
"Apa yang terjadi, Mbak?" tanya Kiki.
"Harusnya gue yang nanya, lu mau ngapain di sini?" tanya Lili sembari menutup pintu. Kiki duduk di sofanya.
"Saya sengaja ke sini buat nemuin kamu, Mbak," ucap Kiki.
"Haha... Ngapain? Kan di Jogoya pun bisa nemuin gue?" balas Lili.
"Gak akan bisa. Saya tahu sebenci apa kamu sama saya, Mbak," ucap Kiki.
"Terus kalau ketemunya di sini jadi ga benci gitu?" ledek Lili.
"Mbak, masa kamu ga bisa menghargai kedatanganku ke sini? Jogoya-Bali itu jauh loh, Mbak. Saya datang ke sini sengaja untuk nemuin Mbak," ucap Kiki.
Sebenarnya ini adalah hal yang membuat Lili senang. Ia tidak bisa menampik bahwa dirinya memang merindukan Kiki. Tapi semua itu Lili sembunyikan.
"Terserah lu. Tapi hari ini gue ada meeting sama klien," ucap Lili.
"Oke, Mbak. Tapi ijinkan saya untuk nemenin Mbak. Mbak di sini sendirian, bukan?" ucap Kiki.
"Terserah elu," ucap Lili. Sebenarnya saat Kiki menawarkan diri untuk menemani Lili itu membuat Lili begitu senang. Ia jadi lega karena ada yang akan melindunginya dari sosok misterius yang selama ini membuatnya was-was.
"Ngomong-ngomong apa yang membuat kamu menyewa orang tadi, Mbak?" tanya Kiki.
"Gue diteror," ucap Lili.
"Diteror? Maksudmu? Diteror bagaimana?" tanya Kiki penasaran.
"Dari Bandara Jogoya gue dibuntutin secara diam-diam. Sampai tadi malam dia datang di depan pintu. Ngeri banget," jelas Lili.
"Malam-malam? Datang di depan pintu?" tanya Kiki sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Iya," ucap Lili.
Lili pun meninggalkan Kiki untuk mempersiapkan diri. Kiki menungguinya di sofa sambil menonton televisi.
Sebenarnya Kiki memendam sesuatu. Ia sebenarnya tadinya ragu untuk menemui Lili secara langsung. Kerap kali ia bertekad untuk memperhatikan Lili dari jauh saja.
Kiki mengambil kamar di hotel yang sama agar ia bisa memperhatikan Lili dari seberang kolam renang. Kiki memang ragu-ragu. Semalam ia begitu ingin menemui Lili, sebab itu ia datang ke depan kamar Lili. Namun, baru pagi ini ia benar-benar mantap menemui Lili.
Kiki tidak mengatakannya kepada Lili. Pasti apabila Lili tahu bahwa orang yang membuatnya takut adalah Kiki, maka Lili akan menghilang dari hadapan Kiki seperti ditelan bumi.
Memang itu sepenuhnya kesalahan Kiki. Kiki merasa sangat berdosa saat Lili tahu ia adalah orang yang dibayar Celine untuk mendekatinya. Tapi, seiring waktu walaupun Kiki adalah orang suruhan, Kiki semakin menyayangi Lili. Ia begitu mencintainya.
Kiki mencoba agar dapat kembali dekat dengan Lili. Ia mendekati Lili melalui cara virtual. Selama ini akun Barista Coffee di aplikasi audio live streaming itu adalah Kiki.
Usai membersihkan diri dan berias, Lili pun keluar dari toiletnya. Ia pun sarapan bersama Kiki. Tadi Kiki datang dengan alasan memberikan sarapan.
Sebenarnya pihak hotel telah menyiapkan sarapan di restoran bawah, tapi Lili lebih memilih sarapan bersama Kiki di kamar itu. Lagipula, Kiki membawakan satu porsi besar menu sarapan itu sehingga bisa dibagi dua untuk mereka makan bersama.
"Lu temani gue selama di sini, tapi lu jangan ge er. Bukan berarti kita bisa dekat seperti dulu. Jangan pernah terlintas sedikit pun di pikiranlu. Sekarang gue cuma butuh bodyguard. Nanti lu gue bayar, per hari gue bayar dua ratus ribu, ga termasuk makan," ucap Lili tegas.
