Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
67. Tersesat di Hutan (16)


__ADS_3

Mereka memanjat bebatuan dan mendekati rakit.  Rian menyuruh Made mengikat dayung supaya tidak terseret arus.  Made memandangi air terjun di kiri mereka.  Air tumpah sejauh sepuluh sampai dua belas kaki.  Ya Tuhan, kenapa Made tidak memilih kembali saja bersama Kiki dan Lili?


Kaki Made gemetar.  Kalau bisa belok kanan, mereka pasti berhasil melewati bagian ini.  Mereka berusaha melepaskan rakit dari batu dengan semua cara yang terpikir, mendorong, menarik, mendayung, mengungkit rakit dengan galah, tapi tak berdaya melawan arus.  Rakit bergeming.


Rian cepat-cepat menilai situasi mereka.


“Kulihat tak banyak peluang arus air bisa membawa keluar dari sini.  Jarak ke pinggir sungai tidak terlalu jauh.  Air terjun ada di kiri kita, jarak ke pinggir sungai sebelah kiri pun tak terlalu jauh juga.  Sungai ini sempit, arusnya luar biasa kuat.  Kau mengerti apa artinya?  Ngarai yang disebut-sebut itu pasti berawal di sini.  Kita pasti sudah dekat sekali ke sungai.  Kalau berhasil mencapai daratan, mungkin sesudahnya kita bisa jalan kaki dengan menyeberangi ngarai lewat darat.”


Rian diam beberapa saat sambil memandang berkeliling sebelum akhirnya membuat keputusan.


“Kita tak punya pilihan.  Akan kucoba pergi ke pinggir kanan.  Setelah aku berhasil, lemparkan parang padaku.  Aku akan ke hutan memotong tanaman merambat, lalu kulemparkan padamu.  Gunakan tanaman itu untuk mengikat semua ransel kita dan mengopernya padaku, setelah itu ikat dirimu supaya kutarik.”


“Jangan ke sana, Rian, terlalu bahaya.  Tunggulah sebentar,” kataku.


Rian tak ragu sedikitpun.  Dilepasnya sepatu dan kaus kaki.


“Aku pasti berhasil, Made,” teriak Rian, lalu menceburkan diri ke sungai.


Kekuatan arus seketika membawanya menjauh.  Sesaat sosoknya hilang, lalu menyembul lagi.  Dia diseret ke batu ke arah hilir, meraih batu untuk berpegangan, dan dari sana berhasil mencapai tepi sungai.


Made hembuskan napas lega, tapi langsung menahan napas karena merasa rakit yang kuinjak bergerak, perlahan-perlahan terlepas dari sekapan batu.


“Rian! Rian! Rakitnya retak!”


Rakit bergeser perlahan.  Rian cepat-cepat berlari ke arah Made.

__ADS_1


“Lemparkan sepatuku cepat!”


Secara otomatis Made menuruti perintah Rian, melemparkan sepatu ke arahnya sekuat tenaga.  Kedua sepatunya mendarat di pinggir sungai yang berbatu-batu.  Sekarang rakit hampir lepas sepenuhnya dan bergerak menuju air terjun.  Seluruh tubuh Made gemetaran saat menatap Rian dengan sorot ngeri sekaligus memohon.  Rian buru-buru memakai sepatunya.


“Lemparkan parang!” teriak Rian.


Pisau besar itu mendesing saat membelah udara, lalu jatuh bergedebuk di tanah.  Rakit terus bergeser.


“Kau meninggalkanku, Rian!”


“Nanti kususul.  Pokoknya pegangan! Cepat pegangan!”


Rakit lepas dari sekapan batu, jatuh tegak lurus ke arah air terjun.  Made bisa merasakan gelombang sungai di bawahnya.  Dicengkeramnya tali kulit sekuat-kuatnya.  Made terhempas ke udara, air yang mengamuk menelan suara jeritannya.


Di tengah-tengah air Made merasa tak berdaya seperti sehelai daun jatuh.  Momen kengerian terus berlanjut, lalu mendadak berakhir disertai bunyi keras.  Rakit membawanya melesak ke bawah permukaan air.  Kegelapan seketika menyelimutinya.  Paru-parunya serasa terbakar.  Made kehabisan udara.


“Tuhan tolong aku.”


Made pikir ini adalah akhir segalanya.  Lalu Made dapati dirinya berada di permukaan air.  Rakit kembali mengapung.  Saat menyentak kepala untuk mengedarkan pandang, terlihatlah Rian berlari mengejar Made dari jarak tidak jauh.  Kelegaan menyelimuti Made.


“Kutunggu kau sesampainya di darat nanti!” teriak Made sambil melambai.


