
Dicari-cari kayu kering, sayang tak menemukan satu pun. Dikumpulkannya beberapa dahan, bermaksud membuang bagian terluar dan mengambil bagian dalam yang masih kering, tapi ini mustahil tanpa parang. Usahanya menyulut api hanya menyia-nyiakan gas pemantik dan membuatnya putus asa.
Dengan enggan ia merangkak ke bawah kawat nyamuk, membungkus diri dengan kawat kedua dan ponco merah. Dikeluarkannya persenjataannya, senter, pemantik, kaleng semprotan, serum antibisa ular, juga kaleng dan sendok. Seandainya ada hewan liar mendekat, akan dibuat bunyi-bunyian kuat dan gaduh untuk menakut-nakuti. Begitulah pemikirannya.
Dicoba memejamkan mata untuk melarikan diri ke dunia fantasi, tapi perasaannya terlalu tegang dan gelisah. Perutnya keroncongan akibat lapar, padahal seharian ia belum makan apa pun. Rasa takutlah yang lebih sulit diatasi. Sekarang ia berada di jantung rimba belantara, sangat rentan diserang, tanpa senjata apapun untuk melindungi diri, tak ada gua untuknya bersembunyi, tak ada api.
Ia terus mendengar pekikan hewan, jeritan burung, dengung serangga. Ditindihnya tepi-tepi kawat nyamuk dengan batu supaya ular tak bisa menyelusup masuk. Senter terus dipeganginya dekat lutut karena takut tak bisa menemukannya dalam gelap seandainya nanti diperlukan. Di kejauhan terdengar lengkingan yang membuat darahnya tersirap. Pasti ada macan yang berhasil menerkam monyet atau mangsa lain.
Beberapa jam berlalu. Ia betul-betul diselimuti kegelapan. Mendadak terdengar bunyi ranting patah, derap kaki yang tegas. Sesuatu sedang mendatanginya. Ketakutan langsung mencengkeram. Pasti cuma imajinasimu, katanya pada diri sendiri.
Tapi, bunyi gemerisik dedaunan dan keretak dahan terinjak begitu jelas. Disingkirkan satu batu dari kawat nyamuk lalu menjulurkan kepala untuk memandang kegelapan. Dinyalakannya senter. Tak terlihat apa-apa. Diembuskan napas lega namun sama sekali tak merasa lebih baik.
Ketakutan terus menggayutinya. Belum pernah ia sangat ketakutan seperti ini. Dicoba berbaring kembali sambil menarik penutup tubuh. Di sekelilingnya terus terdengar bunyi-bunyi. Jantungnya berdebar liar.
“Tuhan, jangan biarkan aku disantap binatang buas.”
Digerakkan jari-jari pada senjata buatan, khawatir nanti histeris. Lagi-lagi terdengar bunyi keretak di sekelilingnya. Ia tersentak duduk, mencengkeram sendok lalu mulai memukuli kaleng kuat-kuat. Yang muncul cuma bunyi tumpul.
__ADS_1
Ia berteriak, “Hus! Hus! Hus!” seperti mengusir sekawanan ayam. Dibaringkan tubuh dengan jantung bertalu-talu. Bunyi-bunyi terdengar semakin dekat.
“Pasti bukan apa-apa. Tak ada apa-apa di luar sana. Cuma imajinasimu. Cuma ada di pikiranmu.”
Lagi-lagi terdengar bunyi keretak, kali ini terlalu dekat dan jelas untuk diabaikan. Digenggam senter, mengeluarkan kepala dari kawat nyamuk, menyentak tombol. Ia berhadapan wajah dengan macan.
Binatang itu sangat besar. Salah satu cakarnya terangkat dari tanah seolah hendak maju selangkah lagi. Saat disorotkan cahaya senter ke arahnya, macan menurunkan cakar tanpa mendekat. Cahaya senter tidak membuatnya silau, tapi dia berhenti dan berdiri memandanginya.
Macan itu tidak tampak membahayakan, tidak mengaum ataupun menjilati cakar. Matanya tidak buas, juga tidak ramah, hanya berupa sepasang mata kucing besar yang memperhatikan. Macan bergeming sempurna, hanya ekornya yang mengibas-ngibas pelan.
“Pergi,” ia meratap. “Menjauh dari sini. Enyah. Kaudengar tidak? Pergilah.”
