
"Ki, lu mau gue kasih tahu sebuah rahasia besar ga?"
Sebuah pertanyaan yang membuat bulu kuduk Kiki merinding. Bukan karena sebuah rahasia besar yang akan Lili sampaikan kepadanya, melainkan karena Kiki takut apabila dirinya juga dituntut untuk mempercayakan rahasianya kepada Lili.
"Emh... Apa kamu benar-benar mau menceritakannya pada saya?" tanya Kiki.
"Ya jelaslah," tegas Lili. Lili pun menghapus air matanya. Ia begitu bersemangat untuk menceritakan sesuatu.
"Sebentar. Eh, gimana gimana? Maksud lu gue cuma bakal ngasih kata pengantar dan ga benar-benar cerita gitu?" balas Lili.
"Maksud saya, kalau itu urusan yang ga terlalu urgen buat diceritain ya ga apa-apa, Mbak, ga usah diceritain aja," ucap Kiki.
"Iss... Tumben lu masa bodo sama masalah gue," ucap Lili kecewa.
"Bukan masa bodo, loh Mbak. Saya cuma sedang menjaga kepercayaan Mbak kepada saya aja. Jangan sampai suatu saat Mbak mencurigai saya karena saya ikut menyimpan sebuah rahasia besar kamu," jelas Kiki.
"Mencurigai kenapa? Oh, lu menganggap diri lu itu suatu saat bakal khilaf dan ember, gitu? Ya, menurut gue soal rahasia ini mau lu sebarin ke media juga ga masalah di gue," ucap Lili.
"Kalau begitu ini bukan jadi rahasia lagi dong?" tanya Kiki.
"Iya, sebab kasusnya sebentar lagi akan sengaja diungkap," jawab Lili.
"Ini kenapa jadi ribet amat ya. Orang mau cerita aja kata pengantarnya panjang banget," gerutu Lili.
Kiki tergelitik dengan sikap lucu Lili. Di balik usianya yang lebih senior ternyata terdapat hal yang dirasa imut bagi Kiki.
Lili yang awalnya begitu terlihat sempurna, pandai mengatur dan sangat sistematis bisa berubah menjadi sosok yang random. Moodnya begitu mudah berubah. Tadinya ia begitu sedih, lalu tiba-tiba jadi kesal, lalu tiba-tiba jadi pendiam dan tidak nafsu makan, kemudian jadi sangat rakus dan bersemangat untuk mengobrol.
Kiki memandangi wajah Lili sambil senyum-senyum sendiri.
"Dasar Lili yang menggemaskan," batin Kiki.
"Hei, lu dengerin gue ngomong ga?" tanya Lili sambil menjentik-jentikkan jarinya di depan wajah Kiki.
"Hah? Iya iya tadi saya dengar kok," jawab Kiki.
"Ah yang benar? Memangnya gue ngomong apa barusan?" tanya Lili.
"Ngomongin... emh... Anu... Soal rahasia itu kan, yang mau bikin kasusnya diungkap?" jawab Kiki.
"Aduh, saya ngomong apaan sih ini? Mana saya ga nyimak kan tadi, jadi mana saya tahu dia ngomong apa," batin Kiki.
__ADS_1
"Nah iya, itu. Jadi, tadi Celine bilang begitu. Gue sih ga habis pikir ya, kok bisa... Secara Celine itu kan tenaga pendidik profesional gitu. Kok bisa alur berpikirnya ga logis begitu!" lanjut Lili.
"Oh, ternyata Lili lagi menceritakan omongan Celine di kantor polisi tadi. Jadi itu rahasia besarnya. Kalau itu sih saya juga sudah menyimak tadi," batin Kiki.
"Terus, kira-kira apa Mbak Celine bisa lolos dari jerat hukum nantinya?" tanya Kiki.
"Barang buktinya udah kuat banget, Ki. Yang polisi tunggu itu tinggal kronologinya aja. Kalau Celine mau mengaku dan jujur menceritakan semuanya mungkin masa tahanan Celine bakal dikurangi," ucap Lili.
"Ada kemungkinan begitu?" tanya Kiki.
"Gue tebak sih enggak. Kayanya Celine bakal bungkam atau berbohong. Gue lihat sesuatu yang berbeda di dirinya tadi. Kaya bukan Celine. Apalagi pas dia teriak-teriak ga jelas gitu. Kayanya dia memang udah kena mentalnya deh," jawab Lili.
