Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
38. Puisi Dongeng Romansa


__ADS_3

"Sebenarnya tadi gue niatnya cuma lewat aja. Ya udah gue lewat, terus di ujung jalan sana ada yg jualan makanan kesukaan lu, martabak cokelat keju. Jadi, ya gue beli aja karena gue ingat lu dan gue balik lagi ke sini," ucap Victor.


"Terus pas gue ada di depan apartemen lu, gue dengar gedebak-gedebuk. Firasat gue ga enak, jadi gue terabas masuk aja," jelas Victor.


"Eh, ga tahunya... " lanjut Victor.


Victor lalu mengambil bungkusannya yang ia taruh di meja kecil rak sepatu di luar pintu dan memberikannya kepada Lili.


"Thanks ya, Tor," ucap Lili.


"Iya. Lu istirahat aja baik-baik di sini. Jangan setres, makan yang banyak. Oh iya, riasan di muka lu itu nyeremin, saran gue elu mandi dulu sana. Pakai air hangat biar capek lu ilang. Gue mau pamit," ucap Victor.


Memang harusnya seperti itu. Victor memang sudah seharusnya cepat pulang. Ia tidak mungkin memunculkan kesan mesum seperti Kiki tadi terhadap Lili. Victor cukup memberikan perhatiannya saja kepada Lili lalu ia pulang.


Lili sedikit heran. Mengapa sikap Kiki berbalik menjadi tidak baik dan justru kini Victor yang sikapnya berbalik menjadi baik? Tidak habis pikir bagi Lili. Keduanya sama-sama mencintai Lili, tapi juga keduanya sama-sama tidak diinginkan Lili.


*


Usai melakukan semua aktivitasnya, ia hendak beristirahat malam ini. Ponselnya di-non-aktifkan. Ia benar-benar ingin bebas dari gangguan siapapun. Hari ini sudah cukup memberatkan tubuh dan pikirannya.


Lili memandangi rembulan melalui kaca jendela yang ia buka, sambil memegang cangkir berisi coffee latte kesukaannya. Seluruh tubuhnya sudah lelah, tapi pikirannya belum mengijinkannya untuk tidur.


Lili berbicara kepada rembulan yang terang sempurna itu.


"Woy, botak. Lu bisa dengerin gue gak?"


"Gue lagi kosplay orang gila jadi gue pingin ngobrol sama elu, bul," lanjut Lili.


"Kenapa hidup gue kaya gini sih, bul? Rame banget orang yang mengelilingi gue, tapi semuanya prik."


"Mungkin enak kali ya jadi elu. Ga ada yang gangguin elu. Mau lu redup, cuma setengah, sabit, purnama kaya sekarang, atau gerhana, lu tetap aja enjoy di atas sana. Sendirian."


"Sementara gue... Hahaha... Ada yang bilang gue adalah pembawa sial. Orang-orang yang tulis mencintai gue malah pada meninggal. Kasihan ya mereka."


"Dan sekarang giliran gue naksir sama seseorang, eh dia malah sosok hoax. Dia cuma cowo bayaran yang disuruh ngedeketin gue, bul. Hahaha... Tahi banget."


"Sementara satu lagi yang tadi udah jadi orang sok pahlawan yang datang ala-ala James Bond, gue masih belum percaya kalau dia benar-benar baik. Dari awal gue kenal dia, gue empet banget sama dia."


Lili mencurahkan isi hatinya kepada bulan yang sedang purnama itu. Tanpa diketahuinya, ada dua orang insan lain dari masing-masing tempatnya tengah memandang bulan yang sama. Ialah Kiki dan Victor.


Lelah dengan monolognya, Lili pun beralih dari bulan kepada kertas. Lili duduk di depan meja bersama kertas dan pena. Ia menuliskan sebuah puisi tentang percintaan yang membuatnya kecewa.


*


Dongeng Romansa ◕


Tersenyumlah sayang


Kau tak semestinya sendu


Ataukah ini memang kesukaanmu?

__ADS_1


Mencandu luka agar tetap hidup dan tetap merasa?


Itu terserah saja kalau kesukaanmu memang begitu


Tapi apabila kamu membencinya, ijinkanku menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur untukmu


Mungkin saja kamu sedang begitu lelah dan butuh untuk merebah namun tak kian lelap


Sayang,


Dengarkah kau akan kicau-kicau burung itu?


