Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
66. Tersesat di Hutan (15)


__ADS_3

“Tetaplah bersama apapun yang terjadi, sekalipun satu dari kalian terluka dan tak bisa berjalan.  Jangan pernah tinggalkan temanmu meskipun niatmu adalah mencari bantuan.  Kalau salah satu terluka, usahakan semampu kalian untuk pergi ke pinggir sungai. Tunggulah di sana.  Yang masih sehat bisa menjaga yang sakit dan mencarikan makanan sampai bantuan datang.  Selama bertahan di pinggir sungai, selalu ada kemungkinan mendapat bantuan.”


“Kita masih berteman baik,” kata Lili.  “Suatu saat nanti kita akan duduk-duduk mengobrol di warung teh kecil,” ucap seseorang.


“Betul, Lili,” kata orang yang lain.  “Kita akan keluar dari hutan ini.  Di kota nanti kita berteman lagi seperti sebelumnya.”


“Aku akan mendoakanmu.”


“Terima kasih,” ucap orang itu.  “Ingatkan mereka bahwa aku sudah meninggalkan catatan yang menjelaskan rute perjalanan kita.”


“Tak perlu secemas itu,” seseorang lain menenangkan Lili.  “Kami berencana memberi kejutan dengan sampai di kota sebelum kalian sampai.”


Tawa Kiki meledak.  “Kau memang tukang membual,” katanya.


Sekali lagu mereka bersalaman.


Lili berkata, “Sampai jumpa di kota.  Tuhan bersama kalian.  Gue pasti mendoakan kalian.  Selamat tinggal.”


Mereka berbalik dan berjalan menjauh.  Dengan penuh percaya diri Kiki berjalan di depan.  Lili tersaruk-saruk mengikuti, sempat menoleh ke belakang untuk melihat mereka terakhir kali, sebelum sepenuhnya senyap dari pandangan.


Salah seorang di antara mereka memecah kebisuan.  “Ayo, kita masih banyak kerjaan.”


Mereka menyeberang ke sisi semula dan mulai bekerja.  Seseorang itu melepas keempat gelondongan tampahan pada rakit.  Setelah itu, dengan menggunakan tali perekat seperti yang diajarkan Kiki, mereka mengikat keempatnya menjadi rakit baru yang lebih kecil.


Seseorang itu menjelaskan, “Rakit ini berfungsi sebagai rakit penolong.  Semua peralatan kita ikat di sini.”


Rakit kecil mereka ikat kuat-kuat di tengah rakit besar dengan tali temali dan pita kulit yang ditinggalkan Lili.


“Rakit utama akan menerima semua benturan baru.  Kalau terjadi sesuatu, kita tinggal memutus tali dengan parang sehingga rakit penolong lepas.  Kita lanjutkan ke darat naik rakit kecil ini.”


Kedengarannya masuk akal.


Rian, demikian nama seseorang itu dan Made, demikian nama orang yang lain yang menemaninya.


Rian mengosongkan semua ransel dan menyusun ulang barang-barang mereka.  Ke dalam dua ransel yang paling besar dia memasukkan alat-alat berukuran besar, periuk dan alay memasak, lembaran nilon yang nanti berfungsi sebagai tenda, sandal dan baju tembahannya, pisang bertandan, daging monyet asap.


Ransel yang lebih kecil, RIan menyebutnya ransel penyelamat, dibungkusnya dengan kantong karet kedap air lalu diisi dengan kotak P3K, peta, dua kawat nyamuk berwarna hijau, tali perekat rakit, senter, korek api dan pemantik api.

__ADS_1


Surat-surat dan uang mereka disimpannya dalam kotak logam tahan air.  Rian memperhatikan saat Made dengan enggan mengeluarkan dompet.  Hati-hati sekali dan tanpa bicara diia menyimpan dompet itu di kotak logam.


