Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
19. Sarapan Pagi


__ADS_3

TOK TOK TOK TOK


Tak lama, pintu sebuah rumah besar berdinding kayu itu pun terbuka.


"Lili... Kamu sudah sampai, Sayang? Kakimu kenapa?" ucap seorang wanita tua dari dalam rumah.


"Tidak apa-apa Bude. Saya ceroboh jadi saya jatuh," sahut Lili.


"Mari, mari masuk. Aduh, sejak kapan cah ayu jadi ceroboh? Hati-hati. Terima kasih ya Nak. Untung Lili punya pacar yang perhatian seperti ini," ucap wanita tua bertubuh gempal itu.


"Pacar? Emh... Bude," selah Lili.


"Sudah, kalian duduk di sini dulu. Bude ke belakang sebentar. PAAK... PAAAK... " Wanita tua itu pun berlalu sambil memanggil-manggil suaminya.


Suami wanita tua itupun lalu muncul dan bercakap-cakap ramah dengan Lili dan Kiki. Tak lama kemudian, wanita tua itu pun datang membawa dua gelas dan seteko air minum lalu kembali dengan dua mangkuk sup.


"Sejak Lili mengabari lewat telepon tadi kami memang langsung mempersiapkan makanan ini. Kami menunggu kalian sejak tadi dan syukurlah kalian telah sampai," ucap wanita tua itu.


"Ya, karena ini sudah dini hari, jadi kami mengkhawatirkan kalian sejak tadi. Sepertinya ada urusan yang sangat mendesak ya?" sambung suami wanita tua itu.


Setelah Lili dan Kiki dipersilakan menyantap makanan yang disiapkan, Kiki pun menceritakan apa yang terjadi. Lili hendak bercerita tapi Kiki paham betul bahwa perempuan pujaannya itu pasti lelah. Jadi, ia membiarkan Lili cukup menikmati makanannya saja.


"Baiklah. Besok kalian bisa berkeliling kampung. Pakailah motor matic Pakde," ucap lelaki tua itu.


"Maaf jadi merepotkan begini," ucap Lili.


"Lili, kami kan keluargamu. Bahkan kamu sudah kami anggap seperti anak kandung kami. Tidak apa-apa kok. Yang terpenting hati-hati. Dengan keadaan kakimu yang seperti itu kamu ndak boleh sembrono kalau mau kemana-mana," ucap pria tua itu.


"Emh, kalau soal itu tenang saja Pak. Saya akan selalu ada untuk membantu Lili," ucap Kiki.


"Wah. Ga salah Lili memilih pacar. Ya kan Pak? Sudah orangnya ganteng, juga sangat bertanggung jawab," puji wanita tua itu.


"Emh, Bude, Pakde, sebenarnya... " Belum sempat Lili menyelesaikan kata-katanya, Kiki sudah menimpali.


"Sebenarnya kami merasa segan. Tapi, ternyata Ibu dan Bapak sangat baik sekali kepada kami. Begini, jadi kami ini berencana setelah urusan kami selesai, kami akan segera kembali ke kota. Mungkin besok kami pulang," selah Kiki.


Lili pun langsung menengok ke arah Kiki dan memperhatikannya bicara. Wajah herannya ia lemparkan *****-***** ke mata Kiki.


"Oh, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Walau pun sebenarnya kami masih rindu. Tentu kalian punya pekerjaan di sana, jadi kami tidak bisa menahan kalian untuk berlama-lama di sini," ucap pria tua itu.


Mereka pun bercakap-cakap dengan hangat tapi tidak begitu lama. Mereka semua sudah sama-sama paham bahwa Lili dan Kiki pasti sedang begitu lelah.


Mereka pun membubarkan diri dan Lili diantar oleh budenya ke kamar anaknya yang sedang tak ditinggali. Sedangkan, Kiki diantar oleh suami wanita tua itu ke kamar tamu.


Di dalam kamar, Lili dan Kiki masih menyempatkan diri untuk ber-chatting dengan ponsel mereka.


 

__ADS_1


Lili


Heh, lu seneng lu ya dianggep pacar gue?


Kiki


Wkwkwk. Lah, kamu juga diem aja, ga klarifikasi.


Lili


Diam aja gimana! Orang mau ngomong malah dipotong terus!


Kiki


Udahlah, Mbak. Biarin aja. Mbak ga rugi juga kan. Sesekali buat saya seneng sih Mbak.


Lili


Enak aja lu! Gue kan bukan pacar elu.


Kiki


Ya nanti juga lama-lama bakal jadi pacar kok.


