Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
36. Muka seperti Hantu Bunuh Diri


__ADS_3

Lili dan Kiki pulang. Mereka baru saja dari persidangan Celine. Rosalina Celine, perempuan yang Lili kira baru bertemu dengannya sejak SMA dan menjadi sahabatnya.


Jalanan malam ini begitu lengang. Pohon peneduh jalan, lampu jalan dengan tiang-tiangnya yang tinggi, semua seakan menari menyambut Lili yang tengah melewati jalan-jalan itu.


Pikirannya melayang ke masa lalu, karena suasana malam ini begitu syahdu. Tapi bukan suasana jalan yang jadi satu-satunya pemicu kenangan ini keluar dari ingatannya, melainkan karena kejadian yang baru saja dihadapi Lili bersama sahabat gilanya.


"Lik, tolongin gueee... " ucap Celine melalui telepon.


"Kenapa lagi? Lu ngebet pingin macarin si Mike?" tanya Lili sambil menjepit ponselnya di bahu dan pipinya, sementara tangannya sibuk mengancing seragam SMA-nya.


"Iiih, bukan. Ya, itu iya juga sih, tapi yang urgent sekarang bukan itu," ucap Celine.


"Terus apa?" tanya Lili.


"PR gue. PR Matematika belum gue kerjain," ucap Celine.


"Yah? Semalam lu ngapain aja?" tanya Lili.


"Semalam gue nyoba buat ngerjain, tapi gue ga ngerti-ngerti terus gue ketiduran," rengek Celine.


"Ya ampun. Harusnya kalau lu ga ngerti, lu ngomong sama gue, biar gue ajarin," ucap Lili.


"Ah, tahu ah. Kenapa gue lemot banget soal begituan! Lik, bantuin gue napa Lik," pinta Celine.


"Hemh... Iya deh, iya. Ntar ketemu di kelas ya, lu bisa salin PR gue," ucap Lili.


"Iiiii... Makasih makasih makasih bestie. Ga kebayang gimana gue tanpa eluuu!" ucap Celine girang.


"Ya udah ya. Gue lagi siap-siap nih. Sampe ketemu di kelas nanti ya," ucap Lili.


"Iya, see ya," ucap Celine mengakhiri panggilan telepon.


*


Di saat yang lain.


"Lin? Kita kan sekelompok? Kok lu bukannya bantuin malah mager gitu sih?" protes Lili.


"Aduh, Lik. Kepala gue pusing banget. Gue ga paham begituan. Elu kan jago tuh yang bagian itu, nah besok gue deh yang bakal presentasi. Oke?" ucap Celine.


Keesokan harinya.


"Lik, elu aja deh yang presentasi. Gue bingung," bisik Celine.

__ADS_1


"Yah, janjinya kemaren apa?" ucap Lili.


"Iya, tapi berulang-ulang gue pahami gue malah ga paham-paham," ucap Celine.


"Tapi elu kan udah gue ajarin, Lin?" ucap Lili.


"Jadi gimana ini? Elu nyesel sekelompok sama orang selemot gue?" ucap Celine.


"Ah, ya udah ya udah ya udah. Sini gue yang presentasi aja," ucap Lili.


*


Di saat yang lain...


"Pssst... " Celine memanggil Lili dengan berbisik. Saat itu tengah ujian di kelas.


Celine menoleh dan berbicara dengan bahasa isyarat di bibirnya tanpa sedikitpun suara.


"Nomor tiga... nomor tiga..." ucap Celine dalam bahasa isyarat.


"Bahaya, Lin! Ngeri, doi killer!" ucap Lili yang tengah duduk di depan Celine.


"Gue salin!" ucap Celine. Celine meminta mereka bertukar kertas lembar ujian.


Seketika Celine pun menyalin jawaban dari lembar ujian Lili. Lalu, pengawas ujian mulai kembali berkeliling. Lili pun menadahkan tangannya dan dengan cepat Celine memberikan kertas lembar ujian kepadanya.


Aman, pengawas tidak mencium aroma kecurangan yang mereka lakukan. Tapi tunggu, itu bukan lembar ujian Lili. Yang Celine berikan adalah lembar ujian Celine yang masih belum selesai dikerjakan.


Lili pun menoleh pada Celine.


"Sorry! Udah lu tulis aja yang lu inget, nanti kita tukeran lagi," ucap Celine dengan bahasa isyarat.