Akhirnya mereka memasukkan beras dan kacang-kacangan ke kantong karet kedap air.  Rian mengikat mulut kantong kuat-kuat dan melapisinya dengan ransel.  Di atas ransel diikatnya dua kaleng besar yang masih tersegel supaya ransel tetap mengapung seandainya jatuh dari rakit.


Semua ransel dimasukkan Rian ke lembaran nilon yang diisinya dengan potongan-potongan kayu supaya bisa mengapung.  Setelah mengikat kuat-kuat bungkusan nilon ke rakit penolong, mereka siap berangkat.


Mereka menyisir daerah perkemahan untuk kali terakhir.  Tak ada yang terlupa.  Rian sangat teliti.  Dia menyepak selimut dedaunan yang menjadi alas tidur mereka dan menyerak sisa-sisa arang api unggun.  Tak satu pun terlewatkan.


Perut Made bergetar penuh semangat saat menaiki rakit.  Rian berdiri di air, mendorong rakit kuat-kuat, lalu melompat ke sebelahnya.


“Semua pasti lancar,” katanya meyakinkan.  “Ingat katamu kemarin, nenekmu saja bisa melakukannya.  Satu hal lagi, tetap waspada dan perhatikan instruksiku.”


“Kau kaptennya,” kata Made.


Made ingin sekali percaya bahwa Rian tahu apa yang dikatakannya, tapi saat itu Made cukup gelisah.  Arus sungai merangkap rakit.  Rian menyuruh Made mengganti galah dengan dayung.


“Kita cuma perlu mengarahkan bagian depan rakit tetap lurus,” kata Rian.  “Biarkan arus membawa kita.  Hari ini juga kita pasti bisa sampai di pinggir sungai yang diceritakan Kiki.”


Dalam waktu singkat mereka memasuki daerah aliran ganas yang pertama.  Bisa diihat batu-batu bergerigi mencuat dari deras sungai.


Rakit menghantam batu, terangkat dari sungai.  Kayu di bawah kaki mereka bergetar.  Rakit kembali jatuh ke air dan akan segera membentur batu berikut.  Made sama sekali tidak mendayung, melainkan mencengkeram tali kulit sekuat-kuatnya.  Rian melakukan hal serupa di bagian depan.  Rakit yang terempas dari batu ke batu akhirnya terjun dibawa air menggelegak dan saat jatuh posisinya terus miring ke satu sisi.


“Pegangan kuat-kuat, Made, jangan sampai lepas!”


Mata Made terpejam serapat-rapatnya.


Mendadak saja mereka sudah kembali berlayar di air tenang.  Saat menoleh ke belakang, terlihat air memutih yang baru mereka lewati.


“Hei, kita berhasil!” teriak Made penuh sukacita.


Rian balas tersenyum sambil mengangkat satu jempol.  Sekarang baru mereka sadar betapa beresikonya perjalanan ini, betapa minim mereka bisa mengendalikan rakit.  Saat diseret arus sedemikian deras, mereka sama sekali tak bisa memperhatikan bagian depan rakit agar tetap khusus.


Tidak, nenek Made tak mungkin ikut dalam perjalanan ini.  Sekarang karena tak ada yang tersedu-sedu, Made tak lagi merasakan keinginan untuk bertingkah seperti cowok tangguh.


Dua jam berikutnya mereka meluncur tanpa kesulitan, merasa yakin akan segera tiba di tujuan.  Pemandangannya sungguh mempesona.  Gunung-gunung yang menghijau sepanjang musim menjulang di atas tebing-tebing kemerahan di sepanjang pesisir.


Sesekali mereka melewati air terjun kecil yang mengalir dari ketinggian dan tercurah ke sungai.  Sepanjang waktu satu keluarga monyet berlompatan dari pohon ke pohon mengiringi mereka ke hilir.

__ADS_1


Menjelang siang mereka mendapat masalah.  Satu batu besar mencuat dari darat, air sungai yang menggempuri batu ini membentuk pusaran yang berbahaya.


