
"Sebenarnya tadi gue niatnya cuma lewat aja. Ya udah gue lewat, terus di ujung jalan sana ada yg jualan makanan kesukaan lu, martabak cokelat keju. Jadi, ya gue beli aja karena gue ingat lu dan gue balik lagi ke sini," ucap Victor.
"Terus pas gue ada di depan apartemen lu, gue dengar gedebak-gedebuk. Firasat gue ga enak, jadi gue terabas masuk aja," jelas Victor.
"Eh, ga tahunya... " lanjut Victor.
Victor lalu mengambil bungkusannya yang ia taruh di meja kecil rak sepatu di luar pintu dan memberikannya kepada Lili.
"Thanks ya, Tor," ucap Lili.
"Iya. Lu istirahat aja baik-baik di sini. Jangan setres, makan yang banyak. Oh iya, riasan di muka lu itu nyeremin, saran gue elu mandi dulu sana. Pakai air hangat biar capek lu ilang. Gue mau pamit," ucap Victor.
Memang harusnya seperti itu. Victor memang sudah seharusnya cepat pulang. Ia tidak mungkin memunculkan kesan mesum seperti Kiki tadi terhadap Lili. Victor cukup memberikan perhatiannya saja kepada Lili lalu ia pulang.
Lili sedikit heran. Mengapa sikap Kiki berbalik menjadi tidak baik dan justru kini Victor yang sikapnya berbalik menjadi baik? Tidak habis pikir bagi Lili. Keduanya sama-sama mencintai Lili, tapi juga keduanya sama-sama tidak diinginkan Lili.
*
Usai melakukan semua aktivitasnya, ia hendak beristirahat malam ini. Ponselnya di-non-aktifkan. Ia benar-benar ingin bebas dari gangguan siapapun. Hari ini sudah cukup memberatkan tubuh dan pikirannya.
Lili memandangi rembulan melalui kaca jendela yang ia buka, sambil memegang cangkir berisi coffee latte kesukaannya. Seluruh tubuhnya sudah lelah, tapi pikirannya belum mengijinkannya untuk tidur.
Lili berbicara kepada rembulan yang terang sempurna itu.
"Woy, botak. Lu bisa dengerin gue gak?"
"Gue lagi kosplay orang gila jadi gue pingin ngobrol sama elu, bul," lanjut Lili.
"Kenapa hidup gue kaya gini sih, bul? Rame banget orang yang mengelilingi gue, tapi semuanya prik."
"Mungkin enak kali ya jadi elu. Ga ada yang gangguin elu. Mau lu redup, cuma setengah, sabit, purnama kaya sekarang, atau gerhana, lu tetap aja enjoy di atas sana. Sendirian."
"Sementara gue... Hahaha... Ada yang bilang gue adalah pembawa sial. Orang-orang yang tulis mencintai gue malah pada meninggal. Kasihan ya mereka."
"Dan sekarang giliran gue naksir sama seseorang, eh dia malah sosok hoax. Dia cuma cowo bayaran yang disuruh ngedeketin gue, bul. Hahaha... Tahi banget."
"Sementara satu lagi yang tadi udah jadi orang sok pahlawan yang datang ala-ala James Bond, gue masih belum percaya kalau dia benar-benar baik. Dari awal gue kenal dia, gue empet banget sama dia."
Lili mencurahkan isi hatinya kepada bulan yang sedang purnama itu. Tanpa diketahuinya, ada dua orang insan lain dari masing-masing tempatnya tengah memandang bulan yang sama. Ialah Kiki dan Victor.
Lelah dengan monolognya, Lili pun beralih dari bulan kepada kertas. Lili duduk di depan meja bersama kertas dan pena. Ia menuliskan sebuah puisi tentang percintaan yang membuatnya kecewa.
*
Dongeng Romansa ◕
Tersenyumlah sayang
Kau tak semestinya sendu
Ataukah ini memang kesukaanmu?
__ADS_1
Mencandu luka agar tetap hidup dan tetap merasa?
Itu terserah saja kalau kesukaanmu memang begitu
Tapi apabila kamu membencinya, ijinkanku menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur untukmu
Mungkin saja kamu sedang begitu lelah dan butuh untuk merebah namun tak kian lelap
Sayang,
Dengarkah kau akan kicau-kicau burung itu?
