Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
57. Tersesat di Hutan (6)


__ADS_3

Rumah-rumah mungil berderet di sepanjang sungai.  Mereka berhenti di setiap rumah.  Kiki membuat pesanan tetap empat butir telur per hari tiap rumah.  Dia juga membuat kesepakatan harga cabai, bawang, pisang, dan sebagainya untuk dibawa dalam perjalanan yang direncanakan.  Kiki berjanji membayar semua perbekalan ini dengan harga bagus, baik dalam bentuk uang maupun hadiah.


Di rumah tetua adat, mereka hanya menemukan dua bocah perempuan.  Salah seorang dari mereka pergi ke kebun pisang untuk memanggil sang ayah, sementara Kiki dan rombongan duduk beristirahat di bawah keteduhan.


Kiki mulai bermain-main, mencebik-cebik dan membuat gerakan-gerakan ke arah kalkun yang sedang berjalan-jalan di pekarangan.  Bila kalkun mendekat penuh keingintahuan, Kiki akan mencoba meludahi kepala hewan itu.


Lalu Kiki diam dan menunjukkan sikap hormat.  Sepertinya ia akan mengatakan sesuatu, hanya saja tak tahu caranya.


Tetua adat muncul lagi setelah Kiki bermain-main.  Lelaki itu menyenangkan sikapnya.  Mereka sudah berkenalan saat pertama kali datang.  Kiki melontarkan banyak sekali pertanyaan terperinci tentang lelaki itu.  Lelaki itu pun menjawab dengan senang hati.  Dia bahkan menunjukkan beberapa bongkah emas yang ditemukannya sendiri meski bongkahan terbesar sudah dijual ke agen di luar kota.


Dia mengambil cangkul, beliung, panci, memberi mereka minuman dan membawa mereka ke tempat penggalian.  Lelaki itu meninggalkan mereka untuk kembali bekerja.


Di sisi bukit yang menanjak dari pinggir sungai, mereka melihat satu terowongan terbentuk di batu.


“Nah, mari kita mulai,” ajak Kiki.


Dia menggulung lengan kemeja, masuk ke terowongan dan mengamati bebatuan.  Beliung diayunkannya ke dinding batu, membuat beberapa serpihan terlontar.  Kiki memasukkan semua serpihan ke alat pendulang sebelum menuju sungai.


Di bawah air, dia berusaha meremas pecahan batu semampunya sampai rengkah.  Alat pendulang diayunnya pelan-pelan dengan gerakan melingkar.  Air sungai memercik seiring tiap putaran, membawa serta pasir dan bebatuan.


Kiki meneruskan pekerjaan itu sampai alat pendulang hampir kosong.  Sesekali dia berhenti, mencoba meremas hancur bongkahan-bongkahan kecil yang masih tersisa, lalu melanjutkan lagi.


“Lihatlah!” ucap Kiki, “emasnya bercampur dengan pasir dan batu.  Aku berusaha memisahkannya.  Emas lebih berat dibanding air, pasir dan batu, sehingga nanti akan tertinggal di alat pendulang.  Sementara pasir dan batu terbawa air.  Kau hanya perlu membuat gerakan melingkar dan berirama.”


Kiki menyelesaikan pekerjaannya.  Di dasar alat pendulang benar-benar terlihat dua bongkah kecil emas.  Kiki memperlihatkannya.

__ADS_1


“Ini tak ada harganya,” cetus Kiki.  “Terlalu kecil.  Tapi, kita tidak boleh menyerah.  Ayo coba lagi.”


Ucapan Kiki hampir tak terdengar.  Orang-orang terbakar demam emas.


“Kami dapat emas! Kami dapat emas!” kata orang-orang berulang-ulang pada diri sendiri.


Seseorang memungut beliung dan mulai menghantam batu, memberikan bongkahan-bongkahan itu pada Kiki.  Dia membawa pecahan batu ke sungai dan mulai mendulang.  Mereka bekerja sampai sore.


Setelah mereka kembali ke desa, bara demam emas sudah padam.  Kiki menyatakan jumlah emas temuan mereka bisa diabaikan, bahkan tak bernilai.


“Dalam setiap ton batu hampir tak ada emas sedikitpun.”


Setelah membuat penghitungan dia memutuskan bahwa petunjuk itu palsu.


“Tapi, jangan menyerah dulu.  Lihat saja, kita pasti menemukan sedikitnya lima gram,” ucap seseorang dalam rombongan.


