Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
62. Tersesat di Hutan (11)


__ADS_3

Perjalanan dengan rakit berjalan menyenangkan.  Sungai itu mengalir tenang, kondisi hari hangat dan indah, rakit semakin mudah dikendalikan dengan dayung.  Mereka bisa membelokkannya ke arah mana pun tanpa banyak kesulitan.  Setelah berakit beberapa lama, Kiki menunjuk pinggir sungai sebelah kiri.


Perjalanan berlanjut.  Lili minta Kiki memperhatikan bahwa ikatan rakit sangat renggang, bisa-bisa mereka kehilangan gelondongan tambahan di kedua sisi rakit.


“Nanti kita berhenti untuk mencari pohon dan membuat pengerat lagi,” kata Kiki.


Tak lama kemudian mereka menjumpai daratan lebar sehingga mudah menarik rakit.  Mereka masuk hutan sementara Lili tetap di rakit.  Di dalam hutan, Kiki memandangi puncak pepohonan.  Dia memilih pohon berukuran besar dengan daun-daun hijau dan kuning.  Kayu yang ditebangnya dengan dua kali tebasan parang, sayang batangnya terlalu kecil karena usia pohon masih sangat muda.  Tak banyak perekat yang bisa mereka peroleh dari kulit kayunya.


“Kalian bawa dulu ke rakit, lalu kembali lagi ke mari,” Kiki memberi instruksi.  “Sementara kalian pergi, dicarinya kayu lain.”


Orang-orang masing-masing memegang satu ujung batang namun segera mereka lepaskan karena tersengat.  Ternyata seluruh pohon dipenuhi semut api.  Mereka berusaha mengusir serangga-serangga itu dari pohon, tapi jumlah mereka terlalu banyak.


“Ceburkan ke air!” teriak salah satunya.  “Cepat lari!  Dasar sialan.”


Mereka langsung berlari menggotong kayu ke sungai sambil menjerit-jerit dan mengumpat.  Lili memandangi dengan heran saat mereka lari melewatinya.


“Semut api!” ada yang berteriak menjelaskan.


Di dalam air pun semut masih menggigit.  Mereka saling bantu menyingkirkannya dari seluruh tubuh.  Arus deras menyapu semua semut dari gelondongan.  Setelah berhasil terbebas dari semut, mereka letakkan batang di dekat rakit.


“Kau saja yang kembali ke hutan,” kata orang.  “Aku dan Lili akan membuat perekat sampai kalian kembali membawa kayu lain.”


Orang itu menurut.  Orang lain dan Lili mulai bekerja.  Mereka menguliti batang kayu menjadi carikan-carikan dengan dua pisau tajam, lalu dengan hati-hati melepaskan serat di bawah kulit kayu.


“Aku sudah menunggu kesempatan bicara berdua saja denganmu,” kata Lili tiba-tiba.  “Kemarin Kiki bilang padaku bahwa dia berpikir untuk membatalkan perjalanan dengan rakit dan kembali dengan berjalan kaki karena sangat beresiko, padahal dia tidak tahu apa-apa soal sungai.  Katanya mau melihat dulu bagaimana perkembangan hari ini sebelum memutuskan kita harus kembali atau terus.”


“Kalau begitu, tentu tak ada masalah,” sahut seseorang. Hari ini kita berhasil mendayung dengan lancar.”


“Betul,” kata Lili setuju.  “Tapi, seandainya Kiki memutuskan kembali…” Lili diam sejenak sebelum melanjutkan.  “... ayo pergi bertiga saja.  Kita pasti bisa tanpa dia.  Kalau Kiki mau kembali, aku tak bisa ikut karena tak sanggup lagi berjalan.  Semakin hari kakiku semakin sakit.  Hampir sepanjang waktu kita kebasahan, kakiku tak pernah kering.  Ruam-ruam sudah menyebar ke semua kaki.  Kita harus meneruskan perjalanan baik bersamanya maupun tidak.”


Ucapan Lili mengejutkan.

__ADS_1


“Jangan sampai masalah itu membuat cemas, Lili.  Cara apapun yang ditempuh, kita jalani berempat.  Menurutku Kiki tak mungkin membatalkannya, tapi seandainya dia memutuskan kembali, kita harus menurut.  Dialah yang paling berpengalaman, kita pasti dapat banyak kesulitan kalau pergi tanpa dia.”


Tepat saat itu seseorang keluar sendirian dari hutan.  “Aku tak bisa menemukan Kiki,” katanya.


“Kalau begitu tunggu saja di sini,” kata seseorang yang lain.


“Jangan!” sergah Lili tiba-tiba.  “Salah satu dari kalian harus mencarinya.  Kiki bukan pembantu kita.  Kalian harus bantu dia.  Kalau kondisi kakiku tidak separah ini, aku sangat tidak keberatan mencarinya.”


“Oke, oke,” kata yang lain.  “Kau tak perlu bertindak, aku saja yang pergi.”


Ditemukannya Kiki sedang menyeret sebatang gelondongan kayu di pasir.  Lili benar, Kiki langsung mengomel.


