
"Takut?" Victor bertanya ketika Lili perpegangan pada sisi kapsul bianglala yang mereka naiki.
"Kaget aja kok, cuma kaget. Namanya juga udah lama gak naik beginian," jawab Lili.
Victor tersenyum.
"Lu gue perhatiin daritadi kebanyakan gengsinya, Li. Kenapa ga jujur aja sih kalau lu itu butuh sesuatu butuh seseorang yang melindungi elu?" ucap Victor dengan tatapan yang lembut.
"Alah, sama aja lu Tor. Lu juga orangnya gengsian. Gie tahu banget lu ga merasa enjoy di tong setan tadi. Rasanya lu kaya belum pernah masuk ke sana deh," ucap Lili sambil memandangi ke arah lain.
"Emh... Hehe," Victor menggaruk punuknya.
"Bener kan? Ngaku aja sih lu! Bukan aib kok kalaupun tadi itu adalah pertama kalinya lu masuk tong setan," ucap Lili.
"I-iya sih. Sebenarnya gue ini cuma pingin setara di mata elu. Gue ga mau lu lihat gue berasal dari dimensi lain. Gue pingin kita bisa bareng-bareng tanpa melihat perbedaan," ucap Victor.
"Udah impas kok. Kita ini sama. Lu takut masuk tong setan, gue takut masuk ke rumah hantu. See?" ucap Lili.
Bianglala pun bergerak dengan pelan. Kapsul mereka perlahan lahan mulai naik. Lili dan Victor bisa menikmati pemandangan malam di ketinggian. Nuansanya begitu indah. Begitu banyak lampu di bawah. Orang-orang dan bangunan tampak mengecil.
Mereka jadi merasa sedang memainkan sebuah miniatur. Semua mereka lihat dari atas. Bedanya, orang-orang bergerak begitu saja, tanpa mereka gerakkan. Mereka hanya tinggal menontonnya.
"Li, makasih ya. Malam ini lu mau menemani gue senang-senang di sini. Setelah sekian lama satu kantor sama elu, baru kali ini gue bisa bareng-bareng sama elu di luar urusan pekerjaan," ucap Victor.
"Iya. Sama-sama. Ya, udah sekian lama. Gue juga heran sih, kenapa malam ini gue mau diajak jalan sama lu. Apa mungkin karena gue lu pelet kali ya?" ucap Lili.
"Hahaha... Pelet. Lu percaya sama hal-hal berbau klenik kaya gitu, Li?" goda Victor.
"Ga tau sih. Gue asal ngebacot doang. Tapi kalau urusan klenik, gue pernah ngalamin, Tor. Dan... itu yang membuat gue terlibat dalam kasus kriminal. Soal sohib gue yang ditahan itu. Lu pasti udah tahu ceritanya," ucap Lili kemudian menunduk lesu.
"Lu jangan sedih lagi, Li. Gue di sini. Lu kehilangan sohib lu, sekali lagi, gue di sini, bisa lu andelin. Buat apa berlarut-larut, iya ga?" ucap Victor menenangkan Lili.
__ADS_1
"Lu kaya gini karena ada maunya kan?" balas Lili.
"Kok? Lu bisa-bisanya ngomong gitu?" tanya Victor.
"Gue kenal elu udah lama, ingat, kita sekantor. Selama bertahun-tahun gue belum pernah nemuin elu yang kaya gini. Maaf, tapi semua ini terlalu aneh buat gue," ucap Lili.
"Ga ada yang gue mau lagi, yang gue mau memang cuma elu, Li. Kalau selama ini cara gue salah, gue minta maaf. Gue..." ucap Victor.
"Lu mau milikin gue, Tor? Itu kan alasanlu berubah? Lalu setelah lu berhasil ngedapatin gue gimana? Lu akan balik lagi ke diri lu yang dulu kan? Orang-orang selalu begitu. Berambisi untuk mendapatkan tapi setelah dimiliki sama sekali ga mau mempertahankan," ucap Lili.