Ternyata hujan turun.  Meski hanya gerimis, tapi berlangsung sampai beberapa jam.  Mereka sudah berhari-hari di sana.  Kiki pergi melihat bagaimana pembuatan rakit, berburu, tawar-menawar barang dengan penduduk, bercerita pada siapa pun yang bersedia mendengar.


Kaki Lili membaik, tapi suasana hatinya sungguh jelek.  Dia terus menjaga jarak dengan orang-orang.  Karena tak ada yang bisa dikerjakan, dia pun menempeli Kiki.


Pagi berikutnya Kiki mencoba keberuntungan dengan memancing di sungai.  Kiki membual bahwa dalam waktu sangat singkat dia pasti kembali membawa ikan besar.


Menjelang siang Lili menyusul untuk melihat apakah usaha mereka membuahkan hasil.  Dalam perjalanan dilihatnya seekor unggas air berukuran besar bertengger di batu, sedang bersiap-siap menyelam.  Karena begit asyik memperhatikan mangsanya, unggas ini tidak melihat Lili.


Lili mengendap-endap mundur ke ilalang sambil mengingat-ingat penjelasan Kiki pada Lili, “Semua unggas yang makan ikan rasanya enak.

__ADS_1


Hari ini Lili mau membuat kejutan untuk semua orang dengan menangkap burung ini.  Cepat-cepat aku berlari ke gubuk untuk mengambil senapan sambil berdoa agar burung itu belum terbang.


Saat Lili kembali, si unggas masih bertengger di batu.  Ia merangkak menerobos ilalang, berusaha maju sedekat mungkin.  Lili membidik, tapi tak sanggup menarik pelatuk.  Burung ini sangat cantik.  Lagi pula, mereka punya cukup makanan di desa ini.  Salah kalau Lili membunuhnya.  Tapi, harga diri sebagai manusia sejati dan desakan ingin dikagumi teman akhirnya menang.


Ditekannya pelatuk.  Unggas itu jatuh ke air tanpa bersuara.  Arus sungai cukup kuat.  Selagi buruannya mulai hanyut menjauh, diperhatikannya ternyata dia masih hidup dan berusaha menentang arus.  Lili kaget, hewan itu bisa saja lenyap dibawa air.  Sayang sekali kalau Lili berhasil membunuhnya, tapi tak dapat apa-apa.


Ia pun menceburkan diri ke sungai.  Si unggas melihatnya dan bisa Lili mengejarnya.  Dia pun berhenti meronta, malah sekarang membiarkan diri diseret arus seolah lebih memilih tenggelam dalam keganasan alam daripada mati di tangan manusia.


Lili terus berenang mengejar dalam air yang bergerak dasar dan berhasil menangkap salah satu sayap unggas ketika mendekati bagian sungai.


Unggas meronta-ronta hebat dalam cengkeramannya sambil mengeluarkan lengkingan tercekik, tapi Lili tak sudi melepaskan pegangan.  Lili kembali ke pinggir sungai dengan menendang-nendang dan menggunakan tangannya yang bebas.


Setelah keluar dari air dilemparkannya buruan itu ke tanah.  Hewan itu  tak henti mengucurkan darah.  Lili berlari mengambil senapan lalu menghantamkan pangkalnya ke kepala unggas.  Tanah lembut mengurangi efek pukulan itu.  Burung itu merintih kesakitan.  Diselipkannya batu ke bawah kepala unggas dan kembali menghantamkan pangkal senapan.  Kali ini si burung berhenti bergerak.


Anak-anak tetua adat mendengar bunyi tembakan.  Mereka berlari menemui Lili di luar desa untuk melihat burung itu.  Istri tetua adat juga mendatangi Lili.  Lili minta dia mengolah burung ini untuk makan malam.  Namun, pertama-tama diperlihatkan dulu pada Kiki.  Dia memperlihatkan sikap terkesan yang secukupnya atas keahliannya.


Siang itu Kiki kembali dengan tangan hampa.  Sebelum Lili punya kesempatan mengolok-olok, Kiki sudah bertanya.


“Apa ceritamu, Mbak?  Pikirmu burung aneh apa yang kamu tembak?  Aku sudah melihatnya di dapur.  Kita ga bisa memakannya.”


“Kenapa enggak?” tanya Lili ingin tahu.


“Burung itu makan bangkai dan ular, ga layak untuk makanan manusia.”


“Huek,” ucap seseorang yang juga ada di sana.

__ADS_1


“Tapi, Ki,” protes Lili putus asa, “burung itu makan ikan.  Gue lihat sendiri kok, dia mencoba menangkap ikan.”


“Kamu salah,” Kiki mengibaskan tangan sehingga Lili terdiam.  “Burung itu tak layak dimakan.”


__ADS_2