
Setelah Kiki selesai bercerita, seluruh tubuh Lili merinding tapi sangat bergairah ingin merasakan pengalaman itu. Kemudian, itu menjadi pengantar tidur yang jitu bagi Lili dan Kiki.
Saat membuka mata keesokannya, Lili melihat Kiki kembali mengulangi pekerjaan yang ia lakukan di pagi hari sebelumnya. Kiki menyalakan kembali api yang mulai padam lalu menyiapkan sarapan mereka. Kiki tak pernah membangunkan Lili untuk membantunya. Ia mengurus Lili seolah Lili adalah seorang anak kecil.
Dalam beberapa menit mereka sudah dapat menikmati sarapan. Sisa dari hasil buruan kemarin. Sebelum-sebelumnya Lili selalu mengeluh bahwa ia benci makanan lembek berair, tapi keluhan itu tidak menghentikannya, ia tetap menghabiskannya.
Lili dan Kiki berangkat kembali. Kiki memimpin dengan langkah cepat. Lili mengagumi ketangguhannya.
Lili dan Kiki menjelajah hutan, berjalan melewati daerah kasar tak kurang dari sepuluh jam setiap hari, mengarungi sungai, menjejak lumpur, berjuang menerobos pepohonan.
“Hati-hati, di sini ada semak berduri,” ucap Kiki. “Hati-hati, jangan sampai kamu tergores ranting yang mencuat itu.”
Itu kan konyol sekali. Kiki yang duluan berjalan maka ia yang merasakan terhantam dahan atau tergores.
Selama perjalanan mereka di hari itu, hutan tersebut menjadi semakin sempit. Saat mendekati daerah berbukit-bukit, tubuh mereka sudah lebih dari sekedar berkeringat. Cuaca sangat terik. Ribuan kupu-kupu berwarna cerah, kuning, oranye, biru, hijau, ungu, hinggap atau melayang-melayang dekat permukaan pasir.
Sayap mereka berkepak-kepak. Atas permintaan Lili, Kiki berjalan lurus ke tengah-tengah hewan-hewan itu. Sangat indah ketika mereka beterbangan.
Kupu-kupu beterbangan. Kiki terbungkus awan warna. Pemandangan yang luar biasa memukau. Lili menemukan seekor kupu-kupu sedang menghangatkan diri di sebuah batu. Lili membungkuk tanpa suara dan memperhatikannya sambil tersenyum. Kupu-kupu ini memiliki sayap tembus pandang dipadu garis-garis kuning.
Kiki membungkuk saat berjalan, matanya tertuju ke tanah. Lili pikir dia mencari kupu-kupu, tapi ia berkata, “Lihat, jejak tapir. Induk dan satu anak. Ini menjelaskan banyaknya kupu-kupu di sini. Kedua hewan itu pasti turun untuk minum dari sungai, lalu kencing di pasir. Kupu-kupu ini mengincar mineral di urine mereka.”
Mereka kemudian mulai mendaki. Tak lama mereka banjir keringat. Saat melihat satu buah hijau besar dekat kaki Lili, Lili berteriak memanggil Kiki. Kiki senang melihat temuan Lili. Itu adalah buah apel hutan.
“Ayo kita cari pohonnya,” ucap Kiki.
Tak berapa lama mereka menemukan pohon yang dimaksud. Ternyata buahnya terlalu tinggi sementara batangnya terlalu licin untuk dipanjat.
__ADS_1
“Kita tebang saja,” ucap Lili.
Kiki langsung menunjukkan sikap berseberangannya. Menurutnya sama sekali tidak betul kalau membunuh pohon hanya untuk mendapatkan buahnya.
“Bagaimana dengan makhluk hidup lainnya yang kebetulan lewat sini dan butuh makanan juga?”
“Sekarang kita ada di sini,” sahut Lili, “dan kita kelaparan.”
Kiki dengan sabar memotong batang pohon itu dengan batu bertepian tajam seperti parang. Sekejap kemudian pohon pun tumbang diiringi bunyi bergemuruh, sambil mematahkan dahan-dahan pohon di sebelahnya.
Mereka pun menerkam buahnya dan berhasil mengumpulkan lumayan berjumlah banyak. Tapi, ternyata tak satu buah pun bisa dimakan karena semua masih hijau dan bagian dalamnya keras. Menurut Lili tetap bisa membawa buah-buah itu dan memakannya nanti, tapi Kiki menentangnya. Beban saat membawanya tidak sepadan dengan upahnya.
