
Ayah-ibu Rian menangis. Ia menangis bersama mereka. Dicari sorot menyalahkan di mata mereka, tapi keduanya hanya memintanya menceritakan bagaimana semua bisa terjadi. Diceritakan mulai mereka merencanakan perjalanan, betapa ia dan Rian menjadi akrab seperti saudara, bagaimana dia menuturkan semua tentang keluarganya.
Diulanginya kisah mengenai berburu dan memancing di hutan.
Setelah melewati perpisahan yang emosional, perasaan Made lebih lega. Orang tua Rian tidak menyalahkan Made. Ia kembali ke kotanya. Di setiap pemberhentian, lagi-lagi oa memesan makanan yang sangat banyak.
Berjam-jam ia melamun seperti ini, mengingat-ingat setiap detail makanan yang dilahap sampai meneteskan liur kelaparan dan perut Made keroncongan. Ditenggak air sup dan bertekad berhenti menyakiti diri sendiri.
Masih ada beberapa waktu sebelum malam tiba, maka disusunnya rencana perjalanan besok. Di kejauhan di atasnya terlihat gunung-gunung, puncaknya membentuk barisan bergerigi yang tidak terputus.
Ia bisa mendaki puncak gunung, pikirnya, hutan di sana pasti jarang-jarang. Pokoknya ia harus terus berjalan lurus, memastikan sungai selalu berada di kirinya. Ia pasti sanggup bergerak cepat.
Dipakainya sepatu, ragu-ragu mulai berlatih berjalan, kebanyakan menggunakan bagian rumit dan sisi kaki karena telapak kakinya sangat sakit. Didatanginya ceruk yang dialiri air. Ditaruhnya kaleng di bawah air yang menetes perlahan. Saat hendak membalikkan tubuh dilihat dua ekor keong menempel di dinding batu yang lembap. Diterkamnya keduanya. Setelah kembali ke api, dimasukkannya mereka ke sup. Ia harus lebih jeli, di sekitar sini pasti banyak makanan.
Dilepasnya sepatu untuk memeriksa kaki. Tadi dipikirnya keduanya sudah bisa menopang beratnya, ternyata kulitnya masih menganga di beberapa tempat. Ia masih merasakan sakit yang menyengat.
“Tak ada pilihan lain, ulangku keras kepala. Besok aku harus mulai berjalan. Kalau kakiku menyerah atau aku kembali menemui jalan buntu, kuputuskan turun ke pinggir sungai dan menunggu bantuan di sana.”
Dikeluarkannya buku kecil dan pulpen di ransel, mengatur posisi seperti biasa yaitu kedua telapak kaki terjulur menghadap api, lalu mulai menuliskan semua pengalamannya. Dituliskannya hubungan di antara mereka berempat. Bagaimana mereka semua berubah, sungai yang marah, dan bagaimana ia selamat dari kejadian yang bisa merenggut nyawa.
__ADS_1
Dicurahkan juga perasaan kesepian yang dialami, dan diakhiri dengan kalimat, “Memikirkan Rian membuatku serasa mau gila. Berhasilkan dia mencapai tempat lain dengan hanya berbekal satu parang? Bagaimana dia mengeringkan pakaian? Seperti apa kondisi kakinya? Bisakah dia membuat api? Rian punya kekuatan tiga orang. Aku berdoa untuknya dan diriku sendiri.”
*
Saat fajar, seluruh perlengkapannya sudah kembali tersimpan di dalam ransel bersama benda-benda lain. Dipakainya sepatu dengan perasaan lelah, talinya diikat kendur. Dengan tubuh terhuyung dicoba mondar-mandir di sekitar kamp.
Sakit memang, tapi ia sudah bisa berjalan. Disandangnya ransel di punggung lalu berangkat, merasa yakin bisa sampai di kota tujuan. Dari sana tinggal beberapa hari berjalan kaki. Nanti Made bisa membentuk regu penyelamat untuk mencari Rian.
Ia tetap pada tekad semula untuk menyusuri jalan lurus di sepanjang puncak pegunungan. Setelah beberapa kali percobaan yang sia-sia, akhirnya ditemukan juga satu tempat uang bisa dipanjat. Sayangnya ransel terus membuat tubuhnya tertarik ke belakang. Ia takut jangan-jangan nanti jatuh lagi.
“Jangan menyakiti diri sendiri, Made. Apapun alasannya, jangan sampai dirimu terluka. Terkilir sudah lebih dari cukup.”