Lili


🤬


Kiki


keliling kampung buat nyari harta karun.


Dah ya. Byeee


Lili


Ki!


Ki!


 


Chatting pun usai. Kiki dan Lili pun beristirahat di kamar yang mereka tempati masing-masing.


*


Waktu berlalu. Pagi hari pun tiba. Kiki ternyata sudah lebih dahulu bangun. Ia berkeliling di sekitar rumah untuk menghirup udara segar.

__ADS_1


Kiki berjalan kaki santai sambil melepas alas kaki. Ia ramah menyapa orang-orang yang dilewatinya sembari tersenyum.


Sampai di tempat yang sedikit lapang, Kiki berhenti. Ia memejamkan matanya sambil menarik napas panjang. Ada senyum ringan yang terukir di wajahnya.


Ini adalah aroma pagi yang Kiki rindukan. Suasana perkotaan di pagi hari tidak seasri ini.


Kiki pun membuka matanya kembali dan didapatinya di ujung jalan terdapat penjual dengan bakul-bakul mereka tengah membuka lapak beralaskan terpal di atas tanah.


Kiki pun menghampirinya. Itu adalah para pedagang sarapan pagi. Terdapat nasi kuning dan lauk dibungkus dalam porsi kecil, juga terdapat kue-kue jajanan pasar.


Kiki pun membelinya. Ia akan memberikan sarapan dan kue-kue ini untuk Lili, bude dan pakdenya. Kiki pun kembali ke rumah.


Sampai di rumah rupanya Lili belum bangun. Budenya memberitahukan Kiki. Kiki dan wanita tua itu menyajikan makanan yang dibeli tadi.


Ketika wanita tua itu hendak mengantarkan makanan kepada Lili, Kiki pun mencegahnya. Kiki meminta agar ia saja yang mengantarkan makanan itu ke kamar Lili.


Kiki mengetuk pintu kamar Lili. Ia mengetuknya sekali lagi tapi belum juga ada jawaban. Kiki pun memutar gagang pintu itu ternyata tidak terkunci.


Kiki pun masuk perlahan. Di hadapannya ia melihat seorang bidadari sedang tertidur dengan begitu lelap. Makanan itu lalu ditaruhnya di meja samping tempat tidur, kemudian Kiki duduk di tepi ranjang itu.


Dengan senyum lembut Kiki memandangi perempuan yang menjadi pujaan hatinya itu.


"Kasihan sekali Lili. Dia pasti sedang capek-capeknya. Ngomong-ngomong, kalau dilihat-lihat begini dia sangat cantik. Dia begitu imut. Dia seperti bayi yang sedang tidur," ucap Kiki dalam hati.


"Ya Tuhan, ijinkan saya memilikinya," pinta Kiki di dalam hati.


Sedang dipandangi seperti itu tiba-tiba Lili meregangkan tangannya dan membalik tubuhnya. Pelan-pelan ia membuka matanya. Ketika Lili sadar sedang ada yang memandanginya, ia pun terperanjat kaget.


"Eh, ngapain lu di sini! Buset gue kira ada hantu," protes Lili.


"Ya ampun Tuan Putri udah bangun ya?" goda Kiki.


"Apaan sih lu! Hampir aja gue teriak, tahu ga!" balas Lili.


"Iya maaf, maaf. Itu, saya bawakan sarapan buat kamu," ucap Kiki.


Kiki lalu mengambil nampan berisi makanan itu dan memberikannya kepada Lili seraya berkata, "kebetulan saya tadi pas lagi jalan pagi Nemu orang jualan sarapan. Jadi, ini saya beli khusus buat kamu."


Lili pun menjemput sebuah kue seraya berkata, "oh, makasih ya." Lalu nampan berisi makanan itu kembali Kiki taruh di meja samping ranjang.


"Lu memang terbaik," puji Lili lalu ia memakan kue yang ada di tangannya dengan lahap.


"Laper ya?" tanya Kiki yang tersenyum melihat Lili yang sedang lahap.


"Emh, enak banget sumpah! Bukan cuma laper, kue ini memang favorit gue dari kecil," jawab Lili.


"Cobain deh, coba. Lu udah nyoba belum?" lanjut Lili.

__ADS_1


"Iya, saya coba ya..." ucap Kiki.


Mereka pun menikmati sarapan dengan obrolan yang hangat. Pagi ini menjadi tambahan energi bagi Lili dalam mengawali harinya. Baginya, Kiki adalah teman yang sangat berarti.


__ADS_2