Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
70. Tersesat di Hutan (19)


__ADS_3

Di kaleng kedua ditemukan sebongkah besar garam, sedikit rampah-rampah, beberapa butir bawang putih, tiga jeruk limau.  Sekarang ia punya makan malam yang seimbang, sebutir limau, tiga butir bawang putih, sejumput garam, segenggam buah mirip prem.


Malam itu cuaca lebih ramah dibanding sebelumnya.  Diselimutinya tubuh dengan dua kawat nyamuk yang membuatnya nyaman meskipun keduanya basah.  Di atas kawat nyamuk dibentangkannya ponco.  Bagian wajah ditutupi dengan kerudung ponco.


Gelombang kehangatan menyebar ke seluruh tubuh saat diembuskannya napas ke dalam kerudung ponco.


“Bagaimana kalau Rian tidak berhasil mencapai tempat ini?” tanyanya dalam hati.  “Besok aku harus mempelajari peta, membuat perkiraan di mana aku berada sekarang dan berapa jauh lagi jarak ke kota.  Seharian besok aku akan tetap di sini menunggu Rian.  Kalau dia tidak juga muncul, luca aku berangkat.”


Sepanjang malam itu ia terus berhalusinasi.  Rian memanggil-manggil putus asa.  “Tolong! Tolong! Made, selamatkan aku.  Tunggu aku.  Jangan pergi, Made! Made! Tolong!”


Tubuh berkeringat meski pakaian Made basah.


Ia terbangun dengan tubuh kaku dan meringkuk akibat merasakan efek matras baru.  Ia duduk di luar ceruk untuk mempelajari peda yang basah dan robek, tapi masih bisa melihat Sungai serta tanda lainnya.


Dipakainya skala peta untuk menghitung jarak tempat itu.  Sebelum tempat yang ditandai, ada satu lagi sungai besar yang mengalir.  Made berharap sungai itu bisa dilaluinya.


Hujan kembali turun.  Rupanya wilayah timur sudah memasuki musim penghujan.  Hari itu tanggal 3 Desember, ia tak kesulitan mengingat karena kecelakaan rakit terjadi tanggal 1.  Sejak itu ia terus mengingat tanggal.  Dalam dirinya terjadi perdebatan, apakah ia mulai perjalanan ke tempat tujuan atau menunggu Rian.

__ADS_1


Halusinasi kemarin malam masih terasa menyiksa.  Rian membutuhkan Made, begitu pula sebaliknya.  Mereka harus saling mencari.  Kalau bersama mereka pasti bisa mengatasi semua kondisi.


Maka, diputuskannya kembali ke arah semula berharap dalam perjalanan nanti akan berpapasan dengannya.  Siapa tahu mereka bisa bertemu dengan saling berteriak memanggil.


Dengan cermat ia kemasi barang-barang dan memanggul ransel di punggung.  Kakinya serasa terbakar, ia khawatir tak bisa jalan terlalu jauh.  Ia telan sebutir pil dari kotak P3K.  Ternyata efeknya sesuai yang dijanjikan di label.


Ia sanggup berjalan cepat, melompati bebatuan dan pohon-pohon tumbang, selama beberapa jam tanpa istirahat, sambil memanggil-manggil “Rian, Rian” setiap beberapa menit.  Teriakannya hanya disahuti deru aliran sungai di bawah sana.


Ia tidak merasa lapar, tidak merasakan nyeri di kaki, berat ransel, maupun hujan yang mengganggu.  Di satu tempat di atas tebing dilihatnya ceruk besar yang membentuk rongga seperti gua raksasa.


Semua sisinya terbuka, hanya dinaungi batu yang menjorok.  Di bawah naungan tumbuh pepohonan beranting dan berdahan banyak, semua dalam keadaan sangat kering.  Mungkin ada baiknya dibuat saja api unggun besar untuk memberi tanda buat Rian.  Tapi ia enggan berhenti.  Ia harus terus.


Seperti orang kerasukan, dipanjatnya permukaan karang untuk mendapatkan langkan berikut, berharap bisa melanjutkan perjalanan di permukaan sebelah atas.  DI ketinggian sekitar dua ratus lima puluh kaki, ia terjebak, tak bisa naik lebih tinggi, juga tak bisa turun.  Ia melompat, menyeberang ke inti karang yang menyembul sejauh kira-kira satu yard.  Berhasil, tapi inti karang rengkah akibat pijakannya, membuatnya jatuh dari dinding.


