
Lili jadi ragu-ragu. Lili memang sudah setuju untuk kembali, tapi kata-kata orang ini membangkitkan semangat petualangnya.
“Kita pasti bisa,” ujar orang itu. “Kita pergi berdua saja.”
Seperti janji Kiki, sejauh ini liburan mereka di titik pertemuan dua sungai adalah bagian terbaik seluruh perjalanan. Mereka menikmati cuaca yang luar biasa jernih. Saat itu akhir November. Awal Desember, biasanya musim hujan datang dengan kekuatan penuh.
“Ada satu lagi alasan bagus kenapa kita harus kembali,” kata Kiki mengotot. “Coba bayangkan seperti apa kondisinya kalau kita terjebak hujan badai. Selain tidak menyenangkan, juga berbahaya. Sungai meluap sampai ke tepi, arus semakin kuat. Aku kaget kita bisa menikmati cuaca sebagus ini.”
Pagi kedua berkemah di tempat piknik sementara, Lili dan Kiki membawa senapan dan parang untuk berburu.
“Kita jalan sedikit melewati perbatasan,” usul Kiki. “Daerahnya kelihatan sebagus tempat lain. Kita bisa sekaligus melihat-lihat jalan setapak yang akan kita tempuh nanti.”
Mereka berjalan kaki ke hulu sekitar satu jam dengan menerobos hutan. mereka tak melihat bekas tebasan parang maupun dahan patah, sehingga bisa menyimpulkan belum pernah satu manusia pun melewati tempat ini. Sekonyong-konyong mereka mendengar raungan keras.
“Macan! Macan!” teriak Kiki.
Lili edarkan pandang dengan perasaan sangat ketakutan. Ia tak melihat apa-apa, tapi raungan semakin keras, disusul suara-suara lain yang tak kurang ganasnya dalam bentuk bentakan.
“Bukan macan,” kata Kiki berubah pikiran. “Itu monyet besar yang suka menjerit-jerit. Raungan mereka memang sangat mirip macan. Lihat ke atas pohon.”
Lili menengadah. Satu keluarga monyet berukuran sangat besar sedang memandangi penuh curiga dan meneriaki mereka.
“Daging mereka tidak seenak monyet hitam, tapi lumayanlah,” kata Kiki. “Yuk kita tembak satu.”
Tembakannya meleset, padahal dari tempatnya berdiri kelihatan hewan itu target yang mudah. Lili bisa melihat jelas si monyet.
“Kemarikan senapannya,” kata Lili.
Lili ambil senapan dari Kiki, membidik, lalu menembak. Si monyet berusaha menyambar dahan-dahan pohon selagi jatuh, tapi tubuhnya terus meluncur ke bawah, sampai akhirnya satu cabang rendah menampungnya. Kiki menyambar senapan dari tangan Kiki sebelum lari mengejar buruan mereka.
__ADS_1
“Ukuran sebesar gorila,” seru Kiki sambil melepaskan beberapa tembakan jarak dekat agar kematian si monyet tidak berlangsung perlahan-lahan.
Monyet jatuh berdeham ke tanah. Kiki mengeluarkan isi perut si monyet di tempat itu juga supaya lebih ringan. Mereka menggotongnya ke kamp.
Seseorang berusaha mengabaikan keberadaan bangkai monyet, walaupun bau dagingnya yang hangus saat mereka bakar di api sangat menyengat dan memuakkan. Sejak pagi ia sudah memancing dan mencurahkan segenap perhatiannya ke pekerjaan ini.
Tali pancing bergetar. Lili berhasil menangkap ikan besar, bertenaga besar, dan gerakannya gesit. Ditariknya tali pancing, tapi perlawanan si ikan sedikit pun tidak mengendur. Perlahan-lahan dicobanya memperlambat gerakan ikan sampai berhenti sama sekali. Perang dimulai. Disentaknya tali pancing sedikit, ikan balas menyentak. Lili tahu hewan itu cukup kuat dan sanggup memutus tali pancing setebal yang dipegangnya.
Digulungnya tali. Ikan bergerak mundur dengan sentakan energi yang mengagumkan. Getaran tali pancing menimbulkan dengung tajam. Dicengkeramnya semakin kuat. Ikan agak menyerah, maka digulungnya tali. Mendadak si ikan melancarkan taktik baru. Tiba-tiba dia berenang ke arah Lili, membuat tali pancing mengendur.
Lalu, sekonyong-konyong mencelat dari air dengan lompatan mengejutkan. Ikan yang indah, tubuhnya bersisik keemasan, juga tubuhnya panjang.