"Saya ikhlas nemenin Mbak. Jangan bayar saya," ucap Kiki.
"Kalau gitu gue bakal nyari orang lain buat jadi bodyguard gue," ucap Lili.
"Eh, jangan, Mbak. Biar saya jadi bodyguard-mu. Sudah, saya nurut aja semua yang Mbak pinta," ucap Kiki memohon.
Lili pun senyum tergelitik. Ia menyukai situasi ini.
Lili pun berangkat bersama Kiki. Lili punya mobil sewaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya sebagai bagian dari akomodasi yang ditanggung oleh kantor.
"Biar saya yang bawa mobil, Mbak," pinta Kiki.
__ADS_1
"Oh, iya deh. Ya udah. Kebetulan gue memang males nyetir," jawab Lili.
Mereka pun pergi berdua. Kiki kini sudah seperti supir sekaligus bodyguard bagi Lili, seperti yang Lili inginkan sebenarnya.
Saat tiba di lokasi meeting, Lili pun meminta Kiki untuk menungguinya di mobil saja. Kiki tidak perlu ikut meeting bersamanya.
"Kamu yakin, Mbak? Apakah ga apa-apa kamu sendirian?" ucap Kiki khawatir.
"Ini urusan kantor gue, Ki. Lu ga bisa ikut," jawab Lili.
"Saya masih ingat ketika kita bertemu untuk kedua kalinya. Waktu itu kamu hampir menjadi korban klien kamu. Aoa kamu ga kapok, Mbak? Bagaimana kalau..." ucap Kiki.
"Lu doainnya kok yang jelek-jelek gitu sih? Gini ya, pokoknya terserah lu mau nungguin gue sambil kemana kek, sambil ngapain kek. Yang penting lu jangan ganggu meeting gue. Paham?" ucap Lili tegas.
Kiki mengerti betul dengan kalimat Lili itu. Ia paham betul Lili mengijinkannya untuk memperhatikan Lili. Atau mungkin, Lili juga sebenarnya ingin agar Kiki mengawasinya dari jauh. Hanya saja, Lili terlalu gengsi untuk memintanya. Kiki paham betul apa yang ada di pikiran perempuan pujaannya itu.
Lili pun pergi seorang diri meninggalkan Kiki. Setelah sedikit berjarak, Kiki pun diam-diam menyusul Lili. Kiki kembali menjadi si misterius itu, yang selalu mengawasi Lili dari jauh.
Di saat-saat meetingnya, Lili sesekali melirik ke sembarang arah. Ia lagi-lagi merada diawasi. Bedanya, kali ini Lili yakin bahwa yang sedang mengawasinya adalah Kiki. Lili merasa aman, tidak seperti sebelumnya yang justru merasa takut.
Setelah meeting selesai, Lili pun berjalan keluar bersama dengan kliennya. Sepertinya meeting kali ini berjalsn mulus. Tidak ada lagi klien nakal yang mencoba menggodai Lili lagi.
Saat Lili sampai di mobil sewaannya yang terparkir, rupanya Kiki sudah ada di sana. Kiki terlihat sedang bersantai dengan duduk bersandar pada kursi yang landai dan sambil menggunakan headset yang tersambung ke ponselnya.
Lili tersenyum, secara diam-diam tentunya. Ia paham bahwa keadaan yang ia lihat itu tidak sepenuhnya benar. Ia sangat yakin kalau Kiki tidak mungkin bersantai saja sejak tadi di dalam mobil. Lili yakin bahwa orang yang Lili rasa mengawasinya tadi adalah Kiki.
"Udah selesai. Yuk balik," ucap Lili kepada Kiki.
"Oh, iya iya. Gimana meeting tadi? Aman? Ga ada klien nakal yang nyoba modus sama kamu kan Mbak?" tanya Kiki sembari menghidupkan mesin mobil.
"Aman. Kayanya lu lebih tahu daripada gue," ucap Liki yang sibuk sendiri merapikan riasan wajahnya tanpa melihat Kiki.
__ADS_1