
Rencana Kiki masuk akal bagi mereka.
“Baiklah,” lanjut Kiki. “Ayo kita cari titik perhentian pertama. Kita akan memasuki hutan di dekat tikungan berikut untuk melihat kemungkinan bisa-tidaknya berhenti. Siapa yang mau ikut?”
“Jangan aku,” bisik seseorang. “Aku hampir tak bisa sepaham dengannya soal apapun. Sebaiknya jangan aku.”
“Jangan aku juga,” kata seseorang lainnya. “Aku tak tahu aturan pokok mendayung rakit.”
“Salah satu dari kalian harus ikut,” desak Lili. “Gue ga bisa jalan dengan kondisi kaki seperti ini.”
“Aku tak mau pergi,” bantah seseorang.
“Aku juga,” ulang yang lain.
Tidak tahu sebenarnya mereka berniat melukai Lili yang malang atau tidak, tapi faktanya itulah yang mereka lakukan.
Kiki menyelah, “Kalian kenapa sih? Kalian tidak berharap aku pergi sendiri kan? AKu di sini karena kalian sendiri yang terlalu ngotot melanjutkan perjalanan ini.”
Seseorang mengalah, “aku yang ikut, Ki.”
Mereka masuk hutan dengan menempatkan posisi sungai tetap di kiri mereka. Tanah lapangnya rata dan jumlah pohon tak selebat tempat lain yang pernah mereka masuki. Kiki tak perlu menggunakan parangnya karena mereka bisa terus berjalan dengan mengitari maupun merunduk di bawah cabang-cabang pohon.
Kejadian selanjutnya tidak jelas bagi mereka, walaupun akhirnya inilah yang menjadi titik balik seluruh perjalanan mereka. Seseorang hanya ingat Kiki mendadak membalikkan tubuh dan bilang begini. “Sebetulnya untuk apa kita meneruskan perjalanan?” gerutunya seakan-akan baru berpikir keras.
“Aku pasti sudah gila makanya setuju masuk ke ngarai. Belum pernah ada yang pergi ke sana. Bagaimana kalau tempat perhentian itu terlewat dan kita terseret ke ngarai? Kita semua bisa tewas. Tamat!”
“Lalu, apa gunanya? Tak ada yang menungguku di sana. Tak bakal ada yang memberi hadiah kalau aku melakukannya, kenapa harus kujalani?”
Kiki memandang Lili seolah baru pertama kali melihatnya. “Sebutkan satu saja alasan bagus,” katanya, kali ini disuarakan kuat-kuat langsung ke wajahnya.
“Aku tak punya waktu. UNtuk mencapai mulut ngarai ini kita butuh waktu berhari-hari. Aku tak bakal sampai tepat waktu. Kenapa aku harus merusak rencanaku? Sejak awal sudah kubilang waktuku singkat!”
Kiki berhenti bicara lalu menatap Lili.
__ADS_1
“Cukup! Tekadku sudah bulat. Dari sini aku langsung kembali, tak sudi pergi lebih jauh. Kalau kau mau ikut aku, ayo. Kalau tidak, teruskan saja sendiri. Apa pun resikonya, kuputuskan kembali.”
Karena Lili tidak mengajukan keberatan, Kiki melanjutkan.
“Dengar, kenapa dulu kalian ingin melakukan perjalanan ini? Untuk meluangkan sedikit waktu menikmati hutan? Bagus, sudah kita lakukan. Kita jalan kaki lalu kembali. Kalian mau melayari sungai naik rakit, sudah cukup kita rasakan. Kalian sudah tahu seperti apa rasanya, untuk apa kita teruskan? Seterusnya pun pasti sama saja.”
“Kalian kembali, kita punya beberapa hari untuk istirahat, berkemah di pinggir sungai, berburu, dan memancing. Lili bisa beristirahat untuk merawat kakinya. Kita bisa makan enak, mandi di sungai. Itu baru namanya hidup, kesenangan sesungguhnya, bukan melakukan perjalanan edan lewat sungai dan mempertaruhkan nyawa sia-sia.”
Jujur, Lili tergugah.
“Gue setuju, Ki.”
Mereka kembali tanpa menjelajahi sungai sama sekali.
“Aku yakin Lili pasti memilih kembali bersama kita,” lanjut Kiki. “Entahlah kalau dia, keras kepala, tapi tak punya pilihan. Kecil kemungkinan dia mau pergi sendiri.”
Saat mereka kembali ke rakit, Lili sedang duduk menjemur kaki di bawah sinar matahari.
“Setuju,” sambut Lili.
“Kau?”
“Oke, kita kembali,” sahut orang lain.