"Semuanya gara-gara cinta. Orang bisa tiba-tiba berubah gara-gara cinta. Kaya saya juga sih Mbak. Saya rasa saya berubah menjadi lebih baik setelah saya mengenal kamu, Mbak," ucap Kiki.
Lili terdiam sejenak.
"Kalau itu gue no komen," jawab Lili kemudian.
"Apa kamu mau saya berubah jadi gila gara-gara terlalu mencintaimu, Mbak?" ucap Kiki.
"Heh! Ngomong apa sih? Oh, lu lagi ngancam gue? Kalau cinta lu gue tolak lu mau jadi pesikopat kaya Celine? Gitu?" tanya Lili.
"Ya jangan pesikopat juga sih Mbak. Ngeri amat," protes Kiki.
"Ya gila gila yang lain lah. Jangan gila jadi pesikopat. Misalnya gila makan, gitu. Dari yang ga selera makan jadi rakus, gila makan es krim sampai seember," goda Kiki.
"Ih, lu nyindir gue ya? Awas lu ya. Nih, gue buat elu jadi gila makan juga nih," ucap Lili yang langsung menyuapi Kiki dengan bersendok-sendok es krim tanpa jeda.
Mulut Kiki dipenuhi es krim, tapi ia menahan diri untuk tertawa. Sedangkan Lili, ia sudah lebih dahulu tertawa lepas melihat kacaunya wajah Kiki karena disumpali es krim.
Suasana ceria pun tercipta di antara mereka. Tidak ada lagi sedih. Sekarang berganti dua orang insan yang sedang asik bercanda.
Bahkan, beberapa orang yang ada di sana ikut tersenyum melihat Lili dan Kiki. Suasana bahagia dan penuh cinta bisa sama-sama dirasakan oleh mereka yang melihatnya.
*
Waktu semakin larut. Kiki pun mengantar Lili pulang. Kali ini sudah tidak ada lagi rasa segan Lili untuk memeluk erat tubuh Kiki di atas motor.
"KI, JANGAN KEBUT-KEBUT!"
"KENAPA? TAKUT JATUH?" Lalu, Kiki pun mengurangi kecepatan laju motornya.
__ADS_1
"Ga cuma itu," lanjut Lili.
"Terus? Kenapa?"
"Gue kedinginan kena angin kenceng."
"Oh, kalau itu mau ngebut atau pelan suasana malam memang bakal sama-sama bikin kedinginan," jelas Kiki. Kiki pun kembali melajukan motornya dengan kencang.
"KOK MALAH NGEBUT LAGI?"
"BIAR CEPAT SAMPAI."
Beberapa waktu kemudian mereka pun sampai di apartemen Lili. Setelah memarkir motornya, Kiki ikut mengantar Lili sampai ke dalam.
"Gila, kedinginan banget gue, Ki," ucap Lili setelah mereka berada di dalam apartemen.
"Ya udah, kamu mandi air hangat aja sana. Biar aku panaskan makanan ini," ucap Kiki.
Bagi Lili, kehilangan sosok sahabat, yaitu Celine kini tidak terlalu terasa pilu lagi. Ada Kiki yang seharian menemaninya. Bahkan tidak hanya seharian tapi sejak berminggu-minggu yang lalu.
Sambil merasakan guyuran air hangat pada shower, Lili senyum-senyum sendiri.
"Ni anak ternyata asik juga," batinnya.
Setelah mandi, Lili pun mendapati beberapa piring seafood sudah tersaji di meja. Aromanya begitu nikmat dan semua masih panas. Cocok untuk menghangatkan perut.
"Mantep banget ini. Ternyata banyak juga ya yang dibeli," ucap Lili sambil menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya.
"Iya, silahkan Tuan Putri," ucap Kiki.
"Yah, kalau gue sendirian yang ngabisin semua ini sih mana gue sanggup. Lu makan juga lah Ki," ucap Lili.
"Oh, jadi boleh?" tanya Kiki.
"Lah? Oh jadi lu laper tapi malu gitu?" goda Lili.
"Astagaaa... Hahaha... "
Lagi-lagi keceriaan pun terbangun di antara mereka.
Beberapa waktu berlalu, ternyata waktu sudah sangat larut malam.
__ADS_1
"Lu kalau mau nginap di sini ga apa-apa Ki. Daripada lu kena begal. Soalnya motor lu itu mencolok banget," ucap Lili.