Arus sungai membawa mereka ke tengah-tengah pusaran.  Dua jam mereka berusaha keluar dari situ, tapi tak berhasil.  Akhirnya, karena tak melihat cara lain, Rian berenang ke darat, memanjat batu sambil memegang tali yang terikat ke bagian depan rakit, lalu berusaha menarik rakit dari pusara.


Dua kali Rian terpeleset, jatuh ke air lalu diempas arus, tapi cepat menguasai keadaan.  Pada percobaan ketiga tali di tangannya putus, sekali lagi tercebur ke sungai, tapi kali ini tidak muncul secepat sebelumnya.


Tinggal Made sendiri di rakit yang berputar-putar.  Perut Made mulas oleh rasa takut.  Bagaimana kalau Rian tenggelam?  Bagaimana nasib Made nanti?  Made duduk sambil memanjangkan leher, dengan putus asa berusaha menangkap sosoknya.  Saat melihat topi jeraminya hanyut ke hilir, tubuhnya membeku.


Rian kembali lima belas menit kemudian.  Darah mengalir dari luka dalam di lututnya.


“Arus bawah air di sini kuat sekali,” katanya.  “Aku sempat berpikir bakal tenggelam.  Aku sudah kehabisan napas, untung arus menyeretku ke permukaan sehingga aku bisa sampai di darat.”


“Kakimu bagaimana?”“Oh, aku bahkan tidak sadar lututku luka.  Kurasa terbentur batu.  Sialan, topi jeramiku hilang.”


Alih-alih berusaha mengeluarkan rakit dari pusara arus, akhirnya mereka tambatkan rakit ke tepi sungai.  Betapa lega kakinya bisa kembali menjejak tanah padat.


Berikutnya mereka mencoba taktik lain, menarik rakit ke hulu, melompat ke atasnya, mendayung sekuat tenaga agar keluar dari pusaran dan kembali ke tengah sungai.  Usaha mereka membuahkan hasil pada percobaan ketiga.


Usai bersorak-sorai gembira, Rian berkata dengan bijak, “Mungkin tak ada salahnya ke tepian dan berkemah di pinggir sungai yang ditunjukkan Kiki di peta.  Pasti lebih menyenangkan kalau kita mulai berjalan kaki besok.”


“Kurasa kau betul,” sambut Rian.


Tebing-tebing kemerahan memutus pinggiran sungai sehingga sungai seakan mendadak tak punya tepi sama sekali.


“Pasti ini tempatnya,” tegas Rian.  “Siap-siap.  Pulau itu bisa terlihat kapan saja.  Setelah pulaunya kelihatan, mulailah mendayung ke kiri sekuat tenagamu.  Kalau sampai terjadi masalah serius, kita lompat dan berenang ke darat.  Daerah ini kelihatannya awal ngarai.”


Mereka sama-sama tegang dan waspada. Arus bertambah kuat.  Di mana gerangan pulau itu ya?


Dekat tepi sungai di sebelah kanan mereka ada batu besar.  Dengan cepat mereka terseret ke sana.  Di sebelah kiri, tepi sungai menurun tajam meskipun sulit diketahui sejauh apa penurunannya.  Air sungai tercurah turun diiringi bunyi bergemuruh.  Semoga mereka bisa lewat di sebelah kanan batu, yaitu antara batu itu dan tepi sungai.


“Ke kanan, ke kanan!  Lebih kuat, lebih cepat!”


Mati-matian Made kerahkan segenap tenaga untuk mengayuh dayung.  Made pejamkan mata.  Mereka menghantam batu di kanan dengan benturan hebat.


“Kau tak apa-apa, Made?”


Sama seperti Made, Rian pun berada di sungai sambil mencengkeram tali rakit.  Air mengalir kencang melewati mereka dari kedua sisi, tapi rakit bergeming karena menancap di pasir, satu sisinya tersandar ke batu membentuk sudut enam puluh derajat dari sungai.  Kekuatan air menerjang mereka ke arah batu.

__ADS_1


__ADS_2