“Itu ikan yang paling enak di sungai!” teriak Kiki.
“Itu ikan gue! Gue yang dapat! Kembalikan talinya,” rengek Lili.
Kiki berusaha menenangkan Lili.
Setelah sekitar lima belas menit, akhirnya si ikan pun lelah. Ditariknya dia sampai hampir ke darat. Akhirnya setelah ikan tinggal sekitar beberapa meter dari tepi sungai, Kiki melompat ke air mengangkat ikan lalu melemparkan ke pasir. Ikan itu besar sekali. Tubuhnya berkilauan di bawah cahaya matahari.
“Kerja bagus!” puji Kiki dengan suara bangga sambil menepuk punggung Lili.
Kiki mengurus mereka dengan baik seperti biasa. Dia ingin mereka menikmati makan malam berupa salad timun pakai bawang putih dan limau. Dia mengumpulkan lemak ikan dan mencairkannya di wajan untuk menggoreng pisang.
Makan malam disajikan. Semua sibuk makan dengan menaruh mangkuk masing-masing di pangkuan. Daging ikan itu sangat lezat, putih, lembut, tak bertulang. Lili duduk di gelondongan kayu yang cukup jauh dari mereka. Dia kelihatan tertekan batin. Didatanginya dia dan duduk di sebelahnya.
“Maaf tadi gue bertingkah kaya bayi,” sesal Lili. “Gue belum pernah menangkap ikan segede itu. Jadi ingin membawanya sendiri ke darat. Gue tahu tindakan gue tolol, maaf.”
“Sudahlah,” kata seseorang yang lain. “Aku juga berutang maaf padamu. Aku ga bermaksud melukai perasaanmu, juga bukan mau pamer, hanya saja aku tahu kita butuh ikan itu untuk dimakan. Maksudku, kita semua pasti lebih suka makan ikan ketimbang monyet.”
__ADS_1
“Iya, betul. Gue senang kita bisa bicara langsung. Gue ga tahu harus bagaimana lagi. Orang itu sangat memusuhi gue.”
“Perasaannya sedang jengkel karena kita batal mengarungi sungai. Susah baginya menerima kenyataan bahwa kita terpaksa menyerah dan memutuskan berjalan kaki.”
“Gue beri tahu, ya. Sejujurnya gue juga lebih memilih melanjutkan lewat sungai meski katanya berbahaya. Paling tidak kita ga perlu berjalan kaki. Gue ga tahu apakah sanggup berjalan jauh,” ucap Lili.
“Tenang saja. Kata Kiki cuma dua hari kok. Setelah itu kita bisa naik kendaraan.”
“Mungkin betul. Tapi, tempo hari Kiki bilang perkampungan itu cuma sejauh lima hari jalan kaki, nyatanya dia salah.”
Beberapa waktu kemudian di dekat api tinggal Lili dan Kiki.
“Nah, kubilang juga apa,” kata Kiki dengan nada puas. “Istirahat, memancing, berburu, mengobrol santai di bawah sinar bulan. Sejauh pertimbanganku, ini pengalaman yang tak tertandingi.”
Dia berhenti sesaat. “Aneh ya, bagaimana kalian bertiga berakhir di sini bersamaku?”
Hari berikutnya secara sistematis seseorang lain mengorek setiap detail terakhir tentang ngarai itu dari mulut Kiki. Kiki menjawab pertanyaan itu dengan senang hati untuk membuktikan bahwa keputusannya menyuruh berjalan kaki sangat masuk akal dan beralasan. Dia bahkan menandai perkiraan lokasi ngarai dan aliran maut itu di peta.
Lili menyimpan kecurigaan bahwa seseorang yang lain itu menanyakan semua itu bukan karena keingintahuan semata. Dia menanyakannya secara pribadi dan berkata bahwa seandainya mereka berencana melanjutkan perjalanan naik rakit, dia sangat serius mempertimbangkan ingin ikut.
“Kalau kalian berdua saja, pasti sangat beresiko,” kata Lili. “Enam tangan lebih baik ketimbang empat.”
“Entahlah, Li. Akupun tak tahu apa isi pikiran dia.”
Kelak ketika diberi tahu bahwa LIli ingin ikut, seseorang lain itu menolak dengan berapi-api.
“Dia ga boleh ikut. Bisa kacau semua. Tak perlu bertele-tele, bilang saja kita tidak mau dia ikut.”
“Kita tak bisa begitu, perasaannya gampang sekali terluka. Kita cari cara lain.”
__ADS_1