Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
33. Nasi Padang


__ADS_3

Setelah lelah bekerja seharian, tiba saatnya Lili kembali ke apartemennya. Ia dijemput oleh Kiki dengan motor berbodi besarnya itu. Gara-gara selalu jalan bareng rider, kini Lili selalu menggunakan celana panjang dibandingkan sebelum-sebelumnya yang selaku menggunakan rok.


Ya, si paling penuh pesona karena keanggunannya itu kini lebih berpenampilan praktis. Apapun gaya Lili, ia akan selalu menjadi tren senter di lingkungan perkantorannya.


Tidak hanya langsung kembali ke apartemennya, Lili dan Kiki singgah dahulu untuk membeli makan malam yang akan mereka habiskan di apartemen Lili.


Seperti biasa, Kiki akan menunggui sampai Lili selesai mandi kemudian berganti Kiki yang membersihkan tubuh. Kali ini ia membawa pakaian ganti, karena mandi di apartemen Lili sudah mulai menjadi kebiasaan.


Kiki juga senang menikmati fasilitas mewah di sana. Kalau di kos-kosan Kiki, ia tidak akan menjumpai shower dengan setting air panas otomatis. Sehingga, kalau mandi malam-malam akan sangat terasa sekali rasa dinginnya.


Setelah membersihkan diri, keduanya pun makan malam. Meskipun sering bergaya hidup mewah, Lili tidak pilih-pilih makanan dan pergaulan. Ia adalah orang yang bisa menyesuaikan diri.


"Kenapa Nasi Padang kalau dibungkus porsinya berkali-kali lebih banyak daripada porsi ketika makan di tempat?" tanya Kiki.


"Oh, lagi tebak-tebakan ya?" tanya Lili.


"Bukan. Bukan tebak-tebakan. Memang kenyataannya suka gitu. Porsinya ketika dibungkus itu jauh lebih banyak. Saya nanya karena beneran ga tahu," jelas Kiki.


"Lu yang tahu Nasi Padang sampai ke porsi-porsinya malah nanya ke gue. Gue mana sering makan beginian, Ki. Jadi, ya mana gue tahu kenapa itu alasannya porsinya lebih banyak kalau dibungkus," jawab Lili.


"Ya sudah, besok kita beli Nasi Padang lagi sambil nanya ke penjualnya," ucap Kiki.


"Ih, sumpah ya. Jangan bikin malu deh, Ki," tegas Lili.


"Gue bikin malu tahu. Kan cuma nanya," ucap Kiki.


"Kalau lu beneran nanya itu pas lagi bareng gue, gue mau pura-pura ga kenal aja sama lu," ancam Lili.


"Ya elah. Gimana masa pacarnya digituin, pura-pura ga kenal gitu. Dimana kesetiaanmu, Mbak?" goda Kiki.


"Hahaha... Memangnya sejak kapan kita pacaran? Mentang-mentang panggilan yang yong yang yong langsung nganggep pacaran," protes Lili.

__ADS_1


"Tapi ada ya orang jauh sana, ga tahu pokoknya orangnya jauuuh banget. Dia suka ngaku-ngaku jadi pacar saya pas lagi bareng temannya yang ganjen itu," sindir Kiki.


"Hah? Maksud lu Victor? Gue suka ngaku-ngaku pas di depan Victor? Tapi, soal lu bilang dia ganjen itu bener sih," ucap Lili.


"Ngaku-ngakunya juga bener. Ya udah, statusnya jadiin beneran aja lah yuk. Biar ga ribet-ribet amat kaya gini," bujuk Kiki.


"Elu doang yang ribet, gue mah kagak," sahut Lili.


"Ya mau gimana lagi, kamu udah tahu perasaan saya ke kamu. Saya juga udah mencium gelagat-gelagat kamu naksir sama saya, Mbak. Ya udah, mau tunggu apa lagi?" ucap Kiki.


"PeDe bener lu, Ki. Apa benar gue naksir sama elu? Jangan-jangan lu salah nebak, lagi?" ucap Lili.


"Hahaha... Dijamin ga salah kok, Mbak. Gue tahu elu naksir sama gue. Soalnya gue ini kurang apa lagi? Ganteng gue punya, gaya keren iya juga, perhatiaan iya banget, kurang apa lagi coba?" ucap Kiki menyombongkan diri.