Simaklah
Mereka merdu bukan?
Apakah kau menikmati nyanyian mereka?
Apakah kau dirasuki romansa yang membawa berkantung-kantung nostalgia oleh karenanya?
Ya, mereka indah bukan?
Semua yang kau dengar merdu dan membuat syahdu itu tak benar-benar berarti mereka sedang berbahagia
Mereka riuh satu sama lainnya
Bukan karena nyanyian ramah tamah antar mereka
Semacam suara-suara mengancam agar tak saling berebut tempat dan makanan
Bagaimana hal yang semencekam itu bisa membuatmu syahdu?
Begitu pula dengan romansa cinta, Sayang
Mereka adalah anak-anak dari rasa para indera yang jelalatan mencari warna, mencari rasa, mencari suara
Mereka menculik keindahan-keindahan dan mengurungnya di dalam kepalamu
Hipotalamus yang pendusta memberi definisi-definisi sesat
Membuat syaraf-syaraf berdansa
Sehingga dopamin bertunggang pada adrenalin membuat semacam sabda yang memperdaya
Kau menyebutnya itu jatuh cinta
Kalau sudah begitu
Apa yang kemudiannya terjadi maka menjadi pilihanmu
Apakah kau mau terus ditipu dengan lukisan abstrak buatan orang dungu yang sok nyastra
__ADS_1
Lantas membingkainya baik-baik di hati kecilmu yang nantinya ternoda?
Ataukah
Kau akan mendekamnya di dalam jeruji amigdala
Melepas-liarkan emosi-emosi yang menyuramkan sebagian besar umurmu
Mencegahmu dari kesurupan hantu-hantu romansa
Sehingga kau bebas healing-healing ke berbagai tempat yang kau suka?
Sebuah dongeng yang cukup memperkeruh udara di telingamu
Sebuah dongeng yang bebas kau namai
Apakah ia adalah legenda usang yang membosankan
Ataukah bulir-bulir kristal milik peri-peri yang berkilauan
Menyilaukanmu
Membuatmu membuka mata atau justru menutupnya dengan serta merta
~WeyLi
*
Puisi tersebut menjadi tanda bahwa ia tak sedang benar-benar mempercayai cinta.
Lili mencoba membaca sendiri puisinya. Ia mengikuti cara membaca puisi orang-orang yang memposting konten puisi di media online. Lili melakukannya sambil merekam suaranya itu.
Setelah selesai merekam suaranya sendiri, ia pun mendengarkannya.
"Lumayan juga. Kayanya gue berbakat deh baca-baca puisi kaya Arjuna. Duh, jadi keinget sama Arjuna," ucap Lili.
Lili pun melanjutkan rekaman suaranya itu dengan menempelkan instrumen pengiring.
Setelah didengar-dengar ulang, Lili pikir hasil rekamannya sudah cukup bagus untuk dijadikan konten.
"Kenapa gue ga jadi pembaca puisi kaya Arjuna aja? Kan seru juga tuh. Soalnya suara gue kan merdu, lumayanlah," batin Lili.
"Hoaaam... Tapi berhubung gue udah mulai mengantuk, mending sekarang gue tidur aja dulu. Terus terserah besok deh, mau siaran puisi kek, atau sekedar ngirim-ngirim tulisan dulu ke penyiar, yah lihat besok aja," lanjutnya.
Ternyata kopi latte yang diteguknya tidak memberikan efek yang signifikan untuk membuatnya tetap terjaga. Lili merasa mengantuk.
Mungkin karena ia sudah mengeluarkan energinya ketika menulis puisi tadi. Tapi, selain itu tidak dapat ditampik bahwa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan dan menguras emosi. Sudah sepatutnya Lili beristirahat, sudah sepatutnya ia merasa mengantuk dan lelah.
Sebelum menutup mata, Lili memandangi langit-langit kamarnya.
"Seandainya gue bisa lari dari semua ini. Seandainya ada seseorang atau sesuatu yang membawa gue pergi, kabur, pergi sejauh-jauhnya dari semua situasi ini."
__ADS_1