
Victor memenuhi tantangan yang diberikan Lili. Ia memberi saweran kepada orang yang mengendarai motor di tong setan.
Pertama Victor memberi saweran, sebelum uang itu diambil oleh pemotor, uang tersebut terlepas duluan dari tangan Victor sehingga huang tersebut terbang melayang begitu saja ke dalam tong.
Victor melihat ke arah Lili usai ia melepaskan uang tersebut. Tampak olehnya Lili yang sedang tertawa sambil memegang perutnya. Kemudian, dengan bahasa isyarat, Lili menyuruh Victor kembali memberikan saweran lagi.
Victor pun mengulanginya. Kali kedua ia memberikan selembar uang lima ribu rupiah, ia berhasil. Pemotor tersebut menyambar uang tersebut dengan tangannya. Victor pun melakukan yang ketiga kalinya dan ia lagi-lagi berhasil.
Victor melihat ke arah Lili. Lili memperlihatkan kedua jempolnya kepada Victor.
Waktu pun berlalu, permainan wahana tong setan pun berakhir. Dengan perlahan Lili berjalan di sisi Victor melalui pintu keluar dengan berdesakan.
"Kali ini biar aja deh tangan gue dipegang-pegang sama Victor. Daripada gue entar hilang lagi," batin Lili sambil memperhatikan tangannya digandeng oleh Victor.
Setelah berada di luar tong setan, Lili pun melepaskan pegangan tangan Victor. Victor menjadi kikuk karena ia telah menggandeng tangan Lili.
"Emh, tadi gue udah ngikutin apa yang lu suka. Lu suka masuk ke tong setan, gue ikut masuk ke sana," ucap Victor.
"Ya?" Lili sudah dapat menebak. Pasti Victor ingin membalas dendam kepadanya.
"Ya, sekarang giliran gue," lanjut Victor.
"Boleh," ucap Lili sambil menyeringai.
"Ayok," ucap Victor kemudian berjalan duluan dan Lili mengikutinya.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah bangunan dengan tulisan 'Rumah Hantu'. Mereka berdua tertengadah membaca tulisan besar di atapnya.
"Lu mau kita masuk ke sini?" tanya Lili.
"Sudah pernah kan?" ucap Victor.
"Udah sih, wahana ini adalah wahana yang paling gue ga suka," batin Lili.
"Gimana? Berani kan?" ucap Victor lagi.
Lili pun hanya menyeringai sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Tanpa banyak tanya-tanya lagi Victor pun membeli tiket dan lagi, mereka memasuki wahana itu bersama-sama.
Suara berisik lolongan dan teriakan yang bernuansa horor memekakan telinga mereka. Ruangan itu begitu gelap, ada cahaya remang-remang kadang-kadang. Lalu...
"HAA!"
"AAAA..." Lili berteriak. Makhluk menyeramkan itu baru saja mengejutkannya. Lili meremas lengan Victor sambil membalikkan tubuhnya ke arah Victor. Matanya ia pejamkan kuat-kuat.
"Yok, yok jalan lagi. Hantunya udah ilang kok," ucap Victor.
Lagi dan lagi makhluk-makhluk menyeramkan datang dari sudut-sudut ruangan yang tersembunyi. Sesekali Victor berteriak terkejut sama terkejutnya dengan Lili, tapi melihat Lili ketakutan Victor seketika langsung sadar bahwa ketakutannya tidaklah penting.
Victor lantas menenangkan Lili dengan mengelus kepala Lili di dalam dekapannya. Victor juga menggenggam tangan Lili untuk mengajaknya berpindah ke ruangan demi ruangan lain.
Hingga pada akhirnya ada satu makhluk yang sangat menyeramkan menurut Lili. Makhluk itu membuat Lili menangis. Victor dengan isyarat tangannya kepada petugas horor itu agar menyudahi upaya menakut-nakutinya.
Mereka berdua pun keluar dari rumah hantu tersebut. Lili sudah tidak menangis, air matanya sudah dihapus, tinggal tersisa mata merah dan napas yang sesenggukannya. Victor berjalan sembari mengusap-usap lengan Lili.
