Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
29. Si Paling Berkarisma


__ADS_3

Waktu berlalu, hari berganti. Lili sudah dapat bekerja kembali di kantor. Kondisinya begitu bugar.


"Fani, gimana laporan untuk weekly meeting kita, apa sudah bisa saya lihat?" tanya Lili kepada salah satu rekan kerjanya.


"Maaf, Bu. Karena dari divisi common servis belum menyetorkan pencapaian targetnya, jadi weekly report belum bisa dibuat," jawab rekan kerja Lili.


"Oh ya? Ya ampun. Biar saya tanyakan ke Ferdinan. Lambat sekali kerja mereka," keluh Lili.


Lili pun berlalu dengan langkah yang begitu ringan. Rambutnya yang panjang sedikit tertiup angin oleh karena lajunya yang cepat.


"Gila sih, Bu Lili sekarang makin ke sini aura berkarismanya semakin kelihatan saja ya?" ucap lirih salah satu karyawan yang dilaluinya.


"Iya. Ga tahu kenapa saya juga melihatnya begitu. Atau jangan-jangan Bu Lili mau menikah ya?" balas karyawan lainnya.


"Ah, masa? Jangan ngarang kamu!" balas karyawan lainnya lagi.


"Ya memang ngarang. Namanya juga nebak-nebak, soalnya Bu Lili mana punya teman dekat di sini. Waktu Bu Lili sakit, kakinya tertembak, dipatuk ular, mana dia ada cerita-cerita sama orang kantor. Iya kan? Kita kita tahunya telat," ucap karyawan lainnya.


"Hei, hei... Ada apa ini? Bukannya kerja malah ngerumpi!" tegur Victor.


"Eh, Bapak. Hehe... " ucap salah satu karyawan dengan senyum kikuk.


"Sudah sana bubar, bubar, bubar!" ucap Victor.


Pergumulan beberapa orang karyawan itu pun bubar. Victor lalu memandangi Lili yang berada jauh darinya. Ia terlihat dari balik jendela sekat ruangan salah satu divisi.


Tatapan Victor begitu dalam kepada Lili. Ia seperti seorang pemburu yang sedang mengincar satwa buruannya.


"Begini loh, Ferdinan... Kalau kamu kesulitan di bagian achievement, kamu bisa kumpulkan evidance dari setiap kegiatan maupun pengadaan barang, lalu sesuaikan dengan weekly planning sebelumnya. Nah, persentase yang didapat itu... " Lili tengah menjelaskan sesuatu di ruangan itu.


Ia menjelaskannya sambil duduk di tepi meja kerja dengan gaya bicara yang santai dan banyak senyum. Sehingga, orang yang diajari tidak merasa tersinggung dan lain sebagainya.


Karyawan yang bernama Ferdinan itu pun mengangguk-angguk sambil memperhatikan layar tablet yang sedang ditunjukkan oleh Lili.


"Ni cewek gayanya makin ke sini makin rock n roll. Asik banget ngelihatnya," batin Victor yang kemudian sudah ada di pintu ruangan Ferdinan.


"Eh, Pak Victor," sapa Ferdinan ketika tanpa sengaja melihat Victor ada di sana.


Pandangan Lili pun juga jadi beralih ke Victor. "Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya Lili.


"Enggak. Saya cuma mau mengingatkan, ini sudah waktunya coffee break," jawab Victor.

__ADS_1


"Oh, iya Bapak. Terima kasih sudah mengingatkan. Bapak baik sekali ya. Tapi kami masih bisa melanjutkan urusan kami kan Pak? Hehe, soalnya ini belum selesai," ucap Lili ramah. Sebuah keramahan yang ia buat-buat. Padahal, di baliknya ia sangat sebal melihat kehadiran Victor.


"Oke baiklah. Silahkan, silahkan. Lili, setelah ini kamu ke ruangan saya ya? Saya ada perlu sama kamu," ucap Victor.


"Di waktu coffee break Pak? Aduh sayang sekali ya, padahal setelah ini saya mau break sebentar. Ya, namanya juga coffee break masa ga boleh istirahat sih?" ucap Lili.


"Ya, tentu saja boleh. Kalau begitu setelah semua urusan kamu selesai, break-nya juga selesai, nanti kamu ke ruangan saya. Oke?" pinta Victor.


"Oke, Pak," jawab Lili yang ingin segera menyudahi percakapan menyebalkan itu.


