Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
52. Tersesat di Hutan (1)


__ADS_3

Lili usai melaksanakan meeting pertamanya bersama klien di Bali.  Esok hari ia masih akan melakukan meeting.  Hari ini Kiki yang menemani Lili kemanapun Lili pergi.  Ia menjadi bodyguard Lili yang Lili bayar.  Kiki sudah mencoba menolak bayaran itu, tapi justru apabila Kiki terus menolaknya maka Lili tidak akan lagi mau bertemu Kiki.


Padahal,  Kiki adalah orang yang Victor bayar untuk sengaja menjaga Lili selama ada di Bali.  Kalau dipikir-pikir, Kiki punya pemasukan uang yang double.  Sangat menguntungkan bagi Kiki secara finansial.  Namun, sebenarnya bukan keuntungan finansial yang ia kejar.  Kiki begitu ingin bersama Lili.


Jalan atas keinginannya itu terbuka dan justru didampingi dengan uang yang secara paksa masuk ke kantongnya.  Baik itu dari Victor maupun dari Lili.


Hari pertama Kiki menemani Lili, Lili begitu merasa nyaman.  Hal itu dikarenakan Lili memang sudah terbiasa menghabiskan waktunya bersama Kiki sebelum insiden pembunuhan oleh Celine itu terjadi.


Hanya saja, saat ini benak Lili tertutupi oleh rasa gengsi.  Ia merasa nyaman bersama Kiki, tapi ia tidak bisa menerima bahwa dulu Kiki mendekatinya hanya karena uang.


Kiki ingin menghabiskan waktunya bersama Lili.  Lili minta agar diantarkan pulang ke hotel, tapi Kiki justru melajukan mobilnya ke tempat lain.  Kiki membawa Lili ke sebuah tempat wisata pantai.


“Lu mau nyulik gue, Ki?” protes Lili ketika menyadari mobilnya telah berjalan di jalur yang mencurigakan.  Seharusnya mobil itu membawanya ke jalan untuk kembali ke hotel, tapi kenyataannya justru ia dibawa ke tempat yang semakin jauh dari keramaian.


“Udahlah, Mbak.  Saya tahu sebenarnya kamu ke sini itu mau sekalian healing.  Percaya deh sama saya.  Tempat healing kali ini pasti akan kamu senangi banget,” ucap Kiki.


Mobil melaju ke sebuah hutan.  Sayangnya entah ada kesialan apa hari ini, rem mobil tiba-tiba saja tidak berfungsi.  Kiki yang membawa mobil itu pun panik.  Kepanikan itu meletup di saat ada seekor rusa di tengah jalan yang hampir ia tabrak.  Akhirnya, Kiki membanting stir untuk menghindari rusa tersebut.


Mobil pun melaju ke dalam hutan tanpa bisa terkendali.  Jelas saja, sebab rem sedang blong.


Mobil akhirnya terhenti saat ia mendarat di sebuah sungai setelah sedari tadi melaju menuruni bukit dengan sangat cepat.

__ADS_1


Ini adalah hari yang begitu sulit untuk bisa Lili terima.  Ia punya kenangan buruk tentang terjebak bersama pacarnya di mobil yang terperosok masuk ke air dalam.


Lili tidak bergerak, ia terpaku dengan tatapan yang kosong.  Kiki mencoba menyadarkannya dan membawanya keluar dari mobil.  Hujan turun begitu lama di tempat itu.  Dengan juga terendam dalam air sungai, mereka berdua menggigil kedinginan.


Mereka berdua basah, dingin, menyedihkan.  Mereka berdua mencoba meraih apapun untuk dapat bisa menepi dari sungai berarus kuat itu, sering kali mereka hanyut.  Kemudian, mereka bisa menepi dan mencapai daratan dengan mobil yang pergi meninggalkan mereka karena terbawa arus.


Hingga akhirnya hari menjadi gelap.  Mau tidak mau mereka harus bermalam di hutan itu.  Dengan cekatan Kiki memperoleh dedaunan yang lebar-lebar beserta cabang-cabang batang pohon.  Kiki dengan cepat mendirikan tempat bernaung yang tak jauh dari pinggir sungai.


Untunglah hujan berhenti, jadi mereka bisa membuat api.  Kiki membuat sebuah kehangatan di tengah gempuran dingin dan lapar.  Mereka sempat berdebat dan saling menyalahkan, tapi akhirnya kebutuhan untuk bertahan hidup saat ini ternyata jauh lebih penting daripada menyalahkan yang sudah terjadi.