"Gue ga mengira akan jadi begini. Gue ga ada maksud bikin lu kaya gini Li. Sorry ya," ucap Victor.
"Kita duduk di sana dulu," ajak Victor.
"Tunggu di sini, gue mau beli minum dulu," ucap Victor.
Lili pun menunggu Victor di kursi panjang itu. Tak lama kemudian Victor pun datang dengan membawa dua buah teh tawar dalam botol dan sebungkus gulali kapas berwarna pink.
Lili tersenyum menyambutnya. Sudah lama sekali Lili tidak memakan gulali kapas.
Lili pun meneguk minuman itu dan membuka bungkus gulali kapas yang setinggi kaki orang dewasa itu.
"Lu tahu aja kesukaan gue," ucap Lili.
"Iyakah? Sebenarnya gue cuma ingat sama adik sepupu gue aja. Gue beli siapa tau lu suka juga," ucap Victor.
"Iya gue suka banget. Dulu kalau gue ke fun fair pasti beli beginian. Udah lama banget gue ga makan ini," ucap Lili.
"Oh gitu. Ya udah, silakan Tuan Putri habiskan. Tapi kalau sudah habis jangan minta nambah ya," ucap Victor.
__ADS_1
"Ha? Kenapa?" tanya Lili.
"Loh, biasanya cewe itu ngejaga banget gula yang masuk," ucap Victor.
Lili pun memegang pipinya. "Emang gue gendut? Lu ngatain gue gendut?" ucap Lili kesal.
"Hahaha... tapi ga apa-apa juga, biar lu jadi menggemaskan," goda Victor.
"Enak aja, enak aja, enak aja!" protes Lili sambil memukul-mukul lengan Victor.
"Hahaha.... Ampun ampun!" ucap Victor.
Malam ini terasa begitu menyenangkan bagi Victor dan Lili. Mereka tidak seakrab biasanya. Lili yang selama ini terasa segalak serigala ketika didekati, kini bisa Victor gandeng tangannya, ia usap kepalanya dan lengannya juga merasakan pukulan-pukulan manja gadis cantik itu.
Setelah makanan dan minuman mereka habis, Victor pun mengajak kembali Lili untuk menaiki wahana lainnya dalam fun fair itu.
"Ngomong-ngomong lu takut ketinggian ga?" tanya Victor.
"Ketinggian? Ya lumayan takut sih, tapi tergantung juga, soalnya gue ga punya fobia ketinggian. Kalau ada di roof top gedung kantor kita pas gue lihat ke bawah ya gue takut, takut jatuh. Tapi kalau sampai bereaksi berlebihan kaya pusing gitu enggak sih. Memangnya kenapa?" tanya Lili.
"Gue mau ngajak lu naik itu," ucap Victor sembari menunjuk bianglala.
"Udah lama banget gue ga naik itu," ucap Lili dengan nada pelan sambil memandangi kincir raksasa itu dengan tatapan lekat-lekat. Seakan ada kenangan yang sedang ia nikmati di depan matanya itu.
"Lu keberatan?" tanya Victor dengan pelan mencoba menyadarkan lamunan Lili dengan sangat berhati-hati.
"Enggak. Ga keberakatan. Malah gue seneng banget," ucap Lili sumringah.
"Yuk."
"Ayuk."
Kembali Victor yang membelikan tiket mereka berdua. Tapi, setelah itu mereka harus terlebih dahulu menunggu. Bianglala masih harus berputar untuk para penumpang yang lebih dulu naik. Setelah selesai beberapa putaran baru giliran Lili dan Victor menaikinya.
Tiba giliran Lili dan Victor menaiki biang lala. Lili naik duluan sambil dipegangi oleh Victor. Entah kenapa malam ini Lili begitu membebaskan Victor untuk memanjakannya.
Lili duduk di sebelah kanan pintu dan Victor duduk di sebelah kiri pintu, mereka berhadapan.
__ADS_1
Saat bianglala bergerak sedikit untuk memberi giliran dimasuki penumpang lainnya di kapsul setelah mereka, kapsul Lili dan Victor bergoyang. Lili lantas berpegangan pada pinggiran kapsul yang terbuat dari besi itu.
"Takut?" goda Victor.