"Nah, jadi sampai dimana kita?" ucap Lili kepada Ferdinan.


"Sampai di sini, Bu. Ini grafik evidence-nya," ucap Ferdinan menunjuk ke layar tablet.


"Oh iya, Li... " panggil Victor lagi.


"Ada apa lagi sih Pak? Aduh, saya jadi lupa nih. Jadi ga selesai-selesai urusan saya dengan Ferdinan," protes Lili.


"Oh, baiklah, baiklah. Biar nanti saja di ruangan saya," ucap Victor.


"Ya Pak. Iya iya," ucap Lili.


Ferdinan pun cekikikan.


"Kenapa kamu?" tanya Lili ketus.


"Bu Lili lucu sekali. Oh iya, sepertinya Pak Victor itu naksir loh sama Ibu. Semua orang tahu itu, sudah jadi rahasia umum. Ibu kenapa ga jadian aja sama Pak Victor, Bu?" ucap Ferdinan dengan nada polos.


"Apaan sih. Kalau ngasih ide itu yang agak kerenan gitu! Masa saya dipasang-pasangin sama Victor? Ga level banget. Lagian nih ya, asal kamu tahu, saya ini sudah punya pacar. Masih kerenan juga pacar saya!" ucap Lili.


"Wah, Ibu sudah punya pacar? Selamat ya Bu, selamat. Kapan-kapan mau dong dikenalin sama pacar Ibu. Ngomong-ngomong dia orang mana Bu? Orang korporat sini juga?" cerocos Ferdinan.


"Bukan. Bukan orang korporat sini. Ih, kamu nanyanya udah kaya gerbong kereta, kepo banget. Lagian ngapain jadi bahas kehidupan pribadi saya sih. Yuk, lanjut tadi sampai dimana," ucap Lili.


"Oh, iya, Bu. Ini sampai di sini," jawab Ferdinan.


Lili pun melanjutkan urusan pekerjaannya bersama Ferdinan. Setelah selesai, Lili pun keluar ruangan dan membuat kopi latte-nya sendiri.


Ia lalu pergi ke sudut ruangan yang jarang orang lewati. Itu adalah sebuah sudut ruangan di koridor dengan jendela yang sangat lebar dan memungkinkan ia melihat pemandangan dari ketinggian lantai delapan.


Di tepi jendela terdapat beberapa pot tanaman anthurium. Membuat suasana semakin segar.

__ADS_1


Lili pun meraih ponselnya. Ia menelepon seseorang sambil memandangi pemandangan di luar jendela.


"Hai, lagi ngapain lu, Ki?" ucap Lili mengawali obrolan sambungan telepon itu.


"Oh, sama dong, gue lagi break juga. Ada cerita seru apa pagi ini?"


"Ih, masa? Hahaha... "


"Oh jadi gitu. Kenapa ga lu aja yang handle?"


"By the way, ntar siang kita makan siang bareng yuk? Mumpung projekan lu dekat kan sama kantor gue?"


"Iya di situ aja. Gue setuju. Menunya enak-enak tapi murah katanya."


"Iya, sip. Sampai jumpa nanti."


"Eh, sekali lagi lu panggil gue sayang, gue tabok lu!"


"Yo. See yaaa."


Obrolan di telepon pun berakhir. Wajah Lili begitu sumringah.


"Sayaaaang? Sa-saaa... Ih, geli banget sih. Hihi. Coba sekali lagi. Saaayang. Hihi... " Lili bergumam-gumam sendiri sambil tersenyum.


Sepertinya Lili tengah berbunga-bunga.


Setelah waktu break usai, Lili pun memenuhi permintaan Victor agar menemuinya di ruangannya.


Walaupun ia kesal karena akan berhadapan dengan Victor berduaan saja, Lili tetap mencoba profesional.


Sebelum masuk ke ruangan Victor, Lili memanggil salah satu staf junior, kemudian membisikinya.


"Kamu nanti kira-kira lima menit dari sekarang masuk aja ke ruangan Pak Victor. Nanti kamu bilang kalau saya dicari Bu Eva, gitu ya?" ucap Lili.


"Oh, iya, baik Bu," jawab staf tersebut.


"Nah, ini buat kamu jajan," ucap Lili sembari menyelipkan sedikit uang ke tangan staf tersebut.


"Terima kasih, Bu," ucap staf tersebut.


Kemudian, Lili pun masuk ke dalam ruangan Victor.

__ADS_1


__ADS_2