Rian tidak mendengar ucapan Made, tapi ia balas melambai sambil terus berlari.


Mendadak Rian sadar di mana dirinya sekarang.  Made sudah memasuki ngarai, terbanting ke batu, miring ke samping, terlempar ke air terjun, dan disapu arus berbuih.  Mati-matian Made berpegang ke rakit, memejamkan mata sambil berdoa.

__ADS_1


Lalu rakit tenggelam lagi.  Made ikut terbenam, terbanting begitu hebat ke bebatuan sehingga dua kali terlempar ke udara, mendarat di air, ketakutan disiksa keganasan sungai, tersedot ke kedalamannya.


Kalau sampai menghantam batu lagi, tubuhnya pasti hancur berkeping-keping.  Made kehabisan oksigen.  Setelah muncul lagi ke permukaan ternyata gelondongan rakit berada tak jauh darinya.  Made berhasil meraih dan menaikinya.


Tarian kematian berlanjut terus.  Arus air laut luar biasa kuat.  Rakit terseret secepat kilat.  Di sungai itu masih ada tikungan kecil.  Sesudahnya, meski masih jauh, dilihatnya satu gunung batu di tengah air, hampir menghalangi seluruh lebar sungai.


Air menampar-menampar gunung batu disertai gemuruh hebat.  Buih putih bergulung-gulung di kaki tebing terjalan, pusaran gelombang berpuncak buih putih bergulung-gulung di kaki tebing terjal menakutkan itu.  Made yakin pasti gagal melewati gunung batu.


Kubaringkan tubuh di rakit dengan wajah menghadap bagian belakang rakit agar tidak melihat saat kematian mendekat.  Made pejam mata rapat-rapat, mencengkeram tali dengan sisa kekuatan.


Terjadi benturan.  Aku tak merasakan apa-apa, hanya melayang di udara lalu mendarat lagi di air dengan mata masih bisa terpejam rapat.  Tubuh Made tersedot ke air gelap lama sekali.  Bisa dirasakan tekanan di telinga, hidung, dan rongga atanya.  Dada serasa mau meledak.


Sekali lagi, sebentuk tangan tak kasat mata merenggut Made ke luar dari arus dan pada waktu yang tepat menariknya ke permukaan.  Made angkat kepala, terengah-engah mencari udara, sebanyak-banyaknya, sebelum nanti ia kembali terseret ke bawah.


Jauh di belakang sana bisa terlihat gunung batu tadi bergerak mundur.  Sulit dipercaya, ternyata ia berhasil melewatinya.  Tapi, bagaimana caranya?  Made tidak merasakan sakit, juga tidak luka.  Ajaib.


Rakit berada tak jauh di depannya.  Gelondongannya renggang.  Made berhasil naik ke sisa rakit.  Tali kulit sudah putus, jadi Made tak punya apa-apa untuk dijadikan pegangan.  Made harus bisa mencapai rakit penolong.  Ransel penyelamat tak boleh hilang.  Tanpa itu mustahil Made bisa bertahan.


Made melompat ke air.  Dua kayuhan tangan membawanya ke rakit penolong.  Lagi-lagi tubuhnya terbanting ke dinding-dinding ngarai, bedanya kali ini Made tak punya rakit kuat dan lebar untuk melindungi.


Rakit penolong berukuran kecil dan sempit.  Setiap empasan arus membuat rakit ini terangkat dari air.  Sekali lagi ia membentur batu sehingga lututnya luka.  Lebih buruk lagi, ransel penyelamat yang sangat berharga jatuh ke air.  Ia berhasil menyambar ransel tepat sebelum benda itu hanyut, tapi ternyata berat.  Ia takut nanti malah membuatnya tenggelam.


Diikatkannya tali pinggang di ransel ke salah satu gelondongan rakit, berharap benda itu bisa menolong.  Ternyata ia salah.  Satu lagi empasan, satu kali lagi tercebur, ransel berharga pun terangguk-angguk di belakangnya, lepas dari jangkauan.  Ia tak sanggup mengalihkan pandang dari ransel.


“Ransel itu tak boleh hilang,” katanya dalam hati, “apapun resikonya.”

__ADS_1


Made cukup yakin sudah berhasil melewati daerah aliran maut tapi masih di dalam ngarai.  Dinding-dinding batu terjal menjulang di kedua sisi.  Sungai bertambah lebar, arus bertambah pelan, dan ia bisa berenang ke pinggir sungai, tapi ia tak bisa melepaskan ranselnya begitu saja.  Selama masih melihatnya terangguk-angguk menyusulnya diikuti rakit utama, ia tak mau berenang ke darat.


__ADS_2