"Gue... " ucap Victor.
Tiba-tiba mesin bianglala mati. Bianglala berhenti berputar. Tak hanya itu, ternyata seluruh penerangan di fun fair pun padam.
Lili panik. Victor langsung menarik tangan Lili, ia menggenggamnya.
"Jangan takut. Semua akan baik-baik aja, percaya sama gue," ucap Victor.
Lili melihatnya ketakutan. Victor menangkap sorot mata Lili. Ternyata kini Lili lebih mengkhawatirkan keadaan orang lain yang sedang dilihatnya. Victor pun mengambil sikap.
Di tengah suasana remang itu Victor keluar dari kapsulnya. Ia meniti rangka-rangka jari-jari bianglala dan berjalan ke arah kapsul yang di tepiannya menggantung seorang anak yang hampir jatuh.
Victor pun berhasil sampai di kapsul itu. Ia meniti jalan di tengah keriuhan orang-orang yang sedang menatapnya bahkan di bawah bianglala yang ramai itu. Cahaya bulan mempertontonkan aksi heroik Victor.
Victor meraih anak yang tergantung tersebut. Ia menggendong dan memasukkannya kembali ke dalam kapsul mereka bersama ibunya.
Lalu, Victor pun hendak kembali ke kapsulnya di mana Lili sudah menantinya. Lagi dan lagi langkah pelannya meniti besi-besi yang melintang. Pemandangan yang menegangkan lagi-lagi dipertontonkan kepada orang-orang.
Tiba-tiba...
Victor terpeleset dari titiannya. Ia pun terjatuh lalu tangannya meraih besi yang lain untuk bertahan.
__ADS_1
Lagi, selain kakinya, tangannya juga terpeleset dari besi yang ia cengkeram.
"AAAA..."
Orang-orang berteriak histeris.
Benar saja, Victor jatuh. Ia kini sudah berada di rumput. Ia mengaduh pelan dan orang-orang mengerubunginya.
Victor terlihat bangkit dan orang-orang memberinya ruang. Ia berjalan pincang dan duduk di tepi arena. Ada sebuah kursi panjang di sana.
Orang-orang masih memperhatikannya, tapi ia menunjukkan telapak tangannya, menandakan bahwa ia baik-baik saja. Lalu, ia pun mengurut-urut kakinya.
Tak lama, aliran listrik kembali mengaliri. Lampu-lampu di areal fun fair pun menyala kembali. Tak lama kemudian mesin bianglala pun menyala membuatnya kembali berputar.
Lili segera menghampiri Victor begitu kapsulnya sudah sampai di bawah dan ia dapat menuruninya. Langkahnya sangat cepat, berlari-lari kecil. Raut wajahnya begitu terlihat khawatir.
"Gimana keadaan lu Tor? Lu terluka?" tanya Lili yang langsung memberi perhatiannya pada Victor di bagian kaki.
Lili pun meminta Victor menunggu di sana, ia hendak membelikan sesuatu.
Tak lama kemudian Lili pun datang kembali membawa sebotol air dingin. Kemudian, Lili menggulung celana Victor dan menempelkan botol dingin itu di bagian yang memar.
"Bisa-bisanya ada kejadian kaya gini. Untung kaki lu ga patah Tor?" ucap Lili mengomel.
"Eh jangan dong. Doa lu ga bener ih. Masa kaki gue lu doain patah?" protes Victor.
"Habisnya. Tadi itu tinggi banget loh, Tor. Untung gue bilang kan untung, untung ga patah. Jangan sampai kejadian kaya gini terulang lagi ya," ucap Lili.
"Ya gimana. Gue ga tega aja sama anak kecil yang tadi, Li. Kalau dia yang jatuh mungkin ga akan bisa bertahan sekuat gue," ucap Victor.
"Lu bener sih. Gue juga tadi ga tega ngelihat anak itu. Ga kebayang deh kalau yang jatuh itu anak kecil," ucap Lili sambil mengompres kaki Victor tanpa melihat wajahnya.
__ADS_1