Mendaki lereng gunung yang curam menghabiskan lima jam melelahkan yang terasa sangat lama. Kiki memperlihatkan bagaimana mendapatkan air dari tunas bambu yang tumbuh melimpah di gunung. Di antara sambungan batang bambu biasanya terbentuk sedikit cadangan air yang aman diminum. Dia menebas satu tunas dengan batu tajam itu. Air pun mengalir.
Mereka harus istirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Lili sandarkan punggung yang pegal ke salah satu batang bambu, namun benda itu tak sanggup menahan berat Lili sehingga ia terjengkang ke belakang. Duri-duri besar dan panjang mencuat di antara batang-batang bambu. Saat jatuh tangan Lili menghantam salah satunya sampai menancap sedalam lebih dari setengah inci di pergelangan tangan.
Mereka cepat-cepat turun gunung. Jalan turun securam jalan naik. Rupanya Kiki memang tahu arah, setelah mencapai permukaan yang rata, mereka betul-betul menjumpai aliran air yang sempit.
Mereka mengarungi aliran ini. Sedikit demi sedikit arusnya semakin cepat. Pemandangannya sangat memukau sehingga mereka menyempatkan diri berdiam dan menikmatinya.
Saat tiba dekat satu belokan sungai, mereka mengagetkan seekor kukang kecil pemalas yang sedang minum. Dia terlalu lamban untuk lari. Kiki yang pertama melihatnya. Dia berlari mengejar kukang itu sambil berteriak gembira, “KITA MAKAN LAGI.”
Tanpa rasa takut Kiki menyambar tengkuk si kukang dan mengangkatnya. Hewan itu menampar-nampar tangan Kiki dengan kikuk namun hanya menghantam udara.
“Sayang sekali kalau disia-siakan,” kata Kiki selama Lili memandangi dengan tatapan gemas.
Kiki melemparkan kukang itu ke tanah, mengeluarkan parang batunya dari ikat pinggang dan mengangkatnya ke atas kepala. Lili memalingkan wajah karena ngeri. Kiki menetakkan parang batunya ke tengkuk kukang. Hewan itu pun mengembuskan napas terakhir.
__ADS_1
“Akhirnya kita dapat hewan buruan,” ucap Kiki bangga sambil mengikatkan bangkai kukang.
Belum satu jam, mereka mendengar pekikan-pekikan nyaring. “Sssh, sshh.”
“Ada monyet datang ke arah sini,” ucap Kiki.
Satu keluarga monyet hitam muncul di puncak pepohonan. Mereka berayun dari pohon ke pohon seperti main akrobat.
Kiki melempar-lempar mereka. Seekor monyet berdebam menghantam tanah. Kiki berlari mendatangi dan kembali melemparnya dari jarak dekat. Monyet itu mengeluarkan suara tersedak. Kiki menghantamkan kayu ke kepala monyet sampai buruannya bergeming.
“Monyet yang terluka bisa sangat ganas,” ucap Kiki.
Monyet itu masih kecil.
Kiki mengusulkan agar mereka membuat tempat istirahat lagi, semacam tenda lagi. Hari belum gelap, namun pekerjaan yang menanti sangat banyak. Hewan-hewan ini harus dibersihkan sebelum dimasak. Mereka memilih tanah yang tinggi dan kering.
Lili tidak bisa ikut bekerja karena tangannya terluka, jadi hanya duduk menonton Kiki membangun tenda primitif.
Setelah tenda primitif itu berdiri, Kiki mulai menguliti kukang. Ini tugas sulit karena pisaunya tidak cukup tajam. Bukan pisau sebenarnya tapi batu bertepian tajam. Mengurus monyet lebih mudah. Kiki melemparkan hewan itu ke api dalam keadaan utuh, bulu-bulunya segera terbakar.
Sungguh pemandangan menjijikan, wajah monyet mengerut, gigi dan tulang hidungnya sangat putih, rongga matanya menyeramkan, kedua tangan dan kakinya mirip manusia.
Lili tak sanggup berdiri dan menyaksikan. Kiki segera membungkuk dekat sungai untuk membersihkan isi perut kukang dan dengan cermat membersihkan karkas. Lili bantu ia memotong-motong daging kukang. Kiki menusuk daging kukang dengan batangan hijau seperti ranting lalu menyusunnya dekat api.
“Makan malam kita kukang. Daging monyet nanti kita asapi untuk dibawa,” kata Kiki.
Usai makan malam Kiki mengikat satu bentuk kubah kecil dari dahan-dahan hijau di dekat api dan menyusun potongan-potongan daging monyet di dalam, kaki, tangan, badan, kepala, dan ekor.
__ADS_1
“Kita asapi semalaman, jadi besok pagi sudah enak dan kering,” ucap Kiki.