
Lili join dalam siaran Barista Coffee. Niat Lili hanya sekedar menyimak dan minim interaksi karena ia ingin beristirahat saja.
Namun, ternyata yang ada di dalam siaran tersebut ialah hanya memutarkan lagu-lagu populer. Host tidak berbicara, hanya menyapa melalui typingan-typingan di layar.
"Yah, gimana gue bisa tahu karakter suara orang ini kalau ternyata dia siarannya cuma kaya gini," keluh Lili.
"Yah, tapi ga apa-apa deh. Lagu-lagu yang diputarkan pun ternyata enak untuk didengar. Gue bisa sambil baca novel kalau begini," batin Lili.
------------
Barista Coffee
Apa yang sedang Puan @Anak Ayam lakukan?
Anak Ayam
Hahaha, nanya ngapainnya aja formal banget Host
Barista Coffee
Memang seperti ini saya, Puan
Anak Ayam
Puan... Puan... Gue bukan Puan Maharani, btw
Barista Coffee
Agar lebih sopan bagi saya, Puan
Barista Coffee
Ataukah ada panggilan lain yang Puan inginkan?
Barista Coffee
Seperti 'sayang' misalnya?
Barista Coffee
Ey ey. Bercanda! Bercanda Puan!
Anak Ayam
Ya ampun bercanda ya, kirain betulan
__ADS_1
Anak Ayam
Host, gue boleh parkun ya? Lagu-lagu lu enak, mau gue dengar sambil baca novel
Barista Coffee
Wah, suka novel ya. Genre favoritnya apa?
Anak Ayam
Okelah, silahkan parkun. Selamat mendengarkan ya.
---------
Demikian isi percakapan di layar ponsel via typingan. Ini adalah awal percakapan yang tidak begitu berkesan. Rasa penasaran Lili akan suara si misterius ini tentu saja tidak terbayarkan.
Akhirnya, Lili pun tertidur di sofa dengan headset yang masih terpasang di telinga dan halaman buku yang menutupi wajahnya. Tentu saja siaran si misterius itu pun sudah berakhir.
Di dalam tidurnya, Lili bermimpi. Lili melakukan on mic di sebuah siaran dengan membacakan dialog romansa bersama seseorang. Mereka berdua membacanya secara bergantian selayaknya tengah memainkan sebuah audio drama.
Lili menikmati dialog itu. Namun, ada yang aneh. Suara lelaki yang tengah memainkan dialog itu terdengar begitu mirip dengan suara Kiki.
Lili pun terbangun kemudian. Dilihatnya waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari. Ia pun membenahi buku yang tak selesai ia baca, kabel headset, mematikan aplikasi di ponselnya, juga memindahkan bekas kopi dan makanan dari meja di hadapannya ke dapur.
Lili membersihkan wajah dengan toner di depan meja riasnya dan mengoleskan serum ke wajahnya. Sambil ia memegangi kedua pipinya dengan bercermin, pikiran Lili mengingat apa yang tadi ada di mimpinya.
Lili oun menggeleng lalu membuang sisa-sisa kapas yang digunakannya ke kotak sampah kecil di samping meja riasnya sambil berkata,
"Gue akhir-akhir ini selalu mabuk romansa. Benci banget gue sama hal-hal kaya gitu. Semua itu bulsit!"
Lili lalu beranjak ke kasur. Ia hendak tidur. Namun, baru beberapa detik ia memejamkan mata sambil memiringkan tubuh, ia merasa ada Kiki di hadapannya.
Kini Lili justru terbayang akan kehadiran Kiki yang saat itu menemaninya dikala ia sakit dan bermimpi buruk.
"Puisi Seseorang di Dini Hari. Puisi yang pas banget dengan kenangan gue bareng Kiki. Ki, kenapa sih lu harus jadi cowok suruhan Celine? Semua yang udah ku lakuin udah membekas di hati gue, tahu ga? Gue kecewa kenapa juga gue bisa sebodoh ini, bisa gampang ditipu dengan sikap lu yang seolah-olah tulus itu," keluh Kiki dengan mata yang berkaca-kaca.
