
Lili kembali ke apartemennya seusai kerja. Tadi ia sempat bermain dulu dengan anak-anak di jalanan komplek. Sungguh menyenangkan rasanya seperti kembali menjadi anak-anak lagi.
Lili pun membersihkan diri, ia berendam dengan air hangat di bathtub. Dinyalakannya lilin aromatik di tepian bathtub-nya. Sudah lama Lili tidak melakukan hal yang membuatnya lebih rileks seperti ini.
Sambil berendam, Lili menyalakan ponselnya. Ia mendengarkan siaran puisi dari teman sesama host lainnya.
Anak Ayam
Ijin parkun ya host
Demikian Lili typing di dalam siaran tersebut. Lili pun menaruh ponselnya di kotak yang lebih tinggi di sisi lain kamar mandi itu. Ia lalu menyandarkan kepala dan lehernya, memejamkan matanya sambil mendengarkan pembacaan-pembacaan puisi.
"Dengan puisi, rasanya apa yang ada di dalam diri gue, entah apa itu istilahnya, mungkin jiwa, ya jiwa, jiwa gue merasa lebih sensitif terhadap segala sesuatu. Gue jadi bisa lebih peka dengan semua yang terjadi di lingkungan gue. Mungkin gue bisa menyebutnya itu sebagai bahasa cinta," batin Lili.
"Bahasa cinta. Interaksi antar manusia, interaksi antara manusia dan hewan, tumbuhan, semua bisa diterjemahkan sebagai bahasa cinta. Kemarin gue benci dengan cinta-cintaan, yaitu tentang romansa perasaan orang yang berpasangan. Ya, gue mengecualikan itu," lanjutnya.
"Ada hal lain yang lebih patut untuk dirasa-rasa, membuat haru, membuat sendu, ga melulu tentang cinta-cintaan dua orang insan," lanjut Lili.
Lili tidur untuk sejenak. Pikirannya melayang sesuai dengan apa yang sedang dibacakan oleh penyiar atau listener yang on mic.
Lili kemudian tersentak membuka matanya.
"Eh, gue ketiduran? Hahaha... Ya ampun," ucapnya.
Lili pun mengelap telapak tangannya dengan handuk yang ada di sisinya lalu meraih ponselnya. Ia ingin melihat jam di ponselnya.
Rupanya setelah ia melihat layar yang masih berada ada jendela aplikasi itu, ia melihat tanda bulatan notifikasi pesan masuk. Ada seseorang yang mengirimkan pesan via DM di aplikasi.
Lili pun membukanya.
-----
Barista Coffee
Lagi apa? Beneran parkun ya?
-----
Lili pun kembali melihat deretan typingan di room siaran. Ya, ternyata benar, pemilik akun misterius itu telah menulis typingan dengan tag akun Lili yang bernama Anak Ayam itu.
Pesan demi pesan yang terkesan nyastra ada di sana.
-------
__ADS_1
Barista Coffee
Puan, bolehkah saya haturkan kepada mendung bahwa senyummu yang teduh sungguh kurindukan?
Barista Coffee
Apa gerangan yang membuat saya terlalu berisik membisiki nurani yang meracau akan dirimu?
Barista Coffee
Mengapa diam saja, wahai Puan?
"Siapa orang ini? Gue sampai geli bacanya," ucap Lili.
"Ah, sudahlah. Gue lagi malas bucin-bucinan. Gue lagi anti baper-baper club," lanjut Lili.
Lili pun kembali meletakkan ponselnya yang disuarakan melalui pengeras suara di ponselnya itu.
Lili bangkit dan menyudahi berendamnya kemudian membersihkan tubuhnya di bawah shower.
Setelah membersihkan tubuhnya, ia pun memakan makan malam yang dipesannya dari layanan pesan antar. Ia memandangi meja yang ada di depannya dan sofa. Ia lalu memandangi makanannya. Warna sendu sedikit terukir di wajah Lili.
Pasalnya baru saja ia melihat bayangan Kiki yang sedang tersenyum jahil sambil menawarinya makanan. Kiki pernah duduk di tempat yang ia pandangi.