Senternya memiliki rantai. Digigitnya rantai agar kedua tanganya bebas. Diraba-rabanya tanah sekeliling dengan lutut sampai menemukan kaleng semprot dan pemantik. Dipegangnya pemantik di tangan kiri, kaleng semprot di tangan kanan. Sekarang ia sudah tenang, tak lagi menjerit-jerit atau gemetar.
“Mungkin tak seharusnya kulakukan,” pikirnya, “bisa-bisa macan itu marah dan menyerangku.” Begitupun, ditekan tombol kaleng sambil menyalakan pemantik.
Berhasil. Api besar menyambar. Tercium olehnya bau bulu hangus di tangan kiri. Matanya nyaris buta. Dipegangi benda itu beberapa menit, sampai cairan semprot habis dan nyala pemantik melemah. Penyemprot apinya kehabisan daya.
__ADS_1
Penglihatannya sedikit demi sedikit kembali normal. Kegelapan memudar hingga tinggal berbentuk lingkaran terpusat, dan akhirnya ia bisa melihat cahaya senter. Macan itu sudah pergi.
Disorotkan senter berkeliling ke kiri, kanan, belakang. Dia memang sudah kabur. Sepertinya terdengar bunyi langkah menjauh. Berhasilkah ia menakut-nakutinya? Ia tidak merasa gembira maupun lega. Beberapa lama dibiarkan senter menyala, tapi ia matikan karena takut kehabisan daya.
Ia duduk di dalam kawat nyamuk dengan keadaan terjaga penuh. Jantungnya berdebar liar setiap kali mendengar bunyi, sampai matahari terbit. Cahayanya membuatnya merasa sangat aman, sepertinya tak satu bahaya pun bisa menimpanya. Sambil menggumamkan ucapan terima kasih, dikemasinya semua perlengkapan, lalu ia tinggalkan tempat itu secepatnya.
Karena matahari sudah bersinar, sekarang ia bisa ingat di sebelah mana persisnya sungai itu berada. Ia berjalan cepat-cepat.
“Lurus, ke kiri, lurus, ke kiri.” Ia iringi langkahnya dengan nyanyian selagi menuju sungai dengan menyusuri jalan berbentuk diagonal. Bernyanyi bisa membantu mempertahankan semangatnya agar tetap tinggi.
Di permukaan tanah yang lebih tinggi, pepohonan jauh berkurang sehingga perjalanannya lebih cepat. Sesekali ia menjumpai satu daerah aliran sungai dan berhenti untuk minum. Ia jadi bebas menghabiskan air dalam kedua kaleng besar. Bahunya juga terasa sangat santai.
Tetapi, setelah berjalan sekian jam, lagi-lagi dirasakan ketidakpastian yang menakutkan. Matahari sudah tepat di atas kepala dan ia sama sekali belum tahu di mana diri berada. Ia takut jangan-jangan malah menjauhi sungai. Bisa-bisa ia terdampar di sisi lain gunung dan tersesat selamanya tanpa ditemukan siapapun. Di sini mudah sekali tersesat dan kehilangan akal sehat.
Kendati demikian, ia tahu, sumber air sekecil apapun pasti mengarahkannya ke sungai. Tak terlalu lama ditemukan anak sungai yang mengalir dalam pola tak lazim karena alirannya mengarah ke bawah. Diikuti tetesannya yang melompat-lompat dan terpantul-pantul menuruni permukaan bebatuan sehingga tampak seperti curahan air terjun. Ia terpaksa meninggalkan bagian ini untuk mencari lereng lain yang lebih sederhana dituruni.
Ia terus berbuat demikian sampai menemukan satu air terjun yang berlomba-lomba turun dari ketinggian seratus lima puluh kaki, jauh lebih tinggi daripada semua yang ditemukan sebelum ini.
__ADS_1
Pemandangan air yang menggelombang turun dari tempat sedemikian tinggi sungguh menakjubkan.
Jauh di bawah, di tempat jatuhnya air menghantam bumi, dilihat ada lagi aliran sungai. Dicari-cari tempat yang bisa dipakai untuk turun, tapi setelah ditemukan, tak terdengar lagi deru air. Aliran tadi tidak terlihat. Ia tidak berminat menghabiskan waktu dan energi untuk kembali dan mencarinya, jadi ia putuskan melanjutkan perjalanan turun sampai nanti menjumpai aliran lain. Tak lama ia menemukannya. Kali ini ia bertekad tak boleh kehilangan jejak aliran air, apapun resikonya.