Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
53. Tersesat di Hutan (2)


__ADS_3

“Jangan cuma ambil susunya.  Lebih baik kita tangkap satu sapi yang kecil dan kita panggang di api, biar kenyang,” ucap Kiki.


Keduanya kelaparan sehingga Kiki tak butuh banyak upaya untuk meyakinkan Lili bahwa mengambil satu anak sapi itu tidak masalah.  Apakah sapi-sapi itu ada pamiliknya atau tidak.


Maka, perburuan pun dilakukan.  Kiki dan Lili mengendap-endap mendatangi kawanan sapi.  Mereka hanya menangkap angin karena semua sapi berhasil kabur.


“Saya punya ide.  Gimana kalau kita takut-takuti mereka ke arah tujuan kita sampai nanti waktunya misalnya mau berkemah lagi kita bisa tombak satu,” ucap Kiki.


“Sambil melanjutkan perjalanan, kita sambil ngangon sapi?  Ide bagus, hahaha…” ucap Lili.


Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat sambil menggiring sapi-sapi dengan teriakan keras-keras.  Hewan-hewan itu berusaha kabur, tapi mereka membuat mereka tetap berkumpul.  Satu-dua ekor berhasil melarikan diri sementara sisanya berjalan di depan mereka.


Mendadak mata Lili menangkap seekor burung hitam melayang-layang di dekat mereka.


“Ssst…” desis Lili.  “Lihat,” ucapnya.


Kiki maju perlahan-lahan.  Kendati masih cukup jauh, ia sudah membidik dan melepaskan lucutan kayu berujung runcing ke arah burung itu.  Kiki bergegas memburu ke sungai dan menariknya dari air.  Ternyata angsa liar hitam yang gemuk.


Kiki menyeringai lebar sekali.  Melihat keahlian Kiki, Lili merasa begitu terpikat dengan Kiki.


Tiba-tiba Lili berteriak, “Masih hidup, tuh! Dia masih hidup!”


Angsa dalam cekalan Kiki memang masih menggelepar-gelepar.  Lili memandangi Kiki.  Lili tidka tega melihat angsa yang tertombak dengan menderita itu.  Lantas, tanpa berpikir panjang Kiki mencengkram leher angsa dan memuntirnya untuk meredakan kegelisahan Lili.  Lili mengaduh sambil menutup mata.

__ADS_1


“Kita bakar angsa ini di sini.  Kamu juga lapar kan?” ucap Kiki.


Setelah puas mengisi perut mereka, Lili dan Kiki pun kembali melanjutkan perjalanan.  Lili menepuk punggung Kiki.  “Sekarang kita ga perlu menangkap anak sapi,” ucap Lili.


Kiki tidak merasa jengkel.  “Biarlah mereka kabur,” katanya sambil mengendikkan bahu.  “Besok kita sudah menemukan pemukiman.  Kita sudah kenyang dengan daging angsa dan sisanya masih ada.”


Kelelahan membuat mereka lagi-lagi membuat sebuah tempat beristirahat.


Setelah selesai membuat tempat beristirahat, Kiki duduk-duduk.  Tak ada yang lebih disukai Kiki selain diminta untuk bercerita mengisi kekosongan di antara mereka.


“Lu kelihatan jago banget bertahan hidup di tempat seperti ini,” ucap Lili.  Maka, Kiki pun mulai bercerita tentang pengalamannya.


“Dulu saya pernah tinggal di alam bebas, di sebuah daerah di pelosok.  Sebuah perkampungan dengan penduduk yang suka memburu emas,” ucap Kiki.


“Perjalanannya sangat sulit untuk berburu emas itu.  Tiga hari mendaki lereng gunung.  Selama perjalanan tak ada air, sehingga orang-orang harus membawa air sendiri.  Desa itu besar, berpenduduk enam ratus orang.  Perempuan-perempuannya punya pakaian yang terbuat dari rumput, bertelanjang kaki dan bertelanjang dada,” jelas Kiki.


“Kayanya ga jelek-jelek amat cewek-ceweknya,” sahut Lili.  Kiki pun tersenyum.


“Kaum laki-lakinya memakai cawat.  Kebanyakan dari mereka memakai ikat pinggang yang digelantungi sisa-sisa buruan.  Tiap laki-laki punya dua atau tiga istri.  Selain memasak dan bersih-bersih, kaum perempuannya juga mengolah ladang,” lanjut Kiki.


