buat membatalkan pernikahan,"


"Dendi, buruan bawa mobilnya. Saya sudah gregetan banget sama anak kecil ini,"


"Baik, Tuan,"


Dendi langsung melajukan mobil dengan kecepatan cepat, karena memang jalanan cukup lancar lagi ini.


Sesampainya di Lobby apartemen, Genta langsung menuntun Selly. Dengan wajah cemberut, Selly pun pasrah tangannya di tuntun.


Ceklek.

__ADS_1


Genta segera membawa Selly ke dalam kamar. Dia menaruh Selly di atas ranjang, dan dia melepas pakaiannya di depan Selly.


"Kamu mau ngapain, Mas?"


"Mau bikin kamu hamil, biar kamu gak bisa ngomong macam-macam lagi sama aku,"


"Jangan macam-macam kamu, Mas," ucap Selly takut.


Setelah Genta melepas baju dan melepas semua pakaian kantornya, tapi dia sisakan celana boxer nya.


Genta langsung mengukung tubuh Selly yang mungil. Dia melepas kancinga kemeja Selly dan celana panjang Selly.


"Mas, jangan begini. Kalau kamu lakuin ini kita gak jadi nikah,"


"Kalau sudah begini, gak mungkin kita gak jadi nikah," ujar Genta sembari tangannya melepas satu persatu pakaian Selly.


Selly sudah berusaha mencegah dan menangis, tapi Genta tak menghiraukan tangisan Selly. Genta bagaikan kerasukan setan, dia benar-benar memperlakukan Selly dengan kasar.


Dia mencium Bibir Selly dengan rakus, Selly hanya menutup matanya. Selly membiarkan Genta menjamah tubuhnya.


Saat Genta ingin memasuki benda pusaka nya ke dalam area sensitif milik Selly, dia kesulitan.


"Sakit, Mas. Hiks..hiks.." rintih Selly.


"Tahan Sayang,"


'Bless'


"Aaaaakkkhhh," jerit Selly.


Akhirnya tongkat sakti milik Genta masuk dan memenuhi milik Selly.


"aaahh... sayang.. enak sekali punya kamu," ujar Genta sambil memompa. Dia tak menyadari kalau Selly menangis.


Genta pun mengakhiri permainannya, dan langsung merubuhkan tubuhnya di samping Selly. Selly langsung berdiri dan berjalan pelan-pelan ke kamar mandi. Dia menahan sakit di area ***********.


"Ibu, Ayah maafkan Selly. Hua.. Hua.. Hua.." Selly terisak sambil membasahi tubuhnya.


Selly pun segera menyudahi mandi besarnya. Dia ingin buru-buru kembali ke rumah dan jujur kepada Ibunya.


Ceklek.


Ketika Selly keluar dari kamar mandi, Genta langsung memeluk tubuh selly yang hanya memakai handuk.


"Sayang, maafkan aku,"


"Misi, Mas. Aku mau pakai baju dulu,"


TOK


TOK


"Kaaakkk," seru Axel dari luar.


"Sebentar," sahut Genta.


"Kamu pakai baju dulu, jangan pergi ya sayang. CUP," Selly mengangguk.


Selly langsung cepat-cepat menggunakan pakaiannya dan segera keluar dari kamar Genta. Dia membawa sekalian tas kerja dan handphonenya.


ceklek.

__ADS_1


"Eh ada kakak ipar, kakak habis nangis?" Selly menggelengkan kepala menjawab ucapan Axel


"Jujur sama gue Kak, apa yang di lakuin kak Genta?"


"Kamu pakai baju Kantor tapi ke sini," ucap Selly mengalihkan pembicaraan.


"kakak ipar juga, pakai baju kantor tapi ke sini,"


"Di paksa, kamu sudah sarapan?"


"Cie perhatian sama adek ipar nih, sudah sarapan di rumah,"


"Besok-besok belum tentu bisa kan perhatian lagi," ucap Selly datar.


"Iya tau yang mau nikah," Selly hanya senyum-senyum.


Selly mengobrol dengan Axel dan bersenda gurau. Axel ingin meminta nomor Selly, tapi tak di beri tahu.


Ceklek.


"Ehem... ngobrolin apa sih, seru banget kayaknya," ujar Genta yang baru keluar dari kamar.


"Sayang,"


"Antar aku pulang atau ke Kantor?" tanya Selly pada Genta yang ikut duduk di samping Selly.


"Di sini dulu, libur kerjanya,"


"Libur terus, gajiku di potong deh," Ucap Selly.


"Kirimin nomor rekening kamu, aku transfer gaji mu sekarang. Bukan gaji kantor, gaji sebagai tunanganku," ujar Selly.


Tanpa pikir panjang, Selly mengirim nomor rekeningnya ke handphone Genta. Biasanya Selly tak mau di beri oleh lelaki, tapi kali ini dia mengambil pemberian Genta untuk ke depannya.


Genta pun segera mengirim sejumlah uang kepada Selly. Selly yang dapat transferan gak tanggung-tanggung jumlahnya, sempat terbelalak melihat nya.


"Habis uang mu transfer aku segini banyaknya, ini kebanyakan Mas,"


"Jangan bilang kebanyakan," ucap Genta sambil memeluk Selly.


"Aku agak curiga sama kalian berdua, keluar dari kamar dengan rambut yang basah. Kalian habis itu ya,"


"Itu apa? jangan ngomong macam-macam ya,"


"Iya Kakak ipar,"


Tapi felling Axel berkata kalau Kakaknya dan kakak iparnya habis melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.


"Lo ngapain ke sini?" tanya Genta.


"Tadi gue ke kantor, tapi kak Genta ga ada. Ya udah, gue ke sini deh,"


Selly menyandarkan tubuhnya ke belakang sofabed. Dia memejamkan mata, Selly berpikir akan pergi kemana setelah ini. Dia tak mau Genta menganggap dia baik-baik saja.


"Mikirin apa?" tanya Genta.


"Mikirin kamu, aku bosen deh begini. Antar aku pulang, Mas,"


"Istirahat di sini dulu, punya mu masih sakit kan?" bisik Genta tepat di telinga Selly.


Selly memeluk tubuh Genta erat, dia tak peduli ada Axel di samping Genta.

__ADS_1


"Mungkin ini terakhir kali aku bersama kamu, Mas," ucap Selly dalam hati.


__ADS_2