"Hahaha... Buset dah lu, Ki. Terserah lu aja deh, Ki. Gue mau lanjut makan. Ini gue payah nelen gara-gara ngakak melulu," ucap Lili.


"Loh, kenyataan! Kalau kamu ngakak itu mungkin karena logika mencoba menghalang-halangi hati kecilmu yang sedang merasakan jatuh cinta kepadaku," lanjut Kiki.


"Kalau dipikir-pikir mungkin benar Ki, gue punya perasaan sama elu. Habisnya setiap kita bareng-bareng kaya gini gue selalu merasa nyaman, ceria, segala capek gue hilang, dan gue bisa tertawa lepas kaya begini," batin Lili.


Lili boleh kehilangan sosok sahabat yang menjadi partner gilanya, tempat bergibah sepuasnya, tempat berceloteh dan tertawa sampai mengeluarkan suara babi. Namun, kini sudah tergantikan posisinya oleh Kiki.


Bisa jadi melunaknya hati Lili kepada sosok laki-laki yang satu ini salah satu penyebabnya karena merasa kehilangan dan mendapatkan tempat pelampiasan yang cukup baik.


Sebuah kutipan mengatakan:


"Dia menyukai apa saja yang kau suka, tapi dia tidak menyukaimu. Dia hanya kesepian dan kebetulan ada kamu."


~al._.vian, 25 Juli 2019


Dengan sesadar-sadarnya Lili menyadari hal ini, hal yang tergambar melalui kutipan tersebut. Ia tidak menganggapnya repot dan cukup menikmati apa yang sedang dirasakannya.

__ADS_1


Ya, sayangnya ia menikmati perasaan itu dengan terus membatasi diri. Bahwasanya tidak ada siapapun yang bisa benar-benar memiliki dirinya seutuhnya. Itu sebab tak pernah ada keinginan untuk menikah dengan siapapun itu.


"Mbak, lu ga naksir sama Abang Ganjen itu, kenapa?" tanya Kiki.


"Idih? Lu nyuruh gue naksir dia? Ogah banget," jawab Lili.


"Makanya kuping itu dikorek, Mbak. Jangan sampai banyak orang cangkruk'an di dalamnya," gerutu Kiki.


"Hah?"


"Saya nanya kenapa Mbak ga naksir sama si Victor-Victor itu, bukannya nyuruh," jelas Kiki.


"Ya coba sih elu jadi gue, Ki. Lu mau menjalin hubungan sama orang yang suka nipu, playboy, modus, licik... " cerocos Lili.


"Oke oke oke banyak banget dosanya kepadamu rupanya, Mbak. Tapi ngomong-ngomong, kalau saya jadi Mbak, berarti saya melambai dong? Mbak suka sama cowok yang melambai-lambai?" tanya Kiki.


"Ampun, Ki. Ampun.. Percakapan macam apa ini? Astaga!" keluh Lili.


Mereka berdua memang suka bicara random. Apapun yang ada di dalam benak mereka tanpa segan langsung diutarakan satu sama lainnya begitu saja.


Hal itu yang membuat keduanya begitu nyaman satu sama lain. Kalau dibilang berpacaran, mereka tidak berpacaran. Kalau dibilang bersahabat, mereka sangat ber-chemisty.


Waktu pun berganti. Sebelum terlanjur larut malam, Kiki pamit pulang kepada Lili. Lili pun langsung mengiyakannya, walau pun sebenarnya Lili ingin Kiki kembali menginap di apartemennya itu.


Untuk banyak obrolan gila dan konyol mereka memang membicarakannya seperti tanpa rem, tapi kalau ada hal-hal yang menyangkut keintiman, mereka bisa membatasi diri.


Mungkin ini adalah salah satu keuntungan karena mereka dulunya terbiasa hidup di tengah-tengah budaya ketimuran yang kental. Sehingga, mereka masih menjaga batas-batas pergaulan.


Sedangkan, saat ini di lingkungan apartemen Lili sangatlah bebas. Orang-orang di sekitarnya tidak ada yang peduli apalagi menegur orang-orang yang berpotensi untuk melakukan hal-hal tak senonoh di tempat itu.


Kiki pun pulang. Esok pagi ia akan kembali menjemput Lili untuk mengantarnya ke kantor. Seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2