Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
59. Tersesat di Hutan (8)


__ADS_3

Tetua adat menolak pembayaran atas lusinan pepaya yang mereka makan.  Dia bersikeras mengatakan mereka adalah tamunya, jadi tak mau menerima uang untuk kebaikan hatinya maupun jerih payah istrinya.


Setelah berkerumun dan berunding sesaat, mereka memutuskan untuk tidak menerima bayaran apapun atas barang-barang yang dibeli tetua adat dari mereka.  Mereka juga menambahkan sejumlah uang pada angka yang diminta semula.  Tetua adat tampak puas.


“Oke,” Kiki mengadakan pembagian tugas, “siapa kaptennya?  Aku atau Bapak ini?”


“Kau saja,” sahut seseorang yang lain.


“Oke.  Kalau begitu aku duduk di depan memegang dayung, sisanya duduk di sudut belakang, masing-masing pegang galah panjang.  Kalian harus mendorong rakit dengan galah, caranya tekankan galah sampai ke dasar sungai lalu dorong.”


“Mbak Li, kamu duduk di dekatku, juga pegang galah.  Kalau posisi rakit terlalu dekat dengan batu atau pinggir sungai, pakai galahmu untuk menjauhi bagian itu supaya kita tidak menabraknya.  Paham?”


“Kapten,” salah seseorang.  “Galah ini terlalu panjang dan berat, susah digunakan.”


Kiki meraih salah satu galah yang disiapkan penduduk desa.  “Kau betul,” katanya setuju.  “Memang terlalu panjang.”


Kiki mengambil parang lalu membabat putus ujung gelah sehingga panjangnya berkurang.  Setelah itu dia memanggul tas kecil Lili dan mengencangkan ikatannya.  Kemarin Kiki memotong beberapa batang kayu kering dan menaruhnya di tas itu.  Hal itu digunakan untuk penyelamat apabila ada orang yang tak bisa berenang terjatuh ke sungai.


Orang-orang mendorong, lalu hore!  Mereka pun mengejar arus sungai.  Sungai yang dari tepinya terlihat cukup tenang ternyata sama sekali tidak tenang.  Arusnya sangat kencang.  Kiki mengayunkan dayung kuat-kuat ke air, berusaha mempertahankan agar bagian depan rakit tetap lurus, dan meneriakkan instruksi pada orang-orang.


“Kalau rakit bergerak ke kiri, seseorang harus mendorongnya lagi dari kanan.  Kalau ke kanan, berarti seseorang yang di sisi lainnya yang mendorong.”


Ucapan Kiki terbukti mustahil dilakukan karena sekarang ukuran galah terlalu pendek untuk mencapai dasar sungai.  Paras Lili sudah sepucat hantu, yang lain tidak memperhatikan emosi siapapun.  Sedangkan, Kiki gelisah.


“Kalau tak bisa menyentuh dasar sungai, ayo dayung, dayung! Dayung yang kuat!”


“Ini galah bulat, bukan dayung.  Mana bisa dipakai mendayung,” ucap yang lainnya.


“Lakukan saja, mengerti?  Kerjakan perintahku!” teriak Kiki.


Orang-orang mendayung dengan gaya tak acuh, tidak mengerahkan segenap usaha, kerana usaha ini memang sia-sia.  Sungai itu lurus dan mulus, sejauh ini mereka berlayar tanpa masalah.

__ADS_1


Kira-kira satu jam kemudian mereka sampai di perairan dangkal penuh bau menyembul.


“Awas! Dorong ke kiri! Kiri!”  Kiki mendorong dayungnya sekuat tenaga.  “Siap-siap, jauhkan kita dari batu itu,” katanya pada mereka selagi mereka mendekati sebuah batu besar.


Mereka semua mendayung.  Lili berusaha mendorong dengan menekankan galah ke batu di dasar sungai.  Galahnya tersangkut di celah dan terlepas dari tangan.


“Galah gue!” teriak Lili.  “Galah gue lepas!”


“Astaga, sial!” umpat Kiki.


“Nih, ambil.”  Seseorang yang lain menyerahkan satu-satunya galah cadangan pada Lili.


“Siap-siap!  Dorong!” teriak Kiki.


Lili desakkan galah ke batu yang semakin didekati rakit, tapi tak cukup kuat untuk menghindari tubrukan.  Terjadi benturan keras, sekejap sebelah sisi rakit miring ke atas, lalu mendatar lagi.