“Mereka membuat kebun kecil berisi tanaman pisang, juga menanam jagung.  Para perempuan membawa pisau panjang dari kayu keras.  Busur, tombak, dan senapan tiup mereka dibuat dari kayu jenis itu juga.  Kaum laki-laki membuat senjata dan menghabiskan hampir seluruh waktu mereka dengan berburu atau mengadakan permainan berburu,” lanjut Kiki.


“Tak jauh dari desa ini, kira-kira tiga hari jalan kaki, hampir di perbatasan daerah, menetaplah satu suku lain yang terkenal karena kebuasannya.  Suku ini bisa menyerang perkampungan suku lain dan menculik perempuan-perempuannya.”

__ADS_1


“Penduduk suku yang diserang berjuang melindungi perempuan-perempuan mereka.  Setiap kali berhasil membunuh satu musuh, mereka akan memenggal kepada lawan dan membuatnya menciut dengan cara mengubur kepala di pasir dekat sungai.  Di sekitar tempat mengubur kepala dinyalakan api besar.  Setelah beberapa jam, kepala itu digali lalu tulang tengkoraknya ditarik keluar.”


“Ya ampun kenapa jadi serem banget gini,” keluh Lili.


“Lalu, kepala ini kembali dikubur di bawah api selama berjam-jam, sampai menciut seukuran kepalan tangan.  Kepala yang sudah mengecil terlihat persis seperti orangnya semasa hidup.  Corak wajah, bibir, kelopak mata, bulu mata, alis, semuanya persis sama.”


“Akhirnya kepala diisi pasir agar padat dan digantung sebagai hiasan ikat pinggang.  Menurut adat suku itu, kekuatan musuh yang sudah tewas akan beralih kepada kesatria yang membunuhnya.  Sang kesatria pun bertambah kuat dua kali lipat.  Semakin banyak kepala yang dimiliki di sabuknya, dia dianggap semakin kuat.”


“Kalau salah satu anggota suku meninggal, desanya akan mengadakan ritual kremasi meriah.  Saya pernah menghadiri salah satu ritual semacam itu.  Yang meninggal saat itu adalah seorang pria tua, dengan sebab kematian yang alami.”


“Harapan hidup rata-rata suku itu adalah sekitar empat puluh lima tahun.  Kaum laki-laki membuat pai unggun besar di tengah-tengah desa.  Kaum perempuan membawa kendi dan menyanyikan lagu-lagu berkabung.  Almarhum yang memiliki sabuk berhiaskan lima kepala menciut kemudian dilemparkan ke api unggun.


“Bau mayat dibakar membuatku mual.  Tapi, aku berhasil memasang ekspresi datar karena tak mau mereka tahu betapa jijiknya aku.”


“Kaum perempuan merintihkan ratapan yang sukar dipahami sementara para pria menari-nari mengikuti irama genderang sambil mengeluarkan raungan mirip teriakan hewan.  Sesekali mereka menambahkan kayu ke api.  Lalu para perempuan membawa gerinda.  Para pria memadamkan api dengan daun-daun lebar dan mengeluarkan tulan membawa dari dalam api, membagikan tulang kepada para wanita yang kemudian meggerusnya dangan gerindra.”


“Serbuk tulang dituangkan ke kendi-kendi.  Selanjutnya semua yang hadir menerima mangkuk labu untuk tempat menampung larutan yang berwarna kuning.”


“Saya ga mau minum sedikitpun.  Tapi ada yang bilang ke saya kalau ingin keluar dari situ hidup-hidup maka minumlah.  Pokoknya hati-hati, jangan sampai gigimu terlalu rapat, begitu katanya.  Tak lama aku mengerti maksudnya.  Sobekan-sobekan daging yang tak tergiling masih menempel di serpihan tulang.”


“Kaum laki-laki berkeliling sambil mengisap sesuatu, entah apa.  Pokoknya dibungkus daun kering dan berbau menyegat.  Mereka mengundangku mengisapnya, tentu saja tidak kutolak.  Ada yang memperingatkanku bahwa zat dalam rokok sangat berbahaya dan efeknya bisa permanen.”


“Lalu?” tanya Lili.

__ADS_1


“Dia menyuruhku mengisap seperti caranya, yaitu menjepit rokok di bibir namun tanpa mengisap sedikitpun.”


“Asap rokok membuat mulutku terbakar.  Mataku mulai berair.  Aku batuk-batuk hebat, tapi tak seorang pun tertawa atau menunjukkan ketertarikan kepadaku.  Semua terlihat memandangi udara kosong.  Mereka juga tidak bicara sama sekali, kecuali ada satu yang sepanjang waktu terus berteriak.”


__ADS_2