Lili pun menghembuskan napas dan menggeleng, kemudian mulai menulis jawaban di lembar ujian Celine.


Beberapa saat kemudian, waktu ujian hampir berakhir. Mereka pun kembali bertukar lembar ujian.


*


Di saat yang lain, saat jam istirahat sekolah.


"Lik, lu nyesel ga berteman sama orang selemot, sebodoh, dan serendah gue?" ucap Celine.


"Ih, lu apaan sih? Ga boleh ngomong gitu. Gue yakin lu punya potensi cuma belum kelihatan aja," ucap Lili sambil mengaduk-aduk sedotan di gelas yang berisi jus alpukat pesanannya.

__ADS_1


"Ya, selama ini gue selalu bergantung sama elu. Gue cuma takut lu sebel sama gue," ucap Celine.


"Lin, gue ini sahabat elu. Kita bersama karena saling melengkapi. Mungkin elu punya kekurangan di hal-hal kaya mata pelajaran, tapi gue juga punya kekurangan di hal-hal lain kan? Pokoknya, gue, sahabat lu ini, gak akan ninggalin elu. Percaya sama gue. Gue pingin kita maju bareng-bareng, selesai bareng-bareng," ucap Lili.


Tentu saja Lili begitu menyayangi Celine. Lili begitu simpati pada sahabatnya yang sangat membutuhkan dirinya itu. Sedangkan Lili, apa yang ia dapat dari sahabatnya? Celine adalah sosok yang ceria, suka mengatur, perhatian, suka mengingatkan. Sosok itu yang begitu Lili butuhkan. Selama ini Lili terbiasa mandiri dengan pembawaan dirinya yang ia paksakan. Tanpa seorang ibu maupun saudara. Sedangkan ayahnya? Lelaki itu terlalu sibuk menggeluti bisnisnya.


*


Lili mengenang kehadiran sosok sahabatnya selama perjalanan menuju apartemen. Apa yang ia lihat dan dengar langsung di persidangan tadi sangat menoreh luka baginya.


Perjalanan pun sampai. Lili dan Kiki turun dari kendaraan.


"Mbak, kamu baik-baik aja kan?" ucap Kiki yang melihat Lili begitu lesu dan cenderung melamun saja.


"Udahlah, Ki," jawab Lili.


Ketika Kiki hendak ikut masuk ke dalam apartemen, Lili menahannya.


"Lu main ke sininya lain kali aja ya Ki?" ucap Lili.


"Tapi saya... " ucap Kiki.


"Gue mau istirahat, Ki. Gue pingin sendiri," ucap Lili.


"Kamu ga lagi marah sama saya kan, Mbak?" tanya Kiki.


"Udahlah, Ki." Sejak tadi Lili selalu mengulang-ulang jawaban yang sama.


"Baiklah. Saya permisi dulu kalau begitu," ucap Kiki.


"Iya. Emh, makasih ya buat semuanya," balas Lili. Saat bicara begitu tatapan Lili seolah mengucapkan selamat tinggal. Mata Lili seolah mengucapkan kata-kata terakhirnya.


Kiki hendak bicara. Bibirnya nyaris terbuka, tapi ia urungkan. Mungkin perempuan pujaannya ini hanya sedang ingin sendiri, jadi Kiki tidak perlu banyak bertanya lagi.


Kiki pun pergi. Namun, sepuluh menit kemudian ia kembali datang mengetuk pintu.


Lili membuka pintu dalam keadaan sangat berantakan. Air mata membuat riasan wajahnya tampak mengerikan. Eye liner tumpah hingga ke pipi membuat wajahnya hitam-hitam.


"Ada apa lagi?" ucap Lili.


Kiki pun memaksa masuk dan ia yang juga menutup pintu itu dari dalam. Bungkusan yang dibawanya adalah makanan untuk Lili. Ia paham betul dalam keadaan begini pasti Lili tidak bernafsu untuk makan apalagi menyiapkannya.


Setelah Kiki mendorong Lili masuk dan menutup pintu itu dari dalam, ia pun menjatuhkan bungkusan itu begitu saja di atas meja yang ada di dekatnya. Dengan cepat ia menyergap tubuh Lili, ia mendekapnya erat-erat.

__ADS_1


"Saya paling ga tega melihat Mbak dalam keadaan begini," ucap Kiki.


__ADS_2