Lili pun menutup wajahnya dengan bantal. Ia memaksakan diri untuk kembali tidur, walaupun ada sesuatu di balik bantal itu. Di balik bantal itu ada wajah yang sendu. Di balik wajah yang sendu itu ada hati yang tengah merindu. Di balik hati yang merindu itu juga tersimpan benci yang menggebu.
*
Pagi pun tiba. Lili kembali kepada rutinitasnya mempersiapkan diri untuk bekerja.
Setelah membersihkan apartemen, membersihkan diri dan sarapan, Lili pun bersiap berangkat ke kantor.
TIN TIN...
__ADS_1
Rupanya itu adalah klakson mobil Victor.
Lili yang baru saja keluar dari pintu utama apartemen itu pun jadi memandangi mobil itu. Kaca mobil itu terbuka dan Lili bisa melihat dengan jelas di dalamnya ada Victor sedang melambai kepadanya.
Lili pun menghampirinya.
"Lu mau ngapain di sini, Tor?" tanya Lili melalui kaca mobil yang terbuka itu.
"Jemput elu lah. Kita bareng berangkat ke kantornya, gimana?" tawar Victor.
"Ih, ngapain lu repot-repot ngejemput gue? Lagian tempat tinggal lu kan jauh dari sini?" ucap Lili.
"Justru itu, gue sengaja jauh-jauh ke sini buat bareng sama elu. Ini gue udah terniat banget loh, masa mau lu tolak?" ucap Victor.
Lili terdiam.
"Sesekali kayanya ga apa-apa deh gue bareng Victor. Lumayan juga gue dapat tumpangan gratis. Lagipula sikap doi kan udah baik sekarang sama gue. Gue kayanya ga perlu terlalu khawatir kaya dulu deh," batin Lili.
"Gimana? Daripada lu harus naik bus, mana banyak polusi, lu juga bakal berdesak-desakan, jalan kaki dulu ke halte. Capek kan? Pas sampai di kantor yang ada lu keringatan, yang ada lu nanti malah keburu bau asem," goda Victor.
"Enak aja lu!" protes Lili. Lili oun berjalan memutar dan membuka pintu mobil Victor lalu masuk ke dalamnya.
"Gini-gini gue ga pernah bau badan, tahu!" protes Lili ketika ia sudah menutup duduk di samping Victor dan menutup pintunya.
"Iya, kalau bareng gue dijamin lu ga akan bau badan. Lu tinggal duduk anteng, terima beres, ujug-ujug sampai di kantor. See?" balas Victor.
"Iya, tetap aja walauoun gue ga naik mobil lu, gue itu ga pernah bau badan!" protes Lili.
"Iya deh, Tuan Puteri, iya. Lu itu memang selalu harum. Jadi gimana, kita berangkat sekarang?" ucap Victor ceria.
"Tahun depan! Ya iya dong sekarang. Memangnya lu mau kita telat ke kantornya apa?" ucap Lili.
"Hahaha... Iya, iya, kita berangkat ya. Eh, tapi tunggu..." Victor pun mengambil safety belt dan memasangkannya di samping tubuh Lili sampai knopnya berbunyi 'klik'.
"Victor sekarang sopan gini? Lihat matanya waktu dia masangin safety belt, matanya ga jelalatan. Heran gue, kok dia bisa berubah kaya gini ya?" batin Lili.
"Tor, lu abis kesurupan apa sih?" ucap Lili.
"Hah? Kesurupan? Maksudlu?" Victor heran.
"Ya, sekarang lu beda soalnya," jelas Lili.
"Beda? Beda gimana?" tanya Victor heran.
"Ah, udah, lupain aja. Cus lah berangkat sekarang," ucap Lili.
__ADS_1
"Oh, berubah? Iya, gue berubah. Hahah... Sebenarnya gue ini Ultraman," goda Victor sambil melajukan mobilnya.