"Kenapa gue masih terbayang-bayang sama Kiki ya? Jelas-jelas semua kebaikan dia itu hoaks. Ngapain gue masih mengingat-ingat dia!" batin Lili.
"Ya ampun, Celine sampai masuk di berita daerah. Kasihan amat. Gue ga nyangka sama elu, Lin. Bisa-bisanya lu kena penyakit mental kaya gitu. Padahal gue udah menganggap lu seperti saudara gue sendiri," batin Lili.
Lili pun usai melakukan makan malam. Ia pun membenahi bekas makannya ke dapur. Televisi masih menyala. Televisi itu ia biarkan begitu saja menyala dengan volume yang besar.
Dengan begitu, Lili bisa bolak-balik sambil mendengarkan siaran di dalam televisi. Selain itu Lili pikir kondisi apartemennya terlalu sepi karena hanya ada ia seorang di sana. Sehingga, Lili memerlukan sedikit rasa berisik di dalam apartemennya itu.
Lili lalu beranjak ke buku catatan kecil. Ia memeriksa kembali catatan-catatan yang ia buat di kantor. Lili baru saja akan mempersiapkan keperluannya untuk berangkat ke Bali. Ia membuat daftar yang ia susun dengan checklist.
Setelah itu, Lili pun membenahi barang-barangnya ke dalam koper.
TOK TOK TOK
Ada yang mengetuk pintu apartemen Lili.
Dilihatnya jam rupanya waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
"Siapa ya yang datang malam-malam begini?" ucap Lili sambil berjalan menghampiri pintu.
Kemudian, Lili mengintip lensa kecil di lubang pintu. Rupanya yang datang adalah Victor.
"Hah? Mau apa dia malam-malam begini datang ke sini?" batin Lili.
__ADS_1
Lili tak perlu lama menimbang-nimbang. Kini Victor sudah banyak berubah, sikapnya selalu sopan. Tidak seperti dulu, yang apabila pintu tidak dibukakan, ia akan terus menunggu untuk dibukakan sambil terus mengetuk-ngetuknya.
Lili pun membuka pintu.
"Eh, Tor. Mau ngapain lu ke sini?" tanya Lili sembari celingukan ke luar. Ia berharap Victor tidak datang seorang diri.
Victor pun tersenyum.
"Ngopi ke luar yuk?" ajak Victor.
"Hah? Ngopi? Ada acara apa?" tanya Lili.
"Ga ada. Gue cuma pingin ngobrol-ngobrol aja. Kan besok-besok lu bakal ke Bali, gue ga ketemu elu dong berhari-hari. Jadi, gue mau nambah saldo celengan rindu gue malam ini," ucap Victor.
"Celengan rindu, udah kaya Fiersa Besari aja lu, Tor," ucap Lili.
"Jadi, gimana? Atau lu pingin jajan yang lain? Gue yang traktir," tawar Victor.
"Duh gimana ya, gue lagi mager nih," jawab Lili.
"Hem, oh ya, lu ga tahu ya kalau di Lapangan Simpur lagi ada fun fair?" ucap Victor.
"Ga tahu gue. Soalnya gue jarang lewat sana," ucap Lili.
"Lu ga mau ke sana?" tanya Victor.
"Sekarang?" tanya Lili. Sebenarnya Lili sedang mengulur waktu karena ia menimbang-nimbang apakah akan memenuhi ajakan Victor atau tidak.
"Lu mau gue jawab apa? Iya, sekarang, atau..." goda Victor.
"Lu ngajak gue kencan di fun fair, Tor?" tanya Lili lagi.
"Apapun yang menurutlu nyaman. Lu bisa menganggap ini kencan atau cuma refreshing biasa, ngilangin gabut," ucap Victor.
"Sebenarnya badan gue capeeek banget," ucap Lili.
"Tapi...?" lanjut Victor.
"Hah? Tapi? Tahu aja gue mau ngomong tapi," ucap Lili.
"Iya memangnya gue baru kenal lu apa? Dari nada bicara lu aja udah ketahuan kalau kalimat lu itu mau disambung," ucap Victor.
"Hehe..."
"Jadi, tapi kenapa?"
"Tapi itu, gue gabut. Hehe..."
__ADS_1
"Sip. Ya udah kalau gitu yuk berangkat," ucap Victor.