Mereka kembali meluncur namun tak lagi melewati perairan yang sama sekali mulus.  Beberapa menit sekali mereka menemui batu besar.  Kiki sudah nyaris histeris.  Entah apa ceritanya mereka selalu menghantam batu-batu itu meski tak mengalami kerusakan serius.  Ada yang kehilangan galah, Lili pun kehilangan galah yang kedua.  Kelihatannya keadaan tak terlalu baik.  Akhirnya mereka berhasil mencapai daratan.


“Tenang, Ki, tenang.”


“Mana ada yang bisa mempelajarinya dalam satu jam.  Kita pasti semakin mahir dan printar, semua akan lancar.”


“Ini bukan mainan anak-anak.”


“Kita ga punya waktu untuk belajar.  AKu bisa tewas.  Kalian harus mengikuti perintahuku dengan segera, ga boleh ragu-ragu.”


“Oke, Ki.”  “Kami lakukan sesuai katamu.  Katakan kau akan menurutinya.  Tolonglah.”


“Baik, akan kuikuti perintahmu.”


Kiki membawa parangnya ke hutan, dengan cepat menebas beberapa dahan panjang untuk membuat empat galah baru.  Dia menggambar sketsa rakit di pasir dan menjelaskan seperti apa tindakan mereka bila menghadapi bermacam situasi, bagaimana mengayuh dengan galah, bagaimana mendorong galah ke dasar sungai tanpa terlepas dari tangan.

__ADS_1


Kiki menunjukkan pada mereka cara mengepit ujung galah di ketiak saat meredam benturan agar tulang rusuknya tidak patah akibat tubrukan.


Setelah kembali melayari sungai, bebatuan semakin berkurang.  Kami pun semakin terbiasa menggunakan galah.


“Kanan!” teriak Kiki.  Kami semua mendayung.  Rakit meliuk ke kanan.  “Bagus.  Sekarang ke kiri.”


Kami terus berlatih dan merasa sudah lumayan, tapi setiap kali melewati bagian yang agak tinggi atau tikungan di sungai, Kiki berteriak-teriak seperti orang gila.  Lili langsung pucat.  Ada orang lain yang marah-marah, sementara Lili menyembunyikan ketakutan di balik topeng masa bodoh.  Untunglah tak seorang pun terluka atau terlempar ke air.


“Kau, sini tukaran tempat denganku,” kata Lili.  “Kau harus latihan menguasai bagian belakang juga.”


“Bagus, Lili, ide bagus.  Sebentar lagi papa akan menepuk-nepuk bangga kepalamu.  Tapi, kuturuti juga permintaannya.”


“Dia sendiri pasti tak tahu aturan dasar menjalankan rakit di sungai,” kata seseorang pada Lili.


“Percayalah, yang kita kerjakan ini salah.  Siapa coba yang pernah mendengar ada orang mendayung pakai galah bulat?  Dia mau mempermainkan kita, ya?”


Lili menduga seseorang itu masih memendam kedongkolan karena tadi Kiki meneriakinya.  Lili sendiri masih yakin Kiki tahu apa yang diperintahkannya.


Siang itu sungai sungguh indah.  Mereka semakin terbiasa menaiki rakit.  Kiki sendiri mulai tenang.


“Cantik sekali,” desah Kiki.  Satu keluarga monyet berlomba dari satu puncak pohon ke yang lain.  Kiki meniru pekikan hewan-hewan itu.  “Di hilir nanti banyak buruan,” katanya berjanji.  “Belum pernah ada orang yang berburu di daerah itu.  Sungai ini juga penuh ikan besar.”


Mereka tiba di satu belokan halus.  Kiki menyuruh mereka mendayung ke arah berlawanan untuk menghindari tikungan.


“Betul-betul salah,” kata seseorang pada Lili.  “Seharusnya kita biarkan saja arus membawa kita.”


Mereka selamat tiba di dekat belokan.  Kiki mulai berteriak-teriak penuh semangat, “Kiri, yang kuat!  Ayo semuanya, cepat dayung ke kiri!  Kita akan masuk ke daerah perbatasan.”


Beberapa waktu kemudian mereka bisa melihat banyak sekali batu bergerigi menyembul dari dalam sungai.  Lagi-lagi mereka kehilangan dua galah saat berusaha mendayung dengan susah-payah, tapi akhirnya selamat juga sampai ke tepi sungai.  Hujan yang sejak tadi cuma gerimis sekarang bertambah deras.


Dalam keadaan basah kuyup dan menggigil, mereka berusaha mencari tempat berteduh.  Kiki menemukan sebidang kecil tanah datar, mereka membantunya memasang tenda.

__ADS_1


__ADS_2