“Kenapa kau tidak kembali?  Memangnya aku budakmu?  AKu tak keberatan melakukan apapun tapi aku tak sanggup mengerjakannya sendiri.”


“Tadi dia kembali kemari, tapi katanya tak bisa menemukanmu.”


“Alasan macam apa itu?  Seisi hutan bisa dengar aku menebang pohon pakai parang, bagaimana mungkin dia tidak bisa menemukanku?”


Usai mengumpulkan serat kayu dari gelondongan kedua, mereka cepat-cepat mengencangkan ikatan batang tambahan ke rakit utama dan melanjutkan perjalanan.  Rakit mereka sekarang bagus, sayangnya sungai tak lagi tenang.


Lebarnya menyempit, dan tanah lapang di sekitar mereka semakin berbukit-bukit.  Kelokan-kelokan sungai sangat banyak dan hampir tidak bertepian.  Kiki seketika tegang.  Arus menyeret mereka membentur bebatuan dan pinggir-pinggir yang menaik.  Di banyak tempat, arus berwarna putih dan berbuih.


Salah seorang memegang dayung di kiri belakang, sementara yang lain di kanan.  Lili dan Kiki bersebelahan di depan.  Dengan cepat mereka mendekati satu belokan sungai di depan.  Lebih jauh ke depan mereka bisa melihat air berwarna putih dan batu-batu bergerigi setengah terendam yang berserakan di sungai.  Arus sangat kuat, tak mungkin mereka bisa berhenti.


“Kiri! Cepat ke kiri! Dayung kuat-kuat!” teriak Kiki.  “Ayo semua, dayung sekuatnya sama-sama!”


“Kanan!”  Seseorang balas berteriak.  “Kalau ke kiri kita menghantam batu!”


“Tutup mulutmu!” Kiki hampir meledak.  “Kau tidak mengerti.  Ini bukan kayak.  Lakukan yang kusuruh.”


Seseorang cuma berdiri memegangi dayung karena tak tahu harus mendayung ke sebelah mana.  Lili berpaling pada orang itu.

__ADS_1


“Dayung, cepat dayung!” jerit Lili.  “PErhatikan aku dan ikuti.  Dayung yang dalam, seperti ini.  Masukkan dayung ke air seperti ini,” Lili histeris.  Suaranya melengking.


Bebatuan semakin dekat.  Tak mungkin bisa mereka elak.  Gerakan panik mereka saat mendayung sama sekali tidak berguna.  Rakit terhantam kuat sekali sampai miring ke samping, lalu terhempas turun, naik lagi, turun lagi, naik-turun lagi.


Dipejamkannya mata rapat-rapat sambil mencengkeram tali pengikat rakit.  Seseorng mendengar jerit ketakutan Kiki, tapi tak bisa mengangkap kata-katanya.  Orang yang lain membalas teriakan Kiki, tapi ini pun tidak dipahami.


Satu dua menit kemudian semua kembali tenang.  Sungai kini semulus kaca.  Mereka sama-sama mengembuskan ******* lega.  Rakit tidak mengalami kerusakan serius, hanya gelondongan terluar yang kembali agak renggang.


“Aku tak mau lagi mendengar bantahanmu,” kata Kiki terengah-engah.  “Turuti kata-kataku, atau kita batalkan perjalanan.  Jelas?”


“Yah, baiklah, kuturuti kata-katamu,” sahut orang itu untuk menenangkan Kiki.


Lili merapat mendekat.


“Maaf tadi gue meneriaki lu, bro.”  “Soalnya gue lumayan paham soal mendayung.  Gue biasa mendayung sungai, punya banyak pengalaman, jadi gue ingin menunjukkan caranya pada lu.”


“Ga apa-apa.  Tindakanmu benar.  Kau tidak meneriakiku, kok.”


“Jadi, kau tidak marah padaku?”


“Tidak,” sahut orang itu pelan.


Di depan sana mereka bisa melihat satu sungai besar mengalir.


“Itu tempatnya,” Kiki memberi tahu.  “Kita berhenti dulu.”


Air di pertemuan kedua sungai mengalir tenang.  Tak butuh banyak tenaga untuk menarik rakit ke tepi sungai yang berpasir.  Sungai ini sangat lebar.  Warna air biru keperakan, sementara air sungai lain hijau gelap, keduanya membentuk campuran warna yang sangat indah.


“Tempat itu sudah tidak jauh.  Apapun ceritanya, kita tak boleh ke sana.  Tepat itu bisa dibilang ‘kotak’.  Di kedua sisi sungai sama sekali tidak ada daratan, cuma tebing-tebing batu yang terjal.  Yang perlu kita lakukan mulai sekarang adalah berhenti secara berkala lalu jalan kaki beberapa jauh lagi memastikan di depan masih ada tempat perhentian, sehingga kita bisa berhenti sebelum mencapai mulut ngarai.  Kita berhenti di sana.  Nanti dua orang jalan kaki memutarinya.”


Rencana Kiki masuk akal.

__ADS_1


__ADS_2