Kiki mengeluarkan peta.
“Sekarang posisi kita di sini. Hampir mustahil kembali karena jauhnya paling tidak seminggu berjalan kaki. Alternatif paling masuk akal adalah mengikuti jalan sungai ke hulu. Di kepala sungai nanti ada desa. Kalau terus mengikuti arah sungai tanpa bertenda, kita pasti langsung sampai di desa itu.”
“Di sana kita bangun tenda yang kukuh dan bagus, menginap tiga-empat hari. Kita bisa menyantap makanan berat, pisang, dan kacang. Aku yakin kita bisa dapat buruan di sini.”
“Setelah Lili sanggup jalan lagi, kita mulai bergerak. Paling lama dua hari sudah sampai kota.”
“Kau yakin bisa segampang itu kita sampai di sana? Sudah pernah ada yang menempuh rute ini?” tanya seseorang.
__ADS_1
“Mungkin penduduk itu datang ke mari untuk memancing, aku juga tak tahu. Tapi, sekalipun belum pernah ada yang menempuh rute ini, pasti gampang dijalani. Sungai ini akan langsung membawa kita ke desa.”
“Lihat peta ini baik-baik,” sela seseorang. “Sungai ini bercabang ke tiga arah berbeda. Bagaimana kau bisa tahu di cabang mana letak desa itu?”
“Setelah dekat kita pasti bertemu jalan setapak,” sahut Kiki. “Lihat. Ketiga cabang sungai berpotongan dengan jalan menuju desa. Jalannya sangat lebar, tak mungkin kita tidak melihatnya. Dari sana ke desa cuma dua hari berjalan kaki.”
Seseorang mempelajari peta baik-baik. DIa tak lagi mengajukan keberatan. Mereka pun mulai membangun tenda. Kali ini Kiki sangat teliti. Dengan cermat dia mencari daerah kering, rata, dan agak lebih tinggi daripada permukaan sungai. Dengan rajin menyingkirkan batu, rumput liar, dan akar pohon.
Setelah itu dia meminta Lili menemaninya mencari batang bambu yang kuat dan lurus serta dahan pohon. Kiki berniat melepas perekat dari rakit dan memakainya untuk menyatukan tiang tenda, tapi orang yang lain itu tidak mengizinkan.
“Kau tidak merencanakan mau pergi sendiri kan?” tanya Kiki dengan nada lemah.
“Tentu tidak,” sahut orang itu. “Hanya saja, sayang kalau rakitnya dibongkar. Karena alasan sentimental, sih.”
Kiki tertawa. “Baiklah. Kucari saja tanaman merambat di hutan.”
Setelah tenda berdiri, ransel berisi makanan mereka taruh di sudut yang kering. Mereka membuat api, menaruh periuk di atasnya. Setelah semua tersusun rapi, mereka pun memutuskan betul-betul beristirahat dan bersantai.
Diputuskan kembali mencoba keberuntungan Lili memancing. Lili menemukan sebatang pohon tumbuh dekat sungai. Lili duduk di bawah pohon ini memancing ikan kecil. Ikan-ikan itu menggerumuti umpan Lili tapi tidak melahapnya.
Dibukanya sepatu agar kakinya memperoleh udara segar. Setelah sepatu dan kaus kaki lepas, dilihatnya banyak sekali bintik merah kecil dari bawah kaki sampai pergelangan. Nyamuk-nyamuk mendengung di sekitar kakinya yang telanjang. Kaus kaki kembali dipakai sebelum melanjutkan memancing. Seseorang mendatanginya.
“Kau menghilang kemana? Daritadi kucari-cari,” katanya.
“Aku punya ide. Kita pergi berdua saja, yuk.”
Lili tak yakin dia serius.
“Aku yakin bisa. Toh, arus bisa mengerjakan semuanya. Dengar ya, aku bukan idiot. Aku juga ga berniat membuat diriku terbunuh. Pikirkan lagi. Untuk apa dulu kita melakukan perjalanan ini?”
“Kiki menjanjikan kita melihat perkampungan, tujuan utama semua ini, tapi kita tak pernah sampai ke sana. Kau ingat cerita tololnya soal hewan liar di sepanjang sungai? Kamp pertambangan emas? Apa yang tidak dia ceritakan? Kita cuma harus menyusuri sungai naik rakit.”
“Sekarang itu pun dia batalkan. Sudah berapa lama kita di sungai? Tak sampai dua hari penuh. UNtuk itu aku ikut perjalanan ini dan pasrah tak bisa pulang. Kupikir ini bakal jadi pengalaman sekali seumur hidup. Sekarang aku dapat apa? Semua sia-sia.”
__ADS_1