Simaklah


Mereka merdu bukan?


Apakah kau menikmati nyanyian mereka?


Apakah kau dirasuki romansa yang membawa berkantung-kantung nostalgia oleh karenanya?


Ya, mereka indah bukan?


Semua yang kau dengar merdu dan membuat syahdu itu tak benar-benar berarti mereka sedang berbahagia


Mereka riuh satu sama lainnya


Bukan karena nyanyian ramah tamah antar mereka


Semacam suara-suara mengancam agar tak saling berebut tempat dan makanan


Bagaimana hal yang semencekam itu bisa membuatmu syahdu?


Begitu pula dengan romansa cinta, Sayang


Mereka adalah anak-anak dari rasa para indera yang jelalatan mencari warna, mencari rasa, mencari suara


Mereka menculik keindahan-keindahan dan mengurungnya di dalam kepalamu


Hipotalamus yang pendusta memberi definisi-definisi sesat


Membuat syaraf-syaraf berdansa


Sehingga dopamin bertunggang pada adrenalin membuat semacam sabda yang memperdaya


Kau menyebutnya itu jatuh cinta


Kalau sudah begitu


Apa yang kemudiannya terjadi maka menjadi pilihanmu


Apakah kau mau terus ditipu dengan lukisan abstrak buatan orang dungu yang sok nyastra

__ADS_1


Lantas membingkainya baik-baik di hati kecilmu yang nantinya ternoda?


Ataukah


Kau akan mendekamnya di dalam jeruji amigdala


Melepas-liarkan emosi-emosi yang menyuramkan sebagian besar umurmu


Mencegahmu dari kesurupan hantu-hantu romansa


Sehingga kau bebas healing-healing ke berbagai tempat yang kau suka?


Sebuah dongeng yang cukup memperkeruh udara di telingamu


Sebuah dongeng yang bebas kau namai


Apakah ia adalah legenda usang yang membosankan


Ataukah bulir-bulir kristal milik peri-peri yang berkilauan


Menyilaukanmu


Membuatmu membuka mata atau justru menutupnya dengan serta merta


~WeyLi


*


Puisi tersebut menjadi tanda bahwa ia tak sedang benar-benar mempercayai cinta.


Lili mencoba membaca sendiri puisinya. Ia mengikuti cara membaca puisi orang-orang yang memposting konten puisi di media online. Lili melakukannya sambil merekam suaranya itu.


Setelah selesai merekam suaranya sendiri, ia pun mendengarkannya.


"Lumayan juga. Kayanya gue berbakat deh baca-baca puisi kaya Arjuna. Duh, jadi keinget sama Arjuna," ucap Lili.


Lili pun melanjutkan rekaman suaranya itu dengan menempelkan instrumen pengiring.


Setelah didengar-dengar ulang, Lili pikir hasil rekamannya sudah cukup bagus untuk dijadikan konten.


"Kenapa gue ga jadi pembaca puisi kaya Arjuna aja? Kan seru juga tuh. Soalnya suara gue kan merdu, lumayanlah," batin Lili.


"Hoaaam... Tapi berhubung gue udah mulai mengantuk, mending sekarang gue tidur aja dulu. Terus terserah besok deh, mau siaran puisi kek, atau sekedar ngirim-ngirim tulisan dulu ke penyiar, yah lihat besok aja," lanjutnya.


Ternyata kopi latte yang diteguknya tidak memberikan efek yang signifikan untuk membuatnya tetap terjaga. Lili merasa mengantuk.


Mungkin karena ia sudah mengeluarkan energinya ketika menulis puisi tadi. Tapi, selain itu tidak dapat ditampik bahwa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan dan menguras emosi. Sudah sepatutnya Lili beristirahat, sudah sepatutnya ia merasa mengantuk dan lelah.


Sebelum menutup mata, Lili memandangi langit-langit kamarnya.


"Seandainya gue bisa lari dari semua ini. Seandainya ada seseorang atau sesuatu yang membawa gue pergi, kabur, pergi sejauh-jauhnya dari semua situasi ini."

__ADS_1


__ADS_2