Sedikit demi sedikit tali pancing diulur di belakangnya sambil mendaki permukaan tebing seinci demi seinci. Ia berhenti, menghembuskan napas lega, lalu menarik ransel ke atas. Bobot ransel tidak terlalu berat, tapi tali pancing tetap menimbulkan sayatan dalam di telapak tangannya.
Dilanjutkan perjalanan dengan cara demikian selama beberapa jam. Pengerahan tenaga fisik sungguh melelahkan. Kelembapan udara sangat tinggi, sementara panas menerpa tanpa belas kasihan. Keringatnya bercucuran. Yang paling parah, ia kehausan tapi tak punya air. Meninggalkan sungai ternyata kesalahan serius.
Akhirnya didengar gemericik air mengalir di kejauhan. Deru air sangat keras sehingga ia yakin sudah hampir sampai di sungai yang lebarnya paling sedikit dua kali sungai ini. Bunyi gemericik semakin kuat.
Tak lama kemudian ia sudah berdiri di dekat satu aliran sempit yang tercurah dari langkan tinggi di atasnya, membentuk air terjun deras setinggi tak kurang dari seratus kaki. Airnya yang berkilauan menghantam bebatuan di bawah dengan deburan memekakan. Permukaan karang di sekeliling air terjun dipenuhi lumut dan tanaman merambat berwarna hijau.
__ADS_1
Pemandangan itu membuatnya terpukau. Ia juga kaget karena masih bisa menikmati keindahan alam di depannya meski berada dalam kondisi payah.
Ia tertelungkup untuk menenggak air murni langsung dari aliran dan beristirahat di bawah keteduhan kira-kira setengah jam. Sekarang ia lebih bijak, memenuhi kedua kalengnya dengan air. Membawa air berarti menambah berat bawaan sekitar tiga belas pon, tapi setidaknya kerongkongannya tidak akan terbakar kehausan lagi.
Pendakian semakin berbahaya. Ia maju dengan sangat hati-hati sambil berdoa agar berhasil mencapai puncak dalam keadaan utuh. Puncak gunung sudah terlihat dari tempatnya bergelantungan. Tak terlalu jauh lagi. Ini permukaan karang terakhir yang harus didaki.
Tak sampai sejam kemudian diseret diri ke puncak. Di atas tak ada tempat berteduh. Embusan angin sangat kencang. Sekarang ia harus berjalan lurus dengan memposisikan sungai tetap di kiri. Tapi, di mana sungainya? Ia harus ke arah mana? Pemandangan di segala arah tampak sama. Ia tidak ingat ke sebelah mana matahari terbenam kemarin malam bila dari sungai.
Ia bingung. Kemanapun memandang yang dilihat hanya lereng berhutan. Baru sekarang ia sadar sudah membuat kesalahan yang sangat tolol. Dari kejauhan, gunung ini memang tampak seperti satu barisan tak terputus sehingga orang bisa menyusuri puncaknya dengan berjalan lurus.
Faktanya, pegunungan ini memiliki beberapa puncak terpisah. Supaya bisa melanjutkan perjalanan, orang harus turun ke kaki gunung yang satu lalu mendaki gunung berikut.
Ia dipenuhi rasa panik, sekepal rasa takut mengeras di dada. Ia mulai berlari, menolak mengakui kesalahan yang dibuat. Beberapa menit kemudian barulah ia bisa menguasai diri dan berpikir ulang. Besok ia harus kembali turun gunung dan kembali ke sungai. Kalau memungkinkan berjalan menyusuri pinggir sungai. Itulah yang akan dilakukannya.
Kalau tidak, ditunggu saja di pesisir. Mungkin bantuan akan datang. Lili dan Kiki pasti sudah sampai di kota. Ia bisa menunggu sampai saat itu tiba.
Hari semakin gelap. Ia tak menemukan tempat berlindung. Tak ada ceruk atau tebing, tak ada gua atau celah. Di mana ia bermalam? Ia harus cepat-cepat menemukan tempat berkemah dan menyalakan api mumpung masih terang. Dipilih sebidang tanah yang permukaannya datar, menyingkirkan daun-daun basah dan menggantinya dengan dedaunan segar yang kering.
Salah satu kawat nyamuk diikatkan keempat tunggul pohon dengan tanaman merambat sehingga membentuk tenda kecil hijau tembus cahaya yang panjang namun sempit.
__ADS_1