Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
20. Suasana Desa


__ADS_3

Pagi ini adalah pagi yang menyegarkan bagi Lili. Pikirannya kembali disegarkan oleh kenangan-kenangan manis masa kecilnya.


Ditemani Kiki, Lili kembali pergi ke masa lalunya. Mereka berkeliling menaiki motor matic milik pakde Lili, sembari Lili memegang tongkatnya secara melintang.


Mereka berkendara lambat-lambat. Tentu saja Lili ingin mengenali kembali berbagai tempat yang sewaktu kecil begitu familiar baginya.


Di tengah laju motor mereka yang lambat, Lili dan Kiki menyapa orang-orang yang sedang bersepeda, berjalan kaki, menyapu halaman atau sekedar duduk-duduk. Ada yang membalas sapaan mereka, tapi banyak juga yang diam sambil memasang wajah datar dan ada pula yang menggaruk kepala seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.


Kehangatan seperti ini yang jarang mereka temukan di daerah perkotaan. Sayangnya, di daerah pedesaan pun keramah-tamahan kini semakin menipis mengikuti kondisi yang terjadi di daerah perkotaan.


Tiba-tiba sambil memandangi pemandangan seperti itu, sebuah narasi terputar begitu saja di benak Lili. Berikut narasinya, yang pernah disuarakan oleh salah satu tokoh di media massa, Eko Prawoto.


Kalau dulu kita berbicara tentang urbanisasi, orang desa mencari penghidupan di kota. Sedangkan, sekarang yang terjadi adalah nilai-nilai kehidupan urban itulah yang melakukan penetrasi pada kehidupan masyarakat di desa.


Jadi, pola konsumsinya berubah pola pikirnya juga berubah.


Pada saat yang bersamaan itu mengakibatkan orang desa tidak percaya diri pada budayanya sendiri. Padahal kita tahu bahwa kota juga memiliki persoalan.


Persoalan tentang krisis lingkungan, tekanannya, polusi dan lain sebagainya. Inilah yang begitu ironis. Di mana kota punya masalah, tapi tetap menjadi role model kehidupan desa masa depan.


Desa yang memiliki begitu banyak hal-hal baik tapi tidak dilihat dan masyarakatnya tidak percaya pada budayanya sendiri.


Lili dan Kiki pun terus melanjutkan perjalanan mereka. Di depan sedang ada keramaian. Ketika didekati rupanya itu adalah latihan pagelaran seni di balai desa. Maka, Lili dan Kiki pun berhenti di sana untuk ikut menonton.


Kiki menghentikan laju motornya, membantu Lili turun dari motor, kemudian memarkirkan motornya di tempat motor-motor lain berjejer.


Kiki pun menghampiri Lili yang menunggunya lalu mereka berdua sama-sama berjalan menuju tempat keramaian itu. Mereka pun tiba dan berdiri menyaksikan latihan pagelaran itu.


Karena tak tega melihat Lili berdiri, Kiki pun mengambil kursi plastik yang ada di sisi gedung lain dan mempersilakan Lili duduk untuk menonton latihan pagelaran seni itu. Sementara, Kiki berdiri di sisi Lili sebagaimana orang-orang lainnya yang sedang sama-sama menonton.

__ADS_1


Ini adalah latihan pertunjukan pembacaan sajak dengan dramatisasi teatrikal para pemuda desa. Berikut isi sajaknya.


Ampicilin


(Anak Milenial Para Intelektual Bucin Liar Indonesia)


Karya: Muhammad Idsan - Peramu Diksi


Mereka bilang judul puisi ini panjang. Iya, tapi tidak sama panjang dengan masalah di Indonesia yang perlahan telanjang. Di sana sini pengalihan isu-isu. Sekumpulan mahasiswa teriak asu-asu. Tetap saja pengendali setir tutup telinga soal itu. Sambil minum air susu. Hmmm... Memang asu!


Di sisi lain, ada tubuh tak tabah sering diserang galau bertubi-tubi tanpa dihalau. Babak belut berdrama dan bertelur atas nama bucin dengan sedikit micin. Inilah penyakit bernama bodoh. Dipelihara oleh makhluk-makhluk lemah penyembah luka.


Siapa dia? Ya, tentu mereka yang baru pacaran. Sudah menjual obrolan yang diobral ratusan janji. Lebih baik jadi tukang jual tivi atau cidi. Laku sedikit tapi punya bukti.


Hukum di negeriku sedikit lucu, penuh drama dan rasanya sangkakala lebih dahulu ditiup di Indonesia. Katanya semesta Ibu Pertiwi adalah surga. Tapi nyatanya jadi neraka karena ada penguasa. Berlagak bijak dari Maha Kuasa. Ujung-ujungnya rakyat jelata tetap sama saja. Berpuasa dari keadilan yang ada.


Baru-baru ini ada lagi kasus yang konon tentang edukasi. Tapi ternyata hanya persoalan satu kata yang terlalu jauh dia pahami. Tahu-tahunya hanya cari sensasi basa-basi. Ujung-ujungnya bicara eksistensi dan promosi. Anjay! Apa selepas baca puisi ini aku juga masuk jeruji? Bisa jadi.


Kemarin masih hangat kasus penusukan pemuka agama. Bukan yang pertama tapi sudah berlangsung sejak lama. Sasaran para ulama. Dan puncul pertanyaan, ini ada apa ya?


Apakah ada isu baru yang telah disusun di balik jendela? Kalau pejabat yang ditikam katanya ter o ris anti Pancasila. Kalau ulama yang ditusuk orang gila. Gila. Gila... La, la, la...


Sangat seram sekali Indonesia.


~Batam, 14 September 2020


Latihan pembacaan sajak itu pun usai. Orang-orang riuh bertepuk tangan. Lili berdecak kagum, dan Kiki pun memperhatikan rona berseri pada wajah perempuan pujaannya itu.


"Kirain sajak itu isinya cuma cinta-cintaan," ucap Lili.

__ADS_1


Kiki menunduk dan mendekatkan telinganya ke arah Lili seraya bertanya, "HAH? APA? GA DENGAR. BERISIK."


"KIRAIN SAJAK ISINYA CUMA CINTA-CINTAAN," teriak Lili mengulangi perkataannya.


"OH, IYA. BAGUS YA?" sahut Kiki.


"CABUT YUK," ucap Lili sambil menunjukkan ekspresi terganggu oleh berisik di sekitarnya.


Kiki pun mengangguk dan membantu Lili berjalan menuju motor pinjaman mereka terparkir.


Kembali mereka melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama, perhatian Lili tertuju pada sebuah toko di ujung jalan. Lili dan Kiki pun mengunjunginya.


Itu adalah toko buku-buku lama. Lili tersenyum melihat kondisi ruangan yang menurutnya masih belum berubah. Dulu, Lili suka menghabiskan akhir pekannya di sini. Ia suka menyewa buku-buku bacaan non fiksi dan komik.


Lili mengambil salah satu buku komik. Ia membukanya dan memperhatikannya sambil tersenyum. Tak lama, pemilik toko pun menghampiri.


Adalah seorang pria tua yang masih sama ketika dulu Lili sering temui.


"Mau sewa komik, Nona?" tawar pria tua itu.


Lili pun berkaca-kaca. Ia pun memberitahukan perihal dulu ia adalah pelanggan setia di toko ini.


Pria tua itu tersenyum. Ia dapat menebak dengan tepat nama perempuan yang ada di hadapannya. Rupanya pria tua itu tidak pernah melupakannya. Ia hanya sudah tidak mengenali fisik dan paras Lili yang sudah berubah karena proses dewasa itu.


Pria tua itu lalu menyinggung soal orang tua Lili yang berbudi baik. Pria tua itu begitu merindukan orang tua Lili. Sambil bercakap-cakap, mata mereka sama-sama berkaca-kaca.


"Mirip sekali. Kamu sangat mirip dengan ibumu, Nduk. Mbah serasa sedang ngobrol sama beliau," ucap pria tua itu.


Kiki yang menyaksikan percakapan itu dari sisi lorong rak buku yang lain pun sesekali mengusap ujung matanya.

__ADS_1


__ADS_2