“Kita harus mencari pemukiman,” ucap Lili berulang-ulang.


“Kita ini capek, Mbak.  Kalau kita jalan sekarang terus pingsan di tengah jalan bagaimana?  Kita harus memulihkan tenaga dulu.  Iya kalau nanti kita jalan terus langsung ketemu dengan pemukiman, tapi kalau enggak?” ucap Kiki.


“Lu gila?” protes Lili.


“Ga akan lama, jadi tahan-tahan aja.  Baju saya itu akan cepat kering lalu saya akan memakainya.  Sekarang, kalau dingin kan bisa mendekat ke api unggun ini dulu,” ucap Kiki.


“Gue mau mengeringkan baju gue sambil gue pakai aja.  Gue dekat-dekat api unggun juga nanti lama-lama kering kan?” ucap Lili.


Getaran tubuh Lili akibat kedinginan tidak kian kunjung hilang.  Kiki mendekatinya dan mendekapnya dari belakang.

__ADS_1


“Gimana, udah mendingan kan?  Dengan kita berdekatan begini akan terasa menghangat,” ucap Kiki.  Lili hanya mengangguk saja.


“Sebentar.  Benar kata lu, kayanya baju gue ini susah kering kalau begini caranya.  Mau dipeluk elu sampai berapa lama pun gue mungkin akan tetap gemetaran,” ucap Lili.


Lili pun melepaskan dekapan Kiki dan membuka bajunya.  Hanya tersisa tengtop dan celana pendeknya.  Pakaian luarnya ia jemur dekat api sebagaimana Kiki.  Setelah itu, ia kembali duduk di dekapan Kiki agar rasa dinginnya berkurang.


Lili dan Kiki mengantuk.  Sebelum tertidur, Kiki berjanji, “Besok kita akan ada di pemukiman.  Saya janji.”


Beberapa jam kemudian Kiki terbangun dari tidur mereka yang pulas.  Ia memandangi tubuh perempuan pujaannya yang ada di pelukannya.  Ia nyaris tergoda.


Kiki lalu mengambil pakaian yang dijemur.  Ia memakai pakaiannya kemudian membangunkan Lili untuk memakai pakaiannya.


Lili sangat terkesan dengan kebaikan Kiki.  Padahal, Kiki sudah begitu dekat dengannya.  Kalau Kiki mau ia bisa menyentuh Lili, tapi itu tidak ia lakukan.  Justru, Kiki membangunkan Lili untuk menggunakan pakaiannya.  Setelah itu, mereka pun melanjutkan tidurnya.


Kiki bangun pagi-pagi sekali.  Lili menemukannya sudah ada di luar tempat mereka bermalam, sedang meraut potongan-potongan kayu dari sebatang dahan patah menggunakan batu yang bertepian tajam.


Setelah menaruh potongan kayu di atas abu sisa api unggun semalam, ia membungkuk untuk meniup-niup gelondongan kayu yang masih membara.  Api kembali menyala.  Kiki menambahkan ranting-ranting kering, tak lama api kembali berkobar.


Lili merangkak keluar tempatnya bernaung, yang seperti tenda itu.  Ia menghangatkan tubuh untuk melawan dingin di pagi hari.  Cuaca lebih baik dibanding kemarin.  Hujan sudah berhenti, pakaian mereka sudah kering.  Tak lama, mereka pun melanjutkan perjalanan menelusuri sungai itu untuk mencari pemukiman.  Selama perjalanan mereka memakan yang ditemui.  Entah itu buah, atau menombak ikan.


Siangnya Kiki melihat sekelompok awan gelap di cakrawala.  Sekejap kemudian hujan deras membasahi mereka sampai ke sum-sum, namun mereka terus berjalan penuh tekad.

__ADS_1


Hujan pun reda bahkan usai.  Mereka melanjutkan perjalanan sambil sesekali menoleh ke mana mata bisa menjangkau arah pandang.  Tiba-tiba terdapat sekitar dua puluh kepala muncul di tepi sungai yang sempit.  Anak-anak sapi bercengkrama di antara kaki induk mereka.  Seekor anak sapi yang sangat mulus dan putih sedang menghisap susu ibunya.


“Dia lagi menyusui,” ucap Lili.  “Mungkin bisa kita tangkap lalu perah sedikit susunya untuk kita,” lanjutnya.


__ADS_2