Untunglah jatuhnya terhenti oleh sebatang pohon.  Ransel di punggung menahan kuatnya daya luncur sampai kerangka logam ransel membengkok.


Sekali lagi ia tersesat, tak berdaya.  Semua perjalanannya sia-sia belaka.  Bisa-bisanya gunung ini berakhir begitu saja.  Pernahkah Rian sampai kemari?  Ia tak punya pilihan kecuali kembali ke gua yang dilihatnya tadi.  Di sana ia bisa membuat api dan menyiapkan sup nasi plus kacang yang lezat.

__ADS_1


Sesampainya di gua, ia ambruk.  Beberapa saat ia cuma berbaring.  Setelah mengumpulkan kekuatan, ia bangkit mengumpulkan ranting dan dahan, menempatkan batangan terkecil di bawah sementara yang lebih besar di atas.  Ia punya beberapa batang korek api, pemantik juga menyala tanpa kesulitan.


Ada buku di dalam ransel.  Ia merobeknya beberapa lembar dan menyelipkannya ke bawah ranting.  Mudah sekali menyulut api.  Tak lama kemudian dahan-dahan yang lebih besar pun dilahap api, memberi kehangatan sekaligus cahaya.


Air sama sekali bukan masalah karena seluruh permukaan tebing dalam keadaan basah.  Air yang menetes-netes dari situ ia tampung di kaleng lalu diletakkan pada batu besar yang ditaruh di tengah-tengah api.  Air mendidih dengan cepat.  Ia sempat diserang perasaan bersalah.


Rian juga butuh makanan, sementara makanan mereka yang cuma sedikit sekarang berada di tangannya.  Ia harus membuat cadangan perbekalan, berjaga-jaga siapa tahu mereka berdua membutuhkannya kelak.  Dengan cermat dimasukkan sesendok beras dan sesendok kacang ke air mendidih.  Dikupas dua butir bawang putih, dimasukkannya ke kaleng bersama sedikit garam dan rempah-rempah.


Kaleng ini bisa memuat sekitar sepertiga liter air.  Sup itu tidak kental, tapi rasanya enak.  Diminumnya beberapa cangkir, menahan dari agar hanya menelan air sup dan meninggalkan sisanya untuk besok pagi.  Setelah kenyang, diaturnya barang-barang.  Beras dan kacang-kacangan di ransel basah dan berjamur, begitu pula bawang putih dan rempah-rempah.  Digeletakkan semuanya di atas batu dekat api, lalu mengumpulkan lebih banyak lagi kayu kering agar api unggun terus menyala.


Ponco dan kawat nyamuk juga dikeluarkan.  Setelah semua selesai buru dibuka sepatu.  Dilakukannya ini paling belakangan karena tahu rasanya pasti jauh dari menyenangkan.


Kakinya sakit bukan main.  Kaus kaki barbau busuk, dipenuhi noda merah kekuningan.  Dikeretakkan gigi saat melepas kaus kaki.  Rupanya kakinya sungguh mengerikan.  Hampir semua kulitnya mengelupas.  Daging di sela jari-jarinya meradang, berdarah, bernanah.  Ia takut tak bisa lagi berjalan.  Kakinya harus dikeringkan dan dioles sesuatu.


Diaduk-aduk kotak P3K.  Karena tidak ada minyak, akhirnya diputuskan memakai krim pengusir serangga bersama obat semprotnya.  Kedua bahan membentuk campuran yang agak berminyak.  Sepanjang malam ditarik ulur kedua kakinya di depan api.  Sakitnya tak tertahankan sehingga mustahil untuk tidur.


Saat pagi datang ia sadari kondisinya sangat lemah.  Ia merangkak dengan kedua tangan dan kaki untuk mengumpulkan lebih banyak kayu.  Ditambahkan air ke sisa sup semalam lalu memanaskannya.  Masih tersisa sedikit bubur di dasar kaleng.

__ADS_1


Dipaksanya menelan semua karena tak mau menyia-nyiakan apapun.  Ia duduk di dekat api.  Kulit kakinya terlihat kering dan mulai sembuh.  Ia coba membuat asap.  Rian pasti tak bisa melihat api saat hari terang begini, tapi mungkin bisa melihat asap sekalipun posisinya di langkan yang lebih tinggi